BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
2.2. Konsep Keunggilan Komparatif
4.2.5. Kombinasi Indeks
Overlay Indeks-1 dengan Indeks-2. Dari nilai indeks-1 dan indeks-2 industri makanan
olahan bisa dipetakan ke dalam empat kuadran. Kuadran I: kelompok industri yang memiliki performa ekspor kurang pada pasar potensial; Kuadran II: kelompok industri yang memiliki performa ekspor bagus pada pasar potensial; Kuadran III: kelompok industri yang memiliki performa ekpor bagus, pada pasar kurang potensial; dan Kuadran IV: kelompok industri yang memiliki performa kurang pada pasar tidak potensial.
Gambar 4.1. Overlay Performa Ekspor dengan Pasar Impor
Gambar 4.1. menunjukkan status industri makanan olahan berdasarkan performa ekspor dan pasar impor. Paling ideal adalah kelompok industri yang berada di kuadran III, dimana peluang pasar dimanfaatkan secara maksimal. Industri pada kelompok kuadran II, menghadapi pasar yang relatif mudah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga pada kuadran II potensi ekspor masih bisa ditingkatkan. Kelompok industri pada kuadran IV, kondisinya berlawanan dengan kuadran II. Pada kuadran IV kemampuan ekspor sudah tinggi, namun masih bisa ditingkatkan lagi dengan membuka akses pasar ke negara-negara tujuan ekpor. Kelompok kuadran I, kondisinya paling sulit dikembangkan, karena kemampuan ekspor masih rendah dan pasar duniapun kurang terbuka.
Overlay Indeks-1 dengan Indeks-4. Perdagangan komoditi tidak hanya sekedar untuk
memperoleh manfaat ekonomi saja. Namun yang lebih penting adalah memperoleh dampak positif bagi masyarakat secara luas, yang diindikasikan dari tingginya nilai indeks-4 (dampak sosial ekonomi). Indikator dampak sosial ekonomi penting karena, dampak yang positif selanjutnya akan menciptakan kondisi yang kondusif bagi produksi komoditi tersebut. Oleh sebab itu, kombinasi performa ekspor yang bagus dengan dampak sosial ekonomi yang
kuadran I kuadran IV
kuadran III kuadran II
positif dapat menetapkan komoditi ekspor prioritas yang tepat. Gambar 4.2. menampilkan kelompok komoditi sesuai dengan performa ekspor dan dampak sosial ekonomi.
Paling ideal adalah kelompok industri yang berada di kuadran III, potensi ekspor tinggi dan dampak sosial ekonomi juga tinggi. Di dalam negeri dukungan masyarakat untuk melestarikan komoditi tersebut cukup tinggi. Industri pada kelompok kuadran II, memiliki dampak sosial ekonomi yang baik, namun performa ekspor kurang, sehingga sulit dikembangkan. Kelompok industri pada kuadran IV, berlawanan dengan kuadra II, dimana performa ekspor tinggi, namun dampak sosial ekonominya rendah. Kelompok kuadran I, kondisinya paling sulit dikembangkan, karena kemampuan ekspor masih rendah, dampak sosial ekonomi juga rendah.
Gambar 4.2. Overlay Performa Ekpor Dengan Sosio-Economi
Indeks Komposit. Indeks komposit merupakan nilai akhir, yang merupakan rataan dari nilai
empat indeks dengan pembobotan. Indeks-1 (performa ekspor) diberi bobot 4, indeks-2
kuadran IV kuadran III kuadran II
Bobot terbesar diberikan bagi indeks-1 dan bobot terbesar kedua indeks-2 dengan pertimbangan bahwa untuk tujuan pengembangan ekspor, maka peforma ekspor dan performa pasar dunia menjadi penting karena mencerminkan potensi ekspor langsung baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sedangkan indeks-3 yang menunjukkan dukungan dalam negeri yang dilihat dari sisi nilai tambah dan efisiensi aset diberi bobot 2, lebih tinggi dari bobot indeks-4 yang menunjukkan penyerapan tenaga kerja, yaitu dengan bobot 1.
Tabel 4.15. menampilkan nilai indeks komposit masing-masing kelompok industri makanan olahan. Berdasarkan nilai indeks komposit yang dicapai tiap semua industri makanan, kemudian dicari nilai rata-rata indeks (R) dan standar deviasi (SD). Hasil perhitungan ini digunakan untuk mengelompok status pengembangan ekspor industri makanan olahan yaitu: (1) kelompok industri prioritas tinggi (nilai indeks ≥ R + ½ SD); (2) kelompok industri prioritas sedang (nilai indeks pada kisaran (R - ½ SD)< I<(R + ½ SD) dan (3), kelompok industri prioritas rendah (nilai indeks R - ½ SD).
Tabel 4.15. Performan Ekspor Produk Makanan Olahan Indonesia
Produk makanan olahan Pembobot Indeks komposit setelah dibobot Kriteria prioritas ekspor 4 3 2 1
indeks-1 indeks-2 indeks-3 indeks-4
Ikan 4.45 4.21 1.25 1.60 3.45 Tinggi T e h 3.46 4.01 3.00 1.10 3.29 Tinggi Tembakau 2.74 2.09 4.69 4.61 3.12 Tinggi Gula 1.66 4.18 2.30 5.00 2.88 Sedang Coklat 2.78 4.49 1.26 1.25 2.83 Sedang Kopi 2.32 4.87 1.01 1.13 2.70 Sedang Sereal 2.44 3.40 1.87 2.90 2.66 Sedang Sayuran 1.86 4.24 2.34 1.56 2.64 Sedang Buah 2.40 3.88 1.35 1.82 2.58 Sedang Susu 2.02 3.69 1.48 1.13 2.32 Rendah Daging 1.12 3.69 2.47 1.00 2.15 Rendah
Min. beralkohol 1.70 1.59 1.31 1.53 1.57 Rendah
Dari Tabel 4.15. dapat dilihat bahwa komoditi yang memiliki prioritas tinggi untuk dikembangkan adalah kelompok ikan, teh dan tembakau. Prioritas sedang yaitu kelompok gula, coklat, kopi, sereal, sayuran, dan buah. Sedangkan kelompok susu, daging dan minuman beralkohol, prioritasnya rendah.
Indeks komposit sudah memperhitungkan dimensi ekspor, impor dan pasar dunia serta dimensi sosial dan ekonomi. Nilai indeks komposit sekaligus menunjukkan
keberlanjutan komoditi dimasa yang akan datang, karena didukung oleh banyak faktor. Komoditi yang indeks kompositnya rendah, dalam jangka panjang sulit dikembangkan menjadi komoditas ekspor.
4.3. Analisis Daya Saing Produk Makanan Olahan Indonesia di Pasar Internasional
Berdasarkan analisis Trade Performance Index diketahui bahwa 12 produk yang dikaji dapat dikelompok kedalam tiga kelompok yaitu produk dengan nilai indeks tinggi (prioritas tinggi), nilai indeks sedang (prioritas sedang) dan nilai indeks rendah (prioritas). Produk-produk yang termasuk dalam prioritas tinggi adalah: (1) ikan, (2) teh, dan (3) tembakau; produk dengan prioritas sedang adalah: (1) gula, (2) coklat, (3) kopi, (4) sereal, (5) sayuran, dan (5) buah-buahan; dan produk dengan prioritas rendah adalah: (1) susu, (2) daging dan (3) minuman beralkohol.
Untuk menganalisis daya saing dari setiap produk di pasar internasional maka digunakan Constant Market Share Analysis. Dengan CMSA juga dapat ditentukan aspek-aspek yang paling signifikan mempengaruhi pertumbuhan ekspor setiap produk. Pada bagian berikut akan dibahas hasil dari analisis CMSA.
4.3.1. Produk Makanan Olahan Prioritas Tinggi
Ikan. Hasil analisis CMSA untuk kelompok produk ikan disajikan pada Lampiran 1.
Berdasarkan lampiran tersebut secara umum diketahui bahwa produk ikan mencapai total perubahan yang positif pada setiap periode analisis dan setiap pasar tujuan. Hal tersebut bermakna bahwa produk ikan mengalami pertumbuhan ekspor yang positif.
Apabila dikaji lebih lanjut ternyata diketahui bahwa pertumbuhan ekspor yang terjadi pada produk ikan lebih disebabkan oleh pertumbuhan impor di pasar dunia. Disamping itu, peningkatan ekspor produk ikan juga didorong oleh adanya efek komposisi komoditi dan efek distribusi pasar yang positif. Efek komposisi komoditi yang positif tercapai di Pasar Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Rusia, Cina, Arab Saudi dan Afrika Selatan pada periode 2004-2006. Nilai efek komposisi komoditi yang positif tersebut menunjukan bahwa permintaan terhadap produk ikan dari Indonesia mengalami peningkatan di masing-masing pasar tujuan ekspor.
yang positif menunjukan bahwa pasar yang menjadi tujuan ekspor merupakan pasar-pasar yang memiliki pertumbuhan relatif cepat. Adapun pada Pasar Amerika, efek distribusi pasar bernilai negatif yang artinya ekspor terkonsentrasi di pasar yang pertumbuhannya relatif lambat (stagnan). Untuk Brazil dan India mempunyai nilai 0 (nol) karena Indonesia tidak melakukan ekspor produk ikan ke Negara tersebut pada periode analisis.
Sementara itu terkait dengan daya saing, berdasarkan Lampian 1 juga diketahui bahwa produk ikan Indonesia mempunyai daya saing yang relatif rendah. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif. Nilai daya saing yang tinggi (positif) hanya dicapai pada periode analisis 2002-2004 pada pasar Rusia dan Cina.
Teh. Untuk produk teh, ekspor Indonesia ke Pasar Dunia mengalami peningkatan pada
periode 2002-2004 dan mengalami penurunan pada periode 2004-2006. Penurunan ekspor teh Indonesia ke pasar dunia pada periode 2004-2006 lebih dikarenakan efek pertumbuhan impor yang bernilai negatif (Lampiran 2). Dengan efek pertumbuhan impor tersebut, sekalipun terjadi peningkatan permintaan terhadap produk teh (efek komposisi komoditi positif), tetap tidak dapat mencegah kemerosatan nilai ekspor teh Indonesia pada periode tersebut.
Sementara itu untuk pasar tujuan ekspor tertentu, pada periode 2004-2006 efek komposisi komoditi bernilai negatif di Pasar Amerika, Jepang, Uni Eropa, Afrika Selatan, Rusia, India, Cina dan Arab Saudi. Adapun efek distribusi pasar mencapai nilai negatif di Pasar Jepang, Uni Eropa dan India. Nilai efek distribusi pasar positif dicapai untuk ekspor the ke Pasar Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Cina dan Arab Saudi.
Berdasarkan Lampiran 2 juga diketahui bahwa Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk teh. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada periode 2004-2006 di sebagian besar pasar yang dikaji, kecuali Pasar Jepang, Brazil dan India yang mempunyai nilai efek daya saing positif.
Tembakau. Untuk produk tembakau, terjadi penurunan pertumbuhan konsumsi tembakau di
dunia pada periode 2004-2006 (27.8 miliar US$) dibandingkan periode 2002-2004 (123.5 miliar US$). Hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat ekspor produk tembakau dari Indonesia ke pasar dunia. Namun demikian, produk tembakau Indonesia mengalami peningkatan daya saing sebesar 56.1 juta US$ pada periode 2004-2006, sehingga mendorong tingkat permintaan produk tembakau Indonesia.
Berdasarkan Lampiran 3 diketahui bahwa semua pasar tujuan yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang negatif. Sementara itu untuk efek distribusi pasar sebagian pasar mencapai nilai positif dan sebagian mencapai nilai negatif. Pada periode 2004-2006, efek distribusi pasar positif terjadi di Pasar Jepang, Brazil, Rusia, India dan Arab Saudi, sedangkan Pasar Amerika Serikat, Uni Eropa dan Afrika Selatan mempunyai nilai negatif yang artinya bahwa pasar-pasar tersebut merupakan pasar yang relatif stagnan.
Untuk efek daya saing, produk tembakau Indonesia mempunyai daya saing yang rendah pada Pasar Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Brazil, Rusia, Cina dan Arab Saudi. Hal tersebut ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada periode analisis 2004-2006. Sementara itu, efek daya saing positif dapat dicapai produk tembakau Indonesia di Pasar Afrika Selatan dan India. Hal tersebut menunjukan bahwa produk tembakau Indonesia mampu bersaing dengan produk-produk sejenis dari negara pesaing.
4.3.2. Produk Makanan Olahan Prioritas Sedang
Gula. Untuk produk gula, ekspor Indonesia ke Pasar Dunia mengalami peningkatan pada
setiap periode analisis. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh efek pertumbuhan impor dunia. Sementara itu, dorongan peningkatan ekspor dari efek komposisi komoditi dan daya saing relatif kecil.
Pada periode 2004-2006, untuk semua pasar tujuan yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang positif (Lampiran 4). Adapun untuk efek distribusi pasar, nilai positif dicapai di Pasar Amerika Serikat, Rusia, Cina dan Arab Saudi, sedangkan Jepang, Uni Eropa, Afrika Selatan, Brazil dan India mempunyai nilai negatif.
Berdasarkan Lampiran 4 juga diketahui bahwa Indonesia mempunyai daya saing yang relative rendah untuk produk gula di sebagian besar pasar tujuan ekspor. Hal ini ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada Pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, Afrika Selatan, Brazil, Rusia, Cina dan Arab Saudi. Sementara itu, pada pasar Jepang dan India, ekspor produk gula Indonesia mempunyai nilai efek daya saing positif. Artinya ekspor produk gula Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi pada pasar-pasar tersebut.
tersebut. Hal ini dikarenakan produk coklat dari Indonesia mengalami peningkatan daya saing.
Pada periode 2002-2004, untuk semua pasar yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang positif, sedangkan pada periode 2004-2006 nilainya negatif. Untuk efek distribusi pasar, nilai positif terjadi untuk ekspor produk coklat ke Pasar Afrika Selatan, Brazil, Rusia India, Cina dan Arab Saudi, sedangkan pada Pasar Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa mempunyai nilai negatif. Berdasarkan Lampiran 5 diketahui bahwa Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk coklat, ditunjukan dengan nilai efek daya saing yang negatif.
Kopi. Ekspor produk kopi Indonesia ke Pasar Dunia mengalami peningkatan pada setiap
periode análisis (Lampiran 6). Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh dorongan dari pertumbuhan impor dunia. Sementara itu, efek daya saing dari produk kopi bernilai negatif untuk semua periode analisis. Hal tersebut menunjukan bahwa daya saing produk kopi Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan negara pesaing.
Untuk ekspor ke Pasar Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Rusia, Cina dan Arab Saudi mencapai nilai efek komposisi komoditi yang positif pada periode 2004-2006. Untuk efek distribusi pasar, nilai positif dicapai pada Pasar Uni Eropa, Rusia dan Cina, sedangkan Pasar Amerika Serikat, Jepang dan Arab Saudi mempunyai nilai negatif. Nilai efek distribusi pasar positif artinya Indonesia mampu meningkatkan ekspor di pasar yang tumbuh relatif cepat. Untuk Brazil dan India mempunyai nilai 0 (nol) karena Indonesia tidak melakukan ekspor produk kopi ke negara tersebut pada periode analisis.
Untuk efek daya saing diketahui bahwa produk kopi mempunayai daya saing yang relatif rendah di sebagian besar pasar tujuan ekspor. Hal ini ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif. Daya saing yang tinggi pada produk kopi Indonesia dapat dicapai pada Pasar Jepang dan Afrika Selatan.
Sereal. Untuk produk sereal, terjadi penurunan pertumbuhan konsumsi produk sereal di
dunia (Lampiran 7). Penurunan tersebut berpengaruh terhadap tingkat ekspor produk sereal dari Indonesia ke pasar dunia. Pertumbuhan ekspor sereal Indonesia menurun. Namun disisi lain, produk sereal Indonesia mengalami peningkatan daya saing, sehingga mendorong tingkat permintaan produk sereal Indonesia.
Pada periode 2004-2006, Semua pasar tujuan yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang negatif. Sementara itu, nilai efek distribusi pasar berbeda pada setiap negara tujuan ekspor. Nilai distribusi pasar positif terjadi di Pasar Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Cina dan Arab Saudi, sedangkan Pasar Jepang, Uni Eropa, Brazil dan India mempunyai nilai negative.
Berdasarkan Lampiran 7 juga diketahui bahwa Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk sereal pada periode 2004-2006 di sebagian besar pasar yang dianalisis. Nilai daya saing yang relative baik dari produk sereal Indonesia terjadi di Pasar Rusia.
Sayuran. Ekspor produk sayuran Indonesia ke Pasar Dunia mengalami peningkatan pada
setiap periode análisis (Lampiran 8). Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh efek pertumbuhan impor yang mendorong. Peningkatan ekspor produk sayuran Indonesia ke pasar dunia pada periode 2004-2006 juga dikarenakan adanya peningkatan efek daya saing dan efek komposisi komoditi. Pada saat yang sama pertumbuhan permintaan produk sayuran dari Indonesia mengalami peningkatan (efek komposisi komoditas).
Untuk pasar tujuan ekspor yang dikaji, efek komposisi komoditi bernilai negatif di Pasar Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Afrika Selatan, Rusia India, Cina dan Arab Saudi. Untuk efek distribusi pasar nilai positif dicapai di Pasar Afrika Selatan, Rusia, India, Cina dan Arab Saudi, sedangkan Amerika, Jepang dan Uni Eropa mempunyai nilai negatif. Untuk Brazil mempunyai nilai 0 (nol) karena Indonesia tidak melakukan ekspor produk sayuran ke negara tersebut pada tahun 2004.
Berdasarkan Lampiran 8 juga diketahui bahwa produk sayuran Indonesia mempunyai daya saing yang rendah di sebagian besar pasar yang dikaji. Hal ini menunjukan bahwa produk sayuran Indonesia kalah bersaing dengan produk dari negara produsen lainnya. Nilai positif untuk efek daya saing produk sayuran hanya dicapai di Pasar Brazil.
Buah-buahan. Untuk produk buah-buhan, ekspor Indonesia ke Pasar Dunia mengalami
peningkatan pada setiap periode analisis (Lampiran 9). Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh efek pertumbuhan impor yang mendorong. Sementara itu, dorongan peningkatan ekspor
Eropa, Afrika Selatan, Brazil, Rusia, India, Cina dan Arab Saudi, sedangkan di Pasar Amerika Serikat dan Jepang mempunyai nilai negatif.
Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk buah. Hal ini ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada periode analisis 2004-2006. Efek daya saing positif hanya terjadi di Pasar Jepang. Hal ini menunjukan bahwa produk buah Indonesia mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara pesaing hanya di Pasar Jepang sedangkan di pasar lainnya produk buah Indonesia kalah bersaing.
4.3.3. Produk Makanan Olahan Prioritas Rendah
Berbahan Baku Susu. Untuk susu, penurunan pertumbuhan konsumsi makanan berbahan
baku susu di dunia, memiliki pengaruh terhadap tingkat ekspor susu dari Indonesia ke pasar dunia. Pada periode 2002-2004 pertumbuhan ekspor produk barbahan baku susu Indonesia adalah positif dan susu Indonesia mengalami peningkatan daya saing dari periode 2002-2004 ke periode 2004-2006, sehingga mendorong tingkat permintaan susu Indonesia (Lampiran 10).
Berdasarkan Lampiran 10 diketahui bahwa semua pasar tujuan yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi 0 (nol). Hal ini dikarenakan pada tahun 2004 Indonesia belum melakukan ekspor susu ke pasar tujuan yang dianalisis, kecuali untuk Amerika dan Arab Saudi yang mempunyai nilai efek komoditi negatif. Adapun nilai efek distribusi pasar positif dicapai di Pasar Arab Saudi, sedangkan Amerika mempunyai nilai negatif. Untuk daya saing, Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk susu di Pasar Amerika Serikat dan Arab Saudi. Hal ini ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada periode analisis 2004-2006.
Daging. Untuk produk daging, ekspor Indonesia ke Pasar Dunia mengalami peningkatan
pada setiap periode analisis. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh efek pertumbuhan impor yang mendorong (Lampiran 11). Disamping itu, peningkatan ekspor juga didorong oleh peningkatan dari efek komposisi komoditi pada periode 2004-2006.
Pada periode 2004-2006, untuk semua pasar tujuan yang dianalisis mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang negatif. Untuk efek distribusi pasar, nilai positif dicapai di Pasar Uni Eropa, Afrika Selatan, India, Cina dan Arab Saudi, sedangkan di Pasar Amerika Serikat dan Jepang mempunyai nilai negatif yang artinya kedua pasar tersebut merupakan
pasar yang relatif stagnan. Untuk Brazil dan Rusia mempunyai nilai 0 (nol) karena Indonesia tidak melakukan ekspor produk daging ke negara tersebut pada periode analisis.
Berdasarkan Lampiran 11 juga diketahui bahwa produk daging Indonesia pada pasar Uni Eropa, Afrika Selatan, India dan Cina mempunyai daya saing yang rendah sedangkan pada Pasar Amerika Serikat, Jepang dan Arab Saudi, ekspor produk daging Indonesia mempunyai daya saing yang relative meningkat.
Minuman Beralkohol. Untuk produk minuman beralkohol, ekspor Indonesia ke Pasar Dunia
mengalami peningkatan pada setiap periode analisis (Lampiran 12). Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh dorongan dari pertumbuhan impor dunia. Disamping itu, juga didorong oleh peningkatan permintaan terhadap minuman beralkohol dari Indonesai untuk periode 2004-2006.
Pada periode 2004-2006, untuk Pasar Jepang, Uni Eropa, Afrika Selatan, India dan Arab Saudi mempunyai nilai efek komposisi komoditi yang positif. Adapun nilai efek distribusi pasar positif dicapai di Pasar Amerika Serikat, Afrika Selatan, Cina dan Arab Saudi, sedangkan pada Pasar Jepang, Uni Eropa dan India mempunyai nilai negatif.
Indonesia mempunyai daya saing yang rendah untuk produk minuman beralkohol pada pasar Amerika, Jepang, Uni Eropa, Cina dan Arab Saudi. Hal ini ditunjukan oleh nilai efek daya saing yang negatif pada periode analisis 2004-2006. Efek daya saing positif dapat dicapai di pasar Afrika Selatan dan India.
4.4. Hasil Survei Lapangan 4.4.1. Dalam Negeri
Berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh dari hasil survei lapangan diketahui bahwa jenis usaha responden sebagian besar berperan sebagai eksportir sekaligus produsen (77 persen). Sementara itu, yang hanya berperan sebagai eksportir adalah sebanyak 8 persen dan sebagai produsen sebanyak 15 persen. Lebih lanjut, informasi yang diperoleh menunjukan bahwa sebagian besar industri makanan olahan Indonesia menggunakan bahan
oleh 38 persen responden. Namun demikian terdapat industri (8 persen responden) yang menggunakan bahan baku impor lebih dari 80 persen (Gambar 4.3.).
Penggunaan bahan baku produksi responden
100% LOKAL 38% >60% LOKAL 54% >80% IMPOR 8%
Jenis usaha responden: 100% berbentuk PT dan berstatus PMDN
Eksportir Produsen; 77% Produsen; 15% Eksportir; 8%
Gambar 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan Bahan Baku dan Jenis Usaha
Dalam penggunaan informasi, berbagai media informasi yang ada umumnya digunakan oleh seluruh responden. Sumber informasi dari pameran, internet dan badan pengembangan ekspor nasional diungkapkan oleh 18 persen responden. Sementara itu, informasi yang bersumber dari asosiasi eksportir dalam negeri, asosiasi importir negera tujuan dan instansi pembina produksi diungkapkan oleh 15 persen responden. Namun demikian, berdasarkan tingkat frekuensi penggunaan informasi pasar ekspor diketahui bahwa internet merupakan sumber informasi yang sering digunakan oleh responden. Hal tersebut diungkapkan oleh 37 persen responden. Sumber informasi lainnya yang juga sering digunakan oleh responden adalah pameran (diungkapkan oleh 22 persen responden), asosiasi eksportir dalam negeri (17 persen), badan pengembangan ekspor nasional (15 persen) dan asosiasi importir luar negeri (9 persen).
17% 9% 15% 0% 37% 22% Pameran Internet
Instansi pembina produksi
BPEN
Asosiasi Importir LN
Asosiasi Eksportir DN
Sumber informasi pasar ekspor yang sering digunakan responden
Gambar 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi Pasar yang Digunakan
Terkait dengan informasi yang dibutuhkan, terungkap bahwa berbagai informasi dibutuhkan oleh responden. Informasi yang dibutuhkan oleh responden tersebut mencakup informasi 1) market sizes, segment and development; 2) market restriction (standar and legislation); market players (domestic and foreign); 3) product (characterictics, development, innovation); 4) price (ritel, wholesale, industry, profit margin); and 5) packaging/label. Distribusi responden untuk setiap jenis informasi tersebut disajikan pada Gambar 4.5. 27% 18% 18% 14% 9% 14%
Market s izes , s egm ents , and developm ent Market res trictions (s tandard &
legis lation) Market players (dom es tic &
foreign) Products (characteris tics , development, innovation) Prices (ritel, wholes ale, indus try,
profit margin) Packaging/Label
Informasi yang sangat dibutuhkan oleh responden
Gambar 4.5. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Informasi Pasar yang Dibutuhkan
ekspor adalah memelihara pasar yang sudah ada diungkapkan oleh 61 persen responden. Informasi lebih rinci terkait dengan hal-hal penting untuk pengembangan ekspor disajikan pada Gambar 4.6.
Pengembangan pasar baru Perluasan segmen pasar Memelihara pasar yang ada
28%
11%
61%
Faktor penting dalam pengembangan pasar ekspor menurut responden
Gambar 4.6. Distribusi Responden Berdasarkan Hal Penting untuk Pengembangan Ekspor
Untuk faktor-faktor yang dinilai menghambat oleh responden dalam pengembangan usaha disajikan pada Gambar 4.7. Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa biaya listrik