[1] PENDEKATAN METODA PERILAKU
1.3 Rangkuman Proses Penerjemahan Penerjemah Tunanetra
Dari penugasan pertama dan kedua yang dilakukan oleh IH dan SRT, peneliti dapat mengidentifikasi beberapa temuan sebagai berikut.
Tabel 4.6 Fase Penerjemahan Penerjemah Tunanetra
IH SRT
Teks Disabilitas
Fase Waktu Fase Waktu
Transfer 01:23:04 Analysis 05.09
Transfer 02:47:09
Restructuring 07:08 Teks Psikologi
Fase Waktu Fase Waktu
Transfer 01:20:38 Transfer 02:17:11
Restructuring 03:19
Dari penugasan penerjemahan pertama, peneliti dapat mengidentifikasi bahwa penerjemah IH hanya mengaplikasikan satu fase penerjemahan saja, yaitu fase transfer. Sedangkan SRT dalam penugasan pertama mengaplikasikan tiga fase penerjemahan. Di penugasan penerjemahan kedua, penerjemah IH konsisten untuk hanya mengaplikasikan fase transfer saja, sedangkan SRT tidak menerapkan fase analysis.
Terdapat sebuah asumsi bahwa peneliti menghadapi dua karakter penerjemah tunanetra. Karakter yang pertama adalah penerjemah yang bersedia mengungkapkan atau merefleksikan kegiatan penerjemahan senatural mungkin seperti yang biasa dilakukan tanpa adanya kehadiran peneliti. Karakter kedua adalah penerjemah yang menjaga reputasinya sebagai penerjemah karena terdapat orang yang mengawasi di dekatnya. Karakter yang kedua ini acapkali muncul dalam sebuah penelitian partisipatori yang membutuhkan kehadiran peneliti dalam seting penelitian. Fenomena tersebut biasa disebut dengan observer’s paradox50.
50 Labov (1972:209) menggambarkan Observer’s paradox sebagai sebuah tindakan dari objek penelitian yang tidak natural karena kehadiran peneliti di dekatnya. saat itu, Labov membutuhkan data ragam vernakular dari objek yang diteliti, namun karena mengetahui ujarannya akan diteliti, objek penelitian menjadi kikuk dan/atau waspada dan alih-alih mendapatkan ragam vernakular, objek penelitian menggunakan ragam formal dalam ujarannya.
Karakter yang pertama merupakan representasi dari penerjemah IH dan karakter kedua merupakan representasi penerjemah SRT.
Menurut peneliti, asumsi bahwa penerjemah IH mencoba menampilkan gambaran penerjemahan secara nyata muncul dari pernyataan di wawancara yang menyebutkan bahwa beliau tidak akan membaca teks terlebih dahulu apabila dihadapkan dengan deadline (KKTP/W/T35/APP19). Peneliti menganggap bahwa waktu satu hari yang digunakan oleh peneliti berfungsi sebagai deadline bagi IH.
Sedangkan untuk penerjemah SRT, asumsi bahwa beliau menjaga reputasinya muncul karena inkonsistensi dari penugasan pertama dan kedua. Ketika SRT menerjemahkan teks disabilitas dan menghabiskan cukup banyak waktu menerjemahkannya, peneliti menganggap bahwa beliau memutuskan untuk melakukan efisiensi waktu di penerjemahan teks psikologi dengan cara menghilangkan fase analysis.
Peneliti berasumsi bahwa dalam kondisi penerjemahan nyata, pengacuhan SRT terhadap fase analysis mungkin saja terjadi. Hal tersebut dapat terjadi karena pada kenyataannya fase analysis SRT berlangsung cukup singkat, bahkan lebih singkat dibandingkan fase restructuring. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa fase analysis dianggap oleh SRT sebagai sebuah fase yang bersifat optional dan kurang memiliki pengaruh terhadap kualitas terjemahan yang dihasilkan, sehingga wajar-wajar saja jika dalam kondisi tertentu fase analysis tidak diaplikasikan oleh SRT.
Lebih lanjut, penerjemah SRT juga terlihat kurang memanfaatkan fase restructuring untuk mengoreksi terjemahannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dari menurunnya catatan waktu dan frekuensi yang digunakan SRT untuk fase restructuring. Fenomena itu membuktikan bahwa inti penerjemahan penerjemah tunanetra, baik IH dan SRT, ada pada fase transfer.
Tabel 4.7 Statistik Proses Penerjemahan
IH SRT
Teks Disabilitas Waktu menerjemahkan
77m 13s 148m 27s
Rata-rata penerjemahan per kalimat
6m 33s 11m 48s
Teks Psikologi Waktu menerjemahkan
75m 36s 116m 36s
Rata-rata penerjemahan per kalimat
5m 2s 8m 15s
Dari tabel 4.7 di atas dapat terlihat sebuah pola bahwa penerjemah tunanetra membutuhkan waktu lebih lama untuk menerjemahkan teks disabilitas dibandingkan teks psikologi. Hal tersebut merupakan temuan yang menarik mengingat kedua penerjemah memahami dan menggeluti isu-isu tentang disabilitas. Namun, temuan tersebut juga dapat diterima mengingat tingkat keterbacaan (readability) dari teks disabilitas lebih tinggi dibandingkan teks psikologi (20.5 dibanding 15).
Dari tabel 4.7, peneliti mengidentifikasi perbedaan (gap) waktu antara IH dan SRT yang mencapai lebih dari tiga puluh (30) menit di setiap penugasan.
Dalam ilmu penerjemahan, Pym (2009:153) memiliki asumsi bahwa semakin lama waktu yang digunakan penerjemah untuk menganalisis, berkonsultasi, dan merevisi terjemahan maka semakin baik hasilnya, akan tetapi penerjemah profesional juga terpaku pada tenggat waktu yang ada. Dengan demikian, faktor efektivitas waktu penerjemahan harus diperhatikan. Dari sisi efektivitas, IH terlihat lebih konsisten, konsisten dari sisi aplikasi fase penerjemahan dan dari sisi jumlah waktu yang digunakan di dua penugasan. Oleh Mossop (2000:44), konsistensi ini membuat IH disebut sebagai penerjemah tipe “watercolorists (minimal planning, some reviewing while drafting)”.
Tabel 4.8 Waktu Penerjemahan Tiap Kalimat
Tabel 4.9 Karakter Kalimat di Waktu Penerjemahan Terlama
IH SRT
Teks Disabilitas
Kalimat Statistik Kalimat Kalimat Statistik Kalimat 6 192 karakter
Teks Psikologi
Kalimat Statistik Kalimat Kalimat Statistik Kalimat 10 287 karakter
101 silabel 50 kata
x6 karakter/kata
10 287 karakter 101 silabel 50 kata
x6 karakter/kata
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa waktu penerjemahan terlama SRT mencapai dua kali dari waktu terlama IH. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan seperti: Apakah kemampuan penerjemahan IH lebih baik daripada SRT? Apakah kualitas terjemahan SRT lebih baik dari terjemahan IH? Apakah waktu penerjemahan berhubungan dengan kualitas terjemahan penerjemah tunanetra? Hal-hal tersebut dibahas lebih detil pada bagian selanjutnya (bagian 2).
Satu hal yang patut digaris bawahi dari fenomena waktu penerjemahan terlama kedua penerjemah adalah karakteristik kalimat. Berdasarkan karakteristik kalimat di waktu penerjemahan terlama, peneliti mendapati sebuah pola yang jelas, yaitu pola rata-rata jumlah karakter per kata yang mencapai jumlah enam (6) karakter per kata. Jumlah tersebut mungkin menyulitkan penerjemah karena mereka menggunakan sumber suara dari JAWS sebagai alat bantu mereka. Kedua penerjemah mungkin tidak menyadari hal tersebut, akan tetapi mungkin saja mereka mengalami disorientasi akibat pembacaan kata dengan enam karakter51.
2. Kesulitan, Strategi, dan Teknik Penerjemahan Penerjemah Tunanetra