BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Makanan Dalam Kemasan
2.1.2. Klasifikasi kemasan
Kemasan dapat digolongkan berdasarkan frekuensi pemakaian, sifat kekakuan bahan pengemas, dan tingkat kesiapan pakai. Frekuensi pemakaian kemasan dimaksudkan berapa kali kemasan tersebut dapat digunakan, terdapat kemasan sekali pakai dan kemasan yang dapat dipakai berulang kali seperti botol kecap. Yang kedua terdapat sifat kekakuan bahan kemas yang digunakan dalam membungkus suatu makanan dalam kemasan yaitu kemasan yang fleksibel dan kemasan kaku. Bahan kemasan fleksibel yaitu bahan yang mudah dilenturkan dan tidak dapat retak seperti plastik dan kertas, sedangkan bahan kemasan kaku bersifat keras, tidak tahan benturan, dan retak seperti gelas. Dan yang ketiga, tingkat kesiapan pakai dalam kemasan dibagi menjadi dua yaitu wadah siap pakai dan wadah siap dirakit. Bahan kemasan yang siap pakai seperti botol dan wadah kaleng, sedangkan wadah siap dirakit seperti wadah yang terbuat dari kertas dan plastik yang nantinya masih memerlukan tahap perakitan.8 2.2. Label Informasi Zat Gizi
Label gizi merupakan suatu informasi kandungan gizi yang terkandung dalam produk pangan disertai jumlah kandungan tersebut dalam tiap sajian atau kemasan makanan. Tujuan utama pelabelan gizi adalah membantu konsumen untuk menghindari atau mengurangi kelebihan ataupun kekurangan asupan zat gizi yang dapat berakibat pada masalah kesehatan terkait pola makan.9
Informasi yang keberadaannya penting bagi konsumen pada suatu label gizi adalah label informasi komposisi dan nilai zat gizi. Komposisi yang tertera pada label
informasi zat gizi adalah keterangan tentang jenis bahan yang digunakan dalam proses produksi pangan.10
Peraturan mengenai label gizi di Indonesia yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat (BPO) dan makanan menerangkan bahwa perusahaan makanan kemasan berkewajiban untuk mencatumkan label informasi zat gizi pada kemasannya.
Zat gizi yang dilampirkan diantaranya kandungan kalori, lemak, protein, gula, dan sodium.11 Senauer, Asp, dan Kinsey mengungkapkan penggunaan label informasi zat gizi diasumsikan sebagai aktivitas konsumen dalam pencarian informasi seperti yang tertera pada kemasan produk. Aktivitas ini merupakan suatu proses yang aktif, yang terdiri dari perilaku melihat sebagai usaha pencarian informasi, mengevaluasi informasi yang ada untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan membeli produk makanan.12 Definisi ini kemudian diasumsikan sebagai definisi kepatuhan membaca label informasi zat gizi dan komposisi pada makanan kemasan.13 2.2.1 Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan ditetapkan terdapat beberapa informasi yang wajib dicantumkan pada label gizi seperti nama produk, berat bersih, nama dan alamat.14
Hal yang meliputi pecantuman informasi nilai gizi antara lain definisi mengenai informasi nilai gizi, ketentuan umum label gizi, informasi yang wajib dicantumkan, dan zat gizi yang wajib dicantumkan.15
Informasi nilai gizi adalah daftar kandungan zat gizi pada label pangan sesuai dengan format yang telah ditentukan. Terdapat beberapa ketentuan umum dalam mencantumkan informasi nilai gizi. Pencantuman informasi nilai gizi diwajibkan pada label pangan yang memuat keterangan tertentu, yaitu label gizi yang diserti pernyataan bahwa pangan tersebut mengandung vitamin, mineral, dan atau zat gizi lainnya seperti karbohidrat, protein, lemak dan energi.16 Label informasi nilai gizi yang biasa tercantum pada makanan kemasan terdapat pada gambar 2.1
6
Gambar 2.1 Informasi nilai gizi
Dari gambar di atas terdapat informasi yang wajib dicantumkan pada label gizi terdiri dari takaran saji, jumlah sajian per-kemasan, dan catatan kaki, yaitu sebagai berikut:
A. Takaran Saji
Takaran saji adalah jumlah produk pangan yang biasa dikonsumsi dalam satu kali makan, dinyatakan dalam ukuran rumah tangga yang sesuai untuk produk pangan tersebut. Ukuran rumah tangga meliputi antara lain sendok teh, sendok makan, sendok takar, gelas, botol, kaleng, mangkuk/cup, bungkus, sachet, keping, buah, biji, potong, dan iris.17
B. Jumlah Sajian Per Kemasan
Jumlah sajian per kemasan menunjukan jumlah takaran saji yang terdapat dalam satu kemasan pangan. Pencantuman jumlah sajian per kemasan yaitu sebagai berikut:
Jika satu bungkus produk pangan berisi 6 takaran saji, maka pencantuman jumlah sajian per kemasan sebagai berikut: “Jumlah sajian per kemasan : 6”16
C. Catatan Kaki
Catatan kaki merupakan informasi yang menerangkan bahwa persentase angka kecukupan gizi (AKG) yang ditunjukkan dalam informasi nilai gizi dihitung berdasarkan kebutuhan energi 2000 kkal. Pencantuman catatan kaki yaitu sebagai berikut: Tulisan yang dicantumkan adalah sebagai berikut: *Persen AKG berdasarkan kebutuhan energy 2000 kkal.18
Informasi zat gizi yang wajib dicantumkan pada label gizi terdiri dari energi total, lemak total, protein, karbohidrat totalm dan natrium, yaitu sebagai berikut:18 A. Energi Total
Energi total merupakan jumlah energi yang berasal dari lemak, protein, dan karbohidrat. Pencantuman energi total dicantumkan dalam satuan kkal per takaran saji dengan tulisan tebal (bold). Misal : “Energi total 20 kkal”
B. Lemak Total
Lemak total menggambarkan kandungan semua asam lemak dalam pangan dan dinyatakan sebagai trigliserida. Pencantuman kandungan lemak total dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG lemak, dengan tulisan tebal (bold).
Misal : “Lemak total 12 g”
C. Protein
Kandungan Protein menggambarkan kandungan semua asam amino dalam produk pangan. Pencantuman kandungan protein dicantumkan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold). Misal : “Protein 3 g”
D. Karbohidrat Total
Karbohidrat total meliputi gula, pati, serat pangan, dan komponen karbohidrat lain.
Pencantuman kandungan karbohidrat total dunyatakan dalam gram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold). Misal : “Karbohidrat total 26 g”
E. Natrium
Kandungan natrium dinyatakan dalam milligram per sajian dan dalam persentase AKG, dengan tulisan tebal (bold). 19
Misal : “Natrium 30 mg”
8
2.3. Pengetahuan dan Perilaku 2.3.1. Pengetahuan
2.3.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan tersendiri. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian presepsi terhadap obyek.
Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga.20
2.3.1.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, secara garis besar pengetahuan seseorang dibagi dalam 6 tingkatan, yaitu:21
Dari gambar di atas tingkat pengetahuan terdiri dari tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya seperti mengingat kembali sesuatu, memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar, aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
EVALUASI SINTESIS ANALISIS APLIKASI MEMAHAMI
TAHU
telah dipelajari kepada situasi atau kondisi sebenarnya, analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain, sintesis berarti suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada, evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek yang berdasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada.21 2.3.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:22
1. Pengalaman.
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain, pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.
2. Tingkat pendidikan.
Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
3. Informasi.
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan lebih luas.
4. Sosial Budaya.
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mengetahui pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.
2.3.2. Perilaku
2.3.2.1.Pengertian Perilaku
Perilaku merupakan suatu respons seseorang yang dikarenakan adanya suatu stimulus atau rangsangan dari luar.20 Adapun perilaku kesehatan merupakan suatu respons dari seseorang berkaitan dengan masalah kesehatan, penggunaan pelayanan
10
kesehatan, pola hidup, maupun lingkungan sekitar yang memengaruhi.23 Menurut Becker, 1979 yang dikutip dalam Notoatmodjo, perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi tiga:20
a. Perilaku hidup sehat (healthy life style)
Merupakan perilaku yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan kesehatan dengan gaya hidup sehat yang meliputi makan menu seimbang, olahraga yang teratur, tidak merokok, istirahat cukup, dan menjaga perilaku yang positif bagi kesehatan.
b. Perilaku sakit (illness behavior)
Merupakan perilaku yang terbentuk karena adanya respons terhadap suatu penyakit. Perilaku dapat meliputi pengetahuan tentang penyakit serta upaya pengobatannya.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Merupakan perilaku seseorang ketika sakit. Perilaku ini mencakup upaya untuk menyembuhkan penyakitnya.
2.3.2.2. Faktor yang mempengaruhi perilaku
Dalam menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku, konsep umum yang sering digunakan dalam berbagai kepentingan program dan beberapa penelitian yang dilakukan adalah teori yang dikemukakan oleh Green (1980).
Menurut Green dalam Notoatmodjo (2010) perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor pendorong, dan faktor penguat.22
a. Fakto-faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.
b. Faktor-faktor pendorong (enambling factor)
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergizi dan sebagainya.
Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, bidan, dokter, dan sebagainya.
c. Faktor-faktor penguat (reinforcing factor)
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk disini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah terkait dengan kesehatan.22
2.3.2.3. Perilaku memilih makanan 1. Definisi Memilih Makanan
Istilah pemilihan makanan didefinisikan sebagai kekuatan kemauan seseorang untuk mengendalikan makanan yang dikonsumsinya.2 Faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu faktor terkait makanan, faktor personal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan pemilihan makanan, dan faktor sosial ekonomi.24
Menurut Sediaoetama, pemilihan makanan merupakan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat.25
2. Faktor yang Mempengarui Pemilihan Makanan
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan individu maupun keluarga. Secara garis besar, dikelompokkan faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan menjadi tiga yaitu karakteristik individu, karakteristik makanan, dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kondisi psikologis. Karakteristik makanan meliputi faktor dari sifat makanan, metode penyiapan makanan, kemudahan untuk dicerna, dan ketersediaan makanan Sedangkan suhu termasuk dalam karakteristik lingkungan.13 Selain itu, terdapat penelitian oleh Rahman, Khattak, dan Mansor tentang pemilihan makanan.
12
Dalam penelitiannya, terdapat berbagai faktor yang mendorong dalam pemilihan makanan, antara lain:26
a. Kepedulian Terhadap Kesehatan (Health).
Kepedulian dalam menjaga kesehatan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi dalam pemilihan makanan seperti mengkonsumsi makanan sehat.
Seseorang akan lebih mepertimbangkan kesehatan dalam pemilihan makanan berdasarkan dari status kesehatan saat ini, kesadaran terhadap perilaku kesehatan, dan dampaknya di masa yang akan datang.27
b. Kebiasaan (Familiarity).
Kebiasaan adalah kecenderungan sesorang untuk memilih makanan yang sudah biasa dimakan dibandingkan mencoba makanan baru. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan di Malaysia yang menyatakan bahwa kebiasaan (familiarity) dengan makanan lebih penting bagi orang Melayu dibandingkan dengan orang Cina.28
c. Perasaan (Mood).
Faktor suasana hati merupakan mekanisme dan bagaimana seorang individu dapat merasa baik atau santai. Stress dan jadwal yang padat karena kondisi kerja dapat menjadi alasan mengapa makanan yang dipilih berdasarkan apakah makanan tersebut menenangkan dan menghibur.26
d. Daya Tarik Sensorik (Sensory Appeal).
Aroma makanan yang menggugah selera dan disukai dapat memberi rangsangan pada indra penciuman seseorang sehingga akan mempengaruhinya untuk mengonsumsi makanan tersebut.13
e. Harga (Price).
Harga memiliki pengaruh yang kuat dalam pemilihan makanan. Harga makanan merupakan elemen yang paling penting bagi masyarakat dengan pendapatan rendah dibanding faktor yang lain. Penurunan harga memiliki pengaruh yang kuat terhadap pola pembelian makanan yang di targetkan di tempat kerja dan kafe di sekolah bagi kalangan remaja.29
f. Komposisi Makanan (Natural Content).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mohd-Any, Mahdzan, dan Cher di Malaysia, menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat pecinta makanan maupun bukan pecinta makanan dalam pemilihan makanan lebih memperhatikan terhadap komposisi makanan untuk menjalankan diet yang seimbang dan cenderung menerapkan konsumsi makan yang sehat.28
14
2.4. Kerangka Teori
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Faktor yang mempengaruhi:
1. Faktor personal berkaitan dengan pengambilan makanan
Faktor yang mempengaruhi : 1.Tingkat pendidikan
2.5. Kerangka Konsep
Bagan 2.2 Kerangka Konsep Keterangan :
= Yang diteliti
= Tidak diteliti 1. Tingkat Pengetahuan
2. Informasi 3. Pengalaman 4. Sosial budaya
Pengetahuan
Perilaku
Memilih makanan
1.Fakor predisposisi 2. Faktor Pendorong 3. Faktor Penguat
16
3. Jenis Kelamin Karakteristik biologis yang
5. Ukuran makanan kemasan
Ukuran yang menunjukkan besar atau kecilnya suatu makanan kemasan.
Skala Kuesioner
1. Ukuran kecil 2. Ukuran sedang 3. Ukuran besar
Ordinal
18 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif kategorik tidak berpasangan yang menggunakan desain potong lintang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan antara pengetahuan mahasiswa tentang label makanan dengan perilaku konsumsi makanan kemasan di kantin Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian 3.2.1. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Juni 2018.
3.2.2. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Kantin Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Kertamukti 05, Pisangan, Ciputat Timur 15419, Tangerang Selatan.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.3.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode random sampling yaitu dengan memilih mahasiswa Fakultas Kedokteran secara acak.
Besar sampel (n) dapat ditentukan dengan rumus : 𝑛 =Za2 x PQ
d2 n = besar sampel
Za = 1,96 (deviat buku normal untuk a=0,05) P = 0,5
Q = 1-p = 1- 0,5 = 0,5 d = 0,1 (10%)
𝑛 =(1,96)2 𝑥 0,5 𝑥 0,5
(0,1)2 = 96,04 ~ 96
Jadi, sampel minimal yang dibutuhkan adalah sebanyak 96 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.3.3. Kriteria Sampel 3.3.3.1. Kriteria Inklusi
1. Mahasiswa prelinik Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2. Mahasiswa yang bersedia menjadi responden
3. Mahasiswa yang hadir pada saat pengambilan data 3.3.3.2. Kriteria Eksklusi
1. Mahasiswa klinik Fakultas Kedokteran 2. Mahasiswa yang tidak pernah jajan di Kantin 3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner.
Peneliti menggunakan kuesioner yang terdiri dari tiga bagian, antara lain:
1. Kuesioner A berisi 6 pernyataan terkait kebiasaan perilaku mahasiswa dalam mengkonsumsi makanan kemasan (snack) yang aman.
2. Kuesioner B berisi 10 pernyataan terkait pengetahuan mahasiswa tentang label makanan kemasan.
3. Kuesioner C berisi gambar makanan dan pertanyaan mengenai salah satu makanan kemasan yang tersedia di kantin Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kuesioner C ini dibuat untuk mengetahui perilaku mahasiswa seperti kegiatan atau aktivitas mahasiswa dalam
20
memilih makanan. Peneliti sebelumnya melakukan observasi di kantin untuk mengetahui makanan kemasan apa saja yang dijual lalu peneliti memilih salah satu makanan kemasan yang sering dibeli oleh mahasiswa untuk dijadikan contoh dalam kuesioner penelitian. Selanjutnya, mahasiswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang ada di kuesioner berdasarkan kebiasaan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam membeli makanan tersebut seperti ukuran kemasan, berapa bungkus sekali beli, apakah satu bungkus langsung habis dimakan atau tersisa, berapa kali makan dalam satu bungkus, serta pengetahuan mengenai sajian makanan dalam satu bungkus itu untuk berapa kali makan. Tujuan dari kuesioner C ini adalah untuk mengetahui apakah perilaku mahasiswa sesuai atau tidak sesuai dalam berperilaku memilih makanan yang dikaitkan dengan pengetahuan dalam mengkonsumsi Richeese Nabati.
Tabel 3.1 Penilaian perilaku konsumsi Richeese Nabati
Ukuran Richeese
3.5. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Sebelum melakukan pengumpulan data penelitian, peneliti telah melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument yang akan digunakan. Uji coba validitas dan reliabilitas dilakukan pada tanggal 25-28 Mei 2018 kepada 15 mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
1. Validitas Instrumen
Uji Validitas dilakukan kepada 15 responden. Setelah didapatkan data lalu dilakukan uji pearson dengan menggunakan software statistic pada kuesioner A, hasilnya didapatkan pernyataan yang dinyatakan tidak valid berjumlah 1 item yaitu pernyataan item P3 dengan nilai r = 0,350. Dan pada kuesioner A terdapat 6 item yang ditanyakan. Kuesioner B didapatkan hasil pernyataan yang dinyatakan tidak valid yaitu
berjumlah 2 item, yaitu pernyataan item P2 dengan nilai r = 0,332 dan item P11 dengan nilai r = 0,098. Dari 11 item pernyataan, total item yang akhirnya digunakan dalam penelitian yaitu menjadi 10 item. Lalu item yang tidak valid diubah pernyataannya, setelah itu peneliti melakukan uji validitas kembali kepada 15 responden dengan Kuesioner A berjumlah 6 pernyataan dengan pernyataan nomor 3 diubah, dan Kuesioner B berjumlah 10 pernyataan dengan pernyataan nomor 2 diubah dan didaptkan hasil item P3 dengan nilai r = 0,531 dan item P2 dengan nilai r = 0,549. Dan dinyatan kedua item tersebut valid.
2. Reliabilitas Instrumen
Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS metode cronbach’s alpha didapatkan nilai 0,522 untuk instrumen perilaku dan 0,676 untuk instrumen pengetahuan. Kedua instrument tersebut dinyatakan reliabel.
3.6. Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan data primer. Data primer ini didapatkan dari responden yang mengisi kuesioner yang disebar oleh peneliti dalam bentuk hardcopy. Dengan cara peneliti memasuki ruang kelas dan mulai memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan maksud dari penelitian kepada responden.
Selanjutnya peneliti membagikan kuesioner kepada beberapa mahasiswa yang terdapat di dalam kelas dan memberikan penjelasan tentang cara pengisian kuesioner. Peneliti tetap berada di ruang kelas selama responden mengisi kuesioner tersebut.
Setelah kuesioner terkumpul, peneliti melakukan pengecekan apakah data sudah terisi dengan lengkap atau belum. Setelah lengkap, data diproses dengan cara meng-entry data yang ada pada kuesioner ke dalam program software statistic. Dan peneliti mengecek kembali data yang sudah di-entry apakah terdapat kesalahan atau tidak.
22
3.7. Pengolahan Data
Berikut tahap-tahap dalam proses pengolahan data menurut Notoatmodjo :22 1. Editting
Editting merupakah kegiatan pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner. Apabila ada jawaban-jawaban yang belum lengkap, jika memungkinkan perlub pengambilan data ulang untuk melengkapi jawaban-jawaban tersebut. Tetapi apabila tidak memungkinkan, maka pertanyaan yang jawabannya tidak lengkap tersebut tidak diolah.
2. Coding
Coding merupakan proses mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Kode untuk kuesioner A yaitu “benar
= 1” dan “salah=0”. Kode untuk kuesioner B “benar=1” dan “salah=0”.
3. Data Entry
Data entry yakni memasukkan jawaban-jawaban dari responden yang dalam bentuk angka atau huruf ke dalam program software computer. Program untuk entry data pada penelitian ini menggunakan software statistic.
4. Cleaning
Proses cleaning (pembersihan data) yakni dilakukan setelah semua data dari responden selesai dimasukkan, kemudian perlu dicek kembali kemungkinan adanya kesalahan kode dan ketidaklengkapan, selanjutnya dilakukan koreksi atau pembetulan.
3.8. Analisis Data 3.8.1. Analisis Univariat
Tujuan analisis univariat adalah untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Analisis univariat pada penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku secara deskriptif dengan menghitung jumlah frekuensi dari masing-masing variabel.30
3.8.2. Analisis Bivariat
Setelah analisis univariat dilakukan, akan diketahui hasil dari karakteristik atau distribusi setiap variabel, kemudian dapat dilanjutkan ke analisis bivariat. Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga mempunyai hubungan. Pada penelitian ini analisis bivariat dilakukan terhadap variabel pengetahuan dengan perilaku. Analisis data yang digunakan yaitu uji nonparametrik karena variabel penelitian adalah jenis kategorik. Uji penelitian yang digunakan adalah uji Chi-square.
Uji ini digunakan untuk menguji hubungan antara variabel independen skala ordinal dan variabel dependen skala ordinal.
Untuk interpretasi hasil pada uji Chi-square dapat dilihat dari tingkat kemaknaan 5% jika semua tabel memiliki expected count lebih dari lima, sedangkan jika ada minimal satu tabel memiliki expected count kurang dari lima maka dilakukan Uji Fisher.30
3.9. Penyajian dan Pelaporan Data
Data disajikan dalam bentuk narasi dan tabel dan disertai dengan penjelasan deskriptif dan dilaporkan sebagai skrispsi. Data dan hasil analisis dilaporkan dalam bentuk makalah laporan penelitian yang kemudian dipresentasikan di depan penguji dari modul riset.
24 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Sebaran Karakteristik Responden
Penelitian ini dilakukan dengan responden penelitian sebanyak 96 orang mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2018. Jumlah mahasiswa preklinik di Fakultas Kedokteran UIN Jakarta berjumlah 286 mahasiwa dengan rincian 105 mahasiswa
Penelitian ini dilakukan dengan responden penelitian sebanyak 96 orang mahasiswa pre-klinik Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2018. Jumlah mahasiswa preklinik di Fakultas Kedokteran UIN Jakarta berjumlah 286 mahasiwa dengan rincian 105 mahasiswa