• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN-PENDEKATAN TEORITIS ATAS PERILAKU PEMILIH

H. Terapi Realitas

I. Teori Kognitif

1. Dasar Pemikiran

Teori Cognitive Behavior pada dasarnya menyakini bahwa pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian Stimulus – Kognisi – Respon (SKR), yang saling berkait dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan manusia berpikir, merasa, dan bertindak (Kasandra, A, O, 2003:6).

Prinsip 1:

Stimulus

Kognisi Emosi Tingkah Laku Pikiran Perasaan Perbuatan

Respon

Sumber: Kasandra, A, O, (2003:6).

Bagaimana seseorang menilai situasi dan bagaimana cara mereka menginterpretasikan suatu kejadian akan

sangat berpengaruh terhadap kondisi reaksi emosional yang akan mempengaruhi tindakan yang dilakukan.

Skema pola interpretasi ini saangat erat hubungannya dengan latar belakang pengalaman, perkembangan nilai­

nilai, dan kapasitas diri (Kasandra, A, O, 2003:7).

Teori Cognitive­Behavior pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk melalui proses Stimulus­Kognisi­Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berpikir, merasa dan bertindak.

Sementara dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, di mana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku yang menyimpang, maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir, merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, konseli diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif. Berdasarkan paparan definisi mengenai CBT, maka CBT adalah pendekatan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. CBT merupakan konseling yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mental. Konseling ini akan

diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisa, pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Sedangkan, pendekatan pada aspek behavior diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan. Tujuan dari CBT yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan CBT diharapkan dapat membantu konseli dalam menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak (Suharmawan, 2012).

2. Teknik Terapi Cognitive Behavior

Terapi perilaku kognitif atau CBT sebenarnya memiliki prinsip yaitu permasalahan yang dialami oleh pasien bukanlah berawal dari sebuah situasi melainkan bagaimana orang tersebut menginterpretasikan masalah yang ada ke dalam pikirannya. Hal ini lah yang akhirnya akan berpengaruh pada perasaan serta tindakan yang dilakukannya. Misalnya saja, ketika anda berpapasan dengan teman lama namun teman anda tersebut tidak menyapa anda maka akan membuat anda berpikir jika dirinya tidak menyukai anda. Hal ini pula lah yang akan berlanjut di kemudian harinya, sehingga anda akan berusaha menghindarinya saat bertemu kembali.

Pikiran pikiran negatif ini yang akhirnya muncul di antara anda dan teman anda sendiri. Jika hal ini terus dikembangkan dan membuat anda merasakannya pada

banyak teman anda, maka anda akan dikucilkan nantinya di dalam pertemanan. Di dalam terapi ini, bertujuan untuk dapat menghentikan pola pikiran pikiran negatif tersebut dengan cara mengidentifikasi reaksi negatif yang nantinya diproses oleh otak anda.

Masalah emosional seringkali menjadi penyebab dari pemikiran positif dan negatif dari seseorang. Sehingga terkadang membuat orang merasa jika pikirannya tersebut adalah hal yang benar. Di dalam terapi CBT ini, anda akan mengganti pola pikir negatif anda ini ke sesuatu yang lebih bermanfaat dan realistis tentunya. Cara ini sebenarnya juga menjadi tantangan tersendiri bagi orang orang yang sering mengalami masalah kesehatan pada mentalnya.

Lalu bagaimana cara menghentikan pemikiran pemikiran yang negatif tersebut? Menurut beberapa teori psikologi yang ada, pola pikiran negatif seseorang tersebut akan melalui proses yang dinamakan negative reinforcement. Misalnya saja, ketika anda memiliki fobia pada ruangan kecil dan sempit, maka secara tidak langsung anda belajar jika untuk mengatasi hal tersebut anda harus menghindari ruangan kecil dan sempit. Cara ini memang efektif namun hanya akan memberikan ketenangan sesaat saja, dan bahkan akan semakin membuat rasa takut menjadi berlebihan. Hal inilah yang dinamakan dengan negative reinforcement.

Dalam terapi perilaku kognitif ini, anda akan diobat secara bertahap untuk menghadapi hal hal yang anda takuti tersebut. Selain itu, anda juga akan diyakinkan jika tidak akan terjadi hal yang buruk saat anda melawan

ketakutan anda tersebut. Dengan keyakinan yang ada maka secara perlahan akan membuat pikiran pikiran takut anda menghilang.

Insting yang ada pada manusia akan secara alami diproses oleh sistem limbik yang meliputi amiglada, yaitu bagian yang berkaitan dengan emosi serta hippocampus yang merupakan bagian yang berfungsi mengingatkan rasa trauma pada seseorang. Pada kasus kasus fobia misalnya, terjadi aktivitas yang berlebih pada kedua bagian tersebut. Sehingga dengan CBT ini, akan mampu menyeimbangkan bagian emosional dan logika dalam pikiran kita. Bahkan tingkat keberhasilan dari terapi ini hampir sama dengan pengobatan yang menggunakan obat obatan terlarang.

Pada terapi perilaku kognitif, ada dua aspek yang akan ditawarkan kepada pasien yaitu aspek kognitif dan aspek behavioral. Tentunya kedua hal ini memiliki tujuan yang berbeda, namun intinya adalah untuk membuat pasien menjadi lebih baik dari sebelumnya.

1. Aspek Kognitif

Dalam aspek kognitif ini, akan lebih ditekankan pada bagaimana pasien dapat memiliki pola pemikiran yang berbeda. Tak hanya pada pola pikir saja, namun juga pada sikap, imajinasi, serta asumsi yang berbeda.

Pasien juga diharapkan untuk mampu memfasilitasi diri dalam hal belajar untuk mengetahui kesalahan kesalahan dalam aspek kognitif sehingga membuat pasien dapat memperbaiki kesalahannya tersebut.

2. Aspek Behavioral

Aspek behavioral dalam terapi perilaku kognitif akan menjadi sebuah jembatan untuk pasien yang digunakan untuk mengubah hubungan yang sudah menjadi kebiasaan yang salah dalam memperlihatkan reaksi permasalahan dengan realita yang ada dari kondisi tersebut. Pasien juga akan dibimbing untuk belajar mengubah tingkah lakunya sendiri agar menjadi lebih positif dari sebelumnya. Terapi ini dapat menjadikan pasien menjadi lebih tenang serta mampu mengendalikan tubuh serta pemikirannya sendiri. Sehingga lebih mudah untuk menghindari resiko stress karena pasien akan mampu berpikir secara realistis (https://dosenpsikologi.com).