• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGATURAN VALUASI PATEN DI INDONESIA

C. Pengaturan Hukum Valuasi Paten di Indonesia

Di Indonesia pengelolaan aset tidak berwujud diatur dalam Peraturan Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengelolaan Aset Tak Berwujud Hasil Kegiatan Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (SINas) di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) selain itu juga diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 19 (revisi 2009). Menurut Permenristek No 2/2014, aset tidak berwujud adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik dan bukan merupakan kas atau setara kas atau aset yang akan diterima dalam bentuk kas yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan. Berkenaan dengan ini Kemenristedikti telah membentuk tim yang bertugas untuk melakukan identifikasi dan penilaian aset tak berwujud. Adapun langkah-langkah yang sudah dilakukan dalam menentukan kriteria aset tidak berwujud berdasarkan hasil kegiatan Insentif Riset SINas menurut Permenristek meliputi: (1) hasil penelitian dan pengembangan yang sudah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual; (2) mempunyai nilai ekonomis; dan (3) sepenuhnya dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kemenristek.152

Namun di Indonesia sampai saat ini belum ada ketentuan yang mengatur detail teknis penilaian terhadap aset tidak berwujud dalam hal ini paten, metode atau pendekatan penilaian paten, manfaat penilaian dan sebagainya walaupun paten di Indonesia telah ditetapkan sebagai aset tdak berwujud yang memilki nilai ekonomis yang dapat dilakukan penilaian terhadapnya. Kemenristekdikti

152 Mhd Hendra Wibowo, Op.Cit hlm 2

Indonesia diharapkan kedepannya dapat membentuk suatu kebijakan atau standarisasi megenai penilaian atau valuasi paten bukan hanya berlaku dalam Kemeristedikti itu sendiri tetapi juga dapat diberlakukan secara nasional dengan meneruskan pekerjaan tim identifikasi dan penilaian kekayaan intelektual di bidang valuasi paten/teknologi. Selain itu sudah ada beberapa Negara yang telah menentukan standarisasi terkait penilaian atau valuasi paten antara lain:153

1. DIN 77100, Patent valuation standard in Germany - General Principles for Monetary Patent Valuation

2. ÖNORM A6801, patent valuation standard in Austria

3. AICPA, statement on standard for valuation services, Jan 2008 American Institute of Certified Public Accountants

Berdasarkan uraian bab ini dapat diambil kesimpulan bahwa paten yang merupakan hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada inventor atas penemuan atau invensi yang dihasilkan dalam bidang teknologi, invensi tersebut harus invensi baru serta suatu paten memiliki janga waktu perlindungannya. Paten memiliki ruang lingkup yang terdiri atas paten itu sendiri, paten sederhana, invensi yang dapat diberikan paten maupun invensi yang tidak dapat diberikan paten, subjek paten, pemakai terdahulu, hak dan kewajiban pemegang paten serta jangka waktu perlindungan paten. terdapat dua jenis sistem pendaftaran paten yaitu sistem pendaftaran konstitutif dan sistem pendaftaran deklaratif. Pada sistem konstitutif, paten yang akan didaftarkan harus memenuhi syarat melalui tahap permohonan dan pemeriksaan serta diperiksa mengenai kebaruannya dan langkah

153 Ibid hlm 2-3

75

inventif invensi tersebut. Sedangkan pada sistem deklaratif, apabila paten telah memenuhi syarat yang ditentukan, tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan maka akan diberikan paten namun apabila dikemudian hari ditemukan bahwa paten tersebut tidak memiliki kebaruan maka dapat dilakukan pembatalan paten. terhadap paten dapat dilakukan valuasi yang dilakukan oleh seorang penilai (appraisal) professional dan harus memnuhi syarat seperti telah lulus pendidikan awal penilaian. Ketentuan mengenai penilai yang dapat melakukan penilaian terdapat dalam Peraturan Menteri Keuangan Repblik Indonesia Nomor 56/PMK.01/2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2014 Tentang Penilai Publik dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69/POJK.04/2017 Tentang Penilai Yang Melakukan Penilaian Di Pasar Modal. Selanjutnya pengaturan hukum mengenai valuasi paten di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur teknis maupun metode penilaian atau valuasi terhadap paten. Akan tetapi terdapat Peraturan Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengelolaan Aset Tak Berwujud Hasil Kegiatan Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (SINas).

BAB IV

ASPEK PENILAIAN TERHADAP VALUASI HAK PATEN SEBAGAI BENTUK PENYETORAN MODAL SAHAM DALAM PERSEROAN

TERBATAS

A. Tinjauan Umum Pentingnya Dilakukan Valuasi Terhadap Hak Paten Hak kekayaan intelektual adalah landasan ekonomi pengetahuan global.

Paten adalah indikator penting dan umum yang diterima untuk inovasi sementara paten mendefinisikan teknologi baru yang dapat dikreditkan dan diberikan kepemilikan. Jumlah pengajuan paten global telah meningkat dari 800.000 aplikasi pada tahun 1980-an hingga menjadi 1,8 juta pada tahun 2009-2011 (data WIPO 2009-2011). Paten dapat menjadi pendorong investasi dalam inovasi dan globalisasi kegiatan ekonomi saat ini. Paten terus mengalami peningkatan sementara sistem paten saat ini sedang dioptimalkan dan diselaraskan di seluruh dunia. Paten dapat diperoleh untuk setiap proses baru, mesin baru, pembuatan atau komposisi materi serta variasi baru yang berhubungan dengan penemuan sebelumnya. Namun, paten tidak bisa diperoleh untuk sistem dalam melakukan bisnis, pengaturan materi cetak, mental proses, aplikasi komputer, dan konfigurasi produk.154

Inovasi dan paten memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi. Penilaian terhadap paten dan teknologi pada sebuah perusahaan agar mendapatkan keberhasilan pasar membutuhkan seperangkat alat penilaian yang sesuai. Hak kekayaan intelektual dipandang semakin penting di banyak bidang dan di berbagai tingkatan. Alasan utama dilakukannya penilaian paten yang dianggap penting adalah kurangnya metode praktis untuk melakukan penilaian

154 Liina Tonisson, Op.Cit hlm 6

77

paten. Kurangnya metode penilaian praktis paten dalam kondisi ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang kurang optimal dalam rangka mengelola intelektual portofolio properti. Tingginya jumlah penilaian paten dengan menggunakan alat atau cara yang berbeda sulit untuk menyepakati pendekatan penilaian yang dapat diterima secara umum. Alasan lain perlu diadakannya valuasi hak paten yaitu agar paten tersebut dapat dilisensikan.

Undang-Undang Paten menyebutkan bahwa lisensi merupakan izin yang diberikan oleh pemegang paten, baik yang bersifat eksklusif maupun non-eksklusif, kepada penerima lisensi berdasarkan perjanjian tertulis untuk menggunakan paten yang masih dilindungi dalam jangka waktu dan syarat tertentu.155

Perjanjian lisensi dimulai dengan menyiapkan draft oleh Pemberi lisensi berisi materi yang akan dibicarakan. Pihak pemberi lisensi sebagai licensor wajib memberikan segala informasi baik bantuan teknik, data teknis dan segala informasi yang dibutuhkan dalam melaksanakan produksi. Perjanjian lisensi berisi hal-hal yang harus dipenuhi para pihak agar perjanjian dapat disepakati, hal yang harus dipenuhi antara lain bagaimana pengaturan royalty dari lisensi tersebut, hak dan kewajiban para pihak, informasi teknis dan know how.156

Pemberi lisensi harus meyediakan kepada penerima lisensi gratis (tanpa biaya) dan seperti yang dipersyaratkan oleh penerima lisensi untuk memproduksi, menjual dan memperbaiki produk berlisensi dan semua produk yang terkait. Jika penerima lisensi menginginkan bantuan teknis sehubungan dengan pembuatan,

155 Ibid

156 Endang Purwaningsih, Hukum Bisnis Cetakan Pertama (Bogor : Ghalia Indonesia, 2010) hlm 156

penjualan, penerapan atau servis produk berlisensi atau semua produk yang terkait, pemberi lisensi harus menyediakan layanan ahli yang profesional dan terlatih untuk dan selama periode lisensi apabila penerima lisensi membutuhkan bantuan tersebut dari pemberi lisensi sebagaimana yang dituangkan dalam perjanjian lisensi.157

Selanjutnya lisensi memiliki isi yang terdiri dari dua pembukaan, bagian pada pembukaan pertama berisi nama dan alamat penerima lisensi dan pemberi lisensi, tanggal diadakan seta maksud diadakannya perjanjian lisensi. Isi Perjanjian Lisensi terdiri atas dua pembukaan. Pembukaan kedua pada perjanjian lisensi berisi nama dan alamat para pihak yang mengadakan perjanjian dan tanggal perjanjian dilakukan, serta untuk keperluan apa perjanjian dibuat. Berikut poin yang terdapat dalam bagian pembukaan pertama perjanjian lisensi:158

1. Definisi

a. Perusahaan pemberi lisensi b. Merek pemberi lisensi c. Paten pemberi lisensi d. Komponen pemberi lisensi e. Komponen penerima lisensi f. Pekerjaan

g. Kit

h. Model tahun i. Produk lisensi j. Lisensi sparepart k. Suku cadang lisensi l. Model yang ditentukan

157 Ibid

158Ibid hlm 161

79

2. lisensi paten, kepemilikan lisensi, afiliasi dan manajemen a. produk dan proses paten

b. kepemilikan lisensi

c. afiliasi pemegang lisensi, manajemen pemegang lisensi beserta tanda tangan.

3. Manufaktur, informasi teknis dan bantuan teknis

a. Pemberian hak-hak manufaktur, fasilitas perakitan, penggunaan kita dan komponen

b. Informasi teknis

c. Penggunaan perlengkapan terpilih d. Lingkup bantuan

e. Personel layanan teknis jangka panjang f. Bantuan sementara

g. Penyesuaian dan pembayaran tahunan h. Izin dan tugas

i. Kerjasama

j. Keterbatasan informasi teknis dan bantuan teknis k. Royalti

l. Pemeliharaan spesifikasi dan standar kualitas m. Kepemilikan hak dari orang lain

n. Pengembangan produk

o. Perlindungan teknologi pemberi lisensi p. Tabel waktu perjanjian perakitan q. Penandaan produk

4. Distribusi

a. Penunjukan sebagai distributor

b. Representasi dan pengambangan pasar (promosi, penunjukan dealer, fasilitas dan personel, stok cadangan, layanan dan laporan) c. Publikasi teknis

d. Iklan

e. Klaim layanan dan kewajiban produk f. Perlindungan paten dan merek lisensi 5. Pasokan Kit, komponen dan suku cadang

a. Model spesifikasi komponen dan pengujian b. Komposisi kit

c. Persyaratan

d. Perkiraan persyaratan kit e. Pesanan

f. Harga dan ketentuan pembayaran untuk produk pemberi lisensi g. Pengepakan

h. Pengiriman

i. Inpeksi, penerimaan dan klaim

j. Peringatan lisensi dan garansi lisensi untuk kit, komponen dan suku cadang

k. Kebijakan dan ulasan 6. Umum

a. Penghentian dan pemutusan perjanjian b. Efek atau akibat pemutusan perjanjian c. Penyelesaian sengketa

d. Pajak, bead an biaya lainnya e. Kerahasiaan

f. Force majeure g. Validitas

h. Kepatuhan terhadap hukum

i. Kerjasama dalam pembelaan klaim j. Penugasan

k. Hubungan para pihak

81

l. Pemberitahuan m. Seluruh perjanjian

Lisensi memiliki jenisnya sendiri baik yang diatur dalam Undang-Undang maupun dalam aturan lain. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten mengatur mengenai Lisensi yaitu Lisensi Wajib pada pasal 81 s/d pasal 107 bahwa Lisensi wajib bersifat Non-eksklusif.159 Lisensi wajib merupakan Lisensi untuk melaksanakan Paten yang diberikan berdasarkan Keputusan Menteri atas dasar permohonan dengan alasan:160

a. Pemegang Paten tidak melaksanakan kewajiban untuk membuat produk atau menggunakan proses di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dalam jangka waktu 36 (tiga puluh enam) bulan setelah diberikan Paten;

b. Paten telah dilaksanakan oleh Pemegang Paten atau penerima Lisensi dalam bentuk dan dengan cara yang merugikan kepentingan masyarakat; atau

c. Paten hasil pengembangan dari Paten yang telah diberikan sebelumnya tidak bisa dilaksanakan tanpa menggunakan Paten pihak lain yang masih dalam pelindungan. Permohonan Lisensi wajib tersebut dikenai biaya.

Lisensi Wajib hanya dapat diberikan oleh Menteri jika:161

a. Pemohon atau kuasanya dapat mengajukan bukti mempunyai kemampuan untuk melaksanakan sendiri Paten dimaksud secara penuh

159 Indonesia (Paten), Op.Cit Pasal 81

160Ibid Pasal 82

161Ibid Pasal 84

dan mempunyai fasilitas untuk melaksanakan Paten yang bersangkutan dengan secepatnya;

b. Pemohon atau kuasanya telah berusaha mengambil langkah-langkah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan untuk mendapatkan Lisensi dari Pemegang Paten atas dasar persyaratan dan kondisi yang wajar tetapi tidak memperoleh hasil; dan

c. Menteri berpendapat Paten dimaksud dapat dilaksanakan di Indonesia dalam skala ekonomi yang layak dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Pemeriksaan atas permohonan lisensi wajib dilakukan oleh tim ahli yang bersifat ad-hoc yang dibentuk oleh Menteri sesuai dengan bidang Paten yang diajukan Lisensi-wajib. Dalam melakukan pemeriksaan, tim ahli memanggil Pemegang Paten untuk didengar pendapatnya, Pemegang Paten wajib menyampaikan pendapat sesuai dengan jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pemberitahuan. Jika Pemegang Paten tidak menyampaikan pendapatnya dalam jangka waktu tersebut, Pemegang Paten dianggap menyetujui pemberian Lisensi-wajib.162

Dalam hal Menteri mengabulkan permohonan Lisensi-wajib tersebut, Menteri menetapkan keputusan pemberian Lisensi-wajib kepada pemohon atau Kuasanya, termasuk besarnya Imbalan dan cara pembayarannya. Penetapan keputusan pemberian Lisensi-wajib sebagaimana dimaksud dilakukan dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) Hari terhitung sejak tanggal pengajuan permohonan Lisensi wajib.Jangka waktu tersebut tidak termasuk jangka waktu penundaan paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal pemberitahuan penundaan oleh Menteri. Keputusan pemberian Lisensi wajib memuat:163

162Ibid Pasal 86

163Ibid Pasal 88

83

a. Lisensi-wajib bersifat non-eksklusif;

b. Alasan pemberian Lisensi-wajib;

c. Bukti, termasuk keterangan atau penjelasan sebagai dasar pemberian Lisensi-wajib;

d. Jangka waktu Lisensi-wajib;

e. Besar Imbalan yang harus dibayarkan Penerima Lisensi-wajib kepada Pemegang Paten dan cara pembayarannya;

f. Syarat berakhirnya Lisensi-wajib dan hal yang dapat membatalkannya;

g. lingkup Lisensi-wajib untuk seluruh atau sebagian dari Paten yang dimohonkan Lisensi-wajib; dan

h. Hal-hal lain yang diperlukan untuk menjaga kepentingan para pihak yang bersangkutan secara adil.

Menteri dapat menunda atau menolak pemberian Lisensi-wajib jika berdasarkan rekomendasi tim ahli dan keterangan Pemegang Paten, Paten dimaksud memerlukan waktu lebih lama dari 36 (tiga puluh enam) bulan untuk pelaksanaannya secara komersial di Indonesia.164

Penundaan pemberian Lisensi-wajib diberikan untuk jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal pemberitahuan penundaan pemberian Lisensi-wajib oleh Menteri. Menteri menetapkan keputusan mengabulkan atau menolak permohonan Lisensi-wajib dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) Hari terhitung sejak tanggal berakhirnya jangka waktu penundaan.165

164Ibid Pasal 90

165Ibid Pasal 91

Ilmu hukum Hak Kekayaan Intelektual mengembangkan bentuk jenis lisensi lain karena Undang-Undang hanya mengatur satu jenis lisensi yaitu lisensi wajib. Berikut jenis lisensi lain yang dimaksud yaitu:166

a. Lisensi ekslusif

Pihak yang melakukan perjanjian lisensi dapat menggugat peniruan atas paten karena pihak licensee mempunyai hak atas paten yang dimaksud yaitu hak membuat, menggunakan dan menjual produk.

Pihak pemberi lisensi (licensor) juga mempunyai hak apabila terjadi peniruan massal atas paten yang dimilikinya.

b. Lisensi non-ekslusif

Lisensi jenis ini tidak membebankan kepada penerima lisensi apabila terjadi peniruan maupun pelanggaran atas paten. Pemberi lisensi masih mempunyai hak untuk memakai, membuat ataupun menjual patennya kepada pihak lain dengan kata lain pemberi paten memiliki hak yang sama dengan pihak penerima paten.

c. Lisensi silang

Lisensi ini terjadi apabila pemegang hak paten memberikan lisensi kepada pihak lain (licensee) atas hak kekayaan intelektual yang dimilikinya sebagai imbalan bahwa ia akan menerima lisensi atas paten pihak lain tersebut (licensee).

166 Endang Purwaningsih, Op.Cit hlm 160

85

d. Paket lisensi

Beberapa pemegang hak kekayaan intelektual dapat membuat perjanjian dengan menggabungkan beberapa hak kekayaan intelektual dalam satu perjanjian lisensi sehingga hal tersebut dapat menguntungkan para pihak tersebut.

Dalam perjanjian lisensi pastinya terdapat hak dan kewajiban para pihak baik pemberi lisensi (licensor) maupun penerima lisensi (licensee). Adapun hak dan kewajiban tersebut antara lain:167

1. Hak dan kewajiban penerima lisensi (licensee) adapun hak sebagai penerima lisensi yaitu:

a. Hak untuk membuat, merakit mesin dan memasarkannya

b. Hak untuk menggunakan paten clan teknologi pembuatan dan menggunakan berbagai peralatan permesinan

c. Hak untuk mendapatkan bantuan teknis dan tenaga ahli

d. Hak untuk mendapatkan segala informasi mengenai data dan model

e. Hak untuk menggunakan merek sama dengan mesin yang dihasilkan licensor

f. Hak untuk mendapatkan pengujian kualitas produk

g. Hak untuk mengikuti training untuk pelatihan keterampilan tenaga kerja

h. Hak untuk menguasai pasar di dalam teritori atau Indonesia i. Hak untuk memperluas pasar ke luar negeri dengan izin

licensor; hak untuk mengembangkan produk (modifikasi)

j. Hak untuk mendapatkan jaminan kualitas bahan baku dari licensor.

167Ibid hlm 164-165

Selanjutnya Kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang penerima lisensi (licensee) yaitu:

a. Kewajiban untuk membayar royalti

b. Kewajiban untuk tidak melakukan sanggahan atas keabsahan hak yang dilisensikan

c. Kewajiban untuk tidak melakukan kompetisi d. Kewajiban untuk menjaga kerahasiaan e. Kewajiban untuk menjaga kualitas produk

f. Kewajiban untuk mematuhi persyaratan dalam peraturan perundangan yang berlaku

g. Kewajiban membuat laporan penjualan produk dan pengembangan produk

h. Kewajiban untuk mengirimkan contoh produk untuk diuji kualitas ke licensor

i. Kewajiban untuk menjamin perlindungan keamanan bagi expert dan trainer

j. Kewajiban untuk mcmberikan gaji, fasilitas dan pelayanan gratis kepada expert dan trainer

k. Kewajiban untuk membeli bahan baku dan spareparts hanya dari licensor dengan harga yang ditetapkan licensor, yang bagi licensee dianggap mahal, apalagi harus dibayar dengan yen/dolar.

2. Hak dan Kewajiban Pemberi Lisensi (Licensor) berikut hak yang didapatkan oleh pemeberi lisensi yaitu:168

a. Hak untuk menerima royalti

b. Hak untuk memeriksa laporan penjualan produk dan pengembangan produk

c. Hak untuk mengetes mutu produk

d. hak untuk mendapatkan servis yang memuaskan bagi expert dan trainer beserta jaminan keamanannya; hak untuk mendapatkan

168Ibid hlm 165-166

87

lisensi gratis jika memperoleh paten atas pengembangan produknya

e. Hak untuk mendapatkan tambahan royalti setiap kali model digunakan.

Selanjutnya kewajiban yang harus dipenuhi oleh pemberi lisensi (licensor) yakni:

a. Kewajiban untuk memberikan hak untuk menggunakan paten dan teknologi yang menyertainya

b. Kewajiban untuk menjamin kualitas bahan baku yang memenuhi standar

c. Kewajiban untuk menjamin kesahihan paten

d. Kewajiban untuk memberikan training dan mengirimkan trainer dan expert untuk asistensi

e. Kewajiban untuk memberikan segala informasi (know how) yang terkandung dalam paten dan menjamin kerahasiaannya;

f. Kewajiban untuk memberikan kesempatan kepada licensee untuk mengembangkan produk atas nama licensee;

g. Kewajiban untuk membantu licensee mengembangkan pasar dan meningkatkan kualitas tenaga kerja.

B. Metode Pendekatan Dalam Penilaian Terhadap Valuasi Hak Paten

Mengandalkan metode penilaian tunggal untuk paten tidak layak saat ini, ketidakpastian dalam penilaian paten adalah salah satu masalah utama ketika mencoba memperkirakan nilai paten. Kekayaan intelektual dalam penilaian paten cenderung melakukan penilaian terhadap nilai paten itu sendiri. Menurut Standar Penilaian American Society of Appraisers yang telah ditetapkan sebagai standar penilaian publik bahwa dalam melakukan penilaian yang adil terhadap kekayaan

intelektual penilai dapat melakukan penilaian untuk menentukan nilai secara cepat dan biaya seminimum mungkin.169

Penilaian terhadap aset tidak berwujud seperti paten sangat sulit untuk divaluasi karena bersifat immaterial. Masalah yang lebih rumit yaitu tidak ada pasar aktif untuk aset tidak berwujud sehingga nilainya tidak dapat terdeteksi dan sulit untuk menentukan nilai wajarnya meskipun demikian karena sifat immaterial tersebut konsekuensi yang ditimbulkan semakin kecil misalnya terhadap masalah transportasi, penyimpanan dan sebagainya.170

Selanjutnya terlepas dari permasalahan dalam penilaian paten diatas untuk melakukan penilaian terhadap paten terdapat tiga metode pendekatan yang banyak digunakan secara internasional yaitu cost based approach (pendekatan berbasis biaya), market based approach (pendekatan berbasis pasar), income based approach (pendekatan berbasis pendapatan).

1. Pendekatan Berbasis Biaya (Cost Based Approach)

Pendekatan ini disebut juga pendekatan berbasis biaya dimana dalam mengukur manfaat jangka panjang suatu aset tidak berwujud yang merupakan titik awal untuk menentukan nilai aset dengan menghitung biaya awal produksi, biaya mengganti dan mengembangkannya.171 Biaya pengembangan aset tidak berwujud adalah biaya aktual dimana biaya pengembangan merupakan biaya yang

169 Ibid

170 Roberto Moro Visconti, Patent Valuation,

http://www.Researchgate.net/publication/324200902_patent_valuation, dipublikasikan tanggal 4 april 2018, diakses pada tanggal 18 februari 2020, hlm 8 terjemahan bebas

171 Ibid, hlm 9

89

setara dengan nilai aset tersebut.172 Namun penilaian paten dengan menggunakan pendekatan ini sangat terbatas hanya menilai paten dari segi biaya sehingga tidak melihat manfaat kedepannya yang mungkin dihasilkan suatu paten dengan kata lain pendekatan ini masih kurang efektif dalam melakukan penilaian paten.173

2. Pendekatan Berbasis Pasar (Market Based Approach)

Pendekatan penilaian paten berbasis pasar memiliki perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan pendekatan berbasis biaya sehingga menimbulkan perbedaan nilai paten antara dua pendekatan tersebut. Pendekatan berbasis biaya dimana biaya pengembangan suatu paten nilainya sudah pasti dan dapat diperhitungkan terlebih dahulu sedangkan pendekatan berbasis pasar ini dalam melakukan penilaian paten menyesuaikan dengan harga pasar yang mana nilai paten dapat berubah sesuai kebutuhan pasar.174

Penilaian paten dengan menggunakan pendekatan ini menyesuaikan nilai paten dengan transaksi terbaru yang terjadi dalam pasar sehingga besar kemungkinan nilai paten sewaktu-waktu dapat naik ataupun turun. Transaksi yang dilakukan harus tepat yang berisi informasi mengenai transaksi beserta sifat transaksi dimana informasi tersebut dapat digunakan dalam penilaian paten.175

172 M. Hendra Wibowo, Op.Cit hlm 3

173 Roberto Moro Visconti, Op.Cit hlm 17

174 Ibid hlm 10

175 Liina Tonisson, Op.Cit hlm 11

Nilai paten yang ditentukan dengan menggunakan pendekatan pasar harus akurat berdasarkan transaksi yang terjadi antara pihak independen harga pasar dapat diperoleh. Akan tetapi untuk memperoleh informasi mengenai transaksi yang dilakukan pihak independen tersebut tidak mudah untuk diketahui. Harga pasar diperoleh dari pasar aktif apabila produk dalam pasar memiliki kriteria sama, para pihak yang melakukan bersedia untuk melakukan perjanjian serta harga pasar harus transparan sehingga dapat diketahui oleh publik.176

3. Pendekatan Berbasis Pendapatan (Income Based Approach)

Pendekatan berbasis pendapatan mewakili manfaat ekonomi masa depan yang dihitung untuk nilai masa kini. Ini didasarkan pada perkiraan pendapatan masa depan dari Aset kekayaan intelektual dengan menentukan arus kas masa depan berdasarkan rencana bisnis.

Selain itu penting untuk mengetahui jangka waktu manfaat kekayaan intelektual serta resiko yang dapat ditimbulkan terkait penggunaan kekayaan intelektual di masa depan.177

Menentukan nilai paten menggunakan pendekatan pendapatan dilakukan dengan menerapakan risiko sesuai tingkat diskonto selama masa manfaat kekayaan intelektual, pendekatan ini mewujudkan potongan arus kas masa depan yang timbul dari aset perusahaan dengan

176 Mhd. Hendra Wibowo, Op.Cit hlm 4

177 Ibid

91

biaya modal dan mengurangi pengeluaran awal, sehingga menghasilkan nilai bersih.178

Menurut adaptasi yang dilakukan Pusat Inovasi LIPI dalam melakukan penilaian paten menggunakan pendekatan pendapatan terdapat beberapa faktor antara lain melakukan analisis terhadap faktor

Menurut adaptasi yang dilakukan Pusat Inovasi LIPI dalam melakukan penilaian paten menggunakan pendekatan pendapatan terdapat beberapa faktor antara lain melakukan analisis terhadap faktor

Dokumen terkait