• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM

B. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan

Selama ini, pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan di Indonesia dilakukan oleh dua lembaga, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Badan Pengawasan Pasar Modal dan sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan lain-lainnya. Pembentukan OJK ini mengakibatkan kewenangan-kewenangan tersbut beralih dari BI dan Bapepam-LK ke OJK, sehingga BI hanya memiliki kewenangan di bidang kebijakan moneter saja, sedangkan Bapepam-LK lebur menjadi OJK dan tidak lagi di bawah Kementrian Keuangan.8

UU OJK sebagai dasar hukum pembentukan Lembaga Otoritas Jasa Keuangan pada dasarnya memuat ketentuan tentang organisasi dan tata kelola (governance) dari lembaga yang memiliki otoritas pengaturan dan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan. Sedangkan ketentuan mengenai jenis-jenis produk jasa keuangan, cakupan dan batas-batas kegiatan lembaga jasa keuangan, kualifikasi dan kriteria lembaga jasa keuangan, tingkat kesehatan dan pengaturan prudensial serta ketentuan tentang jasa penunjang sektor jasa keuangan dan lain

7Muhammad Fahmi Fahrurrodzi, “Akad Pembiayaan Murabahah Dan Musyarakah Pada Perbankan Syariah Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Kesesuaian Dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018), h.,45

8 Hesty D. Lestari, “Otoritas Jasa Keuangan: Sistem Baru Dalam Pengaturan dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan”, Jurnal Dinamika Hukum, Vol 12, (2012), h., 557.

sebagainya yang menyangkut tentang jasa penunjang sektor jasa keuangan diatur dalam undang-undang sektor tersendiri.9

Pembentukan lembaga OJK ada dari Undang-undang No.7 Tahun 1997, Undang-undang No. 23 Tahun 1999, dan diperbarui dengan Undang-undang No. 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia pada Pasal 34 Ayat 1 (1) dan (2) yang mengharuskan adanya suatu lembaga independen untuk mengawasi bidang perbankan di Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa Undang-undang Bank Indonesia melahirkan Undang-undang Otoritas Jasa Keuangan.10

OJK dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan yang telah diresmikan pada 16 Juli 2012. Ada lima langkah yang dilalui OJK, Sebelum pada akhirnya OJK menjalankan seluruh rangkaian tugasnya secara menyeluruh, antara lain:11

a. 15 Agustus 2012 dibentuk Tim Transisi OJK Tahap I yang bertugas untuk membantu para Dewan Komisioner OJK dalam melaksanakan tugas.

b. 31 Desember 2012, OJK secara efektif beroprasi dengan cakupan tugas Pengawasan Pasar Modal dan Industri Keuangan Non-Bank.

c. 18 Maret 2013, dibentuk Tim Transisi OJK Tahap II yang bertugas membantu Dewan Komisioner OJK yang melaksanakan pengalihan fungsi, tugas dan wewenang Pengaturan dan Pengawasan dan Pengawasan Perbankan dari BI.

9 Rudy Hendra Pakpahan, “Akibat Hukm Dibentuknya Lembaga Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Pengawasan Lembaga Keuangan di Indonesia,” Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 9, No 3, (Oktober 2012), h., 416

10 M. Jeffri Arlinandes Chandra, “Kewenangan Bank Indonesia dalam Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Setelah Terbitnya Undang-undang No. 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan”, Jurnal Hukum Sehasen, Vol 1, No. 1 (2015), h. 33

11 www.cermati.com, Mengenal OJK: Sejarah, Fungsi dan Kebijakan Strategi Terkini, (diakses 31 Oktober 2019)

40

d. 31 Desember 2013, OJK sepenuhnya menjalani tugasnya dalam mengawasi kinerja Perbankan.

e. 01 Januari 2015, OJK mulai meluaskan pengawasannya ke industry Non-Bank, yaitu Pengaturan dan Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Visi OJK adalah menjadi lembaga pengawas industry jasa keuangan yang terpercaya, melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat dan mampu mewujudkan industry jasa keuangan menjadi pilar perekonomian nasional yang berdaya saing global serta dapat memajukan kesejahteraan umum. Sedangkan Misi OJK adalah;

mewujudkan terselenggaranya seluruh kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel. Mewujudkan system keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.

Melimdungi kepentingan konsumen dan masyarakat.12

OJK diawasi oleh DPR, dalam hal ini, Komisi XI. Sebagai bagian dari akuntabilitas publik, OJK wajib menyusun laporan keuangan yang terdiri atas laporan keuangan tiga bulanan, semester dan tahunan.

Laporan ini akan berikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan DPR.

Selain itu OJK juga wajib menyusun laporan kegiatan yang terdiri atas laporan kegiatan bulanan, triwulanan, dan tahunan.13

Dengan pembentukan OJK, maka lemabaga ini diharapkan dapat mendukung kepentingan sektor jasa keuangan secara menyeluruh sehingga meningkatkan daya saing perekonomian. Selain itu, OJK harus mampu menjaga kepentingan nasioanl. Antara lain meliputi sumber daya manusia, pengelolaan, pengendalian, dan kepemilikan di sektor jasa keuangan dengan tetap mempertimbangkan aspek positif globalisasi.

OJK dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik,

12 www.ojk.go.id (diakses pada tanggal 13 November 2019)

13 www.ojk.go.id (diakses pada tanggal 13 November 2019)

yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparansi, dan kewajaran (fairness).14

Dalam menjalankan tugas dan wewenang Otoritas Jasa Keuangan berlandaskan asas-asas sebagai berikut:15

1. Asas independensi, yakni idependen dalam pengembalian keputusan dan pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang OJK, dengan tetap sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2. Asas kepastian hukum, yakni asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundangan-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyenggaraan Otoritas Jasa Keuangan;

3. Asas kepentingan umum, yakni asas yang membela dan melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat serta memajukan kesejahtraan umum;

4. Asas keterbukaan, yakni asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi dan golongan, serta rahasia negara, termasuk rahasia sebgamana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;

5. Asas profesionalitas, yakni asas yang mengutamakan keahlian dalam pelaksanaan tugas dan wewenang Otoritas Jasa Keuangan, dengan tetap berlandaskan pada kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan;

14 www.ojk.go.id (diakses pada tanggal 13 November 2019)

15 www.ojk.go.id (diakses pada tanggal 13 November 2019)

42

6. Asas integritas, yakni asas yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil dalam penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan;

7. Asas akuntabilitas, yakni asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari setiap kegiatan penyelenggaraan Otoritas Jasa Keuangan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

43 BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Persamaan dan Perbedaan Pengaturan Perundang-Undangan Asuransi Syariah Pada Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK)

Dalam bagian ini penulis akan menganalisis masalah yang ada pada masing-masing klausul dari persamaan dan perbedaan pada peraturan asuransi syariah dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 69/POJK.05/2016 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Reasuransi Syariah.

1. Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Tabel 1.1

Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (BAB I, Ketentuan Umum, Pasal 20, Angka 26)

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 69 tahun 2016 (BAB I, Ketentuan Umum, Pasal 1, Angka 3)

Ta’min/asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, yang pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan

Perusahan Asuransi Syariah adalah perusahaan asuransi umum syariah dan perusahan asurnasi jiwa syariah sebagai mana dimaksud dalam

Undang-44

keuntungan yang diharapkan, atau tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.

Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

Asuransi Syariah adalah kumpulan perjanjian yang terdiri atas perjanjian antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian diantara para pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi.

Tabel di atas menjelaskan definisi asuransi syariah dalam dua Peraturan Perundang-undangan Tentang Asuransi Syariah pada Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK). Dalam KHES Pasal 20 Angka 26 dan POJK Pasal 1 Angka 3 yang menjelaskan definisi dari asuransi syariah. Kedua regulasi asuransi syariah tersebut terdapat perbedaan redaksi yang berbeda. Pada KHES menggunakan kata “pihak penanggung dan tertanggung” sedangkan pada POJK “perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian di antara para pemegang polis”.

Istilah penanggung dan tertanggung digunakan pada asuransi konvensional, seperti yang sudah diatur dalam 2 (dua) peraturan perundang-undangan yaitu :

a. Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 2461

“Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian, di mana penanggung mengikat diri terhadap tertanggung dengan

1 Lihat Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Pasal 246

memperoleh premi, untuk memberikan kepadanya ganti rugi karena suatu kehilangan, kerusakan, atau tidak mendapat keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dapat diderita karena suatu peristiwa yang tidak pasti”

b. Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian Pasal 1 angka (1) huruf a dan b2

“a. memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian,….”

“b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung….”

Penanggung dalam asuransi merupakan pihak perusahaan asuransi yang memberikan polis asuransi kepada tertanggung.

Sedangkan tertanggung merupakan priadi kodrati atau pribadi hukum yang akan menerima polis asuransi dan menerima penggantian kerugian atas sesuatu risiko yang dipertanggungkan sesuai polis asuransi yang diterima.3 Sedangkan definisi asuransi syariah yang tertuang dalam POJK tidak menggunakan istilah “penanggung dan tertanggung”, melainkan dengan istilah “perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian diantara para pemegang polis”.

menurut ahli fiqih, seperti Wahbah Az-Zuhaili, mendefinisikan asuransi syariah sebagai at-tamin at-taawuni (asuransi yang bersifat tolong menolong), yaitu kesepakatan beberapa orang untuk membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi ketika salah satu seorang diantara

2 Lihat Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian Pasal 1 angka (1) huruf a dan b

3 S. Saiful Abdullah dkk, Penerapan Hukum Asuransi Kerugian Terhadap Perlindungan Resiko E-Commerce Berbasis Portal (Jakarta: PT. Mandiri Nirizindo Utama,2018), h., 9-10

46

mereka ditimpa musibah. Musibah itu dapat berupa kematian , kecelakaan, sakit, kecurian, kebakaran atau bentuk-bentuk kerugian lainnya.4

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Pasal 1 angka 2 Tentang Perasuransian menjelaskan bahwa “pemegang polis dan perjanjian diantara para pemegang polis” istilah ini digunakan dalam Asuransi Syariah, dan definisi yang tertuang dalam POJK mengenai Asuransi Syariah menggunakan definisi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian. Selanjutnya, pada Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian bahwa

“Prinsip Syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perasuransian berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.”5, dalam hal ini lembaga yang berwenang menerbitkan Fatwa adalah Dewan Syariah Naional Majelis Ulama Indonesia.

Di dalam POJK berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian, definisi asuransi syariah dalam pengelolaan kontribusinya berdasarkan prinsip syariah dan memiliki sifat yang saling tolong menolong dan melindungi. Seperti yang di jelaskan dalam Fatwa DSN-MUI asuransi syariah (Ta’min, Takaful atau Tadamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariah.6

4 Khoiril Anwar, Asuransi Syariah Halal dan Maslahat, (Solo: Tiga Serangkai, 2007), h., 19.

5 Lihat Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian Pasal 1 angka 3.

6 Lihat Fatwa DSN-MUI No. 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Berdasarkan penjelasan diatas dalam ketentuan definisi pada asuransi syariah, bahwasannya istilah “tertanggung” dan “penanggung”

tidak digunakan pada definisi asuransi syariah. Karena istilah tersebut pada umumnya digunakan pada asuransi konvensional. Pada asuransi syariah yang digunakan adalah “perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian di antara para pemegang polis”

sebagaimana hubungan hukum antara peserta dan perusahaan dituangkan dalam polis.

Tabel 1.2

Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (BAB XX, Ta’min)

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69 tahun 2016

Pasal 548

Akad yang digunakan pada ta’min dan I’adah ta’min adalah :

a. Wakalah bil ujrah.

b. Mudharabah; dan c. Tabaru’.

Pasal 54

(1) Polis asuransi syariah dan perjanjian reasuransi syariah wajib mengandung Akad Tabarru’ dan Akad Tijarah.

(2) Polis anuitas syariah untuk program pension wajib mengandung akad Hibah Tanahud dan Akad Tijarah.

(3) Akad Tijarah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berupa Akad Wakalah bil Ujrah, Akad Mudharabah,

48

dan/atau Akad Mudharabah Musytarakah.

(4) Penggunaan salah satu Akad Tijarah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilakukan secara konsisten sampai berakhirnya polis asuransi syariah.

(5) Dalam hal disepakati perusahaan Akad Tijarah, penggunaan Akad Tijarah yang baru hanya dapat diterapkan pada polis asuransi syariah yang baru.

(6) Dalam hal perubahan Akad Tijarah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) terjadi untuk pengelolaan investasi Dana Tabarru’

atau Dana Tanahud, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi syariah, atau Unit Syariah wajib memisahkan Dana Tabarru’

atau Dana Tanahud yang dikelola berdasarkan Akad Tijarah yang lama dari Dana Tabarru’ atau Dana Tanahud yang dikelola

berdasarkan Akad Tijarah yang baru.

(7) Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi syariah, atau Unit Syariah dapat menggunakan Akad Tijarah dalam rangka pengelolaan investasi dari Dana Tabarru’ atau Dana Tanahud yang berbeda dengan Akad Tijarah dalam rangka kegiatan lain.

(8) Berdasarkan Akad Wakalah bil Ujrah, Akad Mudharabah, dan Akad Mudharabah Musytarakah, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi syariah, atau Unit Syariah wajib menanggung seluruh kerugian yang terjadi dalam kegiatan pengelolaan risiko dan/atau kegiatan pengelolaan investasi yang diakibatkan oleh kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau wanprestasi yang dilakukan Perusahaan Asuransi Syariah,

50

Perusahaan Reasuransi syariah, atau Unit Syariah.

Tabel diatas menjelaskan akad-akad yang digunakan pada asuransi syariah. Dalam KHES Pasal 548 dan POJK Pasal 54 yang menjelaskan tentang akad yang digunakan pada asuransi syariah.

Dalam POJK asuransi syariah menggunakan akad sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 54 ayat (1) yaitu “polis asuransi syariah dan perjanjian reasuransi syariah wajib mengandung Akad Tabarru’ dan Akad Tijarah”. Akad Tijarah sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 54 ayat (3) adalah “Akad Tijarah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berupa Akad Wakalah bil Ujrah, Akad Mudharabah, dan/atau Akad Mudharabah Musytarakah.” Namun pada KHES akad yang digunakan adalah wakalah bil Ujrah, Mudharabah, dan Tabarru’. Dan pada POJK menjelaskan secara rinci keterangan-keterangan akad apa saja yang digunakan dalam asuransi syariah pada Pasal 54

Terlihat bahwa KHES tidak mencantumkan akad

“Mudharabah Musytarakah” pada klausul akad. Pada umumnya akad yang digunakan pada Asuransi Syariah adalah Akad Tijarah dan akad Tabarru’. Untuk akad Tijarah dan akad Tabarru’ ini, ada beberapa akad yang mengikuti dalam pelaksanaannya. akad-akad tersebut meliputi7 Akad Wakalah bil Ujrah, Akad Mudharabah, Akad Mudharabah Musytarakah.

Akad mudharabah adalah akad kerja sama yang memberikan kuasa kepada perusahaan sebagai mudharib untuk mengelola investasi dana tabarru’ dan/atau dana investasi peserta, sesuai kuasa atau

7 Junaidi Abdullah, “Akad-Akad di dalam Asuransi Syariah”, Jurnal of Sharia Economic Law, Vol. 1, No. 01, (Maret 2018), h., 18

wewenang yang diberikan, dengan imbalan berupa bagi hasil (nisbah) yang besarnya telah disepakati sebelumnya.8

Akad mudharabah musytarakah adalah akad kerja sama yang memberikan kuasa kepada perusahaan sebagai mudharib untuk mengelola investasi dana tabarru’ dan/atau dana investasi peserta, yang digabungkan dengan kekayaan perusahaan, sesuai kuasa atau wewenang yang diberikan, dengan imbalan berupa bagi hasil (nisbah) yang besarnya ditentukan berdasarkan komposisi kekayaan yang digabungkan dan telah disepakati sebelumnya.9

Jika dilihat akad mudharabah dan mudharabah musytarakah tidak dapat di gabungkan karena terlihat sedikit ada yang berbeda dari segi pengertian. Dalam hal ini dapat di lihat bahwa akad mudharabah musytarakah menjelaskan bahwa hasil kekayaan peserta yang bekerja sama dengan perusahaan dapat digabungkan. Hal ini mengakibatkan KHES tidak sesuai dengan akad Asuransi Syariah saat ini, maka pada bagian ini KHES tidak update dengan perkembangan akad yang digunakan dalam praktik Asuransi Syariah.

8 Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and General): Konsep dan Sistem Operasional, (Jakarta: Gema Insani Press, 2014), h., 337

9 Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and General): Konsep dan Sistem Operasional, (Jakarta: Gema Insani Press, 2014), h., 337

52

Tabel 1.3

Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (BAB XX, Ta’min)

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69 tahun 2016

Pasal 551

Akad wakalah bil ujrah harus mencantumkan, antara lain :

a. Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan.

b. Besaran, cara dan waktu pemotongan ujrah fee dari premi.

c. Syarat yang disepakati, sesuai dengan jenis ta’min yang ditransaksikan.

Pasal 57 (2)

Akad wakalah bil ujrah wajib memuat paling sedikit sebagai berikut :

a. Objek/kegiatan yang dikuasakan

pengelolaannya;

b. Hak dan kewajiban pemegang polis atau peserta secara kolektif dan/atau pemegang polis atau peserta secara individu sebagai muwakkil (pemberi kuasa);

c. Hak dan kewajiban Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau Unit Syariah sebagai wakil (penerima kuasa);

d. Batasan kuasa atau wewenang yang diberikan pemegang polis atau peserta kepada Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau Unit Syariah;

e. Besaran, cara, dan waktu pemotongan ujrah (fee) dan;

f. Ketentuan lain yang disepakati.

Berikut ini pada KHES pasal 551 dan POJK Pasal 57 ayat (2) menjelaskan ketentuan yang sama yang ada pada klausul akad Wakalah bil Ujrah namun terlihat adanya perbedaan. Jika dilihat pada pasal 57 ayat (2) mencantumkan istilah muwakkil (pemberi kuasa) dan wakil (penerima kuasa). Pada istilah tersebut berkaitan dengan rukun dan syarat pada wakalah, yaitu dengan adanya syarat-syarat muwakkil (yang mewakilkan), syarat-syarat wakil (yang mewakili), dan Hal-hal yang diwakilkan.10

Menurut kelompok Hanafiah, rukun wakalah itu hanya ijab qabul, akan tetapi jumhur ulama tidak memiliki pendapat yang serupa, mereka berpendirian bahwa rukun dan syarat wakalah Sekurang-kurangnya terdapat empat rukun yaitu pihak pemberi kuasa (muwakkil),

10 Lihat Fatwa DSN No: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah

54

pihak penerima kuasa (wakil), obyek yang dikuasakan (tawkil) dan ijab qabul (sigat).11

Wakalah bil Ujrah dalam praktiknya di asuransi syariah yaitu peserta dengan perusahaan atau dalam istilah syariah adalah wakil dengan muwakkil. Dalam kedua peraturan tersebut terlihat bahwa POJK lebih menjelaskan secara rinci dalam hak dan kewajiban dari masing-masing yaitu hak dan kewajiban muwakkil dan wakil. Sedangkan dalam KHES tidak seperti yang tertuang dalam POJK.

Tabel 1.4

Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (BAB XX, Ta’min,

Akad Mudharabah

Musytarakah Ta’min dan I’adah Ta’min)

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69 tahun 2016

Pasal 555

Dalam transaksi mudharabah musytarakah harus disebutkan paling sedikit:

disepakati, sesuai dengan

Pasal 59 (2)

Akad Mudharabah Musytarakah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memuat paling sedikit sebagai berikut:

a. Hak dan kewajiban pemegang polis atau peserta secara kolektif dan/atau pemegang polis atau peserta secara

11 Hendi Suhendi, Fiqh Mamalah, (Jakarta : Grafindo Persada, 2010), h,. 234

produk ta’min yang ditransaksikan.

individu sebagai polis atau peserta secara individu sebagai shahibul maal (pemilik dana);

b. Hak dan kewajiban Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau unit syariah sebagai mudharib (pengelola dana)

c. Batasan wewenang yang diberikan pemegang polis atau peserta kepada Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau Unit Syariah;

d. Cara dan waktu penentuan besar kekayaan pemegang polis atau peserta dan kekayaan Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi Syariah, atau Unit Syariah;

e. Bagi hasil (nisbah), cara, dan waktu pembagian hasil investasi; dan

56

f. Ketentuan lain yang disepakati.

Pada table ini adanya perbedaan pada rincian ketentuan dalam pasal 555 KHES dengan Pasal 59 ayat (2) yang mengatur hal yang sama. Dalam POJK Pasal 59 ayat (2) menjelaskan hak dan kewajiban dari shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dana), namun pada KHES tidak dijelaskan.

Istilah shahibul maal dan mudharib jika di telaah istilah tersebut digunakan pada beberapa akad mudharabah. Mudharabah adalah suatu transaksi pembiayaan yang melibatkan sekurang-kurangnya dua pihak, yaitu:12

a. Pihak yang memiliki dan menyediakan modal guna membiayai proyek atau usaha yang memerlukan pembiayaan; pihak tersebut disebut shahib al-maal (atau shahibul maal) atau rabb al-mal (atau rabb-ul mal).

b. Pihak pengusaha yang memerlukan modal dan yang bertugas menjalankan proyek atau usaha yang dibiayai dengan modal dari shahib al-mal (atau shahibul maal) tersebut; pihak tersebut disebut mudharib.

Jadi di dalam praktik asuransi syariah jika perusahaan asuransi syariah menggunakan akad mudharabah maka para pihaknya adalah peserta dengan perusahaan atau dalam syariah yaitu Shahibul maal dan mudharib. Namun dalam KHES tidak menyebutkan para pihaknya.

12 Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah Produk-Produk dan Aspek-Aspek Hukumnya, (Jakarta: Prenadamedia Grup, 2015), h., 308

Tabel 1.5

Persamaan regulasi pada pengaturan Asuransi Syariah dalam KHES dan POJK

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (BAB XX, Ta’min, Akad Non Tabungan Ta’min dan I’adah Ta’min)

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69 tahun

a. Hak dan kewajiban masing-masing peserta secara individu;

b. Hak dan kewajiban antara peserta secara individu dalam akun non tabungan selaku peserta dalam arti badan/kelompok

c. Cara dan waktu pembayaran premi dan klaim; dan

d. Syarat-syarat lain yang disepakati sesuai dengan jenis ta’min yang ditransaksikan.

Pasal 56 (2)

Akad Tabarru’ yang digunakan dalam polis asuransi syariah sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) wajib memuat paling sedikit sebagai berikut:

a. Kesepakatan para pemegang polis atau peserta untuk tolong menolong (ta’awuni); peserta secara kolektif dalam kelompok;

d. Cara dan waktu pembayaran kontribusi;

58

e. Cara dan waktu pembayaran

santunan/klaim;

f. Ketentuan mengenai boleh atau tidaknya kontribusi ditarik kembali

f. Ketentuan mengenai boleh atau tidaknya kontribusi ditarik kembali

Dokumen terkait