Kompetensi psikofisiologis adalah kemampuan untuk menerapkan sumber-sumber daya psikomotor, kognitif, dan sikap. Kompetensi tersebut kemudian dijabarkan ke dalam keterampilan communication. Keterampilan communication merupakan penjabaran kompetensi psikofisiologis karena dalam keterampilan tersebut terdapat atribut-atribut psikologis seperti rapport (kedekatan) atau clarity (kejelasan). Kompetensi dan keterampilan ini diperlukan oleh penerjemah karena hal-hal tersebut merupakan unsur emosional yang dapat memengaruhi kelancaran proses penerjemahan45.
Penerjemah IH mengakui bahwa beliau mampu mengontrol emosi dengan baik, namun beliau berpendapat bahwa emosi tidak menentukan baik atau buruknya penerjemahan. Pandangan tersebut merupakan sebuah pandangan yang memiliki dua sisi, yang pertama penerjemah IH berusaha mempertahankan sisi profesionalitasnya, yang kedua pernyataan IH merupakan pernyataan yang tidak alamiah, karena mood seseorang tidak dapat ditebak kapan dan bagaimana munculnya serta bagaimana efek yang ditimbulkannya. Sebagai ilustrasi, seorang penerjemah yang dalam keadaan berduka pasti tidak dapat fokus kepada
45 Hal tersebut pernah dibahas oleh Stolze (2011:190) yang menganggap bahwa unsur-unsur emosional dapat menentukan suasana hati (mood) penerjemah. Kasus yang dapat muncul dari rendahnya mood penerjemah adalah penerjemah menolak menerima pesanan penerjemahan tanpa alasan yang profesional.
pekerjaannya, walaupun penerjemah tersebut menjunjung tinggi profesionalitas kerja. Walaupun demikian, pernyataan kontras muncul dari penerjemah IH yang mengaku bahwa beliau akan menolak permintaan untuk menerjemahkan jika perasaan hati beliau sedang tidak baik. Menurut peneliti, hal tersebut lumrah untuk dilakukan, tapi penerjemah IH harus menonjolkan sisi profesionalisme ketika menolak sebuah permintaan penerjemahan, seperti memberi pengertian kepada klien untuk mengundurkan tenggat waktu penerjemahan supaya hasilnya lebih baik. Hal tersebut perlu dilakukan IH agar beliau tidak kehilangan kredibilitasnya sebagai seorang penerjemah profesional.
Lebih khusus, penerjemah IH juga menjelaskan bahwa fee tidak memengaruhi baik atau buruknya proses penerjemahan. Hal ini merupakan sesuatu yang subjektif, namun sudah selayaknya penerjemah IH menghargai profesi penerjemah dengan mendapatkan imbalan yang layak. Oleh sebab itu, HPI atau lembaga pemerintahan (Setneg) menetapkan besaran imbalan dan atau gaji yang terstandardisasi dan layak bagi penerjemah. Serupa dengan permasalahan emosi di paragraf sebelumnya, pernyataan IH memiliki dua sisi, yang pertama masalah profesionalitas, yang kedua masalah fee atau gaji merupakan sesuatu yang bersifat sangat sensitif dan penting bagi orang tertentu. Bahkan menurut Stolze (2011:190), permasalahan mengenai fee atau gaji merupakan faktor penentu mau atau tidaknya seorang penerjemah menerima permintaan menerjemahkan dari agensi atau klien. Dengan demikian, sudah selayaknya IH lebih memperhatikan faktor “harga imbalan” dari pekerjaannya sebagai penerjemah profesional, agar masyarakat awam juga mengetahui bahwa pekerjaan menerjemahkan bukanlah sebuah pekerjaan mudah atau tidak beresiko yang tidak layak dihargai imbalan tinggi.
Bagi penerjemah IH, penerjemahan dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Pekerjaan penerjemahan juga peneliti anggap sebagai sesuatu yang cocok bagi karakter tunanetra karena sifat pekerjaannya yang tidak membutuhkan mobilitas tinggi. Walaupun demikian, penerjemah IH masih merasa bahwa beliau masih memiliki kekurangan dalam hal manajemen waktu.
Manajemen waktu yang baik merupakan sebuah atribut profesional yang tidak
hanya harus dimiliki oleh seorang penerjemah tetapi bagi setiap pekerja profesional. Bagi seorang penerjemah, kedisiplinan pada jadwal merupakan hal yang krusial. Dalam sebuah penerjemahan, terdapat langkah-langkah ideal yang harus ditempuh oleh penerjemah, misalnya a) analysis, b) transfer, dan c) restructuring (Bassnett, 2002:25) atau a) establishing a project, b) exegesis, c) transfer and initial draft, d) evaluation, e) revised draft, f) consultation, dan f) final draft (Larson, 1984:476). Kedisiplinan untuk mengikuti langkah-langkah tersebut dapat membantu penerjemah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Sebagai contoh, penerjemah yang mengevaluasi dan merevisi draft TSa-nya pasti akan memiliki terjemahan akhir yang lebih baik daripada yang tidak, karena penerjemah yang mengikuti proses penerjemahan yang ideal akan memiliki proses pemikiran yang lebih panjang dan dalam dibandingkan dengan yang tidak.
Kekurangan dalam hal manajemen waktu juga diperuncing dengan pernyataan beliau tentang baik buruknya kualitas terjemahan juga dipengaruhi oleh tenggat waktu. Walaupun IH menjelaskan bahwa beliau dapat bekerja dalam tekanan tenggat waktu dan tidak pernah bergantung pada Machine Translation (Google Translate) untuk menerjemahkan sebuah teks, supaya menghasilkan terjemahan yang berkualitas, IH harus memiliki kedisiplinan terhadap manajemen waktu agar terhindar dari “menerjemahkan asal-asalan atau bergantung pada Machine Translation pada saat mendekati tenggat waktu”.
Dalam konteks unsur psikologis penerjemah, penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa ibu dianggap lebih mudah dibandingkan yang terjadi sebaliknya46. Hal tersebut juga dialami oleh IH yang menganggap penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia merupakan sesuatu yang lebih disukainya. Preferensi tersebut merupakan sesuatu yang wajar bagi penerjemah, namun penerjemah tidak boleh kebablasan menentukan pekerjaan yang hanya disukainya saja, misalnya penerjemah khusus bahasa Inggris ke Indonesia. Meskipun IH menyukai
46 Mengingat penerjemah IH adalah pembelajar bahasa kedua (second language learner), pernyataan peneliti sejalan dengan pernyataan Selinker (Dalam Lörscher, 2012:9) yang berbunyi
“second language learners do not normally acquire the full competence of target language (foreign language) but an interlanguage system sharing features of the native and the second language”
penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa ibu, beliau mengaku pernah mengalami perasaan putus asa ketika menerjemahkan. Hal tersebut dirasakannya ketika beliau tidak mampu mencari kata dalam sebuah kamus. Ketidakmampuan beliau bersumber dari dua hal, entri kamus yang terbatas atau keterbatasan piranti lunak JAWS dalam mengakses kamus. Oleh sebab itu, determinasi, keinginan yang kuat, dan menjauhi perasaan hati (mood) yang buruk harus selalu dijaga.
Beruntung, penerjemah IH mengaku bahwa beliau adalah orang yang baik dalam mengatur emosi, terlebih lagi dalam situasi ketika beliau mengalami perasaan putus asa.