• Tidak ada hasil yang ditemukan

Posisi Produk Makanan Olahan Indonesia di Pasar Dunia

BAB IV PENGEMBANGAN PASAR EKSPOR PRODUK MAKANAN

4.1. Perkembangan Ekspor Makanan Olahan Indonesia dan

4.1.3. Posisi Produk Makanan Olahan Indonesia di Pasar Dunia

Perkembangan yang selama ini terjadi dalam perdagangan produk makanan olahan di pasar dunia telah memposisikan setiap negara pada peta perdagangan dunia untuk produk makanan olahan tersebut. Apabila dikaji berdasarkan pemasok utama produk makanan olahan di pasar dunia maka diketahui bahwa Uni Eropa merupakan pemasok utama produk makanan olahan di pasar dunia (Tabel 4.7). Share Uni Eropa dalam perdagangan produk makanan olahan di pasar dunia adalah sebesar 51,6 persen dengan trend pertumbuhan sebesar 11,8 persen. Lebih lanjut, negara pemasok lainnya yang juga relative dominan adalah Amerika Serikat, Brazil, China dan Canada dengan share masing-masing sebesar 5,6 persen, 5,4 persen, 4,5 persen dan 3,5 persen.

Sementara itu, apabila dikaji dari trend pertumbuhan yang dicapai oleh negara pemasok utama produk makanan olahan di pasar dunia maka diketahui bahwa Argentina merupakan negara pemasok produk makanan olahan dengan trend pertumbuhan terbesar

yaitu 22,7 persen dan dengan share sebesar 1,3 persen. Lebih lanjut, negara yang mengalami trend pertumbuhan dan share yang relative besar adalah Brazil. Brazil mencapai trend pertumbuhan sebesar 20,1 persen lebih besar dari trend pertumbuhan yang dicapai oleh China dan Uni Eropa yang masing-masing mencapai trend pertumbuhan sebesar 13,2 persen dan 12,9 persen. Sementara itu, Amerika serikat justru mengalami trend pertumbuhan yang negatif yaitu sebesar -0,5 persen.

Tabel 4.7. Pemasok Utama Produk Makanan Olahan di Pasar Impor Dunia

Sumber: WITS 2008, diolah Balitbang Perdagangan.

Posisi Indonesia sebagai salah satu negara pemasok produk makanan olahan di dunia adalah berada pada urutan ke-17. Share Indonesia dalam perdagangan produk makanan olahan adalah sebesar 0,7 persen dan dengan trend pertumbuhan sebesar 9,3 persen. Posisi Indonesia tersebut masih berada jauh di bawah Thailand yang menduduki posisi ke-7 dengan share-nya sebesar 2,6 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum produk makanan olahan yang dihasilkan oleh Thailand relatif lebih unggul dibandingkan Indonesia. Oleh karena itu, produk makanan olahan Indonesia harus terus dikembangkan agar share Indonesia dalam perdagangan dunia dapat terus ditingkatkan. Dengan sumberdaya alam yang dimiliki selayaknya Indonesia memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan negara lain yang

2002 2004 2006 % Trend % Share All countries 201.689,3 268.434,8 314.778,2 11,8 100,0 1 European Union 99.397,8 139.622,5 162.495,8 12,9 51,6 2 United States 17.158,3 15.716,2 17.636,0 -0,5 5,6 3 Brazil 8.577,5 12.345,6 17.074,7 20,1 5,4 4 China 8.684,8 10.863,4 14.049,5 13,2 4,5 5 Canada 7.534,2 9.420,1 9.558,1 7,0 3,0 6 Australia 6.056,3 8.187,5 9.437,7 12,9 3,0 7 Thailand 6.195,2 7.861,5 8.189,8 6,4 2,6 8 New Zealand 3.060,8 4.481,5 4.734,7 12,7 1,5 9 Argentina 1.855,3 3.034,7 4.083,4 22,7 1,3 10 India 2.498,2 2.858,7 3.840,6 11,7 1,2 SUB TOTAL 161.018,4 214.391,7 251.100,2 11,7 79,8 17 Indonesia 1.616,0 2.166,0 2.317,9 9,3 0,7

Untuk produk makanan olahan Indonesia dengan nilai ISP yang relatif tinggi atau produk yang masuk dalam kelompok perluasan ekspor ternyata posisi Indonesia relative tidak lebih baik dibandingkan negara produsen utama lainnya. Selama periode 2002-2006, ekspor makanan olahan daging dan ikan dunia meningkat rata-rata sebesar 11,39 persen/tahun (Tabel 4.8). Negara yang mengalami trend pertumbuhan tertinggi sebagai eksportir daging dan ikan dunia selama periode 2002-2006 adalah Brazil yaitu meningkat rata-rata sebesar 25,24 persen/tahun, disusul Jerman, Australia yang masing-masing tumbuh sebesar 19,54 persen/tahun dan 14,65 persen/tahun. Sedangkan Indonesia mencapai trend pertumbuhan sebesar 11,64 persen/tahun.

Jika dilihat dari nilai ekspor makanan olahan daging dan ikan dunia pada tahun 2006, Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dengan nilai ekspor sebesar US$ 8.431,59 juta, disusul Brazil dan Jerman dengan nilai ekspor masing-masing sebesar US$ 7.612,42 juta dan US$ 7.432,32 juta. Adapun Indonesia berada di urutan ke 22 dengan nilai ekspor sebesar US$ 829,55 juta.

Tabel 4.8. Pemasok Makanan Olahan Daging dan Ikan di Pasar Dunia Periode 2002–2006 (US$ Juta)

No 2002 2003 2004 2005 2006 Trend (%) World 60,769.94 69,779.50 79,984.40 86,889.46 93,376.95 11.39 1 USA 8,879.84 10,045.39 6,698.99 7,716.45 8,431.59 (3.61) 2 Brazil 3,258.90 3,984.00 5,586.52 6,933.18 7,612.42 25.24 3 Jerman 3,626.71 4,527.13 5,635.61 6,447.38 7,432.31 19.59 4 Belanda 4,563.66 5,111.86 6,292.41 6,323.60 6,761.81 10.51 5 Australia 3,407.87 3,674.20 5,099.72 5,436.91 5,549.46 14.65 6 Denmark 4,157.43 4,611.16 5,524.24 5,372.04 5,426.03 7.09 7 China 3,213.42 3,257.96 3,864.70 4,429.59 5,011.14 12.70 8 Prancis 3,154.85 3,807.67 4,388.97 4,372.20 4,624.59 9.45 9 Kanada 4,214.52 4,021.00 5,014.25 5,037.04 4,517.37 3.71 10 Thailand 2,933.16 3,217.06 2,848.77 3,189.96 3,613.74 4.17 22 Indonesia 555.55 581.17 647.79 783.59 829.55 11.64

Sumber: UNCOMTRADE diolah Balitbang Perdagangan

Untuk produk olahan kopi dan teh, menurut data UNCOMTRADE ekspor dunia untuk produk tersebut selama periode 2002-2006 meningkat rata-rata sebesar 11,66 persen/tahun. Pada tahun 2002, nilai ekspornya sebesar US$ 4.406,22 juta, kemudian pada

tahun 2006 nilai ekspornya mencapai US$ 7.042,79 juta. Pemasok terbesar ekspor makanan olahan kopi dan teh adalah Jerman dengan nilai ekspor sebesar US$ 782,27 juta. Eksportir terbesar kedua dan ketiga adalah Sri Lanka dan Cina dengan nilai ekspor masing-masing sebesar US$ 582,90 juta dan US$ 545,19 juta. Indonesia menempati peringkat ke-13 dengan nilai ekspor sebesar US$ 170,79 juta.

Tabel 4.9. Pemasok Makanan Olahan Kopi dan Teh di Pasar Impor Dunia 2002 – 2006 (US$ Juta) No 2002 2003 2004 2005 2006 Trend (%) World 4,406.22 5,423.95 5,776.90 6,394.05 7,042.79 11.66 1 Jerman 444.32 555.86 582.34 692.24 782.27 14.46 2 Sri Lanka 415.56 434.99 513.23 551.35 582.90 9.57 3 China 368.89 398.73 475.39 479.01 545.19 10.13 4 India 378.26 409.47 412.27 430.20 472.42 5.06 5 Kenya 212.07 365.44 405.82 454.04 468.10 19.73 6 Inggris 278.36 322.16 365.61 374.51 435.93 11.05 7 Brazil 198.40 240.65 288.68 371.41 410.08 20.76 8 Belanda 194.79 180.14 228.39 250.43 270.09 10.33 9 Swiss 122.21 160.50 213.39 215.13 237.98 17.65 10 USA 187.00 496.90 178.14 178.49 199.93 (8.52) 13 Indonesia 113.32 133.13 147.83 162.72 170.79 10.75

Sumber: UNCOMTRADE diolah Balitbang Perdagangan

Sementara itu, ekspor yang mencapai trend pertumbuhan tertinggi untuk periode 2002-2006 adalah Brazil yaitu sebesar 20,76 persen/tahun, disusul Kenya dan Swiss masing-masing sebesar 19,73 persen/tahun dan 17,65 persen/tahun. Adapun Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 10,75 persen/tahun

Lebih lanjut, ekspor dunia makanan olahan dengan bahan baku coklat mengalami kenaikan per tahunnya sebesar 12,14 persen/tahun selama periode 2002 -2006 yaitu dari US$ 10,9 milyar pada tahun 2002 meningkat menjadi US$ 17,9 milyar pada tahun 2006. Mengingat semakin banyaknya ragam makanan berbahan coklat dan semakin populernya makanan jenis ini maka dapat diprediksikan untuk makan olahan berbahan baku coklat akan selalu mengalami peningkatan.

Tabel 4.10. Pemasok Makanan Olahan Berbahan Baku Coklat di Pasar Impor Dunia, 2002 – 2006 (US$ Juta) No Negara 2002 2003 2004 2005 2006 Trend (%) World 10,975.12 14,048.60 15,732.75 16,589.22 17,911.73 12.14 1 Belanda 1,703.32 2,160.29 2,257.80 2,351.46 2,436.94 8.34 2 Jerman 1,256.35 1,612.39 1,964.76 1,961.24 2,292.75 15.02 3 Belgia 1,029.66 1,339.33 1,591.30 1,621.84 1,762.59 13.50 4 Prancis 922.66 1,264.00 1,394.02 1,256.37 1,363.72 8.06 5 Italia 461.24 579.36 716.91 773.94 830.48 15.79 6 USA 569.62 637.91 688.10 704.60 779.74 7.55 7 Kanada 556.22 736.75 763.25 752.98 760.34 6.68 8 Cote Divoire 507.49 739.12 706.56 711.46 711.47 6.58 9 Inggris 533.42 546.72 553.96 584.75 560.23 1.67 10 Malaysia 205.16 325.50 412.44 509.39 556.61 27.69 20 Indonesia 227.40 266.52 262.60 256.11 234.91 0.25 Sumber: UNCOMTRADE diolah Balitbang Perdagangan

Pemasok makanan olahan berbahan baku coklat, jika di urutkan menurut nilai ekspor, pemasok terbesar tahun 2006 adalah Belanda. Dunia mengimpor makanan olahan berbahan baku coklat dari Belanda sebesar US$ 2,4 milyar dengan pertumbuhan per tahun sebesar 8.34 persen selama periode 2002–2006. Pada periode yang sama, posisi pemasok utama setelah Belanda adalah Jerman, Belgia, Prancis, Italia, USA, Kanada, Cote Divoire (Pantai Gading), Inggris dan Malaysia dengan besaran impor dunia dari masing–masing negara tersebut adalah US$ 2,3 milyar; US$ 1,8 milyar; US$ 1,4 Milyar; US$ 830,48 juta; US$ 779,74 juta; US$ 760,34 juta; US$ 711,47 juta; US$ 560,23 juta; US$ 556,61 juta dan US$ 234,91 juta.

Sementara itu, posisi Indonesia hanya menjadi pemasok makanan berbahan coklat di urutan ke-20. Posisi Indonesia tersebut jauh berada di bawah Malaysia. Indonesia tertinggal dibandingkan negara tetangga Malaysia bukan hanya dalam nilai ekspornya tetapi juga dalam trend pertumbuhannya. Trend pertumbuhan Malaysia adalah sebesar 27,69 persen selama periode 2002-2006, sedangkan trend pertumbuhan Indonesia pada periode yang sama hanya mencapai 0,25 persen. Dengan kondisi yang demikian, maka pengembangan industri coklat perlu mendapatkan perhatian yang serius agar posisi Indonesia di pasar dunia dapat ditingkatkan.

Dokumen terkait