• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Koefisien Determinasi (Uji Goodness of Fit)

Pengukuran besarnya persentase kebenaran dari uji regresi dapat dilihat melalui nilai koefisien determinasi multiple R2 (koefisien determinan mengukur proporsi dari variasi yang dapat dijelaskan oleh variabel independen). Apabila nilai R2 suatu regresi (mendekati satu), maka semakin baik regresi tersebut dan semakin mendekati nol, maka variabel independen secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel dependen. Adjusted R Square ini digunakan untuk melihat berapa besar pengaruh faktor- faktor yang ditimbulkan oleh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.

sumber: hasil olahan SPSS, 2014

Tabel 4.17

sumber: hasil olahan SPSS, 2014

Tabel 4.16 dan 4.17 menunjukkan bahwa kolom Variables Removed kosong. Hal ini berarti variabel komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan institusional tidak ada yang dikeluarkan dari persamaan. Setelah diketahui bahwa seluruh variabel dimasukkan dalam analisis persamaan, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis koefisien korelasi dan koefisien determinasi. Tabel 4.18 menunjukkan tipe hubungan antarvariabel:

Variables Entered/Removedb

Model Variables Entered

Variables Removed Method 1 K.Institusional, KomisarisIndependen, KomiteAudit, UkuranPerusahaan, DERa . Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: ROA

Variables Entered/Removedb

Model Variables Entered

Variables Removed Method 1 K.Institusional, KomisarisIndependen, KomiteAudit, UkuranPerusahaan, DERa . Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: ROE

Tabel 4.18

Hubungan Antarvariabel

Nilai Interpretasi

0,0 – 0,19 Sangat Tidak Erat

0,2 – 0,39 Tidak Erat

0,4 – 0,59 Cukup Erat

0,6 – 0,79 Erat

0,8 – 0,99 Sangat Erat

Sumber: (Situmorang dan Lufti, 2012:155) Tabel 4.19

Hasil Uji Koefisien Determinasi ROA

sumber: hasil olahan SPSS, 2014

Tabel 4.19 menunjukkan nilai R sebesar 0,493 atau 49,3%. Hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel dependen (ROA) dengan variabel independennya (komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan institusional) adalah cukup erat. Tabel 4.19 menunjukkan bahwa nilai Adjusted R

Square dalam penelitian ini sebesar 0,173 yang berarti 17,3% ROA dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen, yakni komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan institusional, sedangkan sisanya 82,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Standard Error of Estimated digunakan untuk mengukur variabel dari nilai yang diprediksi. Standard Error of Estimated disebut juga standar deviasi.

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .493a .243 .173 .124894

a. Predictors: (Constant), K.Institusional, KomisarisIndependen, KomiteAudit, UkuranPerusahaan, DER

Standard Error of Estimated dalam penelitian ini adalah 0,124894. Standar deviasi yang semakin kecil mengindikasikan bahwa model semakin baik.

Tabel 4.20

Hasil Uji Koefisien Determinasi ROE

sumber: hasil olahan SPSS, 2014

Tabel 4.20 menunjukkan nilai R sebesar 0,664 atau 66,4%. Hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel dependen (ROE) dengan variabel independennya (komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan institusional) adalah erat. Tabel 4.20 menunjukkan bahwa nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0,389 yang berarti 38,9% ROE dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen, yakni komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan institusional, sedangkan sisanya 61,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Standard Error of Estimated digunakan untuk mengukur variabel dari nilai yang diprediksi. Standard Error of Estimated disebut juga standar deviasi. Standard Error of Estimated dalam penelitian ini adalah 0,274240. Standar deviasi yang semakin kecil mengindikasikan bahwa model semakin baik.

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .664a .441 .389 .274240

a. Predictors: (Constant), K.Institusional, KomisarisIndependen, KomiteAudit, UkuranPerusahaan, DER

a. Pembahasan dengan Variabel Dependen ROA

Secara parsial, komisaris independen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA perusahaan. Hal ini berarti peningkatan jumlah komisaris independen tidak mempengaruhi peningkatan ROA secara signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kemalasari (2009) yang mengatakan bahwa komisaris independen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA perusahaan.

Keberadaan komisaris independen diharapkan dapat bersikap netral terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh direksi. Di Indonesia, dewan komisaris merupakan dewan yang bersifat pasif dan tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara efektif terhadap direksi. Sikap pasif ini atau sikap yang mengintervensi setiap kebijakan yang diambil direksi tersebut pada akhirnya akan dapat merugikan kepentingan pemegang saham (minoritas) serta para stakeholder lainnya. Besarnya proporsi dewan komisaris independen membuat produktivitas perusahaan menurun. Hal ini dikarenakan jika jumlah komisaris semakin besar maka komunikasi antara komisaris dan direksi akan semakin rumit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ROA perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kemalasari (2009) yang menyimpulkan bahwa komite audit berpengaruh negatif terhadap ROA perusahaan.

Komite audit merupakan organ yang dibentuk dan berada di bawah dewan komisaris. Keberadaan komite audit dalam suatu perseroan terbatas untuk membantu pemberdayaan (empowerment) dewan komisaris (Sutedi, 2012:142).

Sesuai dengan tugas dari komite audit yang hanya sebagai pengawas, maka jumlah dari komite audit yang diperlukan tidak perlu besar. Berdasarkan Surat Edaran BEJ SE-008/BEJ/12-2001 yang menyatakan bahwa keanggotaan komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya tiga orang termasuk ketua. Jadi ketika jumlah komite audit semakin banyak, dapat mengurangi efisiensi kerja serta dapat menimbulkan potensi sulit mengambil keputusan, karena semakin banyak orang maka peluang terjadinya pertentangan semakin besar.

Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hutagalung (2012), yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap ROA perusahaan. Institusi sebagai lembaga formal secara teori dinilai sebagai badan yang dapat menengahi konflik keagenan antara pemegang saham individual dengan manajemen perusahaan. Namun dalam perusahaan pertambangan terbuka di Bursa Efek Indonesia justru terjadi sebaliknya.

Perusahaan pertambangan termasuk dalam kelompok industri dengan jumlah pemegang saham institusional yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.21 sebagai berikut:

Tabel 4.21

pada Beberapa Perusahaan Pertambangan dan Perusahaaan Manufaktur

Tahun 2012

No.

Perusahaan Pertambangan Perusahaan Manufaktur

Nama Perusahaan K. Institusional

(%) Nama Perusahaan

K. Institusional (%)

1. ATPK Resources 73.1 Kalbe Farma 55.37

2. Cita Mineral Investindo 96.53 Astra Otopart 50.11

3. Elnusa 71.58 Gajah Tunggal 59.01

4.

Harum Energy 70.47 Indomobil Sukses

Internasional 70.4

5. Indo Tambangraya

Megah 50.88 Tiga Pilar Sejahtera 25.62

6. Mitra Investindo 83.39 Indofood 80

7. J Resources Asia

Pasifik 94.597

Akasha Wira

Internasional 91.94

8. Tambang Batubara

Bukit Asam 98.55 Sekar Laut 96.04

9. Radiant Utama

Interisco 77.19 Siantar Top 56.76

10. Vale Indonesia 79.51 Mayora 33.07

Sumber:

Pada Tabel 4.21 dapat kita lihat bahwa jumlah kepemilikan oleh institusi pada perusahaan pertambangan lebih besar dari perusahaan manufaktur. Pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat pula persentase yang tinggi kepemilikan oleh institusi, namun hal ini juga disertai dengan semakin banyaknya institusi yang memiliki saham perusahaan tersebut. Artinya persentase kepemilikan terbagi pada beberapa institusi sehingga rata-rata institusi hanya memiliki persentase di bawah 50%. Misalnya, pada perusahaan Sekar Laut yang Jumlah Kepemilikan Institusinya mencapai 96.04% dimiliki oleh lima institusi yaitu, Omnistar Inv. H. Ltd (26.78%), PT Alamiah Sari (26.16%), Shadforth A. Ltd (13.39%), Malvina Inv. Ltd (17.22%), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (12.58%). Sementara pada perusahaan pertambangan, misalnya perusahaan J Resources Asia Pasifik, persentase kepemilikan sebesar 94.597% hanya dimiliki oleh satu institusi

jumlah kepemilikan institusionalmya 69.80%, dimiliki oleh PT Indika Energy Tbk.

Jumlah Kepemilikan Institusional pada perusahaan pertambangan menyebabkan pemegang saham institusional memiliki suara yang cukup besar dalam penentuan kebijakan perusahaan. Kontrol kuat yang dilakukan oleh pemegang saham institusional ini justru dapat membuat manajemen perusahaan menjadi kaku dan lesu karena keterbatasan hak dalam pengambilan keputusan. Hal ini dapat menurunkan kinerja manajemen dalam perusahaan pertambangan yang pada akhirnya berujung pada menurunnya kinerja perusahaan.

b. Pembahasan dengan Variabel Dependen ROE

Secara parsial, komisaris independen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROE perusahaan. Hal ini berarti peningkatan jumlah komisaris independen tidak mempengaruhi peningkatan ROE secara signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasinta (2012) yang mengatakan bahwa komisaris independen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROE perusahaan.

Keberadaan komisaris independen diharapkan dapat bersikap netral terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh direksi. Di Indonesia, dewan komisaris merupakan dewan yang bersifat pasif dan tidak dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara efektif terhadap direksi. Sikap pasif ini atau sikap yang mengintervensi setiap kebijakan yang diambil direksi tersebut pada akhirnya akan dapat merugikan kepentingan pemegang saham (minoritas) serta para stakeholder lainnya. Besarnya proporsi dewan komisaris independen membuat

produktivitas perusahaan menurun. Hal ini dikarenakan jika jumlah komisaris semakin besar maka komunikasi antara komisaris dan direksi akan semakin rumit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ROE perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kemalasari (2009) yang menyimpulkan bahwa komite audit berpengaruh negatif terhadap ROE perusahaan.

Komite audit merupakan organ yang dibentuk dan berada di bawah dewan komisaris. Keberadaan komite audit dalam suatu perseroan terbatas untuk membantu pemberdayaan (empowerment) dewan komisaris (Sutedi, 2012:142). Sesuai dengan tugas dari komite audit yang hanya sebagai pengawas, maka jumlah dari komite audit yang diperlukan tidak perlu besar. Berdasarkan Surat Edaran BEJ SE-008/BEJ/12-2001 yang menyatakan bahwa keanggotaan komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya tiga orang termasuk ketua. Jadi ketika jumlah komite audit semakin banyak, dapat mengurangi efisiensi kerja serta dapat menimbulkan potensi sulit mengambil keputusan, karena semakin banyak orang maka peluang terjadinya pertentangan semakin besar.

Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROE perusahaan. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Kemalasari (2009), yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap ROE perusahaan. Institusi sebagai lembaga formal secara teori dinilai sebagai badan yang dapat menengahi konflik keagenan antara pemegang saham individual

dengan manajemen perusahaan. Namun dalam perusahaan pertambangan terbuka di Bursa Efek Indonesia justru terjadi sebaliknya.

Perusahaan pertambangan termasuk dalam kelompok industri dengan jumlah pemegang saham institusional yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.21 sebagai berikut:

Tabel 4.21

Jumlah Kepemilikan Institusional pada Beberapa Perusahaan Pertambangan

dan Perusahaaan Manufaktur Tahun 2012

No.

Perusahaan Pertambangan Perusahaan Manufaktur

Nama Perusahaan K. Institusional

(%) Nama Perusahaan

K. Institusional (%)

1. ATPK Resources 73.1 Kalbe Farma 55.37

2. Cita Mineral Investindo 96.53 Astra Otopart 50.11

3. Elnusa 71.58 Gajah Tunggal 59.01

4.

Harum Energy 70.47 Indomobil Sukses

Internasional 70.4

5. Indo Tambangraya

Megah 50.88 Tiga Pilar Sejahtera 25.62

6. Mitra Investindo 83.39 Indofood 80

7. J Resources Asia

Pasifik 94.597

Akasha Wira

Internasional 91.94

8. Petrosea 69.80 Sekar Laut 96.04

9. Radiant Utama

Interisco 77.19 Siantar Top 56.76

10. Vale Indonesia 79.51 Mayora 33.07

Sumber:

Pada Tabel 4.21 dapat kita lihat bahwa jumlah kepemilikan oleh institusi pada perusahaan pertambangan lebih besar dari perusahaan manufaktur. Pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat pula persentase yang tinggi kepemilikan oleh institusi, namun hal ini juga disertai dengan semakin banyaknya institusi yang memiliki saham perusahaan tersebut. Artinya persentase kepemilikan terbagi pada beberapa institusi sehingga rata-rata institusi hanya memiliki persentase di bawah 50%. Misalnya, pada perusahaan Sekar Laut yang Jumlah Kepemilikan

Institusinya mencapai 96.04% dimiliki oleh lima institusi yaitu, Omnistar Inv. H. Ltd (26.78%), PT Alamiah Sari (26.16%), Shadforth A. Ltd (13.39%), Malvina Inv. Ltd (17.22%), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (12.58%). Sementara pada perusahaan pertambangan, misalnya perusahaan J Resources Asia Pasifik, persentase kepemilikan sebesar 94.597% hanya dimiliki oleh satu institusi yaitu J Resources Mining Limited. Begitu pula pada perusahaan Petrosea yang jumlah kepemilikan institusionalmya 69.80%, dimiliki oleh PT Indika Energy Tbk.

Jumlah Kepemilikan Institusional pada perusahaan pertambangan menyebabkan pemegang saham institusional memiliki suara yang cukup besar dalam penentuan kebijakan perusahaan. Kontrol kuat yang dilakukan oleh pemegang saham institusional ini justru dapat membuat manajemen perusahaan menjadi kaku dan lesu karena keterbatasan hak dalam pengambilan keputusan. Hal ini dapat menurunkan kinerja manajemen dalam perusahaan pertambangan yang pada akhirnya berujung pada menurunnya kinerja perusahaan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait