BAB III SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT RIFA’IYAH DI
A. Kiyai
caranya sendiri, dan bersaing dengan kiayi-kiyai lainnya untuk mendapat nama sebagai ulama yang pandai.86 Dengan kedatangan Syekh Abdul Karim, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabndiyah menjadi populer di kalangan masyarakat Banten. Tarekat tersebut dikatakan sebagai pendorong pemberontakan petani yang terjadi di Banten pada tahun 1888. Banten kemudian dikenal sebagai daerah yang sering memberontak, dan dipelopori oleh tokoh-tokoh agama.87
Pengaruh para kiyai terhadap masyarakat sangat kuat. Kesetiaan para santri kepada kiyai juga sangat tinggi, karena kiyai dianggap mempunyai kesaktian.
84
Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kiyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 2011), h. 219.
85
Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei historis, geografis, dan sosiologis, h. 89-92.
86
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Kondisi, Jalan, Peristiwa, dan Kelanjutannya, h. 230.
87
Pada umumnya para kiyai sangat dicintai dan dihormati oleh rakyat karena mereka menganggapnya sebagai lambang kejujuran dan keluhuran budi.88
88
35 ABAD KE-19
A.Tarekat Rifa’iyah di Banten (Profil, Sosial Historis)
Tarekat Rifa’iyah pertama kali muncul dan berkembang di wilayah Irak bagian Selatan. Pendirinya adalah Syekh Abu Al-Abbas Ahmad ibn Ali Al-Rifa’i. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah. Tahun kelahirannya diperkirakan pada 1106 M dan wafat pada tahun 1182 M.1 Tarekat ini kemudian berkembang di beberapa wilayah, seperti Mesir, Suriah dan Indonesia. Tarekat Rifa’iyah masuk ke Indonesia dari salah satu ulama yang berasal dari India yakni Nuruddin al-Raniri.2 Ia ditunjuk oleh Syekh Ba Syaiban sebagai khalifah dalam tarekat Rifa’iyah, dan karenanya ia bertanggungjawab untuk membawa dan menyebarkannya ke beberapa wilayah Indonesia.3 Pertama kali ia menyebarkan ke wilayah Aceh,4 sehinggga kini pengaruhnya sampai ke Minangkabau, Cirebon, Maluku, dan Banten.5
1
Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat, Cet. XI, (Solo: Ramadhani, 1995), h. 355 dan 357.
2
Sri Mulyati, Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabaroh di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), h. 15.
3
M. Solihin, Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), h. 38. Sebelumnya penganut tarekat ini ialah Syekh Muhammad Al-Aidarus (kakek rohani dari Nurudin al-Raniri). Melaui Syeh Al-Aidarus ini Ba Syaiban diterima masuk dalam tarekat Rifa’iyah kemudian ia menggantikannya dan menerima kedatangan murid-murid baru. Sri Mulyati, Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Cet. ke-1, (Kencana: Prenada Media Group, 2006), h. 88.
4Nurudin al-Raniri pertama kali menyebarkan tarekat Rifa’iyah di wilayah Aceh, karena ia telah menjabat Syekh al-Islam atau mufti di Kerajaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Shafiatu al-Din. Ia tinggal di Aceh selama 7 tahun. Sri Mulyati, Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabaroh di Indonesia, h. 15.
5Badri Yatim, “Tarekat dan Perkembangannya”, Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 3: Kedatangan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2011), h. 369.
Tarekat Rifa’iyah diperkirakan pertama kali masuk dan berkembang di Banten pada masa Sultan Abu Al-Mufakhir Aliyuddin (1777-1802).6 Tarekat ini pertama kali menyebar dari kalangan istana dan elit kota, kemudian menyebar ke kalangan penduduk yang luas bahkan ke kalangan masyarakat awam.7 Tarekat Rifa’iyah yang berkembang di Banten merupakan tarekat yang berkaitan dengan permainan debus,8 meski dalam perkembangannya tidak ada guru-guru terkemuka yang memberi dorongan baru. Akan tetapi ada salah seorang Kiyai Abdul Qadir seorang guru keturunan Banten yang bermukim di desa Cibaregbeg, Cianjur. Ia dikenal sebagai Guru Tarekat Rifa’iyah terakhir di Banten yang diakui secara luas.9
Keberadaan tarekat Rifa’iyah di Banten juga di dukung dengan adanya naskah tentang Ratib tarekat Rifa’i. Di dalam naskah tersebut, sering menyebutkan nama pendiri tarekat Rifa’iyah yaitu Syekh Ahmad al-Kabir al-Rifa’i. Penyebutan nama ini juga menunjukkan perkembangan tarekat Rifa’iyah di Banten.10 Di dalam isi naskah Ratib Rifa’i juga terdapat nama-nama orang yang dianggap penting dan memiliki hubungan dengan sejarah tarekat Rifa’iyah di Banten antara lain:
1. Syekh Ahmad al-Kabir al-Rifa’i 2. Syekh „Abd al-Qadir al-Jaelani 3. Syekh Safi ad-Din Ahmad ibn „Alwan
6
Riwayat Sultan Abu Al-Mufakhir belum ada yang mengungkapkan dan masa pemerintahnnya juga belum ada sejarahnya, yang ada hanya tahun pemerintahannya saja.
7
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. (Bandung: Mizan, 1995), h. 273.
8
C. Snouck Hurgronje, De Atjehers Jilid II, (Leiden: E.J. Brill, 1894), h. 256.
9
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, h. 271.
10
4. Syekh Ahmad Badawi al-Rifa’i 5. Syekh Ibrahim Ahmad ad-Dasuqi 6. Syekh Abu Bakar „Abdullah al-Aydarus
7. Syekh Musa ibn Sayyid „Abdullah al-Qadir al-Rifa’i
8. Sultan Maulana Hasan ad-Din (Hasanuddin) ibn Maulana Mahdum 9. Sultan Muhammad al-Arif Zain al-„Asyiqin
10.Sultan Abu Mufakhir Muhammad „Aliyuddin.11
Syekh Ahmad al-Kabir al-Rifa’i adalah Pendiri tarekat Rifa’iyah, sedangkan yang nomor dua Syekh Abd al-Qadir al-Jaelani, ia adalah tokoh utama tarekat Qadiriyah.12 Tiga tokoh berikutnya adalah murid-murid Ahmad Rifa’i yaitu Syekh Safi ad-Din Ahmad ibn Alwan (w.1266 M), Syekh Ahmad Badawi al-Rifa’i (w.1276 M), Syekh Ibrahim Ahmad ad-Dasuqi (w.1288 M). 13
Tokoh yang keenam Syekh Abu Bakar „Abdullah al-Aydarus adalah salah seorang syekh tarekat Rifa’iyah yang namanya tercantum dalam silsilah Nuruddin al-Raniri. Dalam silsilah tersebut tertulis nama lengkapnya Syekh Fakhir ad-Din Abu Bakr Abdullah al-Aydarus al-Adani. Ulama ini selain mengajarkan tarekat Rifa’iyah, juga mengajarkan tarekat Qadiriyah. Al-Aydarus adalah kakek Nuruddin al-Raniri dalam tarekat Rifa’iyah. Nuruddin al-Raniri masuk dalam tarekat Rifaiyah melalui Syekh Said Abu Hafs Umar bin Abdullah Ba Syaiban
11Nur Karim, “Ratib Ar-Rifa’i Terjemahan Naskah dan Pengungkapan Isi”, (Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1991), h. 158.
12
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, h. 207.
13
J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders In Islam, (New York: Oxford University Press, 1971). h. 40 dan 281.
dari Tarim. Sementara Ba Syaiban sendiri masuk tarekat Rifa’iyah melalui Syekh Abu Bakar Abdullah al-Aydarus.14
Tokoh nomor tujuh, dalam hadiah al-fatihah hanya disebutkan nama singkatnya saja yaitu Sayyid Musa. Sedangkan dalam munajat Rifa’i namanya disebutkan secara lengkap sebagai Sayyid Syekh Musa ibn Sayyid Abd al-Qadir al-Rifa’i. Dalam naskah sering disebut sebagai petunjuk jalan, pengikut, dan perantara kepada Allah SWT. Ia juga merupakan salah seorang syekh dalam tarekat Rifa’iyah, karena nama belakangnya Rifa’i sehingga memperkuat dugaan tersebut.15
Tiga tokoh selanjutnya yaitu, Sultan Maulana Hasanuddin ibn Maulana Mahdum, Sultan Muhammad al-Arif Zain al-Asyiqin, dan Sultan Abu Mufakhir Muhammad Aliyuddin, tiga orang sultan tersebut yang pernah memerintah di Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin Sultan pertama Banten pada tahun (1552-1570). Penyebutan nama Maulana Hasanuddin dalam naskah ditunjukkan untuk lebih menghormatinya sebagai tokoh yang mengislamkan Banten dan daerah sekitarnya. Muhammad al-Arif Zain al-„Asyiqin dengan nama lengkap Abu al-Nasr Muhammad al-„Arif Zain al-Asyiqin, diganti oleh putranya pada tahun 1777 M dengan gelar Sultan Abu Mufakhir Muhammad Aliyuddin16 yang wafat pada tahun 1802 M.17 Dalam naskah tersebut menambahkan gelar khalifah18
kepada Sultan Abu Mufakhir Muhammad Aliyuddin.
14
Sri Mulyati, Tasawuf Nusantara: Rangkaian Mutiara Sufi Terkemuka, Cet. ke-1, (Kencana: Prenada Media Group, 2006), h. 88.
15Nur Karim, “Ratib Ar-Rifa’i Terjemahan Naskah dan Pengungkapan Isi”, h. 159.
16Mengenai Sultan Muhammad al-Arif Zain al-„Asyiqin, dan Sultan Abu Mufakhir Muhammad Aliyuddin. Belum menemukan catatan yang mengungkapkan riwayat hidupnya, bahkan masa pemerintahannyapun belum ditemukannya juga, yang bisa di temukan hanya sekedar Nama dan tahun pemerintahannya saja
17
Sanusi Pane, Sejarah Indonesia Jilid II, (Jakarta: Perpustakaan Perguruan Kementrian, 1956), h. 14.
B.Tarekat Rifaiyah Dalam Budaya Banten
Tarekat Rifa’iyah selain fungsi utamanya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, akan tetapi di Banten digunakan sebagai alat untuk memobilisir rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Faktor-faktor yang menyebabkan pemberontakan yaitu tejadinya keresahan sosial yang kompleks dan beraneka ragam, seperti disintegrasi19 tatanan tradisional, semakin memburuknya sistem politik dan tumbuhnya kebencian religius terhadap penguasa asing.20 Tarekat berfungsi sebagai pelekat diantara mereka sekaligus menjadi penguat dalam melakukan pemberontakan.
Di Banten sendiri terdapat beberapa tarekat yang berkembang, antara lain: Tarekat Awaliyah, Syatariyah, Sanusiyah, Sadziliyah, Samaniyah, Qadiriyah dan Rifa’iyah. Meski yang lebih berperan dalam pemberontakan Banten 1888 adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tetapi tarekat-tarekat lainnya juga ikut terlibat, dan saling membantu. Sehingga tarekat yang terdapat di Banten saling mendukung satu sama lain.
Tarekat-tarekat di Banten selain digunakan untuk berjuang melawan kolonial, juga dimanfaatkan untuk membangun simpatik di ranah kebudayaan atau seni. Tarekat Syadziliyah, misalnya dikenal dengan seni pembacaan dalalil
18
Istilah khalifah sebenarnya dapat memiliki berbagai makna dan ternyata telah digunakan dalam bentuk gabungan kata Khalifatullah “wakil Allah”, sebagai gelar seorang raja di beberapa kerajaan muslim di Indonesia. Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, h, 273.
19
Disintegrasi adalah keadaan tidak bersatu padu, keadaan terpecah belah, hilangnya keutuhan atau persatuan, perpecahan.
20
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Kondisi, Jalan, Peristiwa, dan Kelanjutannya, (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1984), h. 157.
khoirot, Samaniyah dengan dzikir saman, Qadiriyah dengan wawacan seh Abdul Qadir Jaelani, dan Rifa’iyah dengan kekebalan atau debusnya.21
Dalam peristiwa pemberontakan di Banten, tarekat Rifa'iyah diyakini telah memberi kekebalan kepada rakyat Banten yang belum memiliki persenjataan modern, seperti pistol dan senapan. Alat yang digunakan adalah senjata tradisional, seperti keris, golok, dan bambu runcing. Para ulama dan tokoh agama biasanya memberi bekal yang mendorong keberanian rakyat dan pemuda Banten untuk menghadapi tentara penjajah.22 Bekal yang diberikan dapat berupa dzikir dan wirid serta do’a-do’a yang ada dalam tarekat, semangat juang dan juga keyakinan akan kekebalan terhadap senjata tajam. Pengajaran dari sebagian amalan tarekat yang bertujuan untuk mendapatkan kekebalan ini kemudian berkembang menjadi suatu bentuk permainan yang kini lebih dikenal sebagai debus.23
Debus merupakan suatu fenomena khas Indonesia yang terdapat di berbagai daerah, selain di Banten juga berkembang di Aceh dan Sumatera Barat. di Aceh debus dikenal dengan rafa’i, dabuih24
dan di Minangkabau dinamakan dengan
madaboih. Di Banten debus sudah berkembang pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Karena peran pentingnya dalam membangkitkan moral pasukan melawan VOC, debus sering diasosiasikan dengan masyarakat Banten dari pada lainnya.25
21
Wawancara Pribadi dengan Abah Yadi salah seorang tokoh Budaya Banten, Serang, 13 April 2015, Pukul, 11.00 WIB.
22
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Kondisi, Jalan, Peristiwa, dan Kelanjutannya, h. 226.
23Isman Pratama Nasution, “Debus, Islam dan Kiai: Studi Kasus di Desa Tegal Sari, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang, Jawa Barat”, (Tesis, FISIP, Universitas Indonesia, 1995), h. 5
24
C. Snouck Hurgronje, De Atjehers Deel II, (Leiden: Brill, 1894), h. 258
25
Mengenai asal usul kata debus ini terdapat perbedaan. Sebagian orang mengatakan bahwa debus berasal dari bahasa Sunda yang artinya “tembus”. Hal ini dikaitkan dengan alat yang digunakan dalam permainannya adalah benda tajam yang apabila ditusukkan ke dalam tubuh, dapat tembus. Namun kondisi badan tidak terluka sama sekali.26
Permainan Debus yang dilakukan oleh masyarakat Banten, jika dicermati secara mendalam didalamnya terkandung nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama. Nilai religius tercermin dalam do’a yang dipanjatkan oleh para pemain. Do’a tersebut bertujuan agar para pemain selalu di lindungi dan selalu mendapatkan keselamatan dari Allah SWT selama menyelenggarakan permainan Debus.27
C.Ajaran-Ajaran Tarekat Rifa’iyah 1. Keanggotaan
Tarekat Rifa’iyah adalah sebuah jemaat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu. Sebelum di bai’at menjadi anggota tarekat Rifa’iyah setiap orang atau kelompok harus bisa menyelesaikan ujian yang diberikan oleh Guru, yaitu ujian yang bersifat fisik, mental dan batin. Ketiga macam ujian itu dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan dengan melakukan puasa selama tiga hari.28 Bahkan menurut salah seorang pengikut tarekat Rifa’iyah, puasa dilaksanakan selama 40 hari. Selama puasa ada beberapa tindakan yang harus dilakukan, seperti tidak
26
Isman Pratama Nasution, Debus Walantaka: Fenomena Budaya Banten, Universitas Indonesia, journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/download/.../2607. Akses tanggal 21 april 2015. h. 32
27
http://wisnunatural.blogspot.com/2012/04/laporan-penelitian-kesenian-debus.html.
28Makmun Muzakki, “Tarekat dan Debus Rifa’iyah di Banten”, (Skripsi Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1990), h. 66.
boleh bertemu dengan perempuan, ketika berbuka puasa hanya diperbolehkan memakan sekepal nasi putih, sedikit garam dan beberapa buah cabe rawit.
Selama menjalankan puasa, seorang murid juga diwajibkan untuk mandi setiap malam hari dan membersihkan diri dari perbuatan dosa. Setelah mandi tidak diperbolehkan tidur.29 Ia harus melaksanakan beberapa kewajiban yang lain antara lain:
a. Shalat Istikharah enam rakaat, tiga kali salam. Dan masing-masing surat di baca 11 kali setiap rakaat. Adapun cara melaksanakan shalat sebanyak enam rakaat tersebut yaitu, untuk shalat dua rakaat pertama, surat yang dibaca yaitu al-Qadar dan surat ad-Duha. Sementara untuk dua rakaat yang kedua, membaca surat ad-Duha dan surat al-Insyiroh. Sedangkan untuk dua rakaat yang ketiga membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas.
b. Membaca istigfar sebanyak 100 kali
c. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, 100 kali d. Membaca Dzikir 100 kali
e. Membaca al-Qur’an surat al-Fatihah dan al-Ikhlas sebanyak 100 kali, serta membaca surat al-Falaq dan an-Nas masing-masing sekali.30
Di dalam tarekat terdapat hubungan anatara guru dan murid yang sangat erat. Guru dalam tarekat di sebut Mursyid atau kiyai. Mursyid inilah orang yang memberikan ilmunya kepada orang yang ingin belajar. Sedangkan orang yang mau menerima ilmu mereka akan menjadi murid.31 Oleh karena itu untuk menjadi
29
Mohammad Hudaeri, Debus: Dalam Tradisi Masyarakat Banten, (Serang: FUD Press, 2009), h. 67.
30Makmun Muzakki, “Tarekat dan Debus Rifa’iyah di Banten”, h. 67-68.
31
pengikut tarekat Rifa’iyah, seseorang harus menjalankan beberapa perintah dari seorang mursyid atau kiayi.
2. Kewajiban Anggota
Anggota tarekat Rifa’iyah mempunyai beberapa kewajiban, antara lain: tidak boleh meninggalkan shalat lima waktu, harus meninggalkan perbuatan yang melanggar agama, dan membiasakan membaca wirid atau amalan yang telah diberikan. Selain itu, murid juga diwajibkan untuk mengikuti dua kali tawajjuh (tatap muka), yakni hari Jum’at pertama saat ia dilantik dan Jum’at terakhir. Di dalam Tawajjuh ini, murid memperoleh nasehat-nasehat keagamaan, juga pelajaran moral dalam kehidupan sehari-hari. Diajarkan pula teknik-teknik dzikir tertentu (Dzikir dzahri yang bersuara keras dan Kahfi yang lembut dan halus).
Adapun tawajjuh dilaksanakan sebagai berikut: Mursyid memimpin shalat duha 4 rakaat dengan 2 kali salam. Setelah itu diteruskan dengan membaca dzikir yang dibaca hanya 10 kali. Setelah wirid selesai dibaca bersama, Mursyid memerintahkan para murid untuk duduk bersila setengah lingkaran menghadap Mursyid.32 Calon murid duduk dengan posisi kepala tegak, dan pandangan mata menatap lurus ke depan. Lengan terletak di atas lutut atau paha yang sedang bersila.
Upacara tawajjuh kemudian dimulai dengan membaca surat al-Fatihah satu kali, kemudian diteruskan dengan:
Membaca surat an-Nas, al-Falaq, dan al-Ikhlas, masing-masing tiga kali
Membaca shalawat dan Syahadat
Membaca dzikir nafi waitsbat33sebanyak 165 kali
Istighasah kepada Abd Qadir Jaelani
يح جيش دّيس اي
ها نذإب ا ثغا .ها ثوغ ها ّبوبح ىايج رداقلادبع نيّدلا
.
٣
x Artinya:“Wahai Sayyid Syekh Abd al-Qadir al-Jaelani, Mahbub dan Gauts Allah, tolonglah kami dengan izin Allah”.
Berikutnya Kepada Syekh 8Amad al-Kabir al-Rifa’i
ّرلا ربكلا دمأ خيش ديس اي
ّرلا ها قوشعم ىعاف
ها نذإب ا ثغأ ىعاف
.
٣
x Artinya:“Wahai Sayyid Syekh Ahmad al-Kabir al-Rifa’i, Ma’shuq Allah al-Rifa’i, tolonglah kami dengan izin Allah”.
Kemudian Membaca bagian dari wirid atau ratib Rifa’i, pertama diawali dengan membaca:
a. Bismillah yakni:
هااميظعت ها مسب
“Dengan nama Allah, segala keagungan bagi Allah”.34ديحوت ها مسب
ها
“Dengan nama Allah, Esa bagi Allah”
b. Pujian atas keesaan Allah
ي
ّين دحو ا
ّصلادرف اي ة
دم
“Wahai yang maha tunggal, satu-satunya tempat bergantung”.35
33
Dzikir Nafi wa itsbat yakni mengucapkan lafadz laa ilaha illa „llah dengan gerakan-gerakan tertentu. Dzikir tersebut dilakukan dengan suara yang keras dan dilakukan dengan bersama-sama. Sehingga menimbulkan suara yang dapat didengarkan oleh pihak lain. Mohammad Hudaeri, Debus: Dalam Tradisi Masyarakat Banten, h. 35.
34Naskah Ratib Rifa’i A 218 B, h. 59.
c. Dzikir nafi itsbat dan pengakuan Nabi Muhammad sebagai Rasulallah
لاا
إ ّا
ّمح ها
ّرلا د
وس
ا
ها
“Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah”.36
d. Shalawat Nabi
ّللا
ّمه
ّلص
ع
ىل
ّيس
ّمح اند
ّللا د
ّمه
ّلص
ّلسو يلع
م
“Wahai Allah anugerahkanlah salawat bagi junjungan kami Muhammad. Ya Allah, anugerahkan shalawat dan salam baginya”.37
e. Membaca dzikir dengan variasi sifatnya, diantaranya:
ّاا دوجوم ا
ها
ا .
دوبعم
ّاا
ها
ّاا دوصقم ا
ها
.
ّاا بولطم ا
ها
“Tidak ada yang Maujud selain Allah. Tidak ada yang Ma’bud selain Allah. Tidak ada yang Maqsud selain Allah. Tidak ada yang Matlub
selain Allah”.38
ها
“Allahّيح ها
“Allah Maha Hidup”
يح هاو
“Dialah yang Maha Hidup”
ّيح
مئاد
“Maha Hidup dan Maha Kekal”
ّلكو قاب ها
ناف
“Allah Baka, yang lain fana”
ّيحاي
ّيقاي
مو
“Maha Hidup, Maha Abadi”
36Naskah Ratib Rifa’i A 218 B, h. 60.
37Naskah Ratib Rifa’i A 218 B, h. 59-60.
38
ّيح
ّيق ها
ها مو
.
9
“Allah Maha Hidup, Allah Maha Abadi”
f. Doa Taubat
بق ةبوت ىهااي ىها
ل
تمما
"
“Ilahi, Wahai Ilahi Ampuni dosa sebelum wafat”
g. Pujian Bagi Syekh Ahmad Rifa’i dengan menyebut belaiu sebagai orang yang amat perkasa, raja para laki-laki
عافر
ى
ّرلا ناطلس حاصوبا ىعافراي
لج
.
٣
x“Rifa’i wahai Rifa’i, Abu Saleh, Rajanya lelaki”.40
Semua bacaan di atas masing-masing dibaca sebanyak 100 kali oleh jamaah, yang dipimpin oleh mursyid. Ratib tersebut dibaca dengan irama tertentu dan suara yang agak keras. Bacaan itu kemudian diikuti dengan membaca dzikir Allah sebanyak 4 kali dan membaca istigasah kembali sebanyak 3 kali.
Setelah proses tersebut sudah dilaksanakan semua, dan murid sudah dinyatakan lulus atau mendapat ijazah dari sang guru, maka proses selanjutnya yang harus diikuti oleh seorang murid adalah mengamalkan sejumlah wirid, doa, dan munajat yang diberikan oleh guru. Ia juga harus mengikuti latihan fisik yaitu dibuktikan dengan debus.41
D.Wirid dan Amalan Tarekat Rifa’iyah
Wirid berasal dari bahasa Arab, wird atau aurod. Wirid merupakan doa-doa pendek untuk memohon kepada Allah atau kepada Nabi Muhammad SAW, dan
39Naskah Ratib Rifa’i A 218 B, h. 60-61.
40Naskah Ratib Rifa’i A 218 B, h. 61.
41
Mohammad Hudaeri, Debus: Dalam Tradisi Masyarakat Banten, (Serang: FUD Press, 2009), h . 69.
membacanya pada waktu-waktu yang telah ditentukan.42 Dalam tradisi tarekat pembacaan wirid bukanlah suatu yang wajib diamalkan dan yang menjadi keharusan. Akan tetapi dzikir yang berulang-ulang yang wajib dilaksanakan yaitu dengan mengingat nama Allah ataupun mengucapkan kalimat la ilaha illallah.
Tujuan latihan ini adalah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan.43
Oleh karena itu, setiap tarekat memiliki amalan zikir atau wirid. Sebagai amalan pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap anggotanya, wirid dan dzikir antara satu tarekat dengan tarekat lainnya berbeda-beda.
Dalam tarekat Rifa’iyah perbedaannya terletak pada dzikirnya. Dzikir kaum Rifa’iyah ini jenis dzkir yang lantang yang disebut “Darwis Menangis atau melolong”, karena dilakukan bersama-sama dan diiringi oleh suara gendang yang bertalu-talu. Dzikir tersebut dilakukan sampai mencapai keadaan. Seperti berjalan di atas api yang menyala, tahan terhadap senjata tajam, dan lain-lain.44
Wirid dan amalan Rifa’iyah pada dasarnya terdiri dari: Hadiah al-Fatihah (doa syekh),45 Wirid al-Qur’an dan do’a, Munajat Rifa’i, serta Salawat Nabi.46
a. Hadiah al-Fatihah
Hadiah al-Fatihah di sebut juga Wasilah47 secara etimologis bermakna perantara atau menyambungkan kepada sesuatu dengan hati. Sedangkan secara terminologi wasilah adalah perbuatan atau amal yang dikerjakan dan
42
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), h. 21.
43
Mohammad Hudaeri, Islam Tantangan Modernitas, h. 225.
44
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, Terj. Sapardi Djoko Damono (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), h. 223.
45
Al-Fatihah dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan beberapa tokoh penting tarekat rifaiyah.
46Makmun Muzakki, “Tarekat dan Debus Rifa’iyah di Banten”, h. 79.
47
Tawasul adalah memohon atau berdoa kpd Allah Swt. dng perantaraan nama seseorang yg dianggap suci dan dekat kpd Tuhan.
diamalkan oleh orang mukmin karena mengharapkan sesuatu dengan cara membuat perantara sehingga ia memperoleh apa yang diharapkannya.48 Semua aliran tarekat mengenal istilah wasilah, mediasi melalui seorang pembimbing spiritual (mursyid) sebagai sesuatu yang sangat diperlukan demi kemajuan spiritual. Dalam tarekat Rifa’iyah pembacaan al-fatehah di lakukan 17 kali sesuai dengan jumlah orang yang dianggap paling patut untuk dibacakan al-fatihah.
Hadiah al-Fatihah ditujukan kepada para syekh merupakan hal penting dalam mendapatkan ilmu debus, karenanya menjadi kegiatan rutin yang harus diamalkan dalam setiap shalat lima waktu.49 Adapun hadiah al-Fatihah diberikan kepada:
1. Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya
2. Khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali), dan para sahabat: