Teh dapat dikelompokkan dalam tiga jenis berdasarkan pengolahannya, yaitu teh hijau (tidak difermentasi), teh oolong dan teh pouchong (semifermentasi), dan teh hitam (fermentasi penuh) (Syah, 2006).
Teh hijau dibuat melalui inaktivasi enzim polifenol oksidasenya di dalam daun teh segar. Metode inaktivasi enzim polifenol oksidase teh hijau dapat dilakukan melalui pemanasan (udara panas) yaitu memanaskan daun
yang sudah kering dan penguapan (steam /uap air) dimana daun teh segar yang masih baru dipetik diuapkan sebentar kemudian dikeringkan. Kedua metode ini berguna untuk mencegah tejadinya oksidasi enzimatis katekin (Syah, 2006).
Teh hitam dibuat dengan cara memfermentasikan daun teh, yang sebelumnya sedikit dikeringkan dengan udara hangat, dilayukan dan digiling di bawah pengaruh panas yaitu melalui oksidase katekin dalam daun segar dengan katalis polifenol oksidase atau yang disebut dengan fermentasi. Proses fermentasi ini dihasilkan dalam oksidasi polifenol sederhana, yaitu katekin teh diubah menjadi molekul yang lebih kompleks dan pekat sehingga memberi ciri khas teh hitam, yaitu berwana kuat dan tajam (Syah, 2006).
Teh oolong diproses melalui pemanasan daun dalam waktu singkat setelah penggulungan, oksidasi terhenti dalam proses pemanasan, sehingga teh oolong disebut dengan teh semifermentasi. Karakteristik teh oolong berada diantara teh hitam dan teh hijau (Syah, 2006).
2. Kandungan kimia
a. Substansi fenol 1) Katekin (polifenol)
Katekin merupakan senyawa dominan dari polifenol teh hijau yang merupakan senyawa larut dalam air, tidak berwarna dan memberikan rasa pahit, tidak bersifat menyamak dan tidak berpengaruh buruk terhadap pencernaan makanan, katekin teh bersifat antimikroba (bakteri, virus), antioksidan, antiradiasi, memperkuat pembuluh darah,
melancarkan sekresi air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker (Fulder, 2004).
Katekin dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu proantocyanidin dan polyester. Katekin teh hijau tersusun sebagian besar atas senyawa-senyawa katekin, epikatekin, galokatekin, epigalokatekin, galokatekin galat dan epigalokatekin galat (Syah, 2006). Kandungan teh hijau bervariasi menurut cara pengolahannya. Kandungan katekin tertinggi ada pada teh hijau, disusul teh oolong, dan teh hitam. Teh hijau mengandung 16-30 % senyawa katekin.
2) Flavanol
Flavanol dalam teh meliputi quersetin, kaemferol, dan mirisetin. Flavanol merupakan antioksidan alami yang mampu mengikat logam.
b. Substansi bukan fenol
Substansi bukan fenol terdiri dari: 4 % karbohidrat, 6 % substansi pektin, 3-4 % alkaloid seperti teofilin (1,3-dimetil xantin), teobromin (3,7-dimetil xantin) dan kafein (1,3,7-trimetil xantin). Kafein dapat berfungsi sebagai stimulan pada sistem CNS (Central Nervous System) dalam sistem respiratori dan jantung). Kandungan teh hijau lainnya adalah klorofil dan zat warna lain, protein dan asam-asam amino, asam organik substansi resin, vitamin, substansi mineral.
c. Substansi penyebab aroma
Beberapa pendapat menyatakan bahwa aroma teh berasal dari glikosida yang terurai menjadi gula sederhana dan senyawa beraroma. Pendapat lain mengatakan aroma berasal dari oksidasi karotenoid yang menghasilkan senyawa mudah menguap (aldehid dan keton tidak jenuh) (Syah, 2006).
d. Enzim
Beberapa enzim terdapat dalam daun teh. Peranan penting enzim-enzim ini adalah sebagai biokatalisator pada setiap reaksi kimia dalam tanaman. Enzim yang dikandung dalam daun teh diantaranya invertase, amilase, β-glukosidase, oximetilase, protease dan peroksidase (Syah, 2006).
B. Kulit
Kulit merupakan organ terluas yang menutupi seluruh permukaan tubuh. Kulit berfungsi sebagai pelindung tubuh dari pengaruh luar baik secara fisik maupun imunologik. Kulit juga berperan penting dalam interaksi antar individu dengan lingkungan, karena merupakan indera yang sensitif terhadap sentuhan yang kadang membuat perasaan emosional (Rawling, 2002). Kulit memiliki kekakuan yang bervariasi di setiap bagian yang berbeda. Daerah yang paling kaku dan tebal adalah telapak kaki dan telapak tangan serta sela-sela jari. Kulit menjadi lebih tipis dan berkeriput pada usia tua dan kelihatan kekuningan bahkan
keabu-abuan, sering disebut penuaan kulit. Pada kulit wajah, sel-selnya sangat tipis, sehingga memungkinkan sediaan kosmetik dapat berpenetrasi (Young, 1972).
Gambar 1. Struktur Kulit
Kulit tersusun dari 3 komponen utama yaitu : 1. Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri dari 5 lapis sel, dari atas ke bawah, yaitu: a. Stratum corneum
Stratum corneum adalah lapisan kulit terluar dan terdiri dari beberapa lapisan sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin. Lapisan tanduk memberikan perlindungan terhadap cahaya, panas bakteri dan berbagai bahan kimia.
b. Stratum lucidum
Lapisan ini merupakan sel gepeng, jernih dan sel mati yang berisi eleidin, eleidin dibentuk dari keratohialin dan akan berubah menjasi keratin.
c. Stratum granulosum
Lapisan ini terdiri dari 3-5 lapis sel gepeng yang berisi butiran berwarna gelap yang disebut keratohialin. Keratohialin ikut serta dalam langkah pembentukan keratin.
d. Stratum spinosum
Lapisan ini terdiri dari 8-10 lapis sel poligonal yang sangat rapat. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti sel terletak ditengah.
e. Stratum basale atau stratum germinativum
Stratum basale merupakan lapisan terdalam dalam epidermis. Lapisan ini terdiri dari satu lapis sel kubus. Pada saat pembelahan sel, sel-sel ini akan bergerak maju kepermukaan menjadi lapisan-lapisan yang diatasnya. Inti selnya akan mengalami degenerasi dan selnya akan mati. Sel-sel ini akan menggantikan sel-sel yang ada pada bagian paling atas epidermis.
2. Lapisan Dermis
Dermis terdiri dari jaringan connective yang berisi serabut kolagen dan serabut elastin. Ruang diantara serabut tersebut berisi jaringan adiposa, folikel rambut, saraf, kelenjar lemak dan kelenjar keringat.
Lapisan ini terdiri dari:
a. Pars papilaris terdiri dari jaringan connective yang berisi serabut elastis, ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikularis adalah bagian bawah dermis yang berhubungan dengan lapisan sub kutis. Bagian ini terdiri dari jaringan connective yang padat yang berisi serabut kolagen dan serabut elastis.
3. Lapisan Subkutis
Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat longgar dengan isi sel lemak. Di lapisan ini terdapat ujung saraf tepi, pembuluh darah dan saluran getah bening (Tortora, 1990).