• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .751a .564 .535 .54032 1.662

a. Predictors: (Constant), Demografi, Efikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal

b. Dependent Variabel: Minat Wirausaha

Berdasarkan Tabel 4.35 diperoleh R square (R2) sebesar 0,564 yang artinya variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal, dan Demografi secara serempak mampu menjelaskan variabel minat kewirausahaan sebesar 56,4%. Sisanya 43,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.

Faktor lain yang belum diteliti cukup banyak antara lain penelitian Basu (2009) menemukan bahwa faktor etnisitas dan pekerjaan mempengaruhi minat kewirausahaan. Kebijakan dan peraturan pemerintah juga merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jiwa kewirausahaan. Penelitian oleh Mazzarol et al dalam Saud et .al. (2009) menemukan bahwa faktor demografi pengalaman kerja, usia, jender, status sosio-ekonomi, agama mempengaruhi minat mendirikan usaha.

4.6.4. Uji-t (Uji Parsial)

Pengujuan hipotesis secara parsial menggunakan uji t dua sisi (t test). Uji-t dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial masing-masing mempunyai pengaruh signifikan atau tidak terhadap variabel terikat. Kriteria pengujian hipotesis untuk uji-t adalah sebagai berikut:

1. H0 artinya variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal, dan Demografi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel minat kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan

2. H1 variabelEfikasi Diri, Kebutuhan Prestasi, Ketersediaan Informasi, Jaringan, Akses Modal, dan Demografi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel minat kewirausahaan pemuda Di kecamatan Percut sei tuan

Untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak, maka digunakan uji t (t test). Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima dan H1ditolak dan jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan H1diterima. Hasil Uji-t dapat dilihat pad Tabel 4.36.

Tabel 4.36 Hasil Uji Parsial (Uji-t)

1. Pengujian terhadap variabel Kebutuhan Prestasi

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,960 sedangkan ttabeldengan tingkat kepercayaan 95% atau α = 0,05 diperolehsebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka H1 ditolak dan H0diterima. Hal ini berarti bahwa variabel kebutuhan prestasi tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

2. Pengujian terhadap variabel Efikasi Diri

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 1,321 sedangkan ttabel dengan tingkat kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabelefikasi diri tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

3. Pengujian terhadap Ketersediaan Informasi

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 1,863 sedangkan ttabel dengan tingkat kepercayaan95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .254 .500 .508 .613 Kebutuhan Prestasi .127 .132 .084 .960 .340 Efikasi Diri .170 .128 .120 1.321 .190 Ketersediaan Informasi .204 .109 .205 1.863 .066 Jaringan .134 .146 .111 .917 .362 Akses Modal .091 .108 .104 .843 .402 Demografi .289 .106 .302 2.737 .007

H1ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabelketersediaan informasitidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

4. Pengujian terhadap variabel Jaringan

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,917 sedangkan ttabel dengan tingkat kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel jaringan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

5. Pengujian terhadap variabel Akses Modal

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 0,843 sedangkan ttabel dengan tingkat kepercayaan95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung <ttabel, maka H1ditolak dan H0 diterima. Hal ini berarti bahwa variabel akses modal tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

6. Pengujian terhadap Demografi

Dari hasil uji-t diketahui bahwa thitung sebesar 2,737 sedangkan ttabel dengan tingkat kepercayaan 95% atau α = 0,05 sebesar 1,98 sehingga dengan demikian thitung >ttabel, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini berarti bahwa variabel demografi berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.

4.7 Pembahasan

Hasil Uji Statistik menunjukkan bahwa minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan berada pada daerah sangat positif. Kesimpulan ini merupakan skor nilai rata-rata variabel minat kewirausahaan pada uji deskriptif. Para pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan memiliki kecenderungan atau ketertarikan melakukan kegiatan kewirausahaan baik itu dibidang pangan, pertanian, peternakan, maupun jasa. Responden dalam penelitian ini, 24 orang diantara memiliki profesi sebagai wirausaha, diantara mereka ada yang menggeluti

usaha penggemukan kambing, menjual pisang bakar bandung, bertani jagung, jasa pangkas dan jahit. Dengan berwirausaha mereka bisa mengatur waktu dan diri sendiri, sekaligus berpotensi memiliki penghasilan tinggi.

Berdasarkan hasil estimasi regresi, seluruh variabel yang diteliti; kebutuhan akan prestasi, efikasi diri, ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, akses modal, dan demografi memiliki hubungan positif terhadap minat wirausaha pemuda.Bahkan dalam uji simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh signifikan terhadap minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei tuan. Hal ini berarti seluruh variabel memiliki kontribusi berbanding lurus terhadap minat wirausaha pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang telah mencanangkan program kewirausahan bagi para pemuda dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Tentunya hal ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah saja, namun menjadi tanggung jawab khususnya para pemuda. Dalam penelitian ini, telah dibuktikan bahwa minat wirausaha tidak hanya dipengaruhi oleh factor lingkungan; ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, dan akses modal, melainkan juga factor internal baik itu kepribadian; efikasi diri dan kebutuhan akan prestasi, dan modal manusia atau demografi; pengalaman dan pengetahuan. Dengan demikian dalam menunjang keberhasilan program kewirausahaan pemuda, Pemerintah dan Pemuda harus bersinergi dalam mewujudkannya. Para pemuda harus membenahi kepribadian, pengetahuan, dan pengalamannya. Sementara Pemerintah harus memfasilitasi dengan membuka akses informasi wirausaha, menyediakan modal wirausaha, dan memberikan pendidikan kewirausahaan.

Berdasarkan hasil uji Parsial disimpulkan bahwa efikasi diri, kebutuhan prestasi, ketersediaan informasi, kepemilikan jaringan, dan akses modaltidak berpengaruh signifikan terhadap variabel minat kewirausahaan pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Sementara, demografi berpengaruh signifikan terhadap variabel minat

kewirausahaan pemuda di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

Kebutuhan akan prestasi memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan. Hasil tersebut sesuai dengan Penelitian Indarti et alyang menemukan bahwa variabel kebutuhan akan prestasi tidak mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat kewirausahaan mahasiswa Indonesia dan Norwegia, sebaliknya pada penelitian Setiyorini (2009) ditemukan bahwa motivasi berprestasi pada mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta mempunyai pengaruh yang positif terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Berprestasi tidak hanya dapat dicapai dengan berwirausaha, namun juga dengan bekerja pada instansi tertentu. Kepribadian yang butuh terhadap prestasi adalah orang-orang yang memiliki motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya. Dan banyak cara untuk mengaktualisasikan diri, meskipun diantaranya adalah dengan berwirausaha.

Efikasi diri memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan.Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Betz dan Hacket (1986) dalam Indarti dan Rotiani (2008) yang mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat efikasi diri seseorang pada kewirausahaan di masa-masa awal seseorang dalam berkarir, semakin kuat intensi kewirausahaan yang dimilikinya.

Wijaya (2007) menyatakan bahwa efikasi diri mempengaruhi seseorang pada tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan. Responden penelitian ini terdiri atas para pemuda yang 31 orang diantaranya sudah berprofesi baik sebagai guru, karyawan swasta, dan pegawai negeri sipil. Keyakinan pada diri mereka tumbuh untuk tujuan sesuai profesi mereka. Selain itu, responden yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar berjumlah 39 orang.Orientasi pendidikan menghasilkan lulusan untuk bekerja pada perusahaan bukan untuk menjadi wirausaha.Hingga efikasi diri pada mahasiswa dan pelajar tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap minat wirausaha.

Faktor ketersediaan informasi memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap keinginan berwirausaha. Hasil penelitian berbeda denganhasil penelitian Diana (2010) yang menyatakan ketersediaan informasi mempengaruhi keinginan berwirausaha para pengusaha grosir di jalan Bandung. Sebaliknya, hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ali Sutanto (2005) yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara ketersediaan informasi terhadap keinginan berwirausaha.

Hasil penelitian menunjukan kepemilikan jaringan memiliki hubungan positif dan tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan. Hasi ini sesuai dengan penelian Ani Murwani (2013) yang menyimpulkan bahwa kesiapan instrument (akses modal, jaringan, dan infomrasi) tidak berpengaruh signifikan terhadap minat kewirausahaan mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed). Responden yang sebagian besar berada dilingkungan kerja dan lingkungan sekolah/universitas terlebih lagi belum memiliki tanggungan menjadikan mereka merasa nyaman dengan pekerjaannya dan belum harus atau merasa cukupdengan penghasilan yang dimiliki.

Akses modal memiliki hubungan positif dan tidakberpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel akses modal memiliki nilai skor rata-rata 3,03. Hal ini berarti bahwa akses modal pemuda di kecamatan percut sei tuan berada pada daerah netral. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan Suryana (2010:5) dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan modal yang berwujud (tangible) seperti uang dan barang, tetapi juga modal yang tidak berwujud (intangible) seperti modal intelektual, modal sosial, modal moral dan modal mental yang dilandasi agama. Lebih lanjut, hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Eko Yuliawan (2015) bahwa akses modal tidak berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha mahasiswa Mikroskill.

Minat wirausaha pemuda di kecamatan Percut Sei Tuan tumbuh, meskipun dengan keterbatasan akses modal. Meskipun demikian, ketersediaan akses modal tidak bisa dianggap sebagai factor yang patut diabaikan dalam memulai wirausaha. Minat dalam penelitian ini lebih pada ketertarikan seseorang untuk melakukan wirausaha. Oleh sebab itu, tersedianya akses modal tentu akan mempermudah terealisasinya wirausaha terlebih bagi para pemuda yang memiliki minat wirausaha.Hal ini sesuai dengan hasil analisis regresi yang menunjukkan adanya hubungan positif antara akses modal dan minat wirausaha.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa demografi; pendidikan, pengetahuan, dan pengalamanmemiliki hubungan positif dan berpengaruh signifikan terhadap minat wirausaha pemuda di kecamatan precut Sei Tuan.. Hasil penelitian ini sesuai yang dilakukan oleh Nisa (2015) yang meneliti tentang factor-faktor yang memengaruhi minat usaha fashion wanita di Pasar Petisah Medan, yang menunjukkan bahwa faktor pendidikan adalah salah satu faktor yang memengaruhi. Dan hasil penelitian Melviana (2016) yang menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat memulai usaha di sekitar Swalayan Super Tasbih Medan. Agar wirausaha menjadi efektif, seseorang harus banyak belajar melalui pendidikan maupun pengalaman. Karena pendidikan akan melahirkan pengetahuan, dan pengalaman akan melahirkan pengajaran.

Perencanaan pembangunan wilayah dipahami sebagai suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan kerangka teori ke dalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang di dalamnya mempertimbangkan aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan (Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri, 2004).

Ada tiga tahapan dalam pembangunan wilayah, yakni perkembangan industri, efesiensi industry, dan keunggulan wilayah (Drabenstott, 2006). Dalam tahapan pertama, perkembangan industri dalam suatu wilayah dipicu kegiatan ekspor. Industri berkembang

untuk memenuhi permintaan dari luar wilayah. Keberhasilan tahapan ini ditentukan oleh peran pemerintah dalam berbagai insentif, antara lain; modal, pajak, infrastruktur, kawasan industry, dan fasilitas lainnya.

Kedua, efisiensi industri. Dalam tahapan ini industry melaksanakan konsolidasi untuk mengefesiensikan system produksi dan memperbaiki skala ekonomi. Pemerintah memfasilitasi dengan berbagai regulas agar terbentuk lingkungan bisnis yang kompetitif, sehingga melahirkan pelaku usaha yang tangguh dan mampu bersaing secara global.

Ketiga, keunggulan wilayah. Tahapan ini ditandai dengan kekuatan internal yang menghasilkan nilai tambah yang signifikan dalam pasar global. Kekuatan internal tersebut adalah inovasi berlandaskan iptek, dan kemampuan kewirausahaan. Inovasi diibaratkan bahan bakar, sementara kewirausahaan adalah mesin. Keduanya menjadi sumber kesempatan kerja, pendapatan dan kesejahteraan. Ekonomi wilayah tidak lagi diperankan oleh usaha skala besar, tetapi oleh usaha kecil dan menengah yang lincah dan efisien.

Inovasi memegang peranan penting dalam mengembangkan produk dan jasa dalambisnis. Berbagai kesuksesan wirausaha di dunia disebabkan oleh kreatifitas dalam mengembangkan produk. Persaingan yang ketat dalam berwirausaha mendorong wirausaha untuk memiliki kreatifitas yang tinggi. Daya kreatifitas tersebut harus dilandasi cara berpikir yang maju, gagasan-gagasan baru yang berbeda dibandingkan produk-produk yang telah ada. Berbagai gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu dan memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha yang pada awalnya kelihatan mustahil.

Saat ini berbagai hasil inovasi yang didasarkan kreatifitas wirausaha menjadi produkdan jasa yang unggul. Wirausaha melalui proses kreatif dan inovatif menciptakan nilai tambah atas barang dan jasa yang kemudian menciptakan berbagai keunggulan termasuk keunggulan bersaing.

Setiap wilayah memiliki karakteristik khas perihal potensi ekonomi dan mutu sumber daya manusia untuk berinovasi dalam kegiatan wirausaha. Karenanya setiap wilayah akan berbeda dalam kemampuan menangkap pasar. Dalam keadaan ini, pendekatan kebijakan pembangunan berorientasi lokal, sangat relevan seperti halnya semangat otonomi daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PRJMD).

Permasalahan dalam bidang ekonomi adalah masih lambatnya pembangunan infrastruktur. Hal ini, bukan saja menghambat pembangunan wilayah, tetapi juga pengentasan kemiskinan dan mengurangi daya tarik investasi. Kecepatan laju urbansisasi di Indonesia turut menyumbang kompleksitas penyediaan infrastruktur. Implikasinya, penyediaan infrastruktur perkotaan lebih mendapat perhatian demi memenuhi permintaan ekonomi, serta menyediakan lingkungan bagi berkembangnya inovasi dan kewirausahaan.

Permasalahan berikutnya adalah keadaan lingkungan hidup Indonesia yang mengahadapi ancaman serius. Krisis ekonomi, keadaan kemiskinan, dan laju mekanisme pasar bersinergi merusak kawasan-kawasan konservasi (USAID Indonesia, 2004). Akibatnya, banjir dan longsor meluas di berbagai daerah, mengakibatkan rusaknya infrastruktur, gagal panen, gangguan kesehatan, serta korban harta benda dan nyawa.

Permasalahan-permasalahan tersebut di atas, saling berinteraksi positif dalam menghambat berbagai aktivitas ekonomi. Kensekuensinya, program pemberdayaan daerah tertinggal, pengembangan wirausaha, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan masyarakat mengalami kendala yang signifikan. Padahal aktivitas ekonomi riil tersebut merupakan sumber pertumbuhan ekonomi berorientasi kesejahteraan.

Harapan munculnya wirausaha baru, khususnya yang digerakkan oleh para pemuda sangat dinantikan. Itulah mengapa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah khususnya di Kabupaten Deli Serdang, agenda kewirausahaan tidak absen dalam mengisi lembaran cetak biru daerah tersebut. Rencana strategis yang dicanangkan oleh Dinas Pemuda

dan Olahraga (Dispora) dan Dinas Koperasi dan UKM menjadikan pengembangan wirausaha sebagai program andalan.

Perbedaan factor lingkungan, kepribadian, dan demografi akan menentukan karir seperti apa yang diinginkan oleh pemuda. Sebagian pemuda mungkin lebih tertarik untuk meniti karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS),atau menjadi pegawai swasta professional. Namun, ada juga yang tertarik untuk terjun menjadi wirausaha. Bahkan, dalam penelitian ini, mereka yang sudah bekerjapun, cenderung memiliki minat wirausaha.

Menjadi seorang wirausaha, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi yang lebih penting dan mendesak adalah untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara dengan menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian. Hal ini dikarenakan, lowongan kerja yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Tidak hanya disebabkan jumlah lowongan kerja yang sangat terbatas, tetapi juga beban Negara dalam membiyai PNS juga berat. Belum lagi, adanya fakta bahwa wirausaha kecil dan menengah lebih mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi.

Kultur pemuda yang memiliki semangat dan daya juang tinggi harus dioptimalkan dalam mendukung membangun perekonomian Negara. Merupakan tantangan bagi para pemuda saat ini, di tengah terbatasnya lapangan kerja dan sulitnya mencari pekerjaan, untuk mengembangkan usaha demi menciptakan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya,Dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bergantung pada keberhasilan memberi kesadaran kepada lebih banyak pemuda agar tergerak untuk memiliki minat kewirausahaan agar diimplementasikan dalam aktivitas kehidupan.

BAB V

Dokumen terkait