ANALISIS SITUASI RENCANA AKSI DAERAH KOTA LAYAK ANAK (KLA) KOTA SURAKARTA
E. Klaster 4 Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya
Hak anak yang masuk dalam klaster 4 meliputi persentase wajib belajar pendidikan 12 (dua belas) tahun; persentase sekolah ramah anak; dan tersedia fasilitas untuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang ramah anak, di luar sekolah, yang dapat diakses semua anak.
a. Persentase Wajib Belajar 12 (dua belas) tahun
Pendidikan adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Investasi di bidang pendidikan adalah investasi humani yang menghasilkan keluaran berupa SDM yang berkualitas, sebagai pancaran hakekat manusia seutuhnya, yang mampu berkarya bagi kemakmuran dan kesejahteraan individu dan masyarakat yang lebih baik di hari esok. SDM merupakan salah satu faktor dinamika dalam perkembangan ekonomi jangka panjang, bersama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya alam (SDA). Namun diantaranya peranan SDM mengambil tempat yang sentral khususnya dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang dimana kesejahteraan manusia dijadikan tujuan pokok dalam ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu SDM sangat dipengaruhi oleh peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia adalah dengan meningkatkan pelayanan pendidikan. Pemerintah Republik Indonesia seperti yang termuat dalam NAWACITA menargetkan pelaksanaan wajib belajar 12 tahun untuk mendukung peningkatan kulitas SDM tersebut. Pelaksanaan wajib belajar 12 tahun tersebut merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan wajib belajar 9 tahun yang sebelumnya telah berjalan.Perubahan wajib belajar dari 9 tahun menuju 12 tahun adalah salah satu tantangan dalam dunia pendidikan Indonesia untuk mencapai kualitas pembangunan manusia. Dalam proses menuju pendidikan dasar 12 tahun, pemerintah wajib menyiapkan banyak perubahan dalam akses pendidikan
seperti jumlah sekolah yang memadai serta melihat kemampuan orang tua siswa dalam membayar biaya sekolah.
Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS) merupakan beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan dalam pelaksanaan program pendidikan. Angka harapan lama sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang, HLS dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas.
Adapun Rata-rata lama sekolah adalah jumlah tahun belajar penduduk usia 25 tahun ke atas yang telah diselesaikan dalam Pendidikan Formal (tidak termasuk tahun yang mengulang). Angka rata-rata lama sekolah bermanfaat untuk melihat kualitas penduduk dalam hal mengenyam Pendidikan Formal. Sedangkan Harapan lama sekolah dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak.
Capaian RLS dan HLS di Kota Surakarta meskipun tidak begitu signifikan namun mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2017, capaian RLS sebesar 10,38 tahun dan capaian HLSnya sebesar 14,51 tahun. Angka tersebut sedikit meningkat dari tahun 2012 dimana RLSnya sebesar 10,11 tahun, dan HLS sebesar 13,50 tahun.
Artinya jika dilihat dari capaian RLSnya, maka rata-rata penduduk Kota Surakarta yang berusia 25 tahun ke atas baru mampu mengenyam pendidikan sampai tingkat kelas 10 atau kelas 1 SMA/SMK/MA. Tingginya angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) menunjukkan jenjang pendidikan yang pernah/sedang diduduki oleh seseorang. Semakin tinggi angka MYS maka semakin lama/tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkannya.
Sedangkan jika dilihat dari capaian HLSnya, maka besar kemungkinan penduduk Kota Surakarta usia 7 tahun ke atas yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2017 memiliki peluang untuk bersekolah selama 14,51 tahun, atau setara dengan Diploma II.
Sumber: Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2018
Grafik Perkembangan RLS dan HLS Kota Surakarta Tahun 2012-2017
Dilihat dari perbandingan angka rata-rata lama sekolah di Kota Surakarta berdasarkan jenis kelamin tahun 2013-2017, angka rata-rata lama sekolah masyarakat berjenis kelamin laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata lama sekolah masyarakat berjenis kelamin perempuan. Pada tahun 2013 angka rata-rata lama sekolah jenis kelamin laki-laki sebesar 11,11 tahun sedangkan jenis kelamin perempuan sebesar 10,17 tahun. Kemudian pada tahun 2017 angka rata-rata lama sekolah turun menjadi 10,96 tahun untuk laki-laki dan 9,84 tahun untuk perempuan. Perekembangan dan perbandingan angka rata-rata lama sekolah di Kota Surakarta berdasarkan jenis kelamin tahun 2013-2017 dapat dilihat dalam grafik berikut:
Sumber: Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2018
Gambar 3.14. Grafik Perbandingan Capaian RLS Berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2013-2017
Sedangkan capaian harapan lama sekolah di Kota Surakarta berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2014 hingga 2015 memperlihatkan bahwa harapan lama sekolah masyarakat berjenis kelamin laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan harapan lama sekolah masyarakat berjenis kelamin perempuan, namun pada tahun 2017 kondisinya justru berbalik, HLS perempuan lebih tinggi daripada HLS laki-laki. Perkembangan dan perbandingan harapan lama sekolah berdasarkan jenis kelamin tahun 2014-2017 Kota Surakarta dapat dilihat dalam grafik berikut.
Sumber: Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2018
Gambar 3.15. Grafik Perbandingan Capaian HLS Berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2014-2017
Indikator lain dari meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi adalah dilihat dari semakin meningkatnya angka partisipasi penduduk usia sekolah di berbagai jenjang pendidikan. Angka partisipasi, baik angka partisipasi murni (APM) maupun angka partisipasi kasar (APK) dari jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA di Kota Surakarta menunjukkan capaian yang baik.
Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah proporsi anak sekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk pada kelompok usia jenjang pendidikan tersebut. APK yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya. Jika nilai APK mendekati atau lebih dari 100 persen menunjukkan bahwa ada penduduk yang sekolah belum mencukupi umur dan atau melebihi umur yang seharusnya. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih dari target yang sesungguhnya.
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI, SMP/MTs, dan SM Tahun 2014- 2018 di Kota Surakarta dapat dilihat pada grafik berikut:
Sumber: http://apkapm.data.kemdikbud.go.id/, 2019
Gambar 3.16. Grafik Capaian APK SD/MI, SMP/MTS, dan SM di Kota SurakartaTahun 2014-2018
Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi anak sekolah pada satu kelompok usia tertentu yang bersekolah pada jenjang yang sesuai dengan kelompok usianya terhadap seluruh anak pada kelompok usia tersebut. APM menunjukkan seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan sesuai pada jenjang pendidikannya. Jika APM = 100, berarti seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu.
APM Kota Surakarta dari tahun 2014 sampai tahun 2018 dari semua jenjang pendidikan dapat dilihat dalam grafik berikut.
Sumber: http://apkapm.data.kemdikbud.go.id/, 2019
Gambar 3.17. Grafik Capaian APM SD/MI, SMP/MTS, dan SM di Kota Surakarta Tahun 2014-2018
Tingkat keberhasilan Program Wajib Belajar salah satunya juga dapat diukur melalui Angka Putus Sekolah. Angka putus sekolah menggambarkan murid yang tidak lagi melanjutkan sekolah karena alasan tertentu. Alasan paling menonjol murid tidak bisa melanjutkan sekolah biasanya adalah alasan ekonomi atau ketidakmampuan orang tua membiayai sekolah anaknya. Alasan yang lain adalah karena minat anak untuk bersekolah kurang karena faktor lingkungan sosial.
Angka Putus Sekolah di Kota Surakarta pada tahun 2018 sebanyak0,36%
untuk jenjang pendidikan SMP/MTs. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SD/MI sebesar 0,11%. Angka putus sekolah di kedua jenjang pendidikan tersebut sama-sama mnegalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini harus mendapatkan perhatian dari seluruh stakeholder pendidikan yang ada di Kota Surakarta.
Sumber: http://apkapm.data.kemdikbud.go.id/, 2018
Gambar 3.18. Grafik Capaian Angka Putus Sekolah SD/MI dan SMP/MTS di Kota Surakarta Tahun 2014-2018 b. Persentase Sekolah Ramah Anak
Pasal 54 Undang-Undang Perlindungan Anak, yang menyatakan “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temanya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.” Pasal 70 ayat (2) menyebutkan
“Setiap orang dilarang memperlakukan anak dengan mengabaikan pandangan mereka secara diskriminatif, termasuk labelisasi dan penyetaraan dalam pendidikan bagi anak-anak yang menyandang cacat.”
Menurut Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak, Sekolah Ramah Anak yang selanjutnya disingkat SRA adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam
perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.
Terdapat beberapa tujuan dari dicanangkannya Sekolah Ramah Anak. Tujuan tersebut seperti yang diakses dari website kla.id meliputi:
1) Mengantisipasi tindakan kekerasan pada anak, guru, dan seluruh civitas akademika sekolah.
2) Mencegah anak keracunan jajanan yang tidak sehat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Termasuk dalam hal ini juga pencegahan penyakit yang disebabkan lingkungan kurang sehat.
3) Mengurangi potensi kecelakaan, baik yang disebabkan bencana alam, maupun karena kelalaian manusia.
4) Mencegah anak dari paparan rokok, narkotika, minuman keras, dan zat adiktif lainnya.
5) Membentuk lingkungan yang harmonis dan kondusif bagi seluruh civitas akademika sekolah.
6) Membuat sistem pemantauan yang baik, terutama saat anak berada di lingkungan sekolah.
7) Berperan dalam memudahkan tujuan pendidikan sekolah secara umum.
8) Membuat lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman untuk ditempati.
9) Menjadikan murid-murid betah tinggal dan berkegiatan di sekolah, sehingga mengurangi waktu mereka untuk berkeliaran di luar rumah.
10) Menanamkan disiplin dan kebiasan baik di sekolah, bahkan terbawa hingga ke rumah.
Berdasarkan data yang ada, saat ini semua sekolah di Kota Surakarta telah ada mencanangkan diri sebagai sekolah ramah anak. Hal ini sebagai tindak lanjut dari kebijakan yang disusun oleh Pemerintah Kota Surakarta yakni Perwali nomor 28 D tahun 2014 yang mengatur bahwa sekolah yang ada di Kota Surakarta harus ramah anak. hasilnya adalah salah satu sekolah yakni SD Mangkubumen Lor No. 15 pada tahun 2017 menjadi sekolah ramah anak terbaik tingkat nasional.
Dan untuk meningkatkan cakupan kualitas sekolah ramah anak, pada tahun 2019 Pemerinta Kota Surakarta mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak. Dalam deklarasi tersebut terdapat 7 poin yang menjadi komitmen dalam peningkatan cakupan Sekolah Ramah Anak, yaitu:
a. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b. Menjamin proses pembelajaran disekolah berjalan aman, nyaman, menyenangkan dan mencerdaskan.
c. Melindungi anak dari kekerasan fisik, mental, penelantaran atau bentuk kekerasan lainnya.
d. Menjadikan sekolah sebagai tempat mengembangkan potensi, bakat, minat dan kepribadian anak.
e. Menciptakan lingkungan tanpa asap rokok, tanpa narkoba dan tanpa Napza.
f. Menerapkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
g. Memberikan layanan pendidikan pada anak tanpa diskriminasi.
c. Fasilitas Untuk Kegiatan Kreatif dan Rekreatif yang Ramah Anak, di Luar Sekolah, yang Dapat Diakses Semua Anak
Yang dimaksud dengan fasilitas kreatif dan rekreatif adalah sarana dan prasarana yang disediakan untuk mengembangkan minat bakat anak, memanfaatkan waktu luang serta menjadi media ekspresi yang berada di luar sekolah, baik yang disediakan oleh pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha.
Contohnya adalah sanggar, kegiatan seni budaya, taman kota, taman cerdas, taman teknologi, museum, dan fasilitas olahraga. Yang dimaksud dengan event/kegiatan/pertunjukan kreatifitas anak, antara lain Jambore Anak atau Lomba Kreatifitas Anak.
Ketersediaan fasilitas kreatif dan rekreatif memang sangat penting bagi anak untuk menunjang aktifitas, pemanfaatan waktu luang, dan pengembangan karakter.
Yang dimaksud dengan fasilitas kreatif dan rekreatif adalah sarana dan prasarana yang disediakan untuk mengembangkan minat bakat anak, memanfaatkan waktu
luang serta menjadi media ekspresi yang berada di luar sekolah, baik yang disediakan oleh pemerintah, masyarakat maupun dunia usaha. Contohnya adalah sanggar, kegiatan seni budaya, taman kota, taman cerda, taman teknologi, museum, dan fasilitas oleh raga. Sedangkan yang dimaksud dengan event/kegiatan/pertunjukan kreatifitas anak antara lain Jambore Anak atau Lomba Kreatifitas Anak.
Tabel IV.1.
Fasilitas untuk Kegiatan Kreatif dan Rekreatif yang Ramah Anak
NO NAMA Th 2014 Th 2015
1 Taman Cerdas 7 buah 8 buah
2 City Walk 2 buah 2 buah
3 Care Free Day 4 lokasi 4 lokasi
4 Taman Bermain 7 buah 8 buah
5 Solo Techno Park 1 buah 1 buah
6 Rumah Hebat Indonesia - 1 buah
7 Kampung Bermain Anak 1 buah 1 buah
8 Taman Balai Kambang 1 buah 1 buah
9 Taman Satwa Taru Jurug 1 buah 1 buah
10 Taman Bermain dan Arena Budaya Sriwedari buah 1 buah
11 Plaza Sriwedari 1 buah 1 buah
12 Gelora Bung Karno 1 buah 1 buah
13 Balai Sujatmoko-gramedia 1 buah 1 buah
Sumber: Profil Anak Kota Surakarta Tahun 2015
Fasilitas kreatif dan rekreatif yang ramah anak dikelola oleh Pemerintah dan Swasta sebanyak 23 fasilitas dan 21 diantaranya tidak dikenakan biaya dalam pemanfaatannya. Fasilitas kreatif dan rekreatif yang dikelola oleh pemerintah sebanyak 8 fasilitas, sedangkan sebanyak 14 fasilitas dikelola oleh swasta. Fasilitas kreatif dan rekreatif yang dikelola bersama pemerintah maupun swasta dadalah Taman Bermain dan Area Budaya Sriwedari yang terletak di Kelurahan Sriwedari.
Berikut adalah daftar fasilitas kreatif dan rekreatif yang dikelola oleh pemerintah dan swasta.
Tabel IV.2.
Jumlah Fasilitas Kreatif dan Rekreatif yang Dikelola oleh Pemerintah dan Swasta
No Nama Fasilitas Lokasi Pengelola
(Swasta/
Pemerintah)
Keterangan Bayar Gratis
1 Taman Cerdas Kelurahan Pemerintah V
2 City Walk Koridor Sudirman,
Ngarsopuro Pemerintah V
3 Care Free Day Jensud, Slamet Riyadi, Ir.
Juanda, Kapt. Mulyadi Pemerintah V
4 Taman Bermain Kelurahan Pemerintah V
5 Solo Technopark Jln. Ki Hajar Dewantara Pemerintah V
6 Rumah Hebat Indonesia Kelurahan Gilingan Pemerintah V
7 Kampung Bermain Anak Kelurahan Danukusuman,
Joyotakan Pemerintah V
8 Taman Balai Kamabang Kelurahan Manahan Pemerintah V
9 Taman Satwa Taru Jurug Kelurahan Jebres Pemerintah Bayar Ringan 10 Taman Bermain dan Area
Budaya Sriwedari Kelurahan Sriwedari Pemerintah
dan Swasta Bayar 11 Sanggar Semarak Chandra
Kirana Banjarsari Swasta V
12 Sanggar Metta Budaya Laweyan Swasta V
13 Sanggar Sarwi Reno Budaya Serengan Swasta V
14 Sanggar Sono Puspo Budoyo Pasar Kliwon Swasta V
15 Sanggar Soerya Soemirat Banjarsari Swasta V
16 Sanggar Galuh Art Majosongo Swasta V
17 Sanggar Pacet Melar Mojosongo Swasta V
18 Sanggar Kridha Budaya Pasar Kliwon Swasta V
19 Sanggar Arena Langen
Budaya Laweyan Swasta V
20 Sanggar Pincuk Banjarsari Swasta V
21 Sanggar Pulanggeni Mojosongo Swasta V
22 Paguyuban Dalan Surakarta Pasar Kliwon Swasta V
23 Sanggar Vidya Sabda Pasar Kliwon Swasta V
Sumber: Profil Anak Kota Surakarta 2015
Kegiatan/pertunjukan kreatif anak juga sudah cukup banyak diselenggarakan di Kota Surakarta. Kegiatan-Kegiatan tersebut juga sudah melibatkan berbagai aspek dan keterlibatan litas sektoral sebagai pihak penyelenggara. Komitmen pemerintah daerah Kota Surakarta untuk anak juga telah ditunjukkan melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kreatif untuk anak secara gratis.
Tabel IV.3.
Daftar Kegiatan/Pertunjukan Kreatif/Lomba/ Pameran Anak
No Nama Event Lokasi Kegiatan
(Kec/Desa/Kel/
Sekolah)
Pengelola/
Kepanitiaan
Keterangan Bayar Gratis
1 Festival Dalang Bocah Kecamatan Kecamatan V
2 Kemah Budaya SKPD Setda Kota
Surakarta V
3 Kreatifitas Anak Solo
(KREASO) Disdikpora Lintas Sektoral V
4 Festival Dolan Bocah Kecamatan Kecamatan V
5 Pentas Seni Anak Kelurahan FA dan Pokja
Kelurahan V
6 Solo Batik Carnival Anak Disbudpar Lintas Sektoral V
7 Wayang Bocah 500 Anak 500 Anak V
8 Jambore Anak Bapermas PP PA dan
KB Lintas Sektoral V
9 HAN Bapermas PP PA dan
KB Lintas Sektoral V
10 Solo Menari Disbudpar kerjasama
dengan ISI dan SMKI Disbudpar V
11 Rancangan SRA Bappeda Lintas Sektoral V
12 Rancangan Solo Kota Inklusi Disdikpora Lintas Sektoral V
13 Teater Anak Kelurahan Kelurahan V
14 Hadrah Kecamatan Kecamatan V
15 Kemah Saka Pariwisata Kota Surakarta Prop. Jateng V 16 Kemah Budaya Tingkat
Nasional Kota Surakarta - V
17 Jelajah Budaya Kota surakarta Prop. Jateng V
18 Pekan Olahraga Pelajar
Daerah (POPDA) Kota surakarta Disdikpora V
19 O2SN Kota surakarta Disdikpora V
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam Profil Anak Kota Surakarta Tahun 2015
Tabel 3.11.
Penilaian Situasi Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Seni
Masalah kunci Kelompok Sasaran
Besarnya masalah (Luasnya/Parahnya/
Penduduk yang Terkena
Dampak)
Hak yang Tidak
Dipenuhi Indikator
Meningkatnya angka putus sekolah
Orang tua
Anak
Penyelenggar a pendidikan
Meningkatnya angka putus sekolah
berdampak pada terhambatnya wajib belajar 12 tahun
Hak
pendidikan
APM
APK
Angka Putus sekolah