BAB IV : Hasil dan Pembahasan
DAFTAR PUSTAKA
C. Media Masa
Jamil Mubarok, Sebanyak 169 Polisi Dipecat, kompas.com. (8 Februari 2011).
D. Website
Ajeng Ritzki Pitakasari, Duh! Maret Saja Ada 75 Laporan Soal Polisi
Bermasalah di Polda Jaya, (online), http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabek/11/04/20/ljxoo
1-waduh-maret-saja-ada-75-laporan-soal-polisi-bermasalah-di-polda-jaya, diakses pada tanggal 15 Juni 2011.
Andai Yani UBB, Pengertian Subsistem, (online), http://id.shvoong.com/business-management/management/2139020
pengertian-subsistem/#ixzz1PiUQoIhy, diakses pada tanggal 09 Juni 2011.
Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim Evaluasi Kpp, Layanan Program
http://www.jatimprov.go.id/index.php?option=com_, diakses tanggal 24 Juli 2011.
Jimly Asshiddiqie, SH, Penegakan Hukum, (online), http://jimly.com/makalah/namafile/56/Penegakan_Hukum.pdf, diakses pada tanggal 09 Juni 2011.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (online), http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses pada tanggal 07 Juni 2011.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (online), http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses pada tanggal 07 Juni 2011.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (online), http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses pada tanggal 07 Juni 2011.
Koran Jakarta Nasional, Dewan Kode Etik akan Sidangkan Williardi, (online) (http://bataviase.co.id/node/94596, diakses tanggal 06 Agustus 2011. Manase Malo, Metode Penelitian Kuantitatif, (online),
http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online. diakses pada tanggal 03 Juli 2011.
Menurut Direktorat Lalu Lintas Polda Riau, Diskresi Kepolisian, (online),http://ditlantaspolda riau.com/pro/index., diakses pada tanggal 08 Juli 2011.
Proses Persidangan Pelanggaran Kode Etik Profesi Terhadap Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia Yang Telah Dijatuhi Hukuman Pidana, (online), http://digilib.umm.ac.id/files/disk1/376/jiptummpp-gdl-s1-2010-widodoseti-18755-, diakses pada tanggal 09 Juli 2011. Saurlin, Pelanggaran Profesionalisme Kepolisian di Sumut Meningkat,
(online), dikutip dari Suara pembaruan Edisi 2 Juli 2010, http://saurlin.blogspot.com/2010/07/pelanggaran-profesionalisme-kepolisian.html, diakses pada tanggal 15 Juni 2011.
Tjuju Soendari, Perbandingan Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif, (online), http://docs.google.com//, diakses pada tanggal 03 Juli 2011.
BAB I
KETENTUAN UMUM Dalam perturan ini yang dimaksud dengan :
1. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut anggota polri adalah pegawai negeri pada kepolisian Negara Republik Indonesia.
2. Kode Etik Profesi Polisi adalah norma-norma atau aturan-aturan yang merupakan kesatuan landasan etik atau filosofis dengan peraturan prilaku maupun ucapan mengenai hal-hal yang diwajibkan, dilarang, atau tidak patut dilakukan oleh anggota Polri.
3. Etika Profesi Polri adalah kristalisasi nilai-nilai Tribrata yang dilandasi dan dijiwai oleh Pancasila serta mencerminkan jati diri setiap anggota Polri dalam wujud komitmen moral yang yang meliputi etika kepribadian, kenegaraan, kelembagaan dan hubungan dengan mayarakat.
4. Profesi Kepolisian adalah profesi yang berkaitan dengan tugas Kepolisian baik dibidang operasional maupun dibidang pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
5. Pembinaan profesi adalah pembinaan anggota Polri yang diselenggarakan melalui pendidikan dan pelatihan serta penugasan secara berjenjang dibidang teknis kepolisian.
6. Etika Kepribadian adalah sikap sikap moral anggota Polri terhadap profesinya didasarkan pada panggilan ibadah sebagai umat beragama. 7. Etika Kenegaraan adalah sikap moral anggota
Polri yang menjunjung tinggi landasan ideologis dan konstitusional Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 8. Etika Kelembagaan adalah sikap moral anggota
Polri terhadap instutusi yang menjadi wadah pengabdian dan patut dijunjung tinggi sebagai katan batin dari semua insan Bhayangkara dengan segala martabat dan kehormatannya. 9. Etika dalam hubungan dengan masyarakat
adalah sikap moral anggota Polri yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
10. Komisi Kode Etik Polri adalah suatu wadah yang dibentuk dilingkungan Polri bertugas melaksanakan pemeriksaan dalam persidangan pelangaran Kode Etik Profesi serta pelangaran lain sebagaimana diatur dalam peraturan Perundang-undangan.
BAB II
ETIKA PROFESI POLRI Bagian Kesatu
b. Etika Kenegaraan; c. Etika Kelembagaan;
d. Etika dalam hubungan dengan masyarakat. Bagian Kedua
Etika Kenegaraan Pasal 4
Dalam Etika Kenegaraan setiap anggota polri wajib; a. Menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan ideologi dan konstitusi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. Menjaga, memelihara dan meningkatkan rasa aman dan tentram bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. Menjaga keselamatan fasilitas umum dan hak milik peroranganserta menjauhkan sekuat tenaga dari kerusakan dan penurunan nilai guna atas tindakan yang diambil dalam pelaksanaan tugas;
e. Menunjukkan penghargaan dan kerja sama dengan sesama pejabat negara dalam melaksanakan tugas; f. Menjaga keutuhan wilayah hukum Negara Kesatuan
epublik Indonesia yang berdasarkan Pancasila an Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, memelihara persatuan dalan kebhinekaan bangsa dan menunjung tinggi kedaulatan rakyat.
Bagian Keempat Etika Kelembagaan
Pasal 5
Dalam Etika Kelembagaan setiap anggota Polri wajib; a. Menjaga citra dan kehormatan lembaga Polri; b. Menjalankan tugasnya sesuai dengan visi dan misi
lembaga Polri yang dituntun oleh asas pelayanan serta didukung oleh pengetahuan dan keahlian; c. Memperlakan sesama anggota sebagai subyek yang
bermartabat yang ditandai oleh pengakuan akan hak dan kewajiban yang sama;
d. Mengembangkan semagat kebersamaan serta saling mendorong untuk meningkatkan kinerja pelayanan pada kepentingan umum;
e. Meningkatkan kemampuan demi profesionalisme kepolisian.
Pasal 6
Anggota Polri dalam menggunakan kewenangannya wajib berdasakan norma hukum dan mengindahkan norma agama , kesopanan, kesusilaan, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Pasal 7
(1) Setiap anggota Polri wajib memegang teguh garis komando dan mematuhi jenjang kewenangan, dan
perintah yang diberikan kepada anggota bawahannya. (3) Setiap anggota Polri wajib menolak perintah atasan
yang melanggar norma hukum dan untuk itu anggota tersebut wajib mendapatkan perlindungan hukum. (4) Sertiap anggota Polri dalam melaksanakan perintah
kedinasan tidak dibenarkan melampaui batas kewenangannya dan wajib menyampaikan pertanggung jawaban tugasnya kepada atasan langsung.
(5) Setiap anggota Polri dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya tidak boleh terpengaruh oleh istri/suami, anak, dan orang-orang lain yang masih terikat hubungan keluarga atau pihak lain yang tidak asda hubungannya dengan kediinasan.
Pasal 8
(1) Setiap anggota Polri wjib menampilkan sikap kepemimpinan melalui keteladanan, kejujuran, keadilan, ketulusan dan kewibawaan untuk melaksanakan keputusan pimpinan yang dibangun melalui tata cara yang berlaku guna tercapainya tujuan organisasi.
(2) Dalam rapat/ pertemuan, untuk mengambil keputusan boleh berbeda pendapat sebelum diputuskan pimpinan dan setelah diputuskan setiap anggota wajib tunduk dan mengamankan keputusan itu.
Pasal 9
Setiap anggota Polri wajib menampilkan rasa setiakawan denga sesama angota sebagai ikatan batin yang tulus atas dasar kesadaran bersama akan tanggung jawabnya sebagai salah satu pilar keutuhan bangsa Indonesia, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kehormatan sebagai berikut ;
a. Menyadari sepenuhnya sebagai perbuatan tercela apabila meningalkan kawan yang terluka , meningal dunia, atau memerlukan pertolongan dalam pelaksanaan tugas, sedangkan keadaan memungkinkan untuk memberi petolongan;
b. Merupakan Keteladanan bagi seorang atasan untuk membantu kesulitan bawahannya.
c. Merupakan kewajiban moral seorang atasan atau bawahan untuk saling menunjukan rasa hormat yang tulus;
d. Merupakan sikap terhormat/terpuji bagi anggota Polri apabila menghadiri pemakaman anggota Polri dan purnawirawan Polri yang meninggal dunia.
e. Selalu terpanggil untuk memberikan bantuan kepada sesama anggota Polri dan purnawirawan Polri beserta keluarganya yang menghadapi suatu kesulitan;
f. Merupakan sikap terhormat apabila tidak menyampaikan dan menyebarkan rahasia pribadi, kejelekan teman, atau keadaan i dalam lingkungan Polri kepada orang lain.
Bagian Kelima
Etika Dalam Hubungan Dengan Masyarakat Pasal 10
b. Menjunjung tinggi prinsip kebebasan dan kesamaan bagi semua warga negara ;
c. Menghindarkan diri dari perbuatan tercela dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan dan kebenaran demi pelayanan pada masyarakat; d. Menegakan hukum demi menciptakan tertib
sosial serta rasa aman Publik ;
e. Meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat; f. Melakukan tindakan pertama Kepolisian
sebagaimana yang diwajibkan dalam tugas kepolisian, baik sedang bertugas maupun diluar dinas.
(2) Anggota Polri wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela yang dapat merusak kehormatan profesi dan organisasinya serta menjunjung tinggi nilai kejuuran, keadilan, dan kebenaran demi pelayanan pada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf (c) denga senantiasa;
a. memberikan keterangan yang benar dan tidak menyesatkan;
b. tidak kelakukan pertemuan diluar pemeriksaan dengan pihak-pihak yang terkait dengan perkara; c. bersikap ikhlas dan ramah menjawab pertanyaan
tentang perkembangan penanganan perkara yang ditanganinya kepada semua pihak yang terkait dengan perkara pidana yang dimaksud, sehingga diperoleh kejelasan tentang penyelesaiannya; d. tidak boleh menolak permintaan pertolongan /
bantuan dari masyarakat dengan alasan bukan wilayah hukumnya;
e. tidak mencari-cari kesalahan masyarakat;
f. tidak menyebarkan berita yang dapat meresahkan masyarakat;
g. tidak mengeluarkan ucapan atau isyarat yang bertujuan untuk mendapatkan imbalan atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
BAB III
PENEGAKAN KODE ETIK PROFESI Pasal 11
(1) Sidang Komisi Kode Etik Polri dilakukan terhadap pelanggaran :
a. Kode Etik Profesi Polri sebagaimana dimaksud dalam peraturan ini;
b. Pasal 12, pasal 13, pasal 14 Peraturan pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri serta Pasal 13 Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.
(2) Anggota Polri yang melakukan pelanggaran Kode Etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikenakan sanksi berupa :
a. Perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela ;
b. Kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara terbatas ataupun secara langsung;
(3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tertulis dengan Keputusan Sidang Komisi Kode Etik Polri.
(4) Pelanggaran terhadap Pasal 12, Pasal 13 dan Pasal 14 Peratuan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri serta Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenakan sanksi sesuai yang berlaku pada Peraturan Pemerintah Dimaksud.
Pasal 12
(1) Penjatuhan Sanksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 diputuskan dalam Sidang Komisi Kode Etik Polri.
(2) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) huruf b dilakukan dimuka sidang Komisi Kode Etik Polri atau melalui media.
(3) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf c kewajiban untuk mengikuti penataran/pelatihan ulang pembinaan profesi di Lembaga Pendidikan Polri dengan biaya dari Satker terperiksa.
(4) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf d yaitu sanksi administratif berupa rekomendasi untuk :
a. dipindahkan tugas ke jabatan yang berbeda; b. dipindahkan tugas ke wilayah yang berbeda; c. Pemberhentian dengan hormat;
d. Pemberhentian tidak dengan hormat.
Pasal 13
Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) huruf a, huruf b, dan huruf c bersifat mutlak dan megikat.
Pasal 14
(1) Pemeriksaan atas pelangaran Kode Etik Profesi Polri dilakukan oleh Komisi Kode Etik Polri
(2) Tata cara sidang Komisi Koe Etik Polri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kapolri.
Pasal 15
Anggota Polri yang diputuskan Pidana dengan hukuman Pidana minimal 3 (tiga) bulan yang telah berkekuatan hukum tetap, dapat direkomendasikan oleh anggota sidang Komisi Kiode Etik Polri tidak layak untuk tetap dipertahankan sebagai anggota Polri.
Pasal 16
Apabila terjadi pelanggaran komulatif antara pelanggaran Disiplin dengan Kode Etik Profesi Polri,
Pasal 17
Dalam Pemeriksaan Pelanggaran Kode Etik Profesi Polri, terperiksa dapat didampingi oleh anggota Polri yang ditunjuk oleh terperiksa.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP Pasal 18
Pada saat Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini mulai berlaku, Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol: Kep/32/VII/2003 tantang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia , dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 19
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan .
Ditetapkan Di : J a k a r t a Pada tanggal : 1 Juli 2006
KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Drs. S U T A N T O JENDERAL POLISI
ETIK
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini dimaksud dengan :
1. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut anggota Polri adalah Pegawai Negari pada Kepolisian Negara Republik Indonesia yang mempunyai kewenangan umum Kepolisian 2. Komisi Kode Etik Polri yang selanjutnya disebut
Komisi adalah suatu wadah yang dibentuk di lingkungan Polri bertugas memeriksa dan menyidangkan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri serta pelanggaran Pasal 12, pasal 13 dan pasal 14 peraturan Pemerintah nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri dan pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.
3. Pelanggaran Kode Etik Profesi Polri adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh anggota Polri yang bertentangan dengan Kode Etik Profesi Polri
4. Terperiksa adalah anggota Polri yang diduga melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri dan / atau pelanggaran pasl 12, pasal 13 danpasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri
5. Pedamping adalah seorang anggota Polri yang bukan anggota Komisi ataupun sebagai saksi yang diajukan oleh Terperiksa untuk memberikan advokasi dan pembelaan
6. Saksi adalah setiap orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan pemeriksaan tentang suatu peristiwa yang berhubungan dengan perkara Terperiksa.
7. Ahli adalah orang yang memiliki keahlian tertentu yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan pemeriksaan yang berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik Profesi.
8. Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang kepada Pejabat Polri yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga terjadi pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh anggota Polri.
9. Pengaduan adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh Pihak yang berkepentingan kepada Pejabat Polri yang berwenang untuk dilakukan pemeriksaan terhadap anggota Polri yang diduga telah melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang merugikan dirinya.
BAB II
SIFAT, PEMEBNTUKAN DAN SUSUNAN Pasal 2
(1) Komisi bersifat otonom, dibentuk berdasarkan kebutuhan dengan Surat Keputusan oleh Pejabat Polri yang berwenang
yang dilakukan oleh Perwira Tinggi Polri. b. Pada Tingkat Mabes Polri, Kapolri melimpahkan
wewenang kepada Wakapolri untuk membentuk Komisi dengan menunjuk :
1. Irwasum Polri sebagai Ketua Komisi untuk memeriksa pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh Perwira Menengah Polri
2. Kadiv Propam Polri sebagai Ketua Komisi untuk memeriksa pelanggaran Kode Etik Profesi oleh Perwira Pertama Polri
3. Kapus Bin Profesi Div Propam Polri sebagai Ketua Komisi untuk memeriksa pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh Bintara Polri
c. Pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh Anggota Polri pada lingkup Mabes Polri yang berpangkat Perwira Menengah Polri, Perwira Pertama Polri, Bintara dan yang kesatuannya berkedudukan selain di Jalan Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan ( Gedung A dan B ), Wakapolri melimpahkan wewenang kepada Kepala Kesatuan Kerja (Kasatker ) di tempat pelanggar berdinas / bertugas untuk membentuk Komisi.
d. Pada tingkat Kewilayahan, Kapolri melimpahkan wewenang kepada Kapolda, Kapolwil / tabes, Kapoltabs, Kapolres / tro/ta, untuk membentuk Komisi guna memeriksa pelanggaran Kode Etik Profesi Polri yang dilakukan oleh Perwira Menengah Polri, Perwira Pertama Polri, Bintara dan Polri di Kesatuannya.
Pasal 3
(1) Anggota Komisi paling sedikit 5 (lima) orang Perwira Polri, paling banyak 7 (tujuh ) orang Perwira Polri ditambah 2 (dua) orang Perwira Polri sebagai cadangan
(2) Susunan keanggotaan Komisi terdiri dari : a. 1 (satu) orang Ketua merangkap anggota b. 1 (satu) orang Wakil Ketua merangkap anggota c. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap anggota d. 1 (satu) orang atau 4(empat) orang Perwira Polri
sebagai anggota
e. 2 (dua) orang Perwira Polri sebagai anggota cadangan
BAB III
TUGAS, WEWENANG DAN KEWAJIBAN Pasal 4
Komisi bertugas menyelenggarakan sidang untuk memeriksa pelanggaran Kode Etik Profesi Polri dan pelanggaran Pasal 12, Pasal 13 danpasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri serta pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.
keterangannya sebagai Terperiksa
b. Menghadirkan saksi, ahli dan pedamping untuk didengar keterangannya guna kepentingan pemeriksaan
c. Mengajukan pertanyaan secara langsung kepada Terperiksa, Saksi , Ahli dan Pedamping mengenai sesuatu yang diperlukan dan berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh Terperiksa. d. Memutuskan/menetapkan Terperiksa terbukti atau
tidak terbukti melakukan pelanggaran.
e. Memutuskan / menetapkan sanksi moral sebagaimana diatur dalam pasal &11 ayat (2) Peraturan Kapolri tentang Kode Etik Profesi Polri, jika Terperiksa terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri.
f. Menjatuhkan sanksi secara arternatif atau kumulatif;
g. Memberikan rekomendasi sebagai mana di maksud dalam pasal 12 ayat( 4 ) Peraturan Kapolri tentang kode etik profesi Polri, apabila terperiksa dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (2) huruf d Peraturan Kapolri tentang Kode Etik Propesi Polri.
Pasal 6 1) Ketua Komisi berkewajiban
a. Melaksankan koordinasi dengan anggota komisi untuk mempersiapkan pelaksanaan sidang dengan mempelajari dan meneliti berkas perkara pelanggaran kode etik propesi Polri dan pelanggaran pasal 12, pasal 13, dan pasal 14 peraturan. Pemerintah nomor 1 tahun 2003 tentang pemberhentian anggota polri serta pasal 13 peraturan pemerintah nomor 2 tahun 2003 tentang peraturan disiplin anggota polri.
b. Menentukan jadwal persidangan;
c. Menentukan saksi-saksi yang perlu didengar keterangannya.
d. Memimpin jalannya sidang
e. Menjelaskan alasan dan tujuan persidangan f. Mengatur anggota komisi untuk mengajukan
pertanyaan kepada terperiksa, saksi, ahli.
g. Memberikan kesempatan kepada pendamping terperiksa untuk mengajukan pertanyaan kepada saksi, ahli, dan terperiksa.
h. Mempertimbangkan saran, pendapat baik dari anggota komisi maupun pendamping untuk merumuskan putusan sidang.
i. Menandatangani putusan sidang j. Membacakan putusan hasil sidang k. Menandatangani berita acara persidangan. 2) Wakil Ketua Komisi berkewajiban;
a. Membantu kelancaran pelaksanaan tugas ketua komisi
b. Memimpin sidang apabila Ketua Komisi berhalangan
c. Mengkoordinasikan kegiatan dengan sekretaris komisi
kepada terperiksa, saksi, ahli dan pendamping yang diperlukan.
c. Menyusun berita acara persidangan d. Menyiapkan konsep putusan sidang
e. Menyampaikan surat putusan sidang kepada terperiksa
f. Membuat dan mengirimkan laporan hasil sidang kepada satuan atas
g. Menandatangani berita acara persidangan 4) Anggota komisi berkewajiban;
a. Mengajukan pertanyaan kepada terperiksa, saksi dan ahli untuk kepentingan pemeriksaan b. Mengajukan saran kepada ketua komisi baik
diminta atau tidak
c. Mengikuti seluruh kegiatan persidangan termasuk melakukan peninjauan dilapangan. 5) Anggota cadangan berkewajiban menggantikan
anggota komisi yang berhalangan Pasal 7
1) Anggota komisi yang tidak setuju terhadap putusan sidang harus tetap menandatangani putusan sidang 2) Ketidaksetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dituangkan dalam berita acara persidangan BAB IV
KEANGGOTAAN Pasal 8
1) Keanggotaan komisi untuk memeriksa perwira tinggi polri terdiri dari:
a. Ketua : Kapolri/Wakapolri
b. Wakil Ketua : IrwasumPolri/Perwira Tinggi Polri yang ditunjuk.
c. Sekertaris : Kadiv Propam Polri/ Perwira Tinggi yang ditunjuk.
d. Anggota : Perwira Tinggi Polri yang ditunjuk
e. Anggota cadangan : Perwira Tinggi Polri yang ditunjuk
2) Keanggotaan komisi untuk memeriksa Perwira Menengah Polri terdiri dari:
a. Ditingkat Mabes Polri : 1. Ketua : Irwasum Polri
2. Wakil Ketua : Kadiv Propam Polri / Perwira Tinggi Polri yang ditunjuk
3. Sekretaris : Kapus Bin Prof Polri / Perwira Menengah Polri yang ditunjuk
4. Anggota : Perwira Menengah Polri yang ditunjuk
5. Anggota Cadangan : Perwira Menengah Polri yang ditunjuk
b. Ditingkat Polda/Polwil/Tabes/Poltabes/ Polres/tro /ta
1. Ketua : Wakapolda.
2. Wakil Ketua : Irwasda/Perwira Menengah Polri yang ditunjuk
ditunjuk
3) Pelaksanaan sidang Komisi terhadap Perwira Pertama dan Perwira Menengah Polri yang ada tingkat Polwil /Tabes/PoltabesPolres/tro/ta dapat dilaksanakan di Markas Polda, kesatuan terperiksa atau tempat lain yang ditunjuk
4) Keanggotaan Komisi untuk memeriksa Perwira Pertama Polri terdiri dari:
a. Ditingkat Mabers Polri :
1. Ketua : Kadiv Propam Polri. 2. Wakil Ketua : Kapusbin Prof Polri /
Perwira Menengah yang ditunjuk
3. Sekertaris : Kabid Bin Etika Pusbin Prof Polri / Perwira Menengah yang ditunjuk 4. Anggota : Perwira Polri yang ditunjuk. 5. Anggota cadangan : Perwira Polri yang
ditunjuk. : b.Ditingkat Polda :
1. Ketua : Irwasda
2. Wakuil Ketua : Kabid Propam / Perwira Menengah Polri yang ditunjuk
3. Sekertarism : Kasubbid Bin Prof / Perwira Menengah yang ditunjuk.
4. Anggota : Perwira Menengah Polri yang ditunjuk.
5. Anggota Cadangan : Perwira Polri yang ditunjuk
c. Ditingkat Polwil/Tabes.
1. Ketua : Wakapolwil /tabes.
2. Wakil Ketua : Kabag Bin/ Perwira Polri yang di tunjuk.
3. Sekertaris : Kasub bag Min/ Perwira Polri di tunjuk.
4. Anggota : Perwira Polri yang di tunjuk. 5. Anggota cadangan : Perwira Polri yang di
tunjuk.
5) Anggota Komisi untuk Memeriksa Bintara dan Tamtama Polri terdiri dari:
a. Ditingkat Mabes Polri : 1. Ketua : Kapus Bin Prof Polri.
2. Wakil Ketua : Kabid Bin Etika Pusbin Prof Polri/Perwira Menengah Polri yang ditunjuk 3. Sekertaris : Kasubbid Gak Etika Pusbin Prof
Polri/ Perwira Yang ditunjuk. 4. Anggota : Perwira yang ditunjuk.
5. Anggota cadangan : Perwira yang ditunjuk. b. Ditingkat Polda :
1. Ketua : Kabid Propam.
2. Wakil Ketua : Kasubbid Bin Prof / Perwira yang di tunjuk.
3. Sekertaris : Kaur Bin Etika/ Perwira yang di tunjuk.
4. Anggota : Perwira yang ditunjuk
5. Anggota cadangan : Perwira yang ditunjuk.
3. Sekertaris : Kanit P3D / Perwira yang ditunjuk. 4. Anggota : Perwira yang ditunjuk.
5. Anggota cadangan : Perwira yang ditunjuk. d. Ditingkat Poltabes/Polres/tro/ta:
1. Ketua : Wakapoltabes/Wakapolres/tro/ta. 2. Wakil Ketua : Kabag Min /Perwira yang
ditunjuk.
3. Sekertaris : Kanit P3D/Perwira yang ditunjuk. 4. Anggot : Perwira yang ditunjuk.
5. Anggota cadangan : Perwira yang ditunjuk. Pasal 9
Keanggotaan komisi untuk memeriksa pelanggaran anggota Mabes Polri yang kesatuannya berada diluar lingkungan Mabes Polri Jalan Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Gedung A dan B) Dan pusat Pendidikan Polri yang berada dibawahsatuan kerja lembaga pendidikan dan pelatihan Polri, susunan anggota komisinya disesuaikan dengan struktur organisasi masing-masing dengan mengedepankan pengemban fungsi propam atau pembinaan personel.
BAB V
MEKANISME PENANGANAN PELANGGARAN Bagian Kesatu
Penanganan Pelanggaran Kode Etik Pasal 10
1) Penanganan pelanggaran Kode Etik Profesi Polri dimulai dengan adanya laporan atau pengaduan yang diajukan oleh :
a. Masyarakat
b. Anggota Polri c. Sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
2) Penerimaan laporan atau pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan oleh pengemban fungsi Propam di setiap jenjang organisasi polri, yang selanjutnya melakukan pemeriksaan pendahuluan atas laporan atau