• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SITUASI RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK (KLA) KOTA SURAKARTA

D. Klaster III Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan

Klaster Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan, yang terdiri dari indikator: (1) persalinan di fasilitas kesehatan; (2) status gizi balita; (3) Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) usia di bawah 2 tahun; (4) fasilitas kesehatan dengan pelayanan ramah anak; (5) rumah tangga dengan akses air minum dan sanitasi yang layak; dan (6) ketersediaan kawasan tanpa rokok (KTR) dan larangan iklan, promosi, dan sponsor (IPS) rokok

a. Persalinan di Fasilitas Kesehatan

Dalam rangka menurunkan kematian ibu dan kematian bayi dapat dilakukan yaitu dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitudokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta diupayakan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Kota Surakarta menunjukan peningkatan. Tahun 2014 sebesar 94,5% meningkat sejak tahun 2015-2018 menjadi 100%, selengkapnya dapat dilihat pada gambar sebagi berikut :

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2019

Gambar 3.9. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

b. Status gizi balita

Status gizi balita dinilai menurut 3 indeks, yaitu Berat Badan Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur(TB/U), Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB). 1) BB/U adalah berat badan anak yang dicapai pada umur tertentu. 2)TB/U adalah tinggi badan anak yang dicapai pada umur tertentu. 3)BB/TB adalah berat badan anak dibandingkan dengan tinggi badan yang dicapai. Ketiga nilai indeks status gizi diatas dibandingkan dengan baku pertumbuhan WHO.

a. Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U)

 Memberikan indikasi masalah gizi secara umum karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan.

 Berat badan menurut umur rendah dapat disebabkan karena pendek(masalah gizi kronis) atau menderita penyakit infeksi(masalah gizi akut)

b. IndeksTinggi BadanmenurutUmur(TB/U)

 Memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama.

94.5

100 100 100 100

91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101

2014 2015 2016 2017 2018

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

 Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan asupan makanan kurang dalam waktu yang lama sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek.

Status gizi bayi baru lahir dapat dilihat dari angka berat badan saat lahir. Selama tahun 2017, bayi baru lahir dengan Berat Lahir Rendah (< 2500 g) sebanyak 254 bayi (2,6%). Mengalami penurunan dibandingkan dengan angka BBLR tahun 2016 (284 bayi 2,9%). Angka BBLR tertinggi berada di Puskesmas Sangkrah 75 bayi (8,1%) dan tidak ada kasus BBLR di Puskesmas Sibela dan Puskesmas Nusukan (profil kesehatan Kota Surakarta, 2017).

Jika dilihat dari Status Gizi Bumil, angka BBLR sebanding dengan angka Bumil KEK yang juga mengalami penurunan dibandingkan dengan angka bumil KEK tahun 2016.

Masih ditemukannya kasus BBLR erat hubungannya dengan :

a. Status gizi ibu pada waktu hamil rendah (1,6%) ibu hamil menderita Kurang Energi Kronis ( KEK )

b. Faktor kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan c. Kurangnya pengetahuan ibu tentang asupan gizi

Sumber : Profil Kesehatan, 2017

Gambar 3.10. Bayi dengan BBLR Kota Surakarta Tahun 2013-2017

Upaya perbaikan gizi masyarakat perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses dan mutu

0 20 40 60 80 100 120 140 160

2013 2014 2015 2016 2017

111 113

135 137

127

112 103

129

147

127

Bayi Laki-Laki Bayi Perempuan

pelayana gizi serta kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gizi yang baik merupakan landasan kesehatan, gizi mempengaruhi kekebalan tubuh, kerentanan penyakit, serta pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental. Gigi yang baik akan menumbuhkan kesakitan, kecacatan dan kematian sehingga meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Sementara itu jika dilihat prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menunjukan perkembangan yang fluktuaktif, selengkapnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2019

Gambar 3.11. Prevalensi Kekurangan Gizi (underweight) pada anak balita c. Pemberian makanan pada bayi dan anak (PMBA) diusia dibawah 2 tahun

Agar bayi dan anak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal, orang tua harus memperhatikan ASI dan makanan yang dikonsumsinya. ASI merupakan satu-satunya makanan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi usia 0-6 bulan. Namun dengan bertambahnya usia bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/ pendamping ASI atau yang biasa disebut dengan MPASI.

Makanan pendamping ASI (MP ASI) merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga yang mengandung zat gizi, diberikan pada anak berumur 6–24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizinya selain dari ASI. Peranan makanan tambahan sama

0 0.5 1 1.5

2 2.5

3

2014 2015 2016 2017 2018

2.58

1.95

1.43 1.38

1.61

Prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita

sekali bukan untuk menggantikan ASI, melainkan untuk melengkapi ASI. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak. Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, Ibu bisa memberikan ASI pada bayi usia 0-6 bulan. Dan ibu segera mulai mengenalkan pemberian MPASI kepada bayinya yang sudah berusia 6 bulan.

Inilah makanan bayi kedua yang menyertai pemberian ASI. Usia 6-24 bulan merupakan usia yang sangat rawan karena pada usia ini merupakan masa peralihan dari ASI ke pengganti ASI atau ke makanan sapihan. Jika anak usia 6-24 bulan tidak cukup gizi dari MP-ASI, maka akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, oleh sebab itu dalam mengatasi masalah kurang gizi maka diperlukan perbaikan kuantitas dan kualitas MP-ASI. Perkembangan data pemberian makanan pada bayi dan anak (PMBA) diusia dibawah 2 tahun belum tersedia di Kota Surakarta.

d. Fasilitas kesehatan dengan pelayanan ramah anak

Komponen pelayanan ramah anak di puskesmas, meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), Sarana dan Prasarana Lingkungan, Pelayanan Pengelolaan, Partisipasi Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat.

Untuk indikator yang seharusnya terpenuhi ada sebanyak 15 (lima belas) , namun puskesmas dapat dikatakan telah menginisiasi pelayanan ramah anak apabila minimal melaksanakan 8 (delapan). Sebanyak 17 Puskemas di Kota Surakarta telah memenuhi standar sebagai pusat layanan kesehatan yang ramah anak dengan memenuhi lima belas indikator sebagai berikut:

1. ketersediaan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi atau pengetahuan mengenai KHA,

2. tersedianya media dan materi KIE terkait dengan kesehatan anak, 3. tersedianya ruang pelayanan konseling khusus bagi anak,

4. ruang tunggu bermain untuk anak yang nyaman, 5. tersedianya ruang Asi,

6. terdapat tanda peringatan dilarang merokok sebagai kawasan tanpa rokok, 7. tersedia sanitasi lingkungan puskesmas,

8. tersedia sarana dan pelayanan bagi anak penyandang disabilitas, 9. cakupan bayi kurang dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif,

10. menyelenggarakan pelayanan konseling kesehatan peduli remaja (PKPR), 11. menyelenggarakan pelayanan tata laksana kasus kekerasan terhadap anak, 12. tersedia data anak yang memperoleh layanan kesehatan anak,

13. ada pojok baca sebagai informasi tentang hak-hak anak atas kesehatan, 14. adanya mekanisme pengaduan untuk menampung suara anak ,

15. menyediakan pelayanan penjangkauan kesehatan anak.

e. Rumah tangga dengan akses air minum dan sanitasi layak

Cakupan Rumah Tangga yang menggunakan air bersih di Kota Surakarta menunjukan peningkatan, tahun 2014 sebesar 80,65% meningkat menjadi 82% tahun 2018. Sementara itu untuk persentase rumah tangga bersanitasi menunjukan peningkatan dari tahun 2013-2018, Tahun 2013 sebesar 16% sampai dengan tahun 2018 telah mencapai 97,46%. Perkembangan selengkapnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Sumber : DPUPR

Gambar 3.12. Persentase Rumah Tangga Pengguna Air Bersih

80 80.5

81 81.5

82 82.5

2014 2015 2016 2017 2018

82.25

80.92

81.8

81.05

82

Presentase Rumah Tangga pengguna air bersih

Sumber : DPUPR

Gambar 3.13. Persentase Rumah Tangga Bersanitasi

f. Ketersediaan kawasan tanpa rokok (KTR) dan larangan iklan, promosi dan sponsor (IPS) rokok

Kota Surakarta telah memiliki kebijakan tentang kawasan tanpa rokok yang ditetapkan melalui Peraturan Walikota Surakarta Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Kawasan Tanpa Rokok Dan Kawasan Terbatas Merokok Walikota Surakarta. Walikota menetapkan tempat - tempat tertentu di daerah sebagai Kawasan Tanpa Rokok.

Tempat-tempat tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perwali Nomer 13 Tahun 2010 meliputi : a) sarana kesehatan; b) tempat proses belajar mengajar; c) arena kegiatan anak; d) tempat ibadah; dan e) angkutan umum.

a. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan meliputi : a.rumah sakit; b.balai kesehatan; c.puskesmas; d.balai pengobatan; e.balai kesejahteraan ibu dan anak; f.klinik kecantikan; g.klinik perawatan penderita narkoba; h.tempat praktek dokter/dokter gigi/dokter hewan;

i.rumah bersalin; j.tempat praktek bidan/perawat swasta; k.klinik kesehatan;

l.apotek; m.toko obat; n.laboratorium kesehatan; dan/atau; o.sarana kesehatan lainnya.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

2014 2015 2016 2017 2018

17.88 18.83

92.5 97.46 97.46

Presentase Rumah Tangga bersanitasi

b. Tempat Proses Belajar Mengajar

1. tempat pendidikan formal, yang berbentuk : 1.Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat; 2.Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah atau bentuk lain yang sederajat;

3.Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan atau bentuk lain yang sederajat;

4.Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut atau Universitas; 5.Tempat pendidikan formal lainnya.

2. tempat pendidikan non formal, yang berbentuk : 1.Lembaga kursus; 2.Lembaga pelatihan; 3.Kelompok belajar; 4.Taman kanak – kanak, Raudatul Athfal atau bentuk lain yang sederajat; 5.Pusat kegiatan belajar masyarakat;dan 6.tempat pendidikan non formal lain.

c. Arena Kegiatan Anak

Arena kegiatan anak meliputi : a. kelompok bermain anak (play group); b. tempat Penitipan Anak (TPA); c. tempat pengasuhan anak; d. arena bermain anak – anak;

dan/atau arena kegiatan anak lainnya d. Tempat Ibadah

Tempat ibadah meliputi : a. masjid; b. mushola; c. gereja; d. pura; e. wihara; f.

klenteng; dan g.tempat ibadah lainnya.

e. Angkutan Umum

Angkutan umum meliputi : a. bus; b. taxi; c. angkutan;dan d. angkutan umum lainnya.

Setiap orang yang berada dalam Kawasan Tanpa Rokok dilarang melakukan kegiatan: a.memproduksi atau membuat rokok; b.menjual rokok; c.menyelenggarakan iklan rokok; d.mempromosikan rokok, dan/atau e.menggunakan rokok. Beberapa kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok di Kota Surakarta antara lain:

1. Kantor Walikota 2. Pusat perbelanjaan

3. Sekolah jenjang SD/Sedrajad –SMP/ Sedrajad- SMA/Sedrajad

4. Perkantoran DPRD

5. Taman Kota dan Taman Cerdas 6. Kantor Kecamatan

7. Terminal Tirtonadi

Tabel 3.10.

Penilaian Situasi Hak Dasar dan Kesejahteraan

Masalah kunci Kelompok Sasaran

Hak yang Tidak

Dipenuhi Indikator Belum semua

rumah tangga memiliki akses terhadap air tangga dengan akses air minum dan sanitasi masih dibawah 100% balita kurang gizi balita kurang gizi

Sumber : Hasil Review, 2019

Berdasarkan data yang didapat dari berbagai sumber serta analisis indikator-indikator hak dasar dam kesejahteraan maka dapat disimpulkan bahwa masih ditemukan beberapa kondisi yang dapat berpotensi untuk menghambat upaya pencapaian indikator klaster III Hak Dasar dan Kesejahteraan, yaitu Belum semua rumah tangga memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi layak . Target pembangunan sampai dengan 2019 adalah pelayanan akses universal air minum dan sanitasi kepada seluruh masyarakat serta terwujudnya kota tanpa kawasan kumuh, pada kawasan kumuh akan dibangun prasarana dan sarana dasar air minum dan sanitasi untuk menambah akses air minum menjadi 100 persen dan akses sanitasi layak 100 persen, sehingga mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen pada 2019.

Capai Kota Surakarta sampai dengan tahun 2018 masih dibawah 100% untuk rumah tangga dengan akses air minum dan sanitasi.