• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : Hasil dan Pembahasan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Tinjauan Umum Tentang Kode Etik Profesi

2. Kode Etik Profesi Polri

a. Ruang Lingkup Kode Etik Profesi Polri

Kode Etik Profesi Polri untuk pertama kali ditetapkan oleh Kapolri dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol : Skep/213/VII/1985 tanggal 1 Juli 1985 yang selanjutnya naskah dimaksud terkenal dengan Naskah Ikrar Kode Etik Profesi Polri beserta pedoman pengamalannya. Berlakunya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1997 tentang Kepolisan dimana pada pasal 23 mempersyaratkan adanya Kode Etik Profesi Polri, maka pada tanggal 7 Maret 2001 diterbitkan buku Kode Etik Profesi Polri dengan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/05/III/2001 serta buku Petunjuk Administrasi Komisi Kode Etik Profesi Polri dengan Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/04/III/2001.

Perkembangan selanjutnya dengan Ketetapan MPR-RI Nomor. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Ketetapan MPR-RI Nomor. VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan amanat UU Polri sebagaimana tersebut dalam pasal 31 sampai dengan pasal 35, maka diperlukan perumusan kembali Kode Etik Profesi Polri yang lebih konkrit agar pelaksanaan tugas kepolisian lebih terarah dan sesuai dengan harapan masyarakat yang mendambakan

terciptanya supremasi hukum dan terwujudnya rasa keadilan.37

Implementasi dari UU Polri tersebut adalah dikeluarkannya Peraturan Kapolri No. POL 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri. Pengertian Kode etik profesi Polri disebutkan secara jalas dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Kapolri No. POL 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri yang menyebutkan bahwa: “Kode etik profesi Polri adalah norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan perilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang atau tidak patut dilakukan oleh anggota Polri.”

Perumusan Kode Etik Profesi Polri yang memuat norma perilaku dan moral lahir dari kesepakatan bersama serta dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas dan wewenang bagi anggota Polri sehingga dapat menjadi pendorong semangat dan rambu-rambu nurani setiap anggota untuk pemuliaan profesi Kepolisian guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Polri merupakan organisasi pembina profesi Kepolisian yang berwenang membentuk Komisi Kode Etik Polri di semua tingkat organisasi yang selanjutnya berfungsi untuk menilai dan memeriksa pelanggaran yang dilakukan oleh anggota terhadap ketentuan Kode Etik Profesi Polri.

37 Ibid.

b. Pengaturan Kode Etik Profesi Polri Berdasarkan Peraturan

Kapolri No. POL. 7 Tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri

Kode Etik Profesi Polri merupakan pedoman perilaku dan sekaligus pedoman moral bagi anggota Polri sebagai upaya pemuliaan terhadap profesi Kepolisian yang berfungsi sebagai pembimbing pengabdian, sekaligus menjadi pengawas hati nurani setiap anggota agar terhindar dari perbuatan tercela dan penyalahgunaan wewenang. Kode Etik Profesi Polri mempunyai sifat mengikat bagi anggota Polri, sehingga setiap anggota Polri dituntut untuk memahami, mentaati, dan mematuhi nilai etik yang dirumuskan dalam Kode etik tersebut dan mampu menjaga setiap perbuatannya pada perilaku yang baik dan benar, sehingga tidak terjadi perbuatan penyalahgunaan wewenang atau melakukan perbuatan tercela, karena perbuatan itu bertentangan dengan norma etika atau norma moral.38

Substansi Kode Etik Profesi Polri yang diatur dalam Peraturan Kapolri No. POL 7 Tahun 2006 mengandung 4 (empat) sikap moral bagi setiap anggota Polri, yakni berkaitan dengan etika kepribadian, etika kenegaraan, etika kelembagaan, dan etika dalam hubungannya dengan masyarakat. Ke empat sikap moral tersebut definisnya adalah sebagai berikut:39

a. Etika Kepribadian adalah sikap moral anggota Polri terhadap profesinya di dasarkan pada panggilan ibadah sebagai umat

38 Sadjijono, Op.Cit, hal 76.

beragama. Karena itu etika kepribadian merupakan sikap moral yang mengandung komitmen batin pemegang profesi Kepolisian. Komitmen batin yang dimaksud adalah mampu menjaga dan memelihara sikap pribadinya dengan baik, yang berarti segala tindakannya tidak tercela. Dengan demikian etika kepribadian adalah norma yang memberikan pedoman bagaimana seharusnya dan seyogyanya anggota Kepolisian memiliki pribadi yang baik dalam menjalankan profesinya yang tertuju pada kepentingan masyarakat atau Negara telaah filosofis norma atau kaidah yang membimbing kepribadian anggota Kepolisian terhadap profesinya tersebut melalui keimanan dan ketaqwaannya;

b. Etika Kenegaraan adalah sikap moral anggota polri yang menjunjung tinggi landasan konstitusional Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sikap ini merupakan prinsip kesadaran dalam menjaga, mengamankan dan memelihara ideologi dan konstitusi bangsa dan Negara, kepentingan bangsa, kondisi Negara, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, fasilitas Negara, dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat;

c. Etika kelembagaan adalah sikap moral anggota Polri terhadap institusi yang menjadi wadah pengabdian dan patut dijunjung tinggi sebagai ikatan lahir batin dari semua insan Bhayangkara dengan segala martabat dan kehormatannya. Selaku pemegang profesi

Kepolisian, setiap anggota Polri memiliki kewajiban moral bagaimana seharusnya dan seyogyanya berperilaku terhadap lembaga Polri yang merupakan organisasi profesi tersebut;

d. Etika dalam hubungan dengan masyarakat adalah sikap moral anggota Polri yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Norma etika dalam hubungan dengan masyarakat mengandung jabaran yang digunakan sebagai pedoman perilaku setiap anggota Kepolisian dalam berhubungan dengan masyarakat baik ketika menjalankan tugas dan wewenangnya maupun hubungannya ditengah-tengah masyarakat.

Norma-norma yang terkandung dalam kode etik profesi Polri sebagaimana dirumuskan dalam Peraturan Kapolri No. POL 7 tahun 2006 tersebut memiliki kekuatan mengikat dan memiliki nilai-nilai moral yang tinggi. Demikian perilaku anggota Polri akan menjadi baik sesuai dengan nilai-nilai moral, ketika anggota Polri sadar untuk mematuhi dan mentaati norma-norma yang diformulasikan ke dalam kode etik profesi Polri tersebut.

Efektifitas berlakunya suatu norma atau kaidah, termasuk kaidah moral atau norma etika, terletak pada ada tidaknya sanksi yang dapat diterapkan jika terjadi pelanggaran. Sebagai sebuah kumpulan nilai-nilai moral suatu kode etik juga mempunyai sanksi yang dapat dipaksakan jika dilanggar oleh orang yang wajib mematuhi kode etik tersebut. Demikian juga dalam kode etik profesi Polri mempunyai

sanksi yang dapat dijatuhkan kepada anggota Polri dan pengemban fungsi Kepolisian lainnya jika melanggar kode etik profesi Polri. Pasal 11 ayat (1) kode etik profesi Polri menyebutkan:

Sidang Komisi Kode Etik Polri dilakukan terhadap pelanggaran: a. Kode Etik Polri sebagaiman dimaksud dalam Peraturan ini;

b. Pasal 12, Pasal 13, dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri serta Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.

Dalam Pasal 1 kode etik profesi Polri disebutkan:

Anggota Polri yang melakukan pelanggaran kode etik dikenakan sanksi berupa:

a. Pelaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela;

b. Kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara terbatas ataupun secara terbuka;

c. Kewajiban pelanggar untuk mengikuti pembinaan ulang profesi; d. Pelanggar dinyatakan tidak layak lagi untuk menjalankan

profesi/fungsi Kepolisian.

Setiap pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi dikenakan sanksi moral yang disampaikan dalam bentuk putusan Sidang Komisi Kode Etik secara tertulis kepada terperiksa (Pasal 11 ayat (3) dan Pasal 12 ayat (1) Kode Etik Profesi Polri). Bentuk sanksi moral yang dijatuhkan dapat berupa pernyataan putusan yang menyatakan tidak

terbukti atau pernyataan putusan yang menyatakan terperiksa terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri. Bentuk sanksi moral sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (2) a, b dan c tersebut merupakan bentuk sanksi moral yang bersifat mutlak dan mengikat. Artinya sanksi moral tersebut terumuskan pada kadar sanksi pidana yang teringan sampai pada kadar sanksi yang terberat sesuai pelanggaran perilaku terperiksa yang dapat dibuktikan dalam Sidang Komisi.

Tingkat pelanggaran terhadap Kode Etik Profesi Polri termasuk dalam kualifikasi pelanggaran berat dan dilakukan berulang kali, maka kepada terperiksa dapat dijatuhi sanksi dinyatakan tidak layak untuk mengemban profesi/fungsi Kepolisian. Menurut Pasal 12 ayat (4) Kode Etik Profesi Polri, sanksi tersebut merupakan sanksi administrasi berupa rekomendasi untuk:

a. Dipindahkan tugas ke jabatan yang berbeda; b. Dipindah tugas ke wilayah yang berbeda; c. Pemberhentian dengan hormat;

d. Pemberhentian dengan tidak hormat.

Selain itu ditegaskan pula dalam Pasal 15 Kode Etik Profesi Polri, bagi anggota Polri yang diputuskan pidana dengan hukuman pidana penjara minimal 3 (tiga) bulan yang telah berkekuatan hukum tetap, dapat direkomendasikan oleh anggota sidang Komisi Kode Etik Polri tidak layak untuk tetap dipertahankan sebagai anggota Polri.