• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM

KOMPARASI DRAFT KONTRAK/ PERJANJIAN

Struktur dan anatomi kontrak

Draft Kontrak PT. Bank Muamalat Syariah

Indonesia

Draft Kontrak Bank DKI Syariah 1. Sebutan/nama kontrak

dan penyebutan selanjutnya

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian 2. Tanggal dari kontrak

yang dibuat dan ditandatangani

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian 3. Tempat dibuat dan

ditandatangani kontrak

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian 4. Para pihak harus

disebutkan secara jelas;

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian 5. Orang yang menandatangani harus disebutkan kapasitasnya sebagai apa;

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

6. Pendefinisian pihak- pihak yang terlibat dalam kontrak.

Ada, yaitu jelas tertera pada awal kontrak/

perjanjian

Ada, namun tidak tertera adanya pendefinisian pihak saksi & notaries (tergantung dalam jangka

waktu yang disepakati) 7. Klausula Definisi Ada, yaitu tertera dalam

pasal satu (1) Tidak Ada 8. Klausul Shighat Ijarah

Muntahiyah Bittamlik

• Jenis Fasilitas

• Harga Sewa & Jangka Waktu Akad

• Jangka Waktu & Kewenangan

Mu’ajjir/ Bank

Ada, yaitu tertera dalam pasal dua (2) dan terangkum dalam satu (1)

pasal

Ada, namun tertera dalam berbeda pasal/ tidak terangkum dalam satu (1)

pasal. Yaitu pada pasal satu (1), Dua (2) dan Tiga

(3)

9. Klausul Biaya

Administrasi, Denda dan biaya lainnya.

Ada, yaitu tertera dalam pasal tiga (3)

Ada, yaitu tertera dalam pasal enam (6) 10.Syarat-syarat

Pemberian Fasilitas

Ada, yaitu tertera pada pasal empat (4)

Ada, yaitu tertera pada pasal lima (5) dengan penyebutan klausul yang berbeda yaitu “Penarikan

Pembiayaan IMBT” 11.Klausul Kewajiban &

Tanggung Jawab Musta’jir/ Nasabah

Ada, yaitu tertera pada pasal lima (5)

Ada, yaitu tertera pada pasal empat belas (14) 12.Klausul Larangan & Ada, yaitu tertera pada Ada, yaitu tertera pada

Cidera Janji bagi Musta’jir

pasal enam (6) pasal lima belas (15) dengan klausul “Pembatasan Tindakan Musta’jir” dan pada pasal delapan belas (18) dengan klausul “Peristiwa Cidera

Janji (Wanprestasi)” 13.Klausul Pernyataan &

Jaminan.

Ada, yaitu tertera pada pasal tujuh (7)

Ada, yaitu tertera pada pasal tujuh belas (17) 14.Klausul Sanksi-sanksi

Ada, yaitu tertera pada pasal delapan (8)

Tidak ada klausul khusus yang menerangkan poin

ini melainkan menjadi satu dengan pasal delapan

belas (18) ayat dua (2) tentang klausul “Peristiwa

Cidera Janji (Wanprestasi)” 15.Klausul Jaminan/

Agunan

Ada, yaitu tertera pada pasal sembilan (9)

Ada, yaitu tertera pada pasal tujuh (7) 16.Kalusul Asuransi Ada, yaitu pada pasal

sepuluh (10)

Ada, yaitu tertera pada pasal delapan (8) 17.Klausul Pendebetan

Rekening

Ada, yaitu tertera pada pasal sebelas (11)

Ada, yaitu tertera pada pasal empat (4) dengan penyebutan klausul yang

berbeda, yaitu “Pembayaran Uang Sewa” 18.Klausul Force Majeure Ada, yaitu tertera pada

pasal dua belas (12)

Tidak ada klausul yang menjelaskan poin ini

19.Klausul

Pemberitahuan

Ada, yaitu tertera pada pasal empat belas (14)

Ada, yaitu tertera pada pasal dua belas (12) dan

tiga belas (13) dengan penyebutan klausul yang berbeda yaitu “Kewajiban

Bank” dan klausul “Hak Musta’jir” 20.Klausul Pemeliharaan,

Pemakaian dan Kerugian Atas Objek

IMBT

Tidak ada klausul khusus yang menerangkan poin ini, melainkan tergabung dalam klausul “Kewajiban

dan Tanggung Jawab Musta’jir/Nasabah” pada pasal lima (5) ayat satu (1)

Ada, yaitu tertera pada pasal enam belas (16)

21.Klausul Status Objek IMBT

Tidak ada klausul khusus yang menerangkan poin ini

Ada, yaitu tertera pada pasal sepuluh (10) 22.Klausul Hak Bank Tidak ada klausul khusus

yang menerangkan poin ini, melainkan tergabung dalam klausul “Kewajiban

dan Tanggung Jawab Musta’jir/Nasabah” pada

pasal lima (5)

Ada, yaitu tertera pada pasal sebelas (11)

23.Klausul Pilihan

Hukum & Domisili

Ada, yaitu tertera pada pasal lima belas (15)

Ada, yaitu tertera pada pasal sembilan belas (19) dan dua puluh (20) dengan

penyebutan klausul yang berbeda yaitu

“Korespondensi” dan klausul “Penyelesaian

Perselisihan” 24.Klausul Perubahan-

perubahan

Tidak ada klausul khusus yang menerangkan tentang

poin ini, melainkan menyatu dalam klausul penutup yaitu pasal enam belas (16) ayat enam belas

titik tiga (16.3)

Ada, yaitu tertera pada pasal dua puluh satu (21)

25.Klausul Lampiran- lampiran

Tidak ada klausul khusus yang menerangkan tentang

poin ini, melainkan menyatu dalam klausul penutup yaitu pasal enam belas (16) ayat enam belas

titik delapan (16.8)

Ada, yaitu tertera pada pasal dua puluh dua (22)

26.Klausul Ketentuan Penutup

Ada, yaitu tertera pada pasal enam belas (16)

Ada, yaitu tertera pada pasal dua puluh tiga (23) 27.Subbagian Ruang

Penempatan Tanda Tangan

Ada, yaitu terdapat pada akhir bagian kontrak

Ada, yaitu terdapat pada akhir bagian kontrak

Dari table di atas, penulis menyimpulkan bahwa urutan 1-6 yaitu termasuk Dalam bagian pendahuluan terdiri dari tiga subbagian. Yaitu; Subbagian pembuka (description of the instrument, Subbagian pencantuman identitas para pihak (caption) dan Subbagian penjelasan.

Urutan 7 sampai urutan 25 adalah merupakan bagian isi kontrak/ perjanjian yang didalamnya tercakup klausula definisi (definition), klausula transaksi (operative language), klausula spesifik dan klausula ketentuan umum.

Serta sisanya yaitu urutan 26 dan 27 adalah merupakan bagian penutup yang masing-masing adalah Subbagian kata penutup (closing) dan Subbagian ruang penempatan tanda tangan.

Dari uraian perbedaan di atas, penulis menyimpulkan bahwa perbedaan di atas tidak mempengaruhi mekanisme Ijarah Muntahiyah Bittamlik dengan prinsip Ijarah Muntahiyah Bittamlik secara syariah. Karena semua rukun dan syarat yang diatur melalui fatwa DSN-MUI ada dalam kontrak yang disebutkan. Menurut penulis yang sangat sesuai yaitu antara pelaksanaan dengan kontrak yang ada yaitu Bank DKI Syariah Wahid Hasyim, sedangkan PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia, Tbk. Adalah berbeda dari sebutan akad, dalam pelaksanaannya PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia, Tbk menggunakan Syirkah al-Milk12 sedangkan dalam kontrak menggunakan Ijarah Muntahiyah Bittamlik.

Penulis juga menyimpulkan perbedaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik ini dengan Murabahah (Jual Beli) yaitu, jangka waktu dari kedua nya. Murabahah pembiayaan yang hanya berkisar pada 1-5 tahun sedangkan Ijarah Muntahiyah Bittamlik bisa mencapai sampai 15 tahun. Dari segi mekanisme pun sangat berbeda, karena kalau Murabahah keuntungan di dapat dari harga pokok ditambah dengan

12Wawancara Pribadi dengan Mbak Lolla ( Account Officer Marketing Cabang BSD) pada

margin ( keuntungan ) yang di bayar dengan cara mencicil, sedangkan keuntungan Ijarah Muntahiyah Bittamlik di peroleh dari angsuran sewa yang di angsur perbulan. Angsuran sewa ini tetap sifatnya.13

13Wawancara pribadi dengan pak. Sofyan Ibrahim sebagai kepala analisis marketing di Bank

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. mekanisme perpindahan kepemilikan pada PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia, Tbk dan Bank DKI syariah telah sesuai dengan Prinsip Syariah dan tidak bertentangan dengan fatwa DSN yang telah dijadikan acuan. 2. Perbedaan mekanisme perpindahan kepemilikan pada PT. Bank Muamalat

Syariah Indonesia, Tbk ini yang digunakan adalah dengan akad Jual beli dan dilakukannya setelah masa ijarah-nya selesai. Sedangkan mekanisme dari Perpindahan kepemilikan pada akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik pada Bank DKI syariah Wahid Hasyim ini adalah mengunakan dua jenis akad, yaitu akad Jual beli (Murabahah) bila masa sewa diselesaikan sebelum masa sewa yang ditentukan berakhir (pelunasan dipercepat), serta akad Hibah apabila masa sewa diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan berakhir.

3. Adapun kekurangan dari akad Ijarah Muntahiyah Bittamlik ini menurut PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia, Tbk adalah Resiko yang bisa lebih besar ditanggung oleh bank karena objek sewa adalah milik bank sebelum ada akad peralihan kepemilikan. Kelebihannya sama seperti pembiayaan- pembiayaan pada umumnya, yaitu memberikan keuntungan pada bank yang akhirnya menjadi pendapatan bank. Adapun kekurangan dari akad

Ijarah Muntahiyah Bittamlik menurut Bank DKI Syariah Wahid Hasyim adalah masih banyak masyarakat yang mengira bahwa produk ini sama saja seperti produk leasing yang dilaksanakan di bank konvensional. Adapun kelebihan dari Ijarah muntahiyah Bittamlik ini adalah dapat mempermudah masyarakat yang ingin melakukan pembiayaan khususnya pembiayaan KPR.

B. Saran

1. Pembiayaan adalah salah satu tugas pokok bank, maka PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia, Tbk dan Bank DKI syariah diharapkan dapat menerapkan kegiatan pembiayaan dengan lebih baik lagi, mulai dari perencanaan pembiayaan, pengorganisasian, pergerakan, hingga pengawasan pembiayaan Ijarah Muntahiyah Bittamlik.

2. Pihak bank dapat meningkatkan pelayanan operasoinal nya kepada masyarakat, sesering mungkin mamberikan sosialisasi terhadap masyarakat luas tentang produk-produk perbankan syariah yang terdapat di PT. Bank Muamalat Syariah Indonesia dan Bank DKI syariah terutama untuk produk Ijarah Muntahiyah Bittamlik ini. Karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan informasi tentang apa dan bagaimana Bank Syariah, serta masih banyak masyarakat yang mengira kalau Ijarah Muntahiyah Bittamlik ini sama seperti Leasing yang ada di Bank

Konvensional, walaupun memang benar ada persamaan antara keduanya namun tetap keduanya itu berbeda.

3. Sebagai pembiyaan yang ada pada bank DKI Syariah maka Ijarah Muntahiyah Bittamlik disarankan agar Bank Dki Syariah dapat lebih meluaskan dari segi objeknya, tidak hanya terbatas dengan KPR saja, melainkan untuk kendaraan dan lainnya juga.

4. Rencana-rencana yang sudah di persiapkan untuk memajukan profit bank, diharapkan segera dapat terlaksana agar ada perkembangan yang signifikan dan ide-ide yang sudah tertuang dapat di aplikasikan.

AI-Quran Al-Karim

Al Jawi, Shiddiq. Kerjasama Bisnis (Syirkah) Dalam Islam. Majalah Al Waie 57 2. An Nabhani, Taqiyuddin. 1996. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif.

Surabaya: Risalah Gusti.3. Abu Bakr Jabr Al Jazairi, Ensiklopedia Muslim, Minhajul Muslim, Penerbit Buku Islam Kaffah, Edisi Revisi, 2005.

Ali, HB. Tamam. dkk. Ekonomi Syariah Dalam Sorotan: Tinjauan dari Berbagai Perspektif dan Dilengkapi dengan Praktek-praktek Ekonomi Syariah yang Telah Difafrvakan. Jakarta : Yayasan amanah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), TT.

Antonio, Muhammad Syafi'I. Bank Syariah dari teori ke praktek. Jakarta : Gema Insani Press. 2001.

________________. Bank Syariah Wacana Ulama dan Cendekiawan. Jakarta : Tazkiya Institute 1999.

________________. Bank Syariah bagi Bankir & Praktisi Kenangan. Jakarta : Tazkiya Institute. 1999. Get ke-1.

Arifin, Zainul. Pelatihan Dasar Perbankan Syariah-Bank Indonesia, Jakarta; Rafa Consulting (economic Building with Islamic Value). 2007.

Ascarya, Akad dan Produk Bak Syariah, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Danim, Sudarwan. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung : CV. Pustaka Setia, 2002. Dahlan, Abdul Aziz . Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta : Ichtiar Barn Van Hoeve.

1996. Jilid6.

Dewan Sya'riah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Himpunan Fatwa Dewan Syari 'ah Nasional. Jakarta : PT. Intermasa. Edisi ke-2.

Hasan, M. Ali. Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada 2004. Edisi ke-1, cet ke-2.

Grafindo Persada. 2004.

Manan, Abdul. Ekonomi Islam teori dan praktek, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa. 1997

Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Jakarta : PT. Remaja Rosdakarya. 2005.

Muhammad. Manajemen Pembiayaan Bank Syari'ah. Yogyakarta : Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. 2005.

Nazir, Habib dan Muhamad Hasan. Ensiklopedi Ekonomi Syari'ah, Bandung : Kaki Langit. 2004.

Salim. Hukum Kontrak " Teori & Teknik Penyusunan Kontrak". Jakarta : Sinar Grafika. 2003. Get ke-1.

Sjahdeini, Sutan Remy. Perbankan Islam dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum

Perbankan Indonesia. Jakarta : PT. Temprint. 1999. Get ke-1.

Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta : Rajawali Press. 2002.

Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini, Al-Imam. Kifayatul akhyar 2. Surabaya : PT. Bima Ilmu Offset. 1999. Get ke-1.

Tim Penulis Fakultas Syariah dan Hukum. Buku Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta : Fakultas Syariah dan Hukum, 2007.

Umar, Husein. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta : Rajawali Press. 2004.

Zulkifli, Sunarto, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah. Jakarta : Zikrul Hakim. 2007. Get ke-3.

xii

http://www.muamalatbank.com/index.php/home yang diunduh pada hari Sabtu, 26 Juni2010.

http://www.bankdki.co.id/index.php?option=com_content&view:=article&id yang diunduh pada hari Sabtu, 26 Juni 2010.