BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.5 Komite Audit
2.1.5.1. Definisi dan Latar Belakang Komite Audit
Berdasarkan definisi yang dipaparkan dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012 “komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan Komisaris.”
Pada umumnya dewan komisaris membentuk komite-komite dibawahnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan peraturan perundangan yang berlaku untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tanggung jawab dan wewenangnya secara efektif.
Peran dan tanggungjawab komite audit akan berlainan tergantung kondisi suatu perusahaan tertentu, namun pada dasarnya akan mengarah pada pemberian bantuan kepada dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya tentang pengendalian internal dan pelaporan keuangan dan manajemen.
Menurut Komite Nasional GCG yang dikemukakan dalam makalah Pedoman Pembentukan Komite Audit yang efektif (2002:15), ”rapat dan pertemuan komite audit harus direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Ketua komite audit harus bertanggungjawab atas agenda dengan bahan-bahan pendukung yang diperlukan.” Sesuai dengan keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012,”keanggotaan komite audit paling kurang terdiri dari 3 (tiga) orang anggota yang berasal dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar emiten atau perusahaan publik.”
Karakteristik komite audit meliputi, ukuran komite audit, keahlian
akuntansi komite audit, independensi komite audit (Mora, 2011:16). Keragaman sumber daya anggota komite audit meliputi usia,gender, kebangsaan, etnis/ras, budaya, agama, daerah atau negara, latar belakang pendidikan, pengetahuan, kecakapan atau keahlian, pengalaman dalam bisnis dan industri, karir dan pengalaman kerja.
2.1.5.2. Tugas, Tanggungjawab dan Wewenang Komite Audit
Menurut Indra Surya dan Ivan Yustiavandana yang dikemukakan oleh Natalia (2015:17), komite audit memberikan suatu pandangan tentang masalah akuntansi, laporan keuangan dan penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor independen. Manfaat ini diperoleh karena komite audit mampu membantu ke arah penguatan independensi auditor eksternal perusahaan. Komite audit mempunyai tanggungjawab pada 3 bidang, yaitu laporan keuangan, tata kelola perusahaan dan pengawasan perusahaan.
Sementara dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012 dinyatakan bahwa “komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggungjawab kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan Komisaris.” Dalam menjalankan fungsinya, Komite audit memiliki tugas dan tanggung jawab (tertuang dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012) sebagai berikut :
a. melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
b. melakukan penelaahan atas ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik;
c. memberikan pendapat independen dalam hal terjadi perbedaan pendapat antara manajemen dan akuntan atas jasa yang diberikannya;
d. memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris mengenai penunjukan akuntan yang didasarkan pada independensi, ruang lingkup penugasan dan fee;
e. melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal dan mengawasi pelaksanaan tindak lanjut oleh Direksi atas temuan auditor internal;
f. melakukan penelaahan terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen resiko yang dilakukan oleh Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki fungsi pemantau resiko dibawah Dewan Komisaris;
g. menelaah pengaduan yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan keuangan Emiten atau Perusahaan Publik;
h. menelaah dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris terkait dengan adanya potensi benturan kepentingan Emiten atau Perusahaan Publik;
i. menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik.
Peran Komite Audit adalah untuk mengawasi dan memberi masukan kepada Dewan Komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Komite audit bertugas untuk memberikan pendapat kepada Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh Direksi kepada Dewan Komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian komisaris dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris. Peran dan tanggung jawab Komite audit dituangkan dalam Audit Comittee Charter.
Dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012, Piagam Komite Audit (audit comittee charter) memuat tentang :
1. tugas dan tanggung jawab serta wewenang;
2. komposisi, struktur, dan persyaratan keanggotaan;
3. tata cara dan prosedur kerja;
4. kebijakan penyelenggaraan rapat’
5. sistem pelaporan kegiatan;
6. ketentuan mengenai penanganan pengaduan atau pelaporan sehubungan dugaan pelanggaran terkait pelaporan keuangan;
7. masa tugas komite audit.
Piagam Komtie Audit ini merupakan dokumen formal sebagai bentuk
wujud komitmen Komisaris dan Dewan Direksi dalam usaha menciptakan kondisi pengawasan yang baik dalam perusahaan. Piagam Komite Audit yang telah disahkan akan menjadi acuan anggota Komite Audit yang telah disahkan akan menjadi acuan anggota Komite Audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, yang kemudian disosialisasikan kepada seluruh pihak terkait untuk mewujudkan visi,misi, dan tujuan perusahaan. Piagam Komite Audit sebagaimana dimaksuda dalam wajib dimuat dalam laman (website) Emiten/Perusahaan Publik.
Dalam melaksanakan tugasnya, Komite Audit mempunyai wewenang yang juga dituang dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012, yaitu :
1. mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik tentang karyawan, dana, aset dan sumber daya perusahaan yang diperlukan;
2. berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang menjalankan fungsi audit internal, manajemen resiko, dan akuntan terkait tugas dan tanggung jawab Komite Audit.
3. melibatkan pihak independen diluat anggota Komite Audit yang diperlukan untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan); dan 4. melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
Kewenangan Komite Audit dibatasi oleh fungsi komite sebagai alat bantu Dewan Komisaris, sehingga tidak memiliki otoritas eksekusi apapun dan hanya sebatas rekomendasi kepada Dewan Komisaris, kecuali untuk hal spesifik yang telah memperoleh hak kuasa eksplisit dari Dewan Komisaris, seperti mengevaluasi dan menentukan komposisi auditor eksternal dan memimpin suatu investigasi khusus.
Dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2012 Tanggal 7 Desember 2012 dinyatakan bahwa anggota Komite Audit diangkat dan
diberhentikan oleh Dewan Komisaris dan Komite Audit diketuai oleh Komisaris Independen. Komite Audit juga harus bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Peraturan ini mewajibkan perusahaan-perusahaan terdaftar untuk membentuk komite audit yang seluruhnya independen dengan salah satu anggota komite audit memiliki keahlian akuntansi atau keuangan. Penelitian ini dimotivasi oleh peningkatan perhatian pada pentingnya keahlian keuangan dan komite audit yang seluruhnya independen dalam rangka untuk menjamin pelaporan keuangan berkualitas tinggi.
Adapun persyaratan Keanggotaan Komite Audit sesuai Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-643/BL/2010 Tanggal 7 Desember 2012 adalah sebagai berikut :
1. wajib memiliki integritas yang tinggi, kemampuan pengetahuan,pengalaman sesuai dengan bidang pekerjaannya, serta mampu berkomunikasi dengan baik;
2. wajib memahami laporan keuangan, bisnis perusahaan khususnya yang terkait dengan layanan jasa atau kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik, proses audit, manajemen resiko, dan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal serta peraturan perundang-perundang-undangan terkait lainnya;
3. wajib mematuhi kode etik Komite Audit yang ditetapkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik’
4. bersedia meningkatkan kompetensi secara terus menerus melalui pendidikan dan pelatihan;
5. wajib memiliki paling kurang satu anggota yang berlatarbelakang pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan/atau keuangan;
6. bukan merupakan orang dalam Kantor Akuntan Publik, Kantor Konsultan Hukum, Kantor Jasa Penilai Publik atau pihak lain yang memberi jasa assurance, jasa non-assurance, jasa penilai dan/atau jasa konsultasi lain kepada Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir;
7. bukan merupakan oraang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau mengawasi kegiatan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dalam waktu
6 (enam) bulan terakhir kecuali Komisaris Independen;
8. tidak mempunyai saham langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau Perusahaan Publik’
9. dalam hal anggota Komite Audit memperoleh saham Emiten atau Perusahaan Publik baik langsung maupun tidak langsung akibat suatu peristiwa hukum, maka saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak lain dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut;
10. tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut;
11. tidak mempunyai hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan.