BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.2.1 Komoditas Tembakau
2.2.1.1 Tembakau (Nicotiana tabacum L.)
Tembakau (Nicotiana tabacum L.) di Indonesia memiliki nama umum tembakau, mbako (Jawa), bako (Sunda). Tembakau merupakan tanaman kokoh dan besar dengan ketinggian tanaman sedang, daunnya tipis dan elastis, bentuk daun bulat lebar, bermahkota silinder dan daunnya berwarna cerah. Tanaman tembakau memiliki klasifikasi sebagai berikut (Budiman, 2012a) :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Thracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua) Sub kelas : Asteridae
Ordo : Solanales Famili : Solanaceae Genus : Nicotiana
Spesies : Nicotiana tabacum L.
Nicotiana tabacum (Nicotiana spp,. L.) berasal dari Amerika Utara dan Amerika Selatan. Awal perkembangan budidaya tembakau diperkirakan terjadi pada abad ke-16 setelah bangsa Eropa yaitu Spanyol, Portugis, dan Belanda menemukan dunia baru yaitu Amerika. Perkembangan tembakau di Indonesia sendiri dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1830 oleh Van Den Bosch
melalui “Cultuurstelsel” di wilayah Semarang. Budidaya tembakau di wilayah
Besuki, Jawa Timur diawali pada tahun 1910. Tembakau Besuki adalah tembakau cerutu yang sekarang banyak ditanam di wilayah Besuki Jawa Timur. Tahun 1858 tembakau cerutu mulai dikembangkan di daerah lainnya Yogyakarta-Surakarta tepatnya didaerah Klaten dan daerah Deli Sumatra Utara pada tahun 1863. Ketiga wilayah tersebut (Besuki-Jawa Timur, Klaten-Jawa Tengah, dan Deli-Sumatra Utara) menjadi wilayah potensial penghasil cerutu dan merupakan supplier komoditas tembakau cerutu tingkat atas (Budiman, 2012b).
Kegiatan agribisnis tembakau meliputi seluruh sistem dari hulu hingga hilir. Beberapa diantara sistem hulu adalah sistem budidaya tanam dan pasca panen terdiri dari beberapa tahap yang pajang. Sistem budidaya tanam terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu : (1) pembibitan, (2) persiapan lahan, (3) penanaman, (4) pemeliharaan termasuk pemupukan dan penangkalan hama penyakit, (5) pemanenan. Sistem pasca panen terdiri dari proses pengeringan tembakau baik dalam bentuk lembar daun yang biasa disebut tembakau krosok maupun bentuk tembakau rajangan baik dalam bentuk belum fermentasi maupun telah difermentasi (Santoso, 2013a).
Tahap sistem budidaya tembakau terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut : 1. Pembibitan
Langkah pertama dari kegiatan pembibitan adalah mengandalkan benih yang bermutu varietas unggul. Metode pembibitan pertama memilih lokasi bedengan yang sesuai, pembuatan bedengan dan sebar benih, pemeliharaan bedengan seperti penyiangan atau buka tutup bedengan.
2. Persiapan media tanam
Pengolahan tanah ditujukan untuk memberi kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman tembakau sehingga sistem perakaran baik mampu menyerap air dan unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk menunjang pertumbuhan. Untuk lahan bekas sawah diperlukan membersihkan jerami kemudian dilanjutkan dengan pembuatan got keliling untuk mengeringkan lahan dan sebagai saluran irigasi areal penanaman tembakau. Tahap selanjutnya adalah dilakukan pembajakan pertama dan dilanjutkan bajak kedua dengan arah memotong bajak pertama. Gerbus total dilakukan setelah jarak tanam ditentukan, tujuannya untuk menembus tanah olah dan oksigen tanah. Selanjutnya, dilakukan proses bajak 3 dan bajak 4. Guludan yang tinggi menentukan keberhasilan tanaman tembakau karena berhubungan dengan drainasi pemupukan. Keseluruhan tahapan pengolahan tanah biasanya dilakukan mulai 70 hari sebelum penanaman. 3. Penanaman
Sebelum proses penanaman tembakau dilakukan 2-3 hari sebelum penanaman lebih baik jika tanah diberi pupuk kandang ataupun kompos untuk
mempercepat hidupnya bibit di lahan baru. Jika lahan sudah siap maka benih yang sudah berumur 30-40 hari siap dicabut dan dipindahkan. Jika tidak turun hujan maka penyiraman setelah tanam harus dilakukan. Penyulaman dapat dilakukan mulai umur 3 hari sampai 10 hari.
4. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman terdiri dari pengairan dan penyiraman, penyulaman, pembumbunan, penyiangan, dan pemupukan.
a) Pengairan dan penyiraman dilakukan mulai 7 hari setelah tanam.
b) Penyulaman dilakukan dilakukan seminggu setelah tanam, bibit yang diganti dengan bibit yang baik dengan umur yang sama.
c) Pembubunan atau pendangiran dilakukan untuk memperbaiki susunan udara tanah memudahkan perembesan air, mengendalikan gulma dan memperbaiki guludan. Pendangiran dilakukan tiga sampai empat kali tergantung pada kondisi tanah pada lahan dan gulma. Pendangiran tanah pada guludan juga dimaksudkan untuk merangsang perakaran tanaman.
d) Penyiangan dilakukan untuk menghindari adanya persaingan dalam pengambilan unsur hara pada tanaman, menghilangkan sumber penyakit dan mempermudah pada waktu pemupukan, pengendalian, dan mempermudah waktu pemetikan atau panen, untuk meningkatkan hasil produksi.
e) Pemupukan yang dilakukan PTPN X dilakukan sebanyak tiga tahap, yaitu : sehari sebelum tanam dalam polibag, pemupukan dilakukan di polybag, lima hari sebelum penanaman bibit pada lubang calon baris tanam, dan setelah bibit berumur 15 hari di bedengan, pemupukan dilakukan dua kali di bedengan.
5. Pengendalian hama penyakit 6. Panen
Kegiatan panen dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 50 hari, 60% - 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga, sudut daun telah melebar atau merunduk, mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Jenis daun yang dipetik terdiri dari daun koseran, daun tengah, dan daun atas (Budiman, 2012c).
Tembakau merupakan komoditas dua sisi positif dan negatif sehingga memunculkan suatu perjanjian yang disebut dengan FCTC. FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) merupakan instrumen kesehatan untuk melindungi hak para perokok pasif dan hak kesehatan semua warga didunia khususnya anggota WHO. Isi perjanjian dalam FCTC tidak hanya mengatur tentang aspek kesehatan saja, melainkan banyak aspek yang berhubungan dengan produksi dan perdagangan. Berikut ini adalah alasan pemerintah tidak menandatangani dan meratifikasi FCTC yang didasarkan pada (1) alasan cost : kontribusi besar bagi APBN melalui cukai dan pajak; (2) alasan benefit : kontribusi diberbagai aspek kehidupan masyarakat seperti : pendidikan, olahraga, kebudayaan; (3) alasan risk : industri rokok gulung tikar dan berpengaruh pada kehilangan pekerjaan, penghasilan dan tunjangan (Dualolo, 2014).
2.2.1.2 Tembakau Bawah Naungan (TBN)
Tembakau Bawah Naungan atau biasa disebut Shade Grown Tobacco merupakan jenis tembakau Besuki Na-Oogst yang dikembangkan dengan teknologi bawah naungan. Hal ini ditujukan untuk mengontrol agronomis tanaman termasuk cuaca, kelembaban, hama penyakit serta faktor alam lainnya. Jenis tembakau yang ditanam dibawah naungan (berupa kelambu (net) dari plastik) dapat berupa jenis Tembakau Besuki Na-Oogst atau Tembakau Vorstanlanden (Klaten). Perlakuan perubahan teknologi kultur tanaman ini antara lain agar mampu mengubah kualitas daun yang sebelumnya menghasilkan kualitas omblad dan filler dengan perlakuan bawah naungan sebagian besar menghasilkan dekblad (wrapper) sebagai pembalut cerutu dan omblad sebagai pembungkus cerutu. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan taste yang terjadi di pasar cerutu Eropa yang terjadi pada tahun 1990, dimana taste konsumen cerutu dunia beralih dari cigar (cerutu besar) menjadi cigarrolos (cerutu kecil) dan peningkatan kampanye anti rokok juga mengakibatkan perubahan terhadap permintaan kualitas tembakau cerutu (Santoso, 2013b).
Menurut BSN (2006), Tembakau Bawah Naungan merupakan daun tanamn tembakau yang ditanam pada akhir musim penghujan. Tembakau ini dibudidayakan dengan menggunakan jaring plastik khusus (waring). Proses
pengeringan tembakau dilakukan dengan proses pengeringan di los pengering dan difermentasi secara alami dalam bentuk lembaran di pasaran internasional dan dikenal dengan nama Shade Grown Tobacco. Djajadi (2008) mengatakan bahwa Jember merupakan salah satu wilayah yang dapat ditanami tembakau cerutu jenis TBN (Tembakau Bawah Naungan). Tembakau ini mampu menghasilkan mutu pembalut cerutu dengan karakteristik rasa netral. Daerah Jember Selatan merupakan wilayah bagian yang berpotensi menghasilkan tembakau dengan mutu tinggi, yaitu mutu omblad (pembalut cerutu) dan dekblad (pembungkus cerutu). Mutu tinggi tembakau cerutu dari Indonesia tersebut sangat disukai di pasar Internasional, sehingga pangsa ekspornya masih terbuka (PTPN X, 2007).
Sistem pemasaran tembakau bahan baku cerutu sebelum tahun 1990-an memiliki sistem marketing system yang berpusat di Bremen dengan struktur pasar monopoli, karena keberadaan pasar lelang (kerjasama antara Indonesia dengan Jerman Barat). Pada tahun 2005 pemasaran jenis tembakau Besuki Na-Oogst baik perusahaan negara PTPN X maupun swasta nasional lainnya melakukan sistem pembelian langsung atau melakukan kemitraan dengan importir yang terdiri dari pengusaha cerutu dan pedagang tembakau bahan baku cerutu. Pada pasar dengan cara kemitraan hampir 70% produk tembakau PTPN X dibeli oleh Burger Sohne Ag Burg (BSB) pengusaha cerutu Swiss-Jerman atas dasar kerjasama yang menguntungkan dimana buyer maupun seller sama-sama mendapatkan barang ataupun uang yang diterima atas dasar kemitraan yang saling menguntungkan (Santoso, 2013c).