BAB III PENGATURAN VALUASI PATEN DI INDONESIA
B. Pihak Yang Berwenang Melakukan Penilaian Terhadap
profesional yang melakukan penilaian terhadap aset maupun properti dengan penilaian secara objektif serta independen selain itu usaha penilai ini sudah dianggap sebagai kegiatan yang terpercaya dalam melakukan penilaian terhadap pihak-pihak yang mengadakan transaksi perdagangan.144
Emirzon berpendapat bahwa dalam melakukan kegiatan penilaian, penilai berpedoman pada Standar Penilaian Indonesia (SPI). SPI adalah pedoman dasar pelaksanaan tugas penilaian secara profesional yang sangat penting artinya seorang penilai dapat membuat suatu penilaian terhadap penilaian yang dilakukan berupa laporan penilaian yang didalamnya juga terdapat pendapat maupun saran.
Dalam melaksanakan tugasnya penilai harus memenuhi ketentuan dan tunduk pada Kode Etik Penilaian Indonesia.145
Usaha jasa penilai melakukan penilaian terhadap benda berwujud maupun tidak berwujud, penilaian proyek, kelayakan teknis, penilaian rekayasa, manajemen harta benda, bantuan terhadap proses jual beli/penyewaan atas suatu
143Ibid
144 Joni Emirzon, Kode Etik dan Permasalahan Hukum Jasa Penilai Dalam Kegiatan Bisnis di Indonesia, Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya, Vol 3, No. 5, Juni 2005, hlm 1
145Ibid hlm 4
69
aktiva (property agent), penilaian kelayakan usulan proyek serta jasa lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan penilaian dalam arti seluas-luasnya. Penilaian tersebut dilakukan dengan keahlian khusus, integritas, kejujuran dan objektivitas dalam memberikan pendapat mengenai nilai aset.146
Dalam melakukan penilaian atas valuasi suatu hak paten bahwa seorang penilai harus memenuhi syarat-syarat seperti telah lulus pendidikan awal penilaian sedangkan untuk penilai publik yaitu telah memperoleh izin dari Menteri.
Ketentuan mengenai penilai maupun penilai publik tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Repblik Indonesia Nomor 56/PMK.01/2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2014 Tentang Penilai Publik.147
Dalam melaksanakan Penilaian, Penilai terlebih dahulu wajib terdaftar dalam register Penilai yang diselenggarakan oleh Menteri. Pada pasal 5 Peraturan Menteri ini ditentukan lingkup Bidang jasa Penilaian yang meliputi:148 Penilaian Properti Sederhana, Penilaian Properti, Penilaian Bisnis, Penilaian Personal Properti.
1) Bidang Jasa Penilaian Properti Sederhana meliputi Penilaian:
a. Tanah kosong untuk permukiman paling luas 5.000 (lima ribu) meter persegi yang diperuntukkan untuk 1 (satu) unit rumah tinggal;
b. 1 (satu) unit apartemen, rumah tinggal, rumah toko, rumah kantor, atau kios;
c. Peralatan dan perlengkapan bangunan yang merupakan bagian yang terikat pada apartemen, rumah tinggal, rumah toko, rumah kantor, atau kios;
146Ibid hlm 6
147 Indonesia (Penilai Publik), Peraturan Menteri Keuangan Tentang Penilai Publik. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 56/PMK.01/2017, Berita Negara Republik Indonesia Nomor 596, Pasal 1
148 Ibid Pasal 5
d. 1 (satu) unit mesin individual yang digunakan pada rumah tinggal, rumah toko, atau rumah kantor, termasuk pembangkit tenaga listrik (genset) dan pompa air;
e. 1 (satu) unit alat transportasi dengan klasifikasi mobil penumpang, mobil beban, dan sepeda motor, yang bukan merupakan suatu armada angkutan.
2) Bidang Jasa Penilaian Properti meliputi Penilaian:
a. Tanah dan bangunan beserta kelengkapannya, serta pengembangan lainnya atas tanah;
b. Mesin dan peralatan termasuk instalasinya yang dirangkai dalam satu kesatuan dan/ atau berdiri sendiri yang digunakan dalam proses produksi;
c. Alat transportasi, alat berat, alat komunikasi, alat kesehatan, alat laboratorium dan utilitas, peralatan dan perabotan kantor, dan peralatan militer;
d. Perangkat telekomunikasi termasuk peralatan pemancar dan penerima jaringan, satelit, dan stasiun bumi;
e. Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan;
f. Pertambangan.
3) Bidang jasa Penilaian Bisnis meliputi penilaian:
a. Entitas bisnis;
b. Penyertaan;
c. Surat berharga termasuk derivasinya;
d. Hak dan kewajiban perusahaan;
e. Aset tak berwujud;
f. Kerugian ekonomis yang diakibatkan oleh suatu kegiatan atau peristiwa tertentu untuk mendukung berbagai tindakan korporasi atau atas transaksi material;
g. Opini kewajaran; dan h. Instrumen keuangan.
4) Bidang jasa Penilaian Personal Properti meliputi Penilaian:
a. Pabrik termasuk instalasinya yang merupakan satu kesatuan;
b. Mesin dan peralatan termasuk instalasinya yang dirangkai dalam satu kesatuan dan/ atau berdiri sendiri yang digunakan dalam proses produksi;
c. Alat transportasi, alat berat, alat komunikasi, alat kesehatan, alat laboratorium dan utilitas, peralatan dan perabotan kantor, dan peralatan militer;
d. Perangkat telekomunikasi termasuk peralatan pemancar dan penerima jaringan, satelit, dan stasiun bumi.
5) Selain jasa Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Penilai Publik dengan klasifikasi bidang jasa Penilaian Properti dapat memberikan jasa lainnya yang berkaitan dengan kegiatan Penilaian, meliputi:
71
a. Konsultasi pengembangan properti;
b. Desain sistem informasi aset;
c. Manajemen properti;
d. Studi kelayakan usaha;
e. Jasa agen properti;
f. Pengawasan pembiayaan proyek;
g. Studi penentuan sisa umur ekonomi;
h. Studi penggunaan tertinggi dan terbaik (highest and best use);
i. Studi optimalisasi aset.
6) Selain jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Penilai Publik dengan klasifikasi bidang jasa Penilaian Bisnis dapat memberikan jasa lainnya yang berkaitan dengan kegiatan Penilaian, meliputi:
a. Studi kelayakan usaha;
b. Penasihat keuangan korporasi;
c. Pengawasan pembiayaan proyek.
Adapun prosedur dan mekanisme penilaian yang dilaksanakan oleh Penilai Publik sesuai Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Repblik Indonesia Nomor 56/PMK.01/2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2014 Tentang Penilai adalah sebagai berikut:149
1. Mengidentifikasi dan memahami lingkup penugasan;
2. Melakukan pengumpulan, pemilihan dan analisis data;
3. Menerapkan pendekatan Penilaian;
4. Menyusun Laporan Penilaian.
Selain diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai siapa yang berwenang melakukan penilaian atas valusi paten juga diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69/POJK.04/2017 Tentang Penilai Yang Melakukan Penilaian Di Pasar Modal.
Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang dimaksud Penilai adalah orang perseorangan yang dengan keahliannya menjalankan kegiatan penilaian di
149 Ibid Pasal 4
pasar modal. Sedangkan Penilaian yaitu proses pekerjaan untuk memberikan opini tertulis atas nilai ekonomi suatu objek penilaian.150
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan hanya menentukan dua Ruang lingkup kegiatan penilaian yang dilakukan oleh Penilai mencakup: Penilaian properti;
dan/atau Penilaian bisnis.151
a. Kegiatan penilaian properti, antara lain:
1) Penilaian real properti;
b. Kegiatan penilaian bisnis, antara lain:
1) Penilaian perusahaan dan/atau badan usaha;
2) Penilaian penyertaan dalam perusahaan;
3) Penilaian instrumen keuangan;
4) Penilaian aset tak berwujud;
5) Pemberian pendapat kewajaran atas transaksi;
6) Penyusunan studi kelayakan proyek dan usaha;
7) Penilaian keuntungan/kerugian ekonomis yang diakibatkan oleh suatu kegiatan atau suatu peristiwa tertentu;
8) Penilaian bisnis lainnya.
Baik Peraturan Menteri Keuangan maupun Peraturan Otorias Jasa Keuangan tersebut diatas sama-sama menentukan bahwa penilaian atas valuasi yang dilakukan terhadap hak paten termasuk dalam kategori penilaian bisnis yaitu penilaian yang dilakukan pada aset tak berwujud.
150Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Tentang Penilai yang Melakukan Kegiatan di Pasar Modal, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 68/POJK.04/2017, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 289, Tambahan Lembaran Negara Nomor 6157, Pasal 1
151Ibid Pasal 2
73