HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Lokasi Penelitian
4.3. Analisis Univariat
4.3.1. Kompetensi Petugas TB Paru
Kompetensi petugas TB paru di Kota Binjai didasarkan pada pengetahuan, sikap dan keterampilan. Berikut disajikan distribusi frekuensi masing-masing variabel.
a. Variabel Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan petugas TB Paru, sebagian besar responden tidak mengetahui seseorang dikatakan sebagai suspek TB yaitu sebanyak 21 responden (58,3%), sedangkan yang mengetahui sebanyak 15 responden (41,7%). Sebagian besar responden sudah tidak mengetahui cara menentukan diagnosa pasti sebagai penderita TB Paru yaitu sebanyak 28 responden (77,8%), akan tetapi terdapat 8 responden (22,2%) yang mengetahui cara menentukan diagnosa pasti sebagai penderita TB Paru.. Hal ini dapat dlihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indikator Pengetahuan Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Pertanyaan Benar Salah Total
N % n % N %
1 Mengetahui seseorang dikatakan sebagai suspek
TB 15 41,7 21 58,3 36 100
2 Mengetahui cara menentukan diagnosa pasti
sebagai penderita TB Paru 8 22,2 28 77,8 36 100 3 Mengetahui cara lanjutan yang harus dilakukan
untuk memastikan menderita TB Paru 16 44,4 20 55,6 36 100 4 Mengetahui penegakan diagnosis TB Paru 16 44,4 20 55,6 36 100 5 Mengetahui strategi penemuan kasus yang
efektif 17 47,2 19 52,8 36 100
6 Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi
terjadinya TB paru 20 55,6 16 44,4 36 100 7 Mengetahui jumlah kasus TB paru 16 44,4 20 55,6 36 100 8 Mengetahui secara pasti seseorang telah sembuh
TB paru 27 75,0 9 25,0 36 100
9 Mengetahui jangka waktu pengobatan TB paru
berlangsung agar penderita TB sembuh 8 22,2 28 77,8 36 100 10 Mengetahui tujuan utama pengobatan TB paru 9 25,0 27 75,0 36 100 11 Mengetahui secara berkesinambungan minum
obat penderita TB Paru 29 80,6 7 19,4 36 100 12 Mengetahui tujuan penemuan kasus TB Paru 14 38,9 22 61,1 36 100 13 Mengetahui tujuan pemeriksaan dahak
mikroskopis 32 88,9 4 11,1 36 100
14 Mengetahui tugas-tugas pengelola program TB
Paru 17 47,2 19 52,8 36 100
15 Mengetahui indikator program TB dikatakan
berhasil 12 33,3 24 66,7 36 100
Tabel 4.3. di atas juga menunjukkan bahwa mayoritas petugas TB menjawab tidak benar tentang jangka waktu pengobatan TB paru yaitu sebanyak 28 orang (77,8%), mayoritas petugas TB menjawab benar yaitu tujuan pemeriksaan dahak mikroskopis yaitu sebanyak 32 orang (88,9%), namun mayoritas petugas TB malah
tidak menjawab dengan benar tugas-tugas pengelola TB paru yaitu sebanyak 19 orang (52,8%).
Berdasarkan keseluruhan skoring di atas, maka variabel pengetahuan dikelompokkan berdasarkan dua kategori yaitu baik dan kurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang paling banyak ada pada kategori kurang yaitu 20 responden (55,56%). Sedangkan pada kategori baik ada 16 responden (44,44%). Seperti terlihat pada tabel 4.4
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Pengetahuan Jumlah %
1 Baik 16 44,44
2 Kurang 20 55,56
Total 36 100
b. Variabel Sikap
Variabel sikap didasarkan pada skala ordinal dari 15 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak setuju jika batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak jelas patut dicurigai menderita TB yaitu sebanyak 23 orang (63,9%), mayoritas responden yaitu sebanyak 23 orang (63,9%) malah tidak setuju jika penegakan diagnosa yang tepat harus melalui photo thorak, selanjutnya mayoritas responden tidak setuju yaitu sebanyak 21 orang (58,3%) bahwa sanitasi rumah yang tidak saniter dapat menyebabkan penularan TB paru. Mayoritas responden yaitu sebanyak 23 orang (63,9%) tidak setuju bahwa Setiap petugas perlu bekerjasama dengan petugas kesehatan lain dalam program TB Paru, demikian juga perlu
dipahami bahwa penularan TB paru sangat cepat melalui percikan dahak. Keseluruhan jawaban responden dapat dilihat pada Tabel 4.5. berikut:
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indikator Sikap Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Pertanyaan Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total n % n % N % N % 1
Mengalami batuk produktif selama 2-3 minggu atau lebih yang tidak jelas patut dicurigai menderita TB
2 5,6 11 30,6 23 63,9 36 100
2
Penegakan diagnosa yang tepat adalah melalui pemeriksaan dahak mikroskopis minimal 2 kali dan pemeriksaan photo thorak
4 11,1 9 25,0 23 63,9 36 100
3 Sanitasi perumahan yang tidak saniter
merupakan faktor penularan TB Paru 3 8,3 12 33,3 21 58,3 36 100 4
Kepadatan hunian di dalam rumah dapat juga menyebabkan penularan TB Paru
2 5,6 24 66,7 10 27,8 36 100
5
Perlu dilakukan penemuan suspek TB paru secara aktif di wilayah kerja masing-masing, bukan hanya menunggu pasien yang datang ke puskesmas saja
5 13,9 13 36,1 18 50,0 36 100
6
Penderita TB paru perlu diawasi pengobatannya sampai 6 bulan secara berturut-turut
22 61,1 13 36,1 1 2,8 36 100
7
Pengobatan TB paru harus berlangsung terus menerus/tidak boleh putus selama 6 bulan
4 11,1 13 36,1 19 52,8 36 100
8
Tujuan utama pengobatan TB paru yang direkomendasikan kementerian
Kesehatan RI adalah memaksimalkan penurunan angka kesakitan dan penurunan kematian akibat TB paru
4 11,1 19 52,8 13 36,1 36 100
9
Tujuan penemuan kasus TB Paru adalah untuk memutuskan mata rantai penularan TB paru
Tabel 4.5. (Lanjutan) No Pertanyaan Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total n % n % n % N % 10
Setiap petugas perlu bekerjasama dengan petugas kesehatan lain dalam program TB Paru
2 5,6 11 30,6 23 63,9 36 100
11
Perlu dipahami bahwa penularan TB paru sangat cepat melalui percikan dahak
4 11,1 9 25,0 23 63,9 36 100
12
Dikatakan pengobatan berhasil jika tidak ditemukan lagi kasus TB Paru dalam satu periode tertentu
3 8,3 12 33,3 21 58,3 36 100
13
Program penanggulangan TB paru terintegrasi dengan program kesehatan lain
5 13,9 23 63,9 8 22,2 36 100
14
Cakupan pengobatan TB paru harus 88% lebih dari sejumlah penderita TB paru yang diobati
3 8,3 14 38,9 19 52,8 36 100
15
Obat anti TB paru harus dibagikan gratis kepada penderita TB Paru, dan dapat diperoleh di Puskesmas
5 13,9 21 58,3 10 27,8 36 100
Tabel 4.5. di atas juga menunjukkan bahwa mayoritas petugas TB tidak setuju jika cakupan pengobatan TB harus 88% dari sejumlah penderita TB yaitu sebanyak 19 orang (52,8%), dan petugas TB juga menjawab kadang-kadang yaitu sebanyak 21 orang (58,3%) bahwa Obat anti TB paru harus dibagikan gratis kepada penderita TB Paru, dan dapat diperoleh di Puskesmas. Berdasarkan hasil skoring indiaktor sikap, maka variabel sikap dapat dikategorikan menjadi baik, dan kurang. Seperti pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Sikap Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Variabel Sikap 36 100
1 Baik 16 44,44
2 Kurang 20 55,56
Tabel 4.6. di atas menunjukkan mayoritas responden mempunyai sikap kurang yaitu sebanyak 20 orang (55,56%), dan kategori baik sebanyak 16 orang (44,44%). c. Variabel Keterampilan
Variabel keterampilan untuk dokter sebagai petugas TB didasarkan pada skala ordinal dari 8 pertanyaan dengan alternatif jawaban ya dan tidak. Hasil jawaban responden seperti pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indikator Keterampilan Dokter sebagai Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Indikator Keterampilan Ya Tidak Total
n % n % N %
1 Terampil Menetapkan jenis paduan obat
sesuai type penderita TB 7 87,5 1 12,5 8 100 2 Terampil Memberikan obat tahap insentif 5 62,5 3 37,5 8 100 3 Terampil Memberikan obat tahap lanjutan 3 37,5 5 62,5 8 100 4 Terampil Mencatat pemberian obat dalam
kartu penderita 3 37,5 5 62,5 8 100
5 Terampil Memberikan Penyuluhan Kepada
Masyarakat Umum tentang TB 1 12,5 7 87,5 8 100 6 Terampil Memberikan Penyuluhan dan KIE
Kepada keluarga penderita 3 37,5 5 62,5 8 100 7 Terampil Memantau keteraturan obat 2 25,0 6 75,0 8 100 8 Terampil Menentukan hasil pengobatan dan
mencatat di kartu penderita 2 25,0 6 75,0 8 100 Tabel 4.7. di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak terampil memberikan penyuluhan kepada masyarakat umum yaitu sebanyak 7 orang (87,5%), namun mayoritas responden terampil menetapkan jenis paduan obat sesuai tipe penderita TB yaitu sebanyak 7 orang (87,5%)
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indikator Keterampilan Perawat sebagai Petugas TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Indikator Keterampilan Ya Tidak Total
n % n % N %
1 Terampil Membuat rencana penemuan kasus
TB 6 23,1 20 76,9 26 100
2 Terampil Melakukan sweeping suspek TB
paru tiap bulan 8 30,7 18 69,3 26 100 3 Terampil Memberikan penyuluhan tentang
TB 5 19,2 21 80,8 26 100
4 Terampil Mengumpulkan Sputum Sewaktu
(S), Pagi (P), dan Swaktu (S) 10 38,5 16 61,5 26 100 5 Terampil Membuat Sediaan Apus Dahak ke
Laboratorium 4 15,4 22 84,6 26 100
6 Terampil Menjaring Suspek TB 9 34,6 17 65,4 26 100 7 Terampil Mengisi Kartu Identitas Penderita 15 57,7 11 42,3 26 100 8 Terampil Memantau jumlah penderita TB
yang ditemukan 10 38,5 16 61,1 26 100 Berdasarkan tabel 4.8. di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak terampil membuat sediaan apus dahak ke laboratorium yaitu sebanyak 22 orang (84,6%) namun mayoritas terampil mengisi kartu identitas penderita yaitu sebanyak 15 orang (57,7%).
Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Indikator Keterampilan Petugas Laboratorium TB Paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Indikator Keterampilan Ya Tidak Total
n % n % N %
1 Terampil Mengumpulkan dahak dan mengisi
buku daftar suspek 0 00,0 2 100 2 100 2 Terampil Membuat sediaan hapus dahak 1 50,0 1 50,0 2 100 3 Terampil Mewarnai dan membaca sediaan
Tabel 4.9 (Lanjutan)
No Indikator Keterampilan Ya Tidak Total
n % n % N %
4 Terampil Menyimpan sediaan untuk di
crosschek 0 00,0 2 100 2 100
5 Terampil Melakukan pemeriksaan dahak
ulang untuk follow – up 1 50,0 1 50,0 2 100 6 Terampil Menegakan diagnosis TB sesuai
hasil pemeriksaan dahak 2 100 0 00,0 2 100 7 Terampil Memantau jumlah suspek yang
diperiksa 1 50,0 1 50,0 2 100
8 Terampil Menentukan type penderita 1 50,0 1 50,0 2 100 Berdasarkan tabel 4.9. di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden terampil mewarnai dan membaca sediaan dahak serta menegakkan diagnosis TB sesuai hasil pemeriksaan dahak yaitu sebanyak 2 orang. Namun mayoritas responden tidak terampil mengumpulkan dahak dan mengisi buku daftar suspek serta tidak terampil menyimpan sediaan untuk di crosschek yaitu sebanyak 2 orang.
Berdasarkan hasil skoring data indikator keterampilan seluruh petugas TB, maka variabel keterampilan TB dapat dikategorikan menjadi baik dan kurang, seperti pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Keterampilan Petugas TB paru di Kota Binjai Tahun 2013
No Variabel Keterampilan Jumlah (n) Persentase (%)
1 Baik 17 47,2
2 Kurang 19 52,8
Tabel 4.10 di atas menunjukkan mayoritas petugas TB mempunyai keterampilan kategori kurang yaitu sebanyak 19 orang (52,8%), sedangkan keterampilan yang baik sebanyak 17 orang (47,2%)