• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kolaborasi Riset Lembaga Litbang dengan Litbang Perusahaan

Kolaborasi riset didefinisikan sebagai bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat. Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, dan saling memberikan manfaat. Dengan demikian, kolaborasi riset yang dimaksudkan merupakan kerjasama dan interaksi antara lembaga litbang dalam menjalankan aktivitas riset untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu tujuan kolaborasi agar penggunaan sumberdaya (manusia, sarana-prasarana dan pembiayaan) dapat dilakukan secara efisien dan juga mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Kolaborasi riset ini mengindikasikan kerjasama yang berpotensi untuk memberi nilai ekonomi, dan khususnya daya saing industri nasional. Selain itu, lembaga litbang juga semakin profesional dalam mendukung kebutuhan teknologi yang nyata. Bentuk kolaborasi riset adalah berupa konsorsium riset. Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan fungsi dan kewenangannya berperan aktif dalam membentuk konsorsium. Pembangunan konsorsium riset antara perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan litbang perusahaan/industri, merupakan sebuah langkah

lanjutan atau bentuk lain dari langkah nyata memadukan kegiatan riset yang ada di perguruan tinggi dan lembaga litbang yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna teknologi. Keberadaan konsorsium akan menunjang pembentukan sinergi antara Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, dan Industri.

Kegiatan ini mendukung salah satu dari tiga konsep strategi utama MP3EI yakni Penguatan Kemampuan SDM dan Iptek Nasional. Selain itu, terbentuknya konsorsium ini dapat mengatasi permasalahan yang sering diduga sebagai penyebab kurangnya output penelitian, seringnya terjadi duplikasi penelitian dan rendahnya resources sharing antara peneliti maupun lembaga litbang, serta hasil riset yang tidak dimanfaatkan oleh pengguna. Pengokohan konsorsium riset “7 bidang fokus” dan penajaman produk target serta pengikut-sertaan industri/BUMN atau daerah menjadi kunci keberhasilan kolaborasi riset ini yang penting untuk terus dikembangkan.

Data jumlah capaian kolaborasi riset lembaga litbang dengan litbang perusahaan dikontribusikan dari berbagai kegiatan pengembangan Pusat Unggulan, Relevansi dan Produktivitas Iptek, dan penguatan jaringan Iptek.

Berikut diuraikan rincian jenis kolaborasi/konsorsium yang terbentuk :

Tabel 3.24. Capaian Kinerja Kolaborasi Riset

Bidang Fokus Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 2013

Pangan - - - Teknologi varietas

sayuran utama

Energi - - Prototipe Pembangkit

Listrik Tenaga Gelombang Laut – Sistem Bandulan (PLTGL-SB) di Kab. Bangkalan

Prototipe PLTGL-SB

Rancang bangun radar pengawas udara Transportasi Integrasi teknologi

pengembangan Computer Based Interlocking (CBI).

Prototipe CBI yang merupakan bagian terpenting dari sistem persinyalan listrik kereta api.

Prototype CBU dan DMI untuk Automatic Train Protection (ATP) berskala laboratorium

Kendaraan multiguna pedesaan

Prototipe Automatic Train Protection (ATP) skala industri

Kesehatan dan Obat Pengembangan teknik DNA Forensik.

Riset vaksin untuk penyakit influenza H1N1 dan H5N1.

Vaksin hepatitis B, vaksin dengue dan vaksin TB

Protoipe vaksin hepatitis B berbasis protein rekombinan sub-unit Indonesia

Hankam Perencanaan (road-mapping) roket peluru kendali, rekayasa dan peluncuran Roket D-230 (Dirgantara berjarak tembak 20-30 km).

Roket D-230 kaliber 122 mm, RX-1220 dan RKX-2020 berhasil diluncurkan dengan menggunakan sistem peluncur buatan dalam negeri Truk Gaz.

Prototipe Roket D-230 RX-1220 dan Roket D-230 RX-2020

Penyempurnaan roket model RX-2020

Material Maju - - - Teknologi pemurnian

pasir zirkon

Dalam upaya meningkatkan sinergi antar Lembaga Litbang, Perguruan Tinggi dan dunia usaha, meningkatkan produktifitas dan efisiensi litbang serta mengurangi tumpang tindih riset, Kementerian Riset dan Teknologi mendorong pengembangan konsorsium riset/inovasi dengan capaian kinerja yaitu :

t1BOHBO

Pada bidang ketahanan pangan telah dihasilkan beberapa teknologi, diantaranya pengembangan varietas dan teknologi sayuran utama dan indigenous untuk mendukung ketahanan pangan. Pada bidang fokus pangan tersebut telah dihasilkan proses pengembangan produk turunan sawit, teknologi bibit unggul (padi, kedelai, jagung), teknologi pemanfaatan lahan sub-optimal, teknologi budidaya perikanan (ikan nila, udang), teknologi pakan ternak dan ikan, teknologi penangkapan ikan, teknologi pengembangan pupuk, teknologi pengolahan kelapa sawit, teknik pengawetan makanan, pengendalian hama tanaman, pengembangan sentra kopi, inseminasi sapi, pengembangan model kawasan industri kakao terpadu, pengembangan makroalga dan sebagainya.

Konsorsium pangan ini melibatkan Kementerian Riset &

Teknologi, IPB, Kementerian Pertanian, Universitas Negeri Riau, Universitas 45 Makasar dan PT. Mulia Bintang Utama.

t&OFSHJ

Berbagai riset dan pengembangan dalam bidang energi baru dan terbarukan (EBT) juga telah dilakukan, diantaranya energi angin, energi surya, energi biogas, biofuel, dan sebagainya. Salah satu yang menarik adalah riset dan pengembangan sumber energi dari alga. Pengembangan produksi bioetanol generasi 2 dari Biomassa lignoselulosa yang ramah lingkungan dan tidak bersaing dengan bahan pangan Integrasi. Riset ini dilakukan oleh konsorsium pengembangan produk bioetanol generasi 2 sebagai bahan bakar terbarukan dan co-produk.

Sebagai solusi persoalan kelangkaan listrik di pulau kecil terpencil Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) yang dapat mengkonversi energi laut (arus, gelombang, gradien suhu permukaan-dasar) menjadi alternatif yang sangat logis. Dengan memanfaatkan hasil inovasi dalam negeri, yaitu sistem konversi energi gelombang sistem bandulan (PLTGL-SB), ITS bersama-sama BPPT telah memulai perekayasaan dan penelitian yang semakin menguat untuk menghasilkan prototipe yang dapat membangkitkan listrik. Kegiatan sebelumnya telah berhasil mendemonstrasikan gerakan turun naik gelombang menjadi ayunan bandul bolak-balik. Dengan sentuhan inovasi, gerakan bola-balik bandul tersebut kemudian dikonversikan menjadi gerakan memutar dua roda yang saling bersinergi menjadi putaran satu arah.

Sistem ini masih menyisakan kelemahan, yaitu kecepatan rotasi yang dihasilkan tidak konstan dan mengalami titik terendah pada saat titik balik ayunan. Untuk mengatasi hasil tersebut, diuji sistem bandulan horizontal yang memanfaatkan kemiringan platform yang diombang-ambingkan gelombang sebagai sumber energi potensial terhadap beban bandul yang didesain sedemikian rupa sehingga lengan bandul dapat berputar satu arah sepanjang mendapat goyangan ombak. PLTGL-SB ini bahkan dapat menghasilkan energi dari ombak yang terjadi sepanjang hari di hampir semua pantai.

Gambar 3.23. Prototipe varietas sayuran utama dan indigenous

Gambar 3.24. Pemanfaatan Limbah Biomassa Industri Kelapa Sawit untuk Produksi Bioetanol Generasi 2 dan Co- Products

a b

c d

Gambar 3.25. Hasil rancang bangun alat apung (ponton tripod) mulai dari simulasi lab (a), perakitan hingga pelepasan, (c) penentuan lokasi uji,

hingga (d) uji respon bandulan terhadap alunan ombak

Konsorsium EBT ini melibatkan Kementerian Riset &

Teknologi, BPPT, LIPI, ITS, ASELI, P.T. GEI, UNSRI, UI, dan BATAN.

t5*,

Dibidang TIK, juga telah dilakukan riset dan pengembangan terkait radar pengawas udara. Penyediaan radar pengawas udara yang akan diaplikasikan di bandara-bandara di Indonesia dalam rangka meningkatkan keselamatan penerbangan. Membangun kemampuan dalam negeri dalam pembuatan Radar pengawas udara melalui sinergi antar lembaga/institusi/pihak yang terkait.

Konsorsium TIK ini melibatkan Kementerian Riset &

Teknologi, LIPI (RCS), ITB, dan PT. INTI.

t5SBOTQPSUBTJ

Dalam bidang transportasi Kementerian Riset dan Teknologi mengkoordinasikan kegiatan penelitian dan pengembangan ATP skala industri yang teruji. Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan teknologi Automatic Train Protection (ATP) melalui pendekatan konsorsium untuk mendukung penguatan sistem inovasi teknologi. Diharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan peralatan yang dapat membantu industri angkutan transportasi kereta api dalam mengurangi kecelakaan.

ATP berfungsi sebagai sistem proteksi pada saat terjadi pelanggaran sinyal yang disebabkan oleh kesalahan masinis dalam merespon isyarat yang disampaikan oleh sinyal atau rambu. Pada saat terjadi pelanggaran tersebut, sistem ATP akan mendeteksi aspek sinyal yang diisyaratkan dan membaca kecepatan kereta api aktual serta membandingkannya dengan kecepatan yang seharusnya sesuai yang dimaksud oleh rambu. Pada saat kecepatan kereta api melebihi batas yang seharusnya, maka ATP akan berfungsi dan melakukan tindakan pengereman secara otomatis.

Pada gambar di atas ditunjukkan perangkat ATP yang telah berhasil dikembangkan, yaitu CBU dan DMI skala laboratorium. Komponen-komponen CBU ditempatkan dalam suatu subrack dan pada implementasinya di lapangan akan diletakkan di lokomotif. DMI, sebagai modul interface antara masinis-ATP pada implementasinya akan diletakkan di ruang deskboard kereta. Untuk ATP skala industri, dengan kelengkapan fisik yang dikembangkan adalah : Pengontrol utama ATP atau CBU (Controller on Board Unit), dan Driver Machine Interface (DMI) sebagai media interaksi masinis dengan ATP dan Alarm (Horn).

Pada tahun 2013 telah berhasil dikembangkan ATP tahap II, yaitu model inovasi teknologi ATP skala industri yang teruji. Pencapaian fisik model inovasi teknologi ATP skala industri yang teruji yaitu berupa prototipe sistem ATP skala industri.

Pengembangan teknologi keselamatan kereta api dilakukan secara konsorsium yang melibatkan Kementerian

Gambar 3.26. Radar Pengawas Udara

Gambar 3.27. Perangkat ATP yang dikembangkan : CBU dan DMI

Gambar 3.28.Prototipe ATP Skala Industri

Ristek, Kemenhub, PT.LEN, ITB, ITS dan BPPT. Untuk pengembangan ATP ini difokuskan pada peralatan CBU (Central Board Unit) dan DMI (Driver Machine Interface).

t,FTFIBUBOEBO0CBU

Konsorsium bidang kesehatan dan obat dimaksudkan untuk mencari solusi permasalahan peningkatan kesehatan nasional melalui riset dan pengembangan teknologi yaitu : 1) pengembangan vaksin hepatitis B, 2) vaksin dengue, dan 3) vaksin TB. Dalam roadmap Riset Vaksin TB, tahun 2012-2013 ditekankan tentang kegiatan riset dasar untuk penyiapan antigen dan uji imunogenitas. Dalam riset vaksin TB telah berhasil dilakukan identifikasi isolat klinik M.tuberculosis Beijing dan Non-Beijing yang selanjutnya digunakan sebagai dasar (template) pembuatan antigen. Antigen yang telah berhasil diproduksi dalam skala laboratorium berbagai antigen terkait (Esat6, Cfp10, Rv2430, Rv1734, dan fusi Esat6 - Mtb32c) yang siap melewati uji imunogenitas.

Pada tahun 2013 konsorsium bidang kesehatan dan obat menghasilkan desain dan konstruksi gen pengkode protein subunit rekombinan yang telah dirintis sejak tahun 2012. Fokus penelitian dititikberatkan pada beberapa hal sebagai berikut: 1) Tahap deteksi, isolasi, dan karakterisasi molekuler gen Pre-S2 Hepatitis B dalam rangka persiapan target gen untuk vaksin Hepatitis B generasi ketiga, 2) Konstruksi rekombinan M dan L-HbsAg pada pAO815 di Escherichia coli, 3) Produksi S-HBsAg dalam Pichia pastoris melalui optimasi ekspresi dan kultivasi, 4) Purifikasi S-HBsAg hasil ekspresi di Pichia pastoris dan karakteristik awal dari protein yang dihasilkan dan 5) Konstruksi mutan delesi Hansenula polymorpha untuk ekspresi rekombinan HBsAg.

Sasaran luaran yang ditargetkan adalah tersedianya konstruksi gen pengkode protein subunit rekombinan kandidat vaksin Hepatitis B yang siap diserap oleh industri. Vaksin yang dikembangkan akan meningkatkan kemandirian Indonesia dalam menghadapi Hepatitis.

Selain itu, produksi vaksin Hepatitis B memiliki potensi keuntungan ekonomi karena dapat dipasarkan di dalam dan luar negeri.

Konsorsium kesehatan & obat ini melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, UGM, UI, UNPAD, ITB, UNAIR, UNHAS, Balitbangkes, P.T. Biofarma, LBM Eijkman, LIPI, BPPT, dan Universitas Al-Azhar.

t)BOLBN

Kegiatan konsorsium di bidang hankam ini merupakan kegiatan tahun jamak. Sesuai dengan tugas pokok fungsinya, Kementerian Riset dan Teknologi melakukan koordinasi dalam perumusan dan pelaksanaan penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi pertahanan dan keamanan, melalui kerja sinergi dengan Kementerian Pertahanan, Lembaga penelitian pengembangan yaitu BPPT dan Lapan, Perguruan Tinggi (ITB, ITS, PENS, UGM), serta BUMN yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad.

Konsorsium diarahkan sebagai bentuk dukungan teknologi untuk revitalisasi pertahanan, pembiayaan pembuatan RX-1220 (RHan-122B) sudah dialokasikan di Balitbang Kementerian Pertahanan. Pada tahun 2013 dilakukan penyempurnaan roket model RX-2020 dan up-grade alutsista dengan mengadopsi perangkat lunak radar tracking untuk Combat Management System (CMS), Remote Controlled Weapon System (RCWS), roket EDF RXEDF-100, ballistic Computer, serta freeze design roket 3-digit menjadi fokus konsorsium.

Saat ini melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), ada 5 (lima) program nasional yang telah ditetapkan untuk dikembangkan, yaitu roket/rudal, pesawat tempur, kapal selam, radar, dan industri propelan. Pengembangan teknologi alutsista, di antaranya roket, pesawat tempur, dan kapal selam, dapat memberikan beberapa keuntungan di antaranya sebagai berikut :

- Kemandirian penyebaran dan pemerataan informasi antar wilayah Republik Indonesia, pertahanan nasional dan pemanfaatan pemeliharaan sumber daya alam melalui pengembangan roket pengorbit satelit (RPS) untuk satelit komunikasi, satelit penginderaan jarak jauh dan satelit untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan nasional.

- Kemandirian pertahanan nasional melalui aplikasi roket untuk persenjataan, baik roket balistik maupun roket kendali.

- Dukungan pertumbuhan industri dalam negeri melalui pemanfaatan potensi industri dalam negeri dan diseminasi teknologi roket serta pemanfaatan sumber daya yang memiliki kemampuan dalam pengembangan pesawat tempur dan kapal selam ke industri.

- Percepatan pengembangan bidang-bidang selain roket melalui pemanfaatan roket dan diseminasi teknologi peroketan untuk keperluan ilmiah, sipil dan yang lainnya

Gambar 3.29. Prototipe vaksin hepatitis B; Kultivasi Hansenulla polymorpha dan pembuatan mutan untuk transformasi

t.BUFSJBM.BKV

Riset dan pengembangan juga dilakukan dalam bidang material maju, diantaranya adalah bahan magnet, material piezo elektrik, nano partikel, dan sebagainya. Salah satu yang menarik adalah pengembangan nano partikel untuk pemanfaatan pasir zirkon. Seperti diketahui, pasir zirkon yang termasuk kategori mineral gelas ini telah menemukan tempatnya dalam berbagai aplikasi untuk industri di seluruh dunia. Mulai dari keramik dan ubin tahan api untuk berbagai aplikasi teknologi tinggi. Pengembangan material maju ini melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, UNS, BPPT, BATAN, dan ITB.

Gambar 3.30. Prototipe roket model RX-2020 saat diluncurkan tanggal 27 Agustus 2013 di Pameungpeuk. Roket ini memiliki daya jangkau lebih jauh

daripada prototipe sebelumnya RX-1202

Gambar 3.31. Penguasaan teknologi material maju dengan memanfaatkan karakteristiknya terutama ketahanan terhadap temperatur tinggi untuk

aplikasi pada struktur nosel roket pertahanan nasional

Gambar 3.32. Proses Pengolahan Pasir Zirkon

Dengan terwujudnya kolaborasi riset lembaga litbang dengan litbang perusahaan, dampak yang dihasilkan adalah terjadinya sinergi antara lembaga litbang dengan industri, sehingga menciptakan riset yang sesuai kebutuhan pasar dan langsung menjawab permasalahan yang dihadapi oleh industri, serta terjadinya optimalisasi sumberdaya riset (biaya, peralatan dan SDM) karena terjadinya resource sharing diantara pihak-pihak yang telibat dalam kolaborasi tersebut.

Dampak dari dihasilkannya produk riset oleh konsorsium antara lain adalah : meningkatnya kapasitas lembaga litbang nasional (academic excellent), terwujudnya kemandirian nasional dalam teknologi strategis (social impact), serta meningkatnya TKDN dalam produk industri yang menguasai hajat hidup orang banyak dan Penghematan devisa dengan menurunnya impor teknologi (economic impact).

IKU 7.