• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2.6. Television Code

2.2.6.1. Kode-kode Sosial dalam Film “Miracle In Cell No.7”

perilaku, percakapan, gestur, ekspresi, suara, dan sebagainya. Dalam bahasa tulis berupa, misalnya, dokumen, transkrip,wawancara, dan sebagainya.

Pada tahap kedua disebut representasi (representation). Realitas yang terenkode dalam encoded electronically harus ditampakkan pada technical codes, seperti kamera, lighting, editing, musik, suara. Dalam bahasa tulis ada kata, kalimat, proposisi, foto, grafik, dan sebagainya. Sedangkan dalam bahasa gambar atau televisi ada kamera, tata cahaya, editing, musik, dan sebagainya. Elemen-elemen ini kemudian ditransmisikan ke dalam kode representasional yang dapat mengaktualisasikan, antara lain karakter, narasi, action, dialog, setting, dan sebagainya.

Tahap ketiga adalah ideologi (ideology). Semua elemen diorganisasikan dan dikategorikan dalam kode-kode ideologis, seperti patriakhi, individualisme, ras, kelas, materialisme, kapitalisme, dan sebagainya. Ketika kita melakukan representasi atas suatu realita menurut Fiske tidak dapat dihindari adanya kemungkinan memasukkan indeologi dalam konstruksi realitas (Vera, 2011: 36).

2.2.6.1. Kode-kode Sosial dalam Film “Miracle In Cell No.7”

Unit analisis yang digunakan oleh peneliti meliputi level realitas, level representasi, dan level ideologi. Kode-kode tersebut adalah:

1. Level realitas dengan kode: a. Kostum (Dress)

Setiap bentuk dan jenis pakaian apapun yang dikenakan oleh seseorang akan menyampaikan penanda sosial (social sign) tentang si pemakai. Pakaian merupakan „bahasa diam‟ (silent language) yang berkomunikasi melalui pemaikaian simbol-simbol verbal. Pakaian merupakan indikator yang tepat dalam menyatakan kepribadian dan gaya hidup seseorang yang mengenakan pakaian tertentu. Dalam hal lainnya, pakaian adalah cara yang digunakan individu untuk membedakan dirinya sendiri sebagai individu dan menyatakan beberapa bentuk keunikan (Barnard, 2011: 85). Setiap orang, memiliki selera dan maksud tertentu ketika ia memilih suatu pakaian tertentu untuk digunakan. Pakaian yang kita kenakan juga dapat menjelaskan banyak hal. Setiap fase

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dalam kehidupan kita kita pun ditandai dengan busana tertentu. Pilihan seseorang atas pakaian yang ia kenakan mencerminkan kepribadiannya. Pakaian juga digunakan untuk memproyeksikan citra tertentu yang diinginkan pemakainya. Faktor-faktor yang mampu mempengaruhi cara kita berdandan antara lain, nilai-nilai agama, kebiasaan, tuntutan lingkungan (tertulis atau tidak), nilai kenyamanan, dan tujuan pencitraan.

b. Penampilan (appearance)

Tidak dapat kita pungkiri, bahwa pertama kali menilai atau melihat seseorang adalah melalui penampilan fisiknya. Setiap orang punya persepsi mengenai penampilan fisik. Seringkali orang memberi makna tertentu pada karakteristik fisik orang yang bersangkutan, seperti bentuk tubuh, warna kulit, model rambut, dan sebagainya. Begitu pentingnya sebuah penampilan, maka ada yang mengatakan bahwa penampilan adalah segalanya (Chaney, 2008: 15). Beberapa kelompok masyarakat beranggapan bahwa penampilan bagi dirinya merupakan suatu yang mutlak. Bahwa sebagian orang berpendapat bahwa penampilan merupakan kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi. Ketika melihat penampilan seseorang, maka kita akan mempersepsi kehidupan orang tersebut. Maka dari itu, penampilan menjadi kode sosial yang peneliti pilih untuk menggali makna pesan yang ingin disampaikan dari representasi maskulinitas sosok ayah dalam film “Miracle In Cell No.7”.

c. Perilaku (behavior)

Perilaku atau behavior merupakan sebuah tindakan seseorang. Dalam kode sosial ini, peneliti ingin melihat perilaku dalam kehidupan maskulinitas yang terdapat dalam film ini.

d. Ekspresi (expression)

Banyak orang beranggapan bahwa perilaku nonverbal yang paling banyak “berbicara” adalah ekspresi wajah, khusunya pandangan mata, meskipun mulut tidak berbicara (Mulyana, 2005: 372). Menurut Albert Mehrabian dan Mulyana berpendapat andil wajah bagi pengaruh pesan adalah 55% sementara vocal 30%, dan verbal hanya 7%. Kontak mata yang merupakan bagian terbesar dari ekspresi memiliki dua fungsi, fungsi pengatur yaitu untuk memberi tahu orang lain apakah kita akan melakukan hubungan dengan orang itu atau

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA menghindarinya. Fungsi yang kedua adalah fungsi ekspresif, yaitu memberi tahu orang lain bagaimana perasaan kita terhadapnya (Mulyana, 2005: 373). Ekspresi wajah merupakan perilaku nonverbal utama yang mengekspresikan keadaan emosional seseorang. Sebagian pakar mengakui terdapat beberapa keadaan emosional yang dikomunikasikan oleh ekspresi wajah yang tampaknya dipahami secara universal: kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kemarahan, kejijikan, dan minat.

e. Latar (setting)

”Dalam sebuah film, latar atau setting merupakan tempat dan waktu berlangsungnya cerita” (Sumarno, 1996: 66). Orang yang bertanggung-jawab terhadap setting atau latar disebut penata artistik. Seting harus memberi informasi lengkap tentang peristiwa-peristiwa yang sedang disaksikan penonton. Peneliti melihat setting mampu menunjukkan representasi kehidupan para maskulinitas dalam film “Miracle In Cell No.7”.

f. Dialog (dialogue)

Merupakan percakapan-percakapan antar pemeran dalam sebuah film. Dalam dialog peneliti dapat melihat makna yang ingin disampaikan film “Miracle In Cell No.7”.

2. Level Representasi dengan kode: a. Kerja Kamera (camera movement)

Film memiliki dua elemen, yaitu audio dan visual. Sehingga tidak dapat dipungkiri jika kamera sebagai alat untuk menyajikan elemen visual kepada penonton memiliki peranan yang penting dalam penyampaian pesan. Teknik pengambilan gambar memiliki tujuan serta mengandung makna pesan yang ingin disampaikan. Komposisi gambar yang baik akan mampu membuat gambar menyampaikan pesan dengan sendirinya. Komposisi itu antara lain framing (pembingkaian gambar), Illusion of Depth (kedalaman dalam dimensi gambar), subject or object (subjek atau objek gambar), dan colour (warna). Sementara itu, ada beberapa teknik pengambilan gambar berdasarkan besar-kecil subyek, antara lain:

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA • Extreme Long Shot (ELS)

Shot ini diambil apabila ingin mengambil gambar yang sangat jauh, panjang, luas dan berdimensi lebar. ELS biasanya digunakan untuk opening scene untuk membawa penonton mengenal lokasi cerita.

Very Long Shot (VLS)

VLS merupakan tata bahasa gambar yang panjang, jauh dan luas tetapi lebih kecil daripada ELS. Teknik ini digunakan biasanya untuk pengambilan gambar adegan kolosal atau banyak objek misalnya adegan perang di pegunungan, adegan kota metropolitan, dan lain sebagainya.

Long Shot (LS)

Ukuran shot ini adalah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Long shot juga bisa disebut dengan landscape format yang mengantarkan mata penonton kepada keluasan suatu suasana dan objek.

Medium Long Shot (MLS)

Ukuran untuk shot ini adalah dari ujung kepala hingga setengah kaki. Tujuan shot ini adalah untuk memperkaya keindahan gambar yang disajikan ke mata penonton. Angle ini dapat dibuat sekreatif mungkin untuk menghasilkan tampilan yang atraktif.

Medium Shot (MS)

Ukuran dari shot ini adalah dari tangan hingga ke atas kepala. Tujuan dari shot ini adalah agar penonton dapat melihat dengan jelas ekspresi dan emosi dari pemain.

• Middle Close Up (MCU)

Sedangkan untuk shot ini yaitu dari ujung kepala hingga perut. Dengan angle ini penonton masih tetap dapat melihat latar-belakang yang ada. Tetapi melalui shot ini, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam profil, bahasa tubuh, dan emosi pemeran tokoh tertentu.

Close Up (CU)

Komposisi gambar ini adalah komposisi yang paling popular dan memiliki banyak fungsi. Close Up merekam gambar penuh dari leher hingga ujung kepala. Melalui angle ini, sebuah gambar dapat berbicara dengan sendiri kepada penonton. Emosi dan juga reaksi dari mimik wajah tergambar jelas.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA • Big Close Up (BCU)

Komposisi gambar ini lebih dalam dibandingkan CU. Kedalaman pandangan mata, kebencian raut wajah, kehinaan emosi hingga keharuan yang tiada bertepi adalah ungkapan-ungkapan yang terwujud dari komposisi ini. Komposisi ini memang sulit untuk menghasilkan gambar yang fokus, tetapi disitulah nilai artistik dari komposisi gambar Big Close Up.

b.Pencahayaaan (lighting)

Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater atau produksi film. Tanpa cahaya maka penonton tidak dapat menyaksikan apa apa karena gelap tak bisa dilihat. Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara sederhana ada dua jenis sumber pecahayaan, yakni pencahayaan alami dan pencahayaan buatan.

c.Musik (music)

Menurut Marselli Sumarno, dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Apresiasi Film, ada 8 fungsi musik, yaitu:

 Membantu merangkaikan adegan sehingga menimbulkan kesan adanya kesatuan.

 Menutupi kelemahan atau kecacatan sebuah film. Kelemahan tersebut biasanya terdapat pada acting yang lemah atau dialog yang dangkal sehingga dapat diubah lebih dramatik jika diiringi musik yang tepat.  Menunjukkan suasana batin tokoh-tokoh utama film.

 Menunjukkan suasana waktu dan tempat. Misalnya, penggunaan gitar akustik, gamelan Jawa, gitar Hawaii dan lain sebagainya akan dengan mudah membuat penonton mempersepsi lokasi tertentu.

 Mengiringi kemunculan susunan kerabat kerja (credit title).

 Mengiringi adegan dengan ritme cepat. Misalnya adegan kejar-kejaran antara penjahat dengan polisi. Ketika ditambah dengan ritme musik cepat, maka adegan akan tampak lebih seru.

 Mengantisipasi adegan mendatang dan membentuk ketegangan dramatik.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA  Menegaskan karakter lewat musik. Misalnya tokoh utama wanita diberi

iringan musik yang lembut. 3. Level ideologi dengan kode:

a. New man as nurturer merupakan gelombang awal reaksi laki-laki terhadap maskulinitas. Laki-laki pun menjalani sifat alamiahnya seperti laki-laki sebagai makhluk yang mempunyai rasa perhatian. Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya, untuk mengurus anak. Keinginan laki-laki untuk menyokong gerakan laki-laki juga melibatkan peran penuh laki-laki dalam arena domestik. Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah, berpendidikan baik, dan intelek (Beynon, dalam Nasir, 2007: 3).

b. Maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, antara lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja.

Dalam hal ini peniliti memilih kode-kode diatas, karena terkait dengan permasalahan dan ruang lingkupnya, dan didasarkan kepada desain penelitian kualitatif yang fleksibel dan sementara, karena terus menerus disesuaikan dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hal ini untuk mengetahui representasi maskulinitas dalam film “Miracle In Cel No.7”.

2.2.7.Maskulinitas

Terminologi maskulin sama halnya jika berbicara mengenai feminin. Maskulin merupakan sebuah bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki. Laki-laki tidak dilahiran begitu saja dengan sifat maskulinnya secara alami, maskulinitas dibentuk oleh kebudayaan. Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai, antara lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan laki-laki, dan kerja.

Maskulinitas secara umum dekat dengan keberadaan laki-laki. Namun maskulinitas sendiri pada dasarnya merupakan nilai yang berkembang dalam suatu budaya dan menjadi indeks atas sifat tertentu. Dari segi bahasa maskulinitas berasal dari bahasa Inggris masculine yang berarti laki-laki.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Thomas Carlyle berpendapat maskulinitas dikaitkan dengan kemandirian, kekuatan, dan suatu orientasi tindakan. Carlyle ini mengedepankan maskulinitas sebagai suatu nilai yang memiliki dimensi-dimensi yang banyak dijadikan ukuran kenjantanan dan tentu saja dalam banyak budaya ini sangat identik dengan tampilan laki-laki pada umumnya (Wibowo, 2011: 130). Pada dasarnya maskulinitas merupakan suatu skala budaya yang menentukan kecenderungan sikap yang erat dengan stereotipe umum yang dekat dengan kehidupan laki-laki namun sifatnya relatif pada tiap budaya.

Maskulinitas merupakan suatu konsep yang hadir sebagai konstruksi sosial. Davies mengatakan maskulinitas dan femininitas bukan milik pribadi tapi merupakan properti struktural dari masyarakat kita, dua konsep tersebut dikondisikan dan timbul dari interaksi sosial (wibowo, 2011 : 131). Pendapat Davies pada intinya bahwa konsep maskulinitas dibentuk atau dengan sengaja dikonstruksikan, yaitu melalui berbagai bentuk interaksi yang melibatkan berbagai nilai yang berkembang di masyarakat.

Aturan-aturan gender menurut Nickie Charles dipelajari melalui proses sosialisasi ketimbang dibedakan secara biologis. Menurutnya: “aturan gender dikonstruksikan dalam suatu istilah yang berbeda sama sekali dalam suatu dikotomi kategori. Dimana laki-laki dibedakan secara ekslusif dengan keberadaan wanita. Pria digambarkan dengan rasionalitas, aktif, kompetitif, dan agresif sedangkan laki-laki digambarkan “seharusnya” irrasional, emosional, pasif, kooperatif, dan damai (wibowo, 2011: 131). Masyarakat pada dasarnya melakukan konstruksi realitas terhadap maskulinitas sebagai satu konsep yang terkait erat dengan keberadaan dikotomi gender tersebut.

Dalam kehidupan sosial, dengan tradisi maskulin yang semacam ini, laki-laki dianggap gagal jika dirinya tidak maskulin. Kebanyakan laki-laki-laki-laki ditekan untuk menjadi maskulin. Berpenampilan lemah, emosional, atau berlaku inefisien secara seksual merupakan suatu ancaman utama terhadap percaya diri laki-laki. Konsep maskulinitas dalam perkembangan jaman mengalami perkembangan. Hal itu seperti dikemukakan Beynon (Nasir, 2007: 2) yang melakukan kajian tentang maskulin dalam bukunya Masculinities and Culture. Dalam buku ini, Beynon menggambarkan sosok maskulin dalam setiap dekade.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Beynon membagi bentuk maskulin dengan ide tren perkembangan zaman, sebagai berikut:

a. Maskulin sebelum tahun 1980-an

Sosok maskulin yang muncul adalah pada figur-figur laki-laki kelas pekerja dengan bentuk tubuh dan perilakunya sebagai dominator, terutama atas laki-laki. Citra laki-laki semacam ini memang kental dengan awal industrialisasi pada masa itu, laki-laki bekerja di pabrik sebagai buruh berlengan baja. Laki-laki terlihat sangat bapak, sebagai penguasa dalam keluarga dan sosok yang mampu memimpin perempuan serta pembuat keputusan utama. Konsep maskulinitas semacam ini dinamakan konsep maskulin yang tradisional dalam pandangan barat. Menurut tulisan Levine yang diambil dari Ensiklopedia Wikipedia yang juga mengutip tulisan dari dua orang ilmuwan sosial Deborah David dan Robert Brannon (Nasir, 2007: 2), terdapat empat aturan yang memperkokoh sifat maskulinitas, yaitu:

1) No Sissy Stuff: sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau feminin dilarang, seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang berasosiasi dengan laki-laki.

2) Be a Big Wheel: Maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasan, dan pengaguman dari orang lain. Seseorang harus mempunyai kekayaan, ketenaran, dan status yang sangat lelaki.

3) Be a Sturdy Oak: kelelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.

4) Give em Hell: Laki-laki harus mempunyai aura keberanian dan agresi, serta harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.

Dalam ketradisionalitasan yang dikembangkan oleh kebudayaan Jawa juga kurang lebih sama, salah satunya mirip dengan poin kedua bahwa laki- laki must be a big wheel. Seorang laki-laki dikatakan sukses jika berhasil memiliki garwo (istri), bondo (harta), turonggo (kendaraan), kukilo

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (burung peliharaan), dan pusoko (senjata atau kesaktian) (Osella & Osella, 2000: 120)

b. Maskulin tahun 1980-an

Sosok maskulin kemudian berkembang pada tahun 1980-an dengan cara yang berbeda. Maskulin bukanlah laki-laki yang berbau woodspice lagi, maskulin adalah sosok laki-laki sebagai new man. Beynon (Nasir, 2007: 3) menunjukkan dua buah konsep maskulinitas pada dekade 80-an itu dengan anggapan-anggapan bahwa new man as nurturer dan new man as narcissist. New man as nurturer merupakan gelombang awal reaksi laki-laki terhadap maskulinitas. Laki-laki-laki pun menjalani sifat alamiahnya seperti laki-laki sebagai makhluk yang mempunyai rasa perhatian. Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya, untuk mengurus anak. Keinginan laki-laki untuk menyokong gerakan laki-laki juga melibatkan peran penuh laki-laki dalam arena domestik. Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah, berpendidikan baik, dan intelek (Beynon, dalam Nasir, 2007: 3). Anggapan kedua adalah bahwa new man as narcissist, hal ini berkaitan dengan komersialisme terhadap maskulinitas dan konsumerisme semenjak akhir Perang Dunia II. New man as narcissist adalah anak-anak dari generasi zaman hippies (tahun 60-an) yang tertarik pada pakaian dan musik pop. Banyak produk-produk komersil untuk laki-laki yang bermunculan, bahkan laki-laki-laki-laki sebagai objek seksual menjadi bisnis yang amat luar biasa. Di sini, laki-laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya hidup yuppies yang flamboyan dan perlente. Laki-laki semakin suka memanjakan dirinya dengan produk-produk komersial yang membuatnya tampak sukses. Properti, mobil, pakaian atau artefak personal merupakan wujud dominan dalam gaya hidup ini. Kaum maskulin yuppies ini dapat dilihat dari penampilannya berpakaian, juga Porsche mereka. Kaum yuppies menganggap laki-laki pekerja industri yang loyal dan berdedikasi sebagai sosok yang ketinggalan zaman dalam pengoprasian modal (Beynon, dalam Nasir, 2007: 3).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA c. Maskulin tahun 1990-an

Di era tahun 1990-an kemudian muncul juga sosok yang disebut maskulin dalam dekade tahun 1990-an. Laki-laki kembali bersifat tidak peduli lagi terhadap remeh-temeh seperti kaum maskulin yuppies di tahun 80-an, The new lad ini berasal musik pop dan football yang mengarah kepada sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hooliganism. Laki-laki kemudian menyatakan dirinya dalam label konsumerisme dalam bentuk yang lebih macho, seperti membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola dan dunia minum-minum, juga sex dan hubungan dengan para laki-laki (Beynon, dalam Nasir, 2007: 4). Pada dekade 1990-an ini kaum laki-laki masih mementingkan leisure time mereka sebagai masa untuk bersenang-senang, menikmati hidup bebas seperti apa adanya. Laki-laki bersama teman-temannya, bersenang-senang, menyumpah, menonton sepak bola, minum bir, dan membuat lelucon-lelucon yang dianggap merendahkan laki-laki. Hubungan-hubungan laki-laki dengan laki-laki pun terbatas dalam hubungan yang bersifat kesenangan semata. Kebebasannya menjauhkan dari hubungan yang bersifat domestik yang membutuhkan loyalitas dan dedikasi.

d. Maskulin tahun 2000-an

Di luar perkembangan maskulin yang dikemukakan oleh John Beynon, juga patut dicermati maskulin pada tahun an, mengingat tahun 2000-an sudah nyaris mendekati satu dekade. Hal y2000-ang terjadi deng2000-an laki-laki sekarang ini adalah munculnya sesuatu yang khas dan semakin lama gejala kelelakian semakin penuh dengan terminologi-terminologi baru. Homoseksual yang sudah berkembang semenjak dekade 80-an, sekarang bahkan terminologi laki-laki sudah mengenal istilah metroseksual (Beynon, dalam Nasir, 2007: 5).

Rohlinger dalam penelitiannya mengkategorisasikan tipe pria dalam periklanan ke dalam sembilan kategori: the hero, the outdoorsman, the urban man, the family man/nurturer, the breadwinner, the man at work, the erotic male, the consumer and the quiescent man. The hero dianggap sebagai bintang/selebriti dalam olahraga, bisnis, politik atau layanan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA militer. The outdoorsman terlihat menaklukkan alam atau hewan, nampak lingkungan liar. The family man/nurture berpatisipasi aktif dengan anak-anak sebagai ayah, anggota keluarga atau pelatih. Sebaliknya, The breadwinner digambarkan tidak berpartisispasi dengan aktivitas keluarga tetapi sebagai pemimpin yang memerintah keluarga. The man at work terikat dalam pekerjaan/profesinya atau di area perkantoran. The consumer adalah pria yang membutuhkan produk. Ada hubungan yang jelas antara model dengan konsumsi produk yang diiklankan. The urban man menikmati kemewahan dan penawaran dari kota besar. Digambarkan di sekitar bar, restaurant, bioskop. The quiescent man terikat dalam aktivitas rekreasional dalam wisata. The erotic male digambarkan dengan penonjolan tubuh dan fisik pria dalam display iklan (Kusumaningrum, 2012: 8).

Ayah dalam keluarga menjadi penanggung kehidupan keluarga. Ia dituntut untuk melindungi dan menghidupi keluarga secara umum. Peran ayah saat ini digambarkan dengan ayah sebagai penyokong keuangan dari keluarga (wibowo, 2011: 132). Masyarakat patriaki menganggap laki-laki sebagai pusat nilai-nilai dalam artian segala bentuk kehidupan dalam ruang-ruang tertentu diatur berdasarkan kerangka ataupun pandangan fikir laki-laki.

Demikian apa yang terdapat dalam masyarakat patriaki. Patriaki pada masyarakat modern merupakan suatu konstruksi. Patriaki ini dilembagakan, dikonstrusi lewat institusi yang ada dalam kehidupan sehari-hari sehingga seakan-akan patriaki tampil sebagai realitas objektif. Dimana ia diinstitusikan melalui perangkat-perangkat representasi dalam institusi kehidupan.

Konstruksi patriaki juga mengkonstuksi pandangan maskulin dan feminin suatu masyarakat. Sehingga peran ayah yang dinilai maskulin itupun merupakan suatu bentuk konstruksi. Ini adalah konstruksi klasik dari pandangan tentang ayah dalam keluarga di masyarakat pada umumnya yang masih berpandangan patriarkis.

Anak perempuan membutuhkan ayahnya. Ada ikatan istimewa antara seorang ayah dengan putrinya yang sangat berbeda dibandingkan dengan ikatan lainnya. Ayah adalah sosok pria terpenting dalam kehidupan seorang anak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA perempuan. Seorang anak perempuan belajar tentang seorang pria seharusnya menjadi seperti apa, apa yang dapat seorang perempuan harapkan dari seorang pria, bagaimana seorang perempuan hendaknya diperlakukan oleh seorang pria, dan bagaimana seorang pria hendaknya melihat dirinya sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang anak perempuan, dirinya dapat belajar bahwa dia adalah “putri kesayangan ayah” melalui sinar di mata ayah, cara ayah menggendong dan memeluknya, cara ayah memperhatikannya, cara ayah menciumnya dan cara ayah memberitahu betapa cantiknya dia dan betapa dia berkembang menjadi seorang gadis muda yang cantik. Seorang anak perempuan mempelajari berbagai kekuatan yang ayahnya miliki dan dia mengembangkan perasaan aman ketika berada dekat ayahnya, dan tahu bahwa ayahnya akan melindunginya.

Dokumen terkait