• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

C. Kompetensi konselor

2. Kompetensi Profesional Konselor

Menurut Prayitno (1988: 129-132) kompetensi profesional dapat diartikan pengetahuan atau wawasan yang luas dan pemahaman terhadap siswa, lingkungan kerja serta kemampuan konselor dalam melaksanakan tugasnya. Menurut AKBIN Kompetensi profesional adalah penguasaan konselor atas karakteristik pribadi, pemberian materi bimbingan yang inheren pada pribadi peserta didik, upaya konselor dalam membantu peserta didik dan sejumlah kompetensi tambahan lainnya yang secara simultan.

Prayitno (1988: 129-132) mengatakan bahwa kompetensi profesional konselor sekolah terdiri dari dua komponen utama yaitu :

a.Komponen Isi

1. Pengukuran, yaitu pengetahuan tentang prosedur pengukuran dan penilaian.

2. Konsultasi, yaitu pengetahuan tentang proses wawancara, diskusi dan memberi saran

3. Tingkah laku manusia, yaitu pengetahuan tentang dinamika kepribadian, belajar, serta fungsi-fungsi hubungan antara pribadi dan kelompok.

4. Strategi, pemberian informasi pengetahuan mengenai langkah-langkah yang dapat digunakan untuk membantu pengembangan klien.

5. Riset, yaitu pengetahuan tentang latar belakang pentingnya metodologi, teknik dan alat-alat penelitian ilmiah.

6. Administrasi, pengetahuan tentang bagaimana merencanakan, mengorganisasikan, menyelenggarakan, menilai dan memantapkan kegiatan.

7. Kelembagaan kerja, yaitu pengetahuan tentang kelompok dan lembaga baik resmi maupun swasta tempat konselor bekerja dan memberikan pelayanan.

8. Kelembagaan pendidikan/latihan,yaitu pengetahuan tentang sekolah dan atau program tempat menjalani latihan dasar atau magang untuk setiap tingkat pendidikan.

20

9. Pengajaran, yaitu pengetahuan tentang metode mengajar/latihan. (metode ini tidak digunakan oleh konselor sekolah karena tidak mengajar tetapi konselor memberikan informasi yang diperlukan oleh siswa pada saat jam bimbingan)

10.Pasar kerja, yaitu pengetahuan tentang syarat-syarat khusus suatu pekerjaan, lowongan pekerjaan, kecenderungan dan pikiran perkembangan dunia kerja.

11.Hukum, yaitu pengetahuan tentang perundang-undangan baik daerah maupun nasional dan undang-undang ketenagakerjaan.

12.Struktur organisasi,yaitu pengetahuan tentang prosedur operasional dan garis kekuasaan yang ada dilembaga tempat ia bekerja.

13.Program, yaitu pengetahuan tentang kesempatan-kesempatan yang ditawarkan oleh lembaga tempat konselor bekerja.(misalnya untuk mengikuti seminar yang dapat membantu konselor dalam menyusun program untuk kemajuan kegiatan bimbingan dan sebagai masukan ilmu bagi konselor sendiri)

14.Kelompok khusus,yaitu pengetahuan tentang kebutuhan dan ciri-ciri yang dimiliki oleh kelompok-kelompok khusus seperti veteran, wanita, golongan cacat, pemuda, orang lanjut usia, kelompok budaya atau ras tertentu.

15.Supervisi, yaitu pengetahuan tentang latar belakang dan prosedur yang tepat untuk pengawasan.

16.Teknologi alat-alat, yaitu pengetahuan tentang tujuan, fungsi dan kemampuan berbagai alat.

b.Komponen Fungsi

1. Mengadministrasikan, yaitu ketrampilan merencana, mengorganisasi, menyelenggara, menilai, dan menjaga kelangsungan kegiatan.

2. Konseling, yaitu ketrampilan memperhatikan, memahami, berempati dan memprakarsai kegiatan terhadap klien.

3. Mengoperasikan,yaitu ketrampilan memakai alat-alat

4. Meneliti, yaitu ketrampilan merumuskan permasalahan merumuskan dan menguji hipotesis dan menarik kesimpulan dari kenyataan atau data yang diperoleh.

5. Mensupervisi, yaitu ketrampilan merangsang, membimbing dan mengarahkan orang yang berada di bawah pengawasannya.

6. Melatih, yaitu ketrampilan dalam merancang dan menyelenggarakan programbimbingan.

7. Mentes, yaitu ketrampilan mengadministrasikan, mengolah dan menafsirkan hasil-hasil pengukuran.

Komponen isi dan komponen fungsi dapat digolongkan ke dalam kompetensi profesional yang harus dimiliki konselor sekolah, sebab dalam

komponen isi terdapat kemampuan dasar konselor sekolah yang berupa pengetahuan-pengetahuan yang akan memperlancar tugas konselor sekolah. Di dalam komponen fungsi terdapat kemampuan dasar konselor sekolah yang berupa ketrampilan-ketrampilan untuk melaksanakan kegiatan bimbingan. Namun ada beberapa kompetensi yang menurut penulis tidak sesuai dengan mengajar atau melatih. Konselor sekolah tidak memberi pelajaran dan tidak melatih siswa dalam kaitannya dengan suatu bidang studi.

Pada tahun 2005 organisasi profesi konseling Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) menetapkan tujuh kompetensi konselor yaitu:

a. Penguasaan konsep dan praktis pendidikan.

Konselor memahami landasan keilmuan pendidikan, menguasai landasan budaya yang dapat mempengaruhi perilaku individu dan kelompok, sehingga dapat memahami dan menunjukkan sikap penerimaan terhadap perbedaan budaya klien.

b. Kesadaran dan komitmen etika professional.

Konselor juga memiliki keinginan meningkatkan dan memelihara citra profesi, seperti cara berbicara, sikap hidup sehari-hari, penampilan, hubungan antar pribadi. Konselor juga mempunyai keinginan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas keterampilannya dengan mengikuti seminar, lokakarya, symposium, dan membuat karya tulis.

22

c. Pengusaan konsep perilaku dan perkembangan individu.

Konselor mampu memahami orang lain serta konsep dan prinsip-prinsip perkembangan individu.

d. Penguasaan konsep dan praksis asesmen.

Konselor mampu memahami hakikat dan makna asesmen, dapat memilih strategi dan teknik asesmen yang yang tepat sehingga dapat menafsirkan hasilnya. Sehingga hasil asesmen dapat digunakan untuk kepentingan bimbingan dan konseling, seperti memperediksikan perkembangan individu atau kelompok dalam menghadapi perubahan.

e. Penguasaan konsep dan praksis bimbingan dan konseling.

Konselor dapat memahami konsep dasar, azas, fungsi, tujuan, dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Konselor memahami bidang-bidang garapan bimbingan dan konseling. Konselor menguasai pendekatan-pendekatan dan teknik-teknik bimbingan dan konseling. Konselor mampu menggunakan dan mengembangkan media bimbingan dan konseling

f. Memiliki kemampuan mengelola program bimbingan dan konseling. Konselor memiliki pengetahuan dan keterampilan perencanaan program bimbingan dan konseling. Konselor mampu mengorganisasikan dan mengimplementasikan program bimbingan dan konseling. Serta mampu mengevaluasi program bimbingan dan

mampu mendesain perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling.

g. Penguasaan konsep dan praktis riset dalam bimbingan dan konseling. Konselor mampu memahami berbagai jenis dan metode riset, konselor mampu merancang riset bimbingan dan konseling, serta dapat memanfaatkan hasil riset dalam bimbingan dan konseling

Lebih lanjut AKBIN (2005) menguraikan kompetensi professional konselor sebagai berikut :

a. Menguasai konsep prilaku dan perkembangan individu.

Konselor memahami kaidah-kaidah perilaku individu dan kelompok, konselor memahami konsep kepribadian, konselor memahami konsep dan prinsip-prinsip perkembangan individu, dan konselor menfasilitasi perkembangan individu.

b. Penguasaan konsep dan praksis asesmen.

Konselor memahami hakikat dan makna asesmen, konselor mampu memilih strategi dan teknik asesmen yang tepat, konselor mampu mengadministrasikan asesmen dan menafsirkan hasilnya.

c. Penguasaan konsep dan praksis bimbingan dan konseling.

Konselor memahami konsep dasar, landasan, azas, fungsi, tujuan, dan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling, konselor memahami bidang-bidang garapan bimbingan dan konseling, konselor menguasai pendekatan-pendekatan dan teknik-teknik bimbingan dan konseling,

24

konselor mampu menggunakan dan mengembangkan media bimbingan dan konseling.

d. Pengelolaan program bimbingan dan konseling.

Konselor memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam perencanaan program bimbingan dan konseling, konselor mampu mengorganisasikan dan mengimplementasikan program bimbingan dan konseling, konselor mampu megevaluasi program bimbingan dan konseling, konselor mampu mendesain perbaikan dan pengembangan program bimbingan dan konseling. Pada pengelolaan program kompetensi profesional konselor, yang ingin diteliti lebih pada materi bimbingan.

e. Penguasaan konsep dan praksis riset dalam bimbingan dan konseling. Konselor mampu memahami berbagai jenis metode riset, konselor mampu merancang riset bimbingan dan konseling, konselor melaksankan riset bimbingan dan konseling, konselor mampu melaksankan hasil riset dalam bimbingan dan konseling. Dalam riset ini yang ingin diteliti adalah sumber atau landasan ilmu menurut ahli.

Dalam penelitian ini yang menjadi acuan instrumen penelitian adalah kompetensi profesional menurut AKBIN yang berdasarkan PP No 19 Tahun 2005. Tapi untuk aspek pengelolaan program bimbingan konseling dan penguasaan konsep dan praksis riset dalam bimbingan konseling tidak peneliti gunakan, karena menurut peneliti aspek ini tidak dapat

dipersepsikan oleh siswa maka pada aspek ini peneliti mengganti dua aspek tersebut dengan aspek pemilihan materi dan keakuaratan sumber materi bimbingan.

Dokumen terkait