• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.2. Klasifikasi Risiko

Menurut Harwood et al (1999) terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani, yaitu:

1. Risiko produksi

Sumber risiko yang berasal dari risiko produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim, kesalahan sumberdaya manusia, dan lain-lain.

2. Risiko Pasar atau Harga

Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan lain-lain. Sementara itu, risiko yang ditimbulkan oleh harga adalah harga naik karena inflasi.

3. Risiko Kelembagaan

Risiko yang ditimbulkan dari kelembagaan antara lain adanya aturan tertentu yang membuat anggota suatu organisasi menjadi kesulitan untuk memasarkan ataupun meningkatkan hasil produksinya.

4. Risiko Kebijakan

Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan antara lain adanya suatu kebijakan tertentu yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha, misalnya kebijakan tarif ekspor.

21 Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun karena krisis ekonomi dan lain-lain. Menentukan sumber risiko adalah sangat penting karena mempengaruhi cara penanganannya. Risiko juga dapat diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang sumber penyebab kerugian yang terjadi (Darmawi, 2004) :

1. Risiko Sosial

Sumber utama risiko adalah masyarakat, artinya tindakan orang-orang yang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan. Risiko sosial ini berupa kecelakaan yang menimbulkan kerusakan harta dan jiwa.

2. Risiko fisik

Sumber risiko fisik sebagian adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan kesalahan manusia. Sumber risiko fisik dapat disebabkan oleh adanya kebakaran, cuaca buruk, dan bencana alam lainnya.

3. Risiko Ekonomi

Banyak risiko yang dihadapi perusahaan yang bersifat ekonomi, seperti inflasi, fluktuasi lokal, ketidakstabilan perusahaan dan lainnya.

Risiko juga dapat diklasifikasikan dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan dan sudut pandang kejadian yang terjadi (Kountur, 2008):

1. Risiko Dari Sudut Pandang Penyebab

Risiko jika diklasifikasikan dalam sudut pandang penyebab kejadian dapat dibedakan ke dalam risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan terjadi karena disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti perubahan harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Sedangkan risiko operasional merupakan risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan seperti manusia, teknologi, dan alam.

2. Risiko Dari Sudut Pandang Akibat

Terdapat dua kategori risiko jika dilihat dari sudut pandang akibat yang ditimbulkan yaitu: (1) risiko murni, yaitu risiko yang akibat yang ditimbulkan hanya berupa sesuatu yang merugikan dan tidak memungkinkan adanya

22 keuntungan, dan (2) risiko spekulatif, yaitu risiko yang memungkinkan untuk menimbulkan suatu kerugian atau menimbulkan keuntungan.

3. Risiko Dari Sudut Pandang Aktivitas

Aktivitas dapat menimbulkan berbagai macam risiko, misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank yang risikonya dikenal dengan risiko kredit. Contoh lain dari sudut pandang penyebab terjadinya risiko adalah ketika seseorang melakukan perjalanan dan dalam perjalanannya dihadapkan pada risiko. Risiko semacam ini disebut juga dengan risiko perjalanan. Banyaknya risiko dari sudut pandang penyebab adalah sebanyak jumlah aktivitas yang ada.

4. Risiko Dari Sudut Pandang Kejadian

Risiko yang dinyatakan berdasarkan kejadian merupakan pernyataan risiko yang paling baik, misalnya terjadi kebakaran, maka risiko yang terjadi adalah risiko kebakaran. Contoh lain adalah kejadian anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Risiko yang dinyatakan dari kejadian ini adalah risiko anjloknya nilai tukar rupiah.

3.1.3. Risiko Portofolio dalam Diversifikasi

Pengukuran risiko menjadi sangat penting dalam tahapan analisis risiko karena tahapan ini dapat menentukan relatifitas penting atau tidaknya risiko tersebut untuk ditangani dan untuk memperoleh informasi yang akan menolong dalam menetapkan kombinasi strategi manajemen risiko. Untuk menentukan banyaknya kejadian yang dianggap berisiko dapat menggunakan konsep perhitungan peluang. Hasil dari perhitungan peluang ini akan menunjukkan seberapa sering perusahaan menghadapi periode atau hasil yang sesuai dengan harapan, melebihi harapan dan tidak sesuai dengan harapan.

Pengukuran risiko juga mencakup proses penilaian risiko. Menurut Elton dan Grubber (1995) terdapat beberapa penilaian risiko yaitu: perhitungan varian (variance), standar baku (standard deviation) dan koefisien variasi (coefficient variation). Ketiga alat ukur penilaian risiko ini saling berkaitan satu sama lain dengan nilai varian sebagai dasar perhitungan untuk pengukuran lainnya. Standar baku merupakan akar kuadrat dari perhitungan nilai varian sedangkan koefisien variasi merupakan rasio antara nilai standar baku dengan nilai expected return.

23

Expected return merupakan nilai atau hasil yang diharapkan oleh pengusaha atau pelaku usaha. Expected return dapat berbentuk jumlah produksi, jumlah penjualan dan penerimaan atau pendapatan.

Alat penilaian risiko dengan model varian dan standar baku sering sekali dianggap kurang tepat apabila dibandingkan dengan penerimaan (return). Varian dan standar baku hanya menunjukkan nilai risiko secara absolut. Khususnya apabila dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam manajemen perusahaan, model perhitungan dengan varian dan standar baku tidak layak. Untuk mengatasi hal itu model perhitungan dengan menggunakan koefisien variasi merupakan model yang peling sesuai. Koefisien variasi sudah memperhitungkan antara nilai risiko yang dihadapi sebuah perusahaan dan perbandingannya dengan setiap satu satuan penerimaan (return) yang diperoleh oleh perusahaan. Sehingga pada akhirnya pernyataan yang mengatakan „ high risk high return‟ dapat diuji dan dilihat kebenarannya dalam kasus yang dihadapi perusahaan.

Pelaku bisnis mempunyai banyak alternatif dalam melakukan investasi. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan pelaku bisnis dalam menginvestasikan dananya dengan melakukan kombinasi dari beberapa kegiatan usaha atau aset. Kombinasi dari beberapa kegiatan usaha atau aset dinamakan dengan diversifikasi.

Portofolio merupakan kombinasi atau gabungan dari beberapa investasi. Teori portofolio merupakan teori yang menjelaskan penyaluran modal ke dalam berbagai macam investasi dengan tujuan menekan risiko dan menjamin pendapatan seaman dan seuntung mungkin. Teori portofolio membahas portofolio yang optimum yaitu portofolio yang memberikan hasil pengembalian tertinggi pada suatu tingkatan risiko tertentu atau tingkat risiko paling rendah dengan suatu hasil tertentu.

Teori portofolio menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya dalam pembentukkan portofolio. Dalam bentuk dasarnya, teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek dimasa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi

24 pengembalian. Dengan asumsi tertentu, teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian5.

Diversifikasi dilakukan untuk mengurangi risiko portofolio, yaitu dengan cara mengkombinasi atau dengan menambah investasi (asset/aktiva/sekuritas). Hal ini berdasarkan pertimbangan apabila salah satu asset menghasilkan return

yang rendah maka asset yang lain diharapkan menghasilkan yang tinggi sehingga kerugian bisa tertutupi. Keputusan manajemen untuk mengusahakan satu usaha tunggal (spesialisasi) atau diversifikasi bisa murni termotivasi karena tingkat keuntungan yang diharapkan (expected profit) tanpa mempertimbangkan kaitannya dengan upaya menurunkan risiko.

Teori portofolio membantu manajemen dalam pengambilan keputusan mengenai kombinasi investasi yang paling aman dikaitkan dengan tingkat risiko yang dihadapi. Dasar teori ini adalah pada kenyataannya investor tidak menginvestasikan seluruh dana hanya untuk satu jenis investasi tetapi melakukan diversifikasi dengan tujuan menekan risiko. Fluktuasi tingkat keuntungan akan berkurang karena saling menghilangkan jika memiliki beberapa jenis investasi.

3.1.4. Strategi Penanganan Risiko

Strategi pengelolaan risiko merupakan langkah lanjutan dari proses identifikasi dan pengukuran risiko. Strategi pengelolaan risiko berbentuk langkah- langkah yang ditujukan untuk mengurangi tingkat kerugian dari suatu kondisi yang dianggap berisiko. Penanganan risiko dapat dimasukkan ke dalam fungsi- fungsi manajemen. Sehingga fungsi-fungsi manajemen yang dikenal dengan

planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) bertambah satu, yaitu fungsi penanganan risiko (Kountur, 2008).

Menurut Kountur (2008) terdapat dua strategi penanganan risiko yaitu: 1. Preventif

Preventif dilakukan untuk menghindari terjadinya risiko. Strategi ini cocok dilakukan apabila probabilitas risiko besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

a. Membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur

5

25 b. Mengembangkan sumberdaya manusia

c. Memasang atau memperbaiki fasilitas fisik 2. Mitigasi

Mitigasi adalah strategi penanganan risiko yang dimaksud untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan dari risiko. Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Adapun beberapa cara yang termasuk ke dalam strategi mitigasi adalah:

a. Diversifikasi

Diversifikasi adalah cara menempatkan asset atau harta di beberapa tempat sehingga jika salah satu tempat terkena musibah tidak akan menghabiskan semua

asset yang dimiliki. Diversifikasi merupakan salah satu cara pengalihan risiko yang paling efektif dalam mengurangi dampak risiko

b. Penggabungan

Penggabungan atau yang lebih dikenal dengan istilah merger menekankan pola penanganan risiko pada kegiatan penggabungan dengan pihak perusahaan lain. Contoh strategi ini adalah perusahaan yang melakukan merger atau dengan melakukan akuisisi.

c. Pengalihan Risiko

Pengalihan risiko (transfer of risk) merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak dari risiko ke pihak lain. Cara ini bermaksud jika terjadi kerugian pada perusahaan maka yang menanggung kerugian tersebut adalah pihak lain. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengalihkan dampak risiko ke pihak lain, diantaranya melalui asuransi, leasing, outsourching,

dan hedging.

Pengalihan risiko dapat dilakukan dengan cara mengasuransikan asset

perusahaan yang dampak risikonya besar, sehingga jika terjadi kerugian maka pihak asuransi yang akan menanggung kerugian yang dialami perusahaan sesuai dengan kontrak perjanjian yang telah disepakati oleh pihak perusahaan dan pihak asuransi. Leasing adalah cara dimana asset digunakan tetapi kepemilikannya adalah pihak lain. Jika terjadi sesuatu pada asset tersebut maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas asset tersebut.

26

Outsourcing merupakan cara dimana pekerjaan diberikan kepada pihak lain untuk mengerjakannya sehingga jika terjadi kerugian maka perusahaan tidak menanggung kerugian melainkan pihak yang melakukan pekerjaan tersebutlah yang menanggung kerugiannya. Hedging merupakan cara pengalihan risiko dengan mengurangi dampak risiko melalui transaksi penjualan atau pembelian. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan hedging adalah melalui

forward contract, future contract, option, dan swap.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Perusahaan Anisa Adenium menghadapi risiko dalam menjalankan bisnisnya. Risiko yang dihadapi disebabkan pengaruh cuaca dan iklim, serangan hama penyakit, bibit, alat dan bangunan, tenaga kerja dan fluktuasi harga jual produk. Adanya risiko yang terjadi akan mengakibatkan penurunan produktivitas yang akan berdampak pada pendapatan yang diperoleh perusahaan Anisa Adenium. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis risiko yang tepat untuk diterapkan pada perusahaan Anisa Adenium.

Penelitian ini akan mengkaji analisis risiko yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium, dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengkajian faktor penyebab terjadinya risiko dalam usaha tanaman hias yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium. Analisis risiko yang digunakan terhadap risiko yang dihadapi perusahaan Anisa Adenium adalah melalui pendekatan Variance, Standard Deviation dan Coefficient Variation untuk menganalisis risiko satu komoditas. Analisis risiko menggunakan portofolio dilakukan untuk menganalisis risiko untuk lebih dari satu komoditas, sehingga akan diperoleh hasil yang menjadi alternatif strategi penanganan risiko yang dapat digunakan dalam mengatasi risiko yang terjadi pada perusahaan Anisa Adenium. Untuk lebih jelas pada alur pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2.

27 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional

Tujuan usaha perusahaan Anisa Adenium: 1. Memaksimumkan keuntungan

2. Meminimumkan Risiko

Risiko produksi yang dihadapi Perusahaan Anisa Adenium

Fluktuasi /variasi produksi

Identifikasi Sumber Risiko Produksi: - Kondisi cuaca dan iklim

- Hama dan penyakit - Tenaga kerja - Peralatan

- Teknik perbanyakan -

Analisis risiko dengan pendekatan kuantitatif : - Variance

- Standard Deviation - Coefficient Variation - Portofolio

28

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di perusahaan Anisa Adenium, yang berada di Bekasi Timur, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilaksanakan secara sengaja (purposive), dikarenakan daerah Bekasi Timur merupakan salah satu daerah sentra tanaman hias adenium di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – November 2011.

Pemilihan lokasi penelitian di perusahaan Anisa Adenium berdasarkan pengalaman dan kinerja perusahaan dalam melakukan budidaya tanaman hias adenium. Kinerja Perusahaan Anisa Adenium telah terbukti dengan perkembangan perusahaan yang terus menerus berkembang. Dimana perusahaan Anisa Adenium merupakan usaha budidaya tanaman hias adenium yang memiliki prestasi dan cukup dikenal di provinsi Jawa Barat. Perusahaan Anisa Adenium juga penyuplai tanaman hias ke beberapa daerah di sekitar Jawa, Sumatera dan juga Kalimantan. Beberapa perusahaan serupa di sekitar lokasi penelitian melakukan usaha budidaya tanaman hias, akan tetapi perusahaan selain perusahaan Anisa Adenium melakukan usaha budidaya beberapa tanaman hias secara bersamaan, dan hasil produksinya hanya dapat memenuhi kebutuhan pasar di daerah sekitar.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak perusahaan meliputi keadaan umum perusahaan seperti strategi penanganan risiko yang diterapkan di perusahaan, dan kegiatan usaha tanaman hias yang dijalankan oleh perusahaan Anisa Adenium. Data sekunder diperoleh dari data historis perusahaan Anisa Adenium berupa data produksi 2009-2010, data yang diperoleh dari literatur-literatur dan instansi terkait yang mendukung penelitian ini seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Perpustakaan LSI Institut Pertanian Bogor, internet dan literatur yang relevan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah produksi tanaman hias adenium.

29 4.3. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan diskusi dengan pemilik usaha. Teknik observasi dilakukan untuk melakukan pengamatan tentang aktivitas produksi dan pemasaran tanaman hias yang dilakukan oleh perusahaan Anisa Adenium serta berbagai kendala risiko yang dihadapi. Teknik wawancara dan diskusi dilakukan untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko yang biasa muncul terkait dengan kegiatan produksi dan pemasaran. Sumber data sekunder diperoleh dari pihak perusahaan berupa informasi yang berupa data produksi, penggunaan input dan tenaga kerja serta data-data terkait yang mendukung penelitian.

4.4. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Semua data yang dikumpulkan akan diolah dan dianalisis dengan

Microsoft Excel 2007 dan kalkulator untuk mengetahui besarnya risiko yang dihadapi dan strategi penanganan risiko yang diterapkan di perusahaan Anisa Adenium. Adapun metode analisis yang digunakan meliputi analisis risiko baik kualitatif maupun kuantitatif. Analisis risiko dilakukan dengan melihat penyimpangan yang terjadi antara nilai yang diharapkan dengan nilai yang terjadi. Untuk menilai tingkat risiko tersebut beberapa ukuran yang digunakan antara lain nilai Variance, Standard Deviation, dan Coefficient Variation. Nilai Variance

menunjukkan adanya penyimpangan, Standard Deviation diperoleh dari nilai kuadrat Variance, dan Coefficient Variation diperoleh dari rasio Standard Deviation dengan Expected Return.

4.4.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis strategi penanganan risiko perusahaan, baik risiko operasional maupun risiko pasar yang diterapkan

30 oleh Perusahaan Anisa Adenium. Analisis deskripif juga dilakukan untuk mengetahui sumber-sumber yang menjadi penyebab terjadinya risiko yang muncul pada aspek teknis maupun aspek ekonomis perusahaan. Analisis dilakukan berdasarkan penilaian pengambil keputusan di perusahaan secara subjektif yang dilakukan untuk melihat apakah manejeman risiko yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Metode analisis deskriptif untuk menganalisis strategi penanganan risiko yang diterapkan perusahaan dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan diskusi dengan pemilik usaha tanaman hias.

4.4.2. Analisis Risiko Komoditas Tunggal

Analisis kuantitatif diawali dengan menentukan besarnya peluang. Peluang merupakan kemungkinan terjadinya suatu peristiwa. Peluang hanya suatu kemungkinan, jadi nilai dari suatu peluang bukan merupakan harga mutlak dalam suatu kondisi. Nilai peluang ditentukan berdasarkan pengalaman dan faktor dari variabel-variabel yang mempengaruhi suatu kejadian yang akan dihitung nilai peluangnya. Peluang dari suatu kejadian pada kegiatan usaha dapat diukur berdasarkan pengalaman yang telah dialami pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatan usaha. Nilai peluang ditentukan dengan mengobservasi kejadian yang sudah terjadi. Kejadian-kejadian tersebut kemudian diekspresikan sebagai persentase dari total exposure dalam rangka mendapatkan estimasi empiris dari probabilitas.

Menurut Kountur (2008), dari sudut pandang empiris maka probabilitas dapat dipandang sebagai frekuensi terjadinya event dalam jangka panjang yang dinyatakan dalam persentase. Probabilitas adalah nilai/angka yang terletak antara 0 dan 1 yang diberikan kepada masing-masing event. Apabila nilai suatu peluang adalah 1, maka hal tersebut merupakan sebuah kepastian. Berarti, peristiwa yang diperkirakan pasti terjadi.

Untuk menentukan berapa besar peluang yang akan terjadi maka perlu ditetapkan kisaran persentase keberhasilan tanaman hias adenium yang ada. Menurut manajemen perusahaan Anisa Adenium, keberhasilan tanaman hias adenium yang diusahakan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan lingkungan, serangan hama dan penyakit dan pemeliharaan adenium. Peluang dari masing-

31 masing kegiatan budidaya akan diperoleh pada tiga kondisi yaitu tertinggi, normal dan terendah. Kisaran persentase keberhasilan yang ditetapkan perusahaan Anisa Adenium untuk tanaman hias adenium varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco

yang diusahakan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persentase Keberhasilan pada Tanaman Hias Adenium Varietas Arabicum, Obesum, dan Taisoco Tahun 2009-2010

No. Kondisi Keberhasilan (%)

1 Tertinggi ≥ 80

2 Normal 61-79

3 Terendah ≤ 60

Sumber : Perusahaan Anisa Adenium (2011)

Dalam menganalisis risiko produksi dilakukan analisis mengenai faktor- faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh pelaku usaha. Faktor-faktor eksternal yang dimaksud antara lain faktor iklim dan cuaca, peristiwa alam seperti bencana alam yang mempengaruhi produksi dan serangan hama penyakit. Analisis terhadap faktor eksternal ini dilakukan dengan melihat dari seberapa besar kemungkinan terjadinya (probabilitas kejadian) dari faktor-faktor eksternal yang dianalisis dan seberapa besar kerugian yang disebabkannya. Semakin besar probabilitas kejadian eksternal yang merugikan maka semakin besar pula tingkat risiko yang mungkin dihadapi oleh pelaku usaha. Pengukuran probabilitas pada setiap kejadian diperoleh dari frekuensi setiap kejadian yang dibagi dengan jumlah periode waktu proses produksi.

Penentuan persentase keberhasilan untuk kondisi tertinggi, normal dan terendah diperoleh berdasarkan hasil produksi yang dicapai oleh perusahaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Tingkat keberhasilan 80 persen merupakan kondisi tertinggi yang dicapai oleh perusahaan. Hal ini juga didukung oleh prinsip yang diterapkan dalam budidaya tanaman. Dimana apabila daya tumbuh dari tanaman mencapai 80 persen dari jumlah yang ditanam, berarti perusahaan mencapai tingkat keberhasilan maksimum, dan perusahaan akan memperoleh keuntungan di atas target yang diharapkan. Sedangkan untuk kondisi normal merupakan kondisi perusahaan dalam range yang stabil yaitu diantara kondisi tertinggi dan kondisi terendah, dimana perusahaan memperoleh keberhasilan tanaman sesuai dengan target yang diharapkan, dan juga perusahaan

32 memperoleh keuntungan sesuai dengan target yang diharapkan. Untuk kondisi terendah yaitu dibawah 60 persen merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan. Pada kondisi ini perusahan tidak dapat menutupi biaya produksi dari hasil penjualan output, sehingga perusahaan akan mengalami kerugian.

Pengukuran peluang (P) pada setiap kondisi diperoleh dari frekuensi kejadian setiap kondisi yang dibagi dengan periode waktu selama kegiatan berlangsung dan secara sistematis dapat dituliskan:

P =

Keterangan:

f = frekuensi kejadian (kondisi tertinggi, normal dan rendah) T = periode waktu proses produksi

Pengukuran peluang (P) pada setiap kondisi diperoleh dari frekuensi kejadian setiap kondisi yang dibagi dengan periode waktu selama kegiatan berlangsung. Total peluang dari beberapa kejadian berjumlah satu dan secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Penyelesaian pengambilan keputusan yang mengandung risiko dapat dilakukan dengan menggunakan Expected return. Expected return adalah jumlah dari nilai-nilai yang diharapkan terjadi peluang masing-masing dari suatu kegiatan tidak pasti. Secara matematis dapat dituliskan sebagi berikut:

Keterangan:

E(Ri) = Expected return

Pi = Peluang pada kondisi tertinggi, normal dan rendah pada adenium

varietas Arabicum, Obesum dan Taisoco Ri = Return (Produktivitas dan Pendapatan)

Untuk mengukur sejauh mana risiko yang dihadapi dalam menjalankan usaha terhadap hasil atau pendapatan yang diperoleh perusahaan digunakan pendekatan sebagai berikut:

33

a. Variance

Pengukuran variance dari return merupakan penjumlahan selisih kuadrat dari return dengan expected return dikalikan dengan peluang dari setiap kejadian. Nilai variance dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut (Elton dan Gruber, 1995).

Keterangan:

= Variance dari return

Pij = Peluang pada kondisi tertinggi, normal dan rendah pada masing-masing

varietas adenium

Rij = Return atau penerimaan masing-masing varietas adenium

Ři = Expected return dari masing-masing varietas adenium

Dari nilai variance dapat ditunjukkan bahwa semakin kecil nilai variance

maka semakin kecil penyimpangannya sehingga semakin kecil risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usaha tersebut.

b. Standard Deviation

Standard Deviation dapat diukur dari akar kuadrat dari nilai variance.