• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Eksistensial-humanistik

PENDEKATAN-PENDEKATAN TEORITIS ATAS PERILAKU PEMILIH

B. Eksistensial-humanistik

1. Latar Belakang Eksistensial-humanistik

urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal alih­alih hal yang riil, dan mendorong bukan kepada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan.

Superego merepre sentasikan nilai­nilai tradisional dan ideal­ideal masyarakat yang diajarkan oleh orang tua kepada anak. Superego berfungsi menghambat impuls­

impuls id. Kemudian, sebagai internalisasi standar­standar orang tua dan masyarakat. Superego berkaitan dengan imbalan­imbalan dan hukuman­hukuman. Imbalannya adalah perasaan­perasaan bangga dan mencintai diri, sedangkan hukumannya adalah perasaan berdosa dan rendah diri (Corey, 2005: 14­15).

manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik­beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai­nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen­komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya;

(3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan­pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan­pilihannya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai, dan kreativitas.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi­potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit”. Pendekatan ini melihat kejadian bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal­hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia

dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.

Psikologi eksistensial­humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih­alih suatu sistem teknik­teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.

Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berfikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternatif­alternatif yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab, para eksistensialis menekankan bahwa manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya. Manusia bukanlah bidak dari kekuatan­kekuatan yang deterministic dari pengkondisian.

Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran

tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi­potensinya. Dosa eksistensial, yang juga merupakan bagian dari kondisi manusia, adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar­benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai­

nilai yang akan memberikan makna bagi kehidu pan.

Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian;

manusia lahir ke dunia sendirian dan mati sendirian pula.

Sungguhpun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi­kondisi isolasi, depersonalisasi, alienasi, keterasingan, dan kesepian.

Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri, yakni mengungkapkan potensi­potensi manusiawinya.

Sampai taraf tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menjadi “sakit”. Patologi dipandang sebagai kegagalan menggunakan kebebasan untuk mewujudkan potensi­potensi seseorang (Corey, 2005: 54­55).

Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain, yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Kedudukan psikoanalisis bahwa kemerdekaan terbatas pada kekuatan­kekuatan dorongan irasional dan peristiwa yang telah lalu.

Kedudukan behaviorisme bahwa kemerdekaan terbatas

oleh pengkondisian sosial budaya. Meskipun terapi eksistensial menerima premis bahwa pilihan kita terbatas pada keadaan eksternal, terapi menolak pendapat yang mengatakan bahwa kita ditentukan olehnya.

Terapi eksistensial berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan oleh karenanya bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Pandangan eksistensial didasarkan pada model pertumbuhan dan mengkonsepkan kesehatan bukan keadaan sakit. Seperti yang ditulis Deurzen­Smith (1988), konseling eksistensial tidak dirancang untuk menyembuhkan seperti tradisi model medis. Klien tidak dipandang sebagai orang yang sedang sakit melainkan sebagai orang yang merasa bosan atau kikuk dalam menjalani kehidupan.

Eksistensialisme menekankan pada anggapan bahwa manusia memiliki kebebasan dan bertanggung jawab bagi tindakan­tindakannya, maka pandangan­

pandangan eksistensialisme menarik bagi para ahli psikologi humanistik dan selanjutnya dijadikan landasan teori psikologi humanistik. Adapun pokok­pokok teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Maslow adalah sebagai berikut (Koeswara, 1991:112­118 dan Alwisol 2005: 252­270).

1. Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri. Manusia adalah agen yang sadar, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya. Dengan kata lain manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.

2. Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses

untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya (becoming). Namun demikian perubahan tersebut membutuhkan persyaratan, yaitu adanya lingkungan yang bersifat mendukung.

3. Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik atau tepatnya netral. Kekuatan jahat atau merusak pada diri manusia merupakan hasil atau pengaruh dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.

4. Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan manusia kepada pengekspresian dirinya menjadi orang yang memiliki kemampuan atau keistimewaan dalam bidang tertentu.

5. Manusia memiliki bermacam­macam kebutuhan yang secara hirarki dibedakan menjadi sebagai berikut (Boeree, 2004)

a. kebutuhan­kebutuhan fisiologis (the physiologi cal needs)

b. kebutuhan akan rasa aman (the safety and security needs)

c. kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and belonging needs)

d. kebutuhan akan harga diri (the esteem needs) e. kebutuhan akan aktualisasi diri (the

self-actualization needs).