• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koefisien Determinasi (R 2 )

Dalam dokumen SKRIPSI ANALISIS PENGARUH CAR, ROA, SIZE (Halaman 94-101)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Koefisien Determinasi (R 2 )

Berdasarkan Tabel 4.8, diketahui nilai adjusted r-squared dalam penelitian ini hanya 0.596322. Artinya 59,6% variasi variabel Non Performing Loan dapat dijelaskan oleh variabel Capital Adequacy Ratio (X1), Return On Asset (X2), Size (X3), Credit Growth (X4), dan GDP (X5), Inflasi (X6), dan Nilai Tukar (X7). Sisanya sebesar 40,40 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak masuk dalam model penelitian ini.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Non Performing Loan Dalam penelitian ini ditemukan hasil Capital Adequacy Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Non Performing Loan. Nilai Koefisien Capital Adequacy Ratio bertanda minus, yakni sebesar -0.012865. Hal ini berarti bahwa jika terjadi kenaikan 1 persen Capital Adequacy ratio tidak signifikan menyebabkan penurunan Non Performing Loan sebesar 0,012865 persen.

Menurut Dendawijaya (2009:121), CAR merupakan indikator terhadap kemampuan modal bank untuk menutupi penurunan aktiva yang disebabkan oleh kerugian-kerugian akibat aktiva yang berisiko termasuk kredit. Semakin tinggi CAR berarti akan semakin besar daya keuangan bank yang dapat digunakan untuk menanggulangi potensi kerugian akibat penyaluran kredit. Dengan demikian, risiko bank terkena kredit bermasalah akan semakin kecil dan akan menekan angka Non Performing Loan di sebuah bank.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Malimi (2017) yang menyatakan bahwa Capital Adequacy ratio berpengaruh negatif terhadap Non Performing Loan. Namun, hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vatansever dan Hepsen (2015) dan Jusmansyah dan Sriyanto (2013) yang menyatakan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif terhadap Non Performing Loan.

4.3.2 Pengaruh Return On Asset terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil Return On Asset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Non Performing Loan. Artinya Return On Asset memiliki pengaruh yang kuat terhadap Non Performing Loan. Nilai Koefisien Return On Asset sebesar -0,713154, hal ini berarti bahwa jika terjadi kenaikan Return On Asset sebesar 1 persen secara signifikan menyebabkan penurunan Non Performing Loan sebesar 0,713154 persen.

Return On Total Asset (ROA), merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Rasio ini penting bagi pihak manajemen untuk

82

mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan dalam mengelola seluruh aset perusahaan (Sudana, 2011). Semakin tinggi rasio ROA menggambarkan semakin efisiennya bank dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimiliki. Aset yang menjadi sumber pendapatan bank terdiri atas aset produktif dan aset non produktif. Salah satu komponen dari aset produktif adalah pendapatan bunga atas pinjaman yang diberikan oleh bank.

Semakin tinggi pendapatan bunga yang diterima oleh bank menggambarkan semakin tingginya tingkat kredit lancar dan semakin rendahnya tingkat kredit bermasalah sehingga dapat mengurangi risiko tidak tertagihnya piutang bank.

Penelitian ini juga konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2016) yang mengungkapkan bahwa ROA memilki pengaruh yang negatif terhadap Non Performing Loan. Namun, hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Alexandria (2015) dan Malimi (2017) yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif terhadap Non Performing Loan.

4.3.3 Pengaruh Size terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil Size berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Non Performing Loan. Ukuran perusahaan (size) yang tinggi tidak secara langsung mendorong peningkatan angka Non Performing Loan di suatu bank. Nilai koefisien Size adalah sebesar 8.50E-09, hal ini berarti bahwa jika terjadi kenaikan Size sebesar 1 persen tidak signifikan meningkatkan 0.0000000085 persen nilai Non Performing Loan.

Menurut Sudana (2011), Size adalah kategori besarnya suatu bank yang dapat diukur berdasarkan nilai total asset suatu bank atau yang biasa disebut

dengan aktiva. Bank yang memiliki aset yang lebih kecil cenderung memiliki efesiensi manajerial yang lebih baik dari bank yang besar dalam hal penyaringan pinjaman dan pemantauan pasca pinjaman. Hal ini terjadi karena volume kredit yang disalurkan jauh lebih kecil dan biaya yang digunakan untuk operasional pengelolaan kredit tidak sebesar bank yang memiliki ukuran atau aset yang jauh lebih besar (Halim, 2007). Dengan kemampuan yang baik dalam pengelolaan portofolio kredit, tingkat kegagalan kredit pada bank yang memiliki ukuran (total aset) yang kecil akan lebih rendah dibandingkan dengan bank dengan ukuran (total aset) yang lebih besar. Hal ini berarti semakin besar ukuran suatu bank maka semakin tinggi angka Non Performing Loan pada bank tersebut.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Diyanti (2012) dan Ghosh (2015) yang menyatakan bahwa Size memiliki pengaruh yang positif terhadap Non Performing Loan. Namun, penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diyanti (2012) yang menyatakan bahwa Size berpengaruh negatif terhadap Non Performing Loan.

4.3.4 Pengaruh Credit Growth terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil Credit Growth (X4) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Non Performing Loan. Nilai koefisien Credit Growth bernilai minus, yakni -0,010016. Hal ini berarti jika terjadi kenaikan Credit Growth sebesar 1 persen secara signifikan menurunkan nilai Non Performing Loan sebesar 0,01 persen.

Kasmir (2010) menyatakan bahwa, semakin banyak kredit yang disalurkan atau diberikan maka akan semakin besar pula perolehan laba sehingga mampu

84

mempertahankan kelangsungan dan sekaligus memperbesar usaha yang sudah ada. Laba yang besar menjadi tanda bahwa kredit yang disalurkan oleh bank memiliki kualitas yang baik (lancar) sehingga perusahaan dapat melakukan penyaluran kredit yang jauh lebih besar lagi pada masyarakat. Dengan demikian, bank yang memiliki tingkat pertumbuhan kredit yang tinggi cenderung memiliki kualitas portofolio kredit yang lebih baik dan pendapatan yang jauh lebih besar sehingga dapat menekan risiko kredit di sebuah bank.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Rachman (2018) yang menyatakan bahwa Credit Growth berpengaruh negatif terhadap Non Performing Loan. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Ghosh (2015) yang menyatakan bahwa Credit Growth memiliki pengaruh yang positif terhadap Non Performing Loan.

4.3.5 Pengaruh Pertumbuhan GDP terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil pertumbuhan GDP berpengaruh positif dan signifikan terhadap Non Performing Loan. Nilai koefisien pertubumbuhan GDP adalah sebesar 4,925382. Hal ini berarti jika terjadi kenaikan GDP sebesar 1 persen secara signifikan meningkatkan nilai Non Performing Loan sebesar 4,93 persen.

Menurut teori klasik tentang uang meyakini bahwa semakin besar jumlah uang yang dipegang seseorang, maka semakin banyak pula ia berbelanja dan semakin besar pula pendapatan domestik sebuah negara (Widayatsari & Mayes, 2012). Saat terjadi peningkatan GDP, bank akan melakukan kebijakan peningkatan suku bunga agar pertumbuhan pendapatan dapat mengimbangi laju inflasi (McEachern, 2000). Dengan meningkatnya suku bunga pinjaman, perusahaan akan

mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya karena jumlah kewajiban yang semakin besar dan pada akhirnya akan meningkatkan angka kredit bermasalah.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Shingjergji (2013), di mana GDP menunjukkan hasil positif dan signifikan terhadap Non Performing Loan.

Namun, hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Ahmad & Bashir (2013) yang menyatakan bahwa GDP berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Non Performing Loan.

4.3.6 Pengaruh Inflasi terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Non Performing Loan. Nilai koefisien Inflasi bertanda minus, yakni -0.593386. Hal ini berarti jika terjadi kenaikan Inflasi sebesar 1 persen secara signifikan menurunkan nilai Non Performing Loan sebesar 0,59 persen.

Hasil penelitian ini didukung oleh teori yang menyatakan bahwa tingkat inflasi yang tinggi dapat mengakibatkan daya beli masyarakat menurun dan tingkat suku bunga meningkat (Rahardja, 2008).Inflasi akan menyebabkan semakin meningkatnya suku buga kredit pada sektor perbankan. Hal ini menyebabkan minat masyarakat untuk meminjam kredit semakin menurun (Latumaerissa, 2011).Dengan demikian, penurunan tingkat permintaan kredit akan melindungi bank dari risiko kredit yang jauh lebih besar dan akhirnya dapat menekan angka kredit bermasalah (Sariasih, 2014).

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis yang dibangun, yakni Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Non Performing Loan.

86

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sudana (2018) yang menyatakan bahwa semakin tinggi inflasi akan meningkatkan jumlah kredit macet di sebuah bank.

4.3.7 Pengaruh Nilai Tukar terhadap Non Performing Loan

Dalam penelitian ini ditemukan hasil Nilai Tukar berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Non Performing Loan. Nilai koefisien Nilai Tukar adalah sebesar 2.11E-06. Hal ini berarti jika terjadi kenaikan Nilai Tukar sebesar 1 persen , maka tidak signifikan meningkatkan nilai dari Nilai Tukar sebesar 0.00000211 persen.

Menurut Achmad (2001) perubahan nilai tukar dapat menyebabkan kerugian pinjaman/loan losses bagi perusahaan. Saat rupiah mengalami depresiasi, harga produk dalam negeri terutama barang impor akan semakin mahal. Saat rupiah mengalami pelemahan, debitur maupun perusahaan yang bergerak dalam bidang importir akan terkena dampak perubahan tersebut. Rupiah yang melemah akan menambah jumlah pinjaman yang harus dibayar perusahaan kepada pihak bank. Hal ini menyebabkan perusahaan selaku debitur akan mengalami kesulitan atau tidak mampu untuk membayar pinjamannya kepada bank sehingga menimbulkan kredit macet dan mendorong angka NPL semakin tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wijoyo (2016) yang menyatakan bahwa Nilai Tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap Non Performing Loan. Namun, hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian Bhattarai (2015) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh negatif dan signifikan nilai tukar terhadap Non Performing Loan.

88 BAB V

Dalam dokumen SKRIPSI ANALISIS PENGARUH CAR, ROA, SIZE (Halaman 94-101)

Dokumen terkait