• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan hasil dari kesimpulan yang sudah penulis tuangkan di bab ini, maka perlu adanya saran diantaranya sebagai berikut:

1. bagi para Stakeholder perlu adanya pertemuan yang membahas kembali mengenai Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES), dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, agar tidak terjadinya disharmonisasi dan dapat menyempurnakan Hukum Materiil di Peradilan Agama.

2. bagi akademisi dan pembaca diharap agar nantinya ada penelitian selanjutnya yang lebih terperinci agar tidak terjadi tumpang tindih dan kekosongan hukum.

76

DAFTAR PUSTAKA A. Buku dan Literature

Abdullah, Junaidi, “Akad-Akad di dalam Asuransi Syariah”, Jurnal of Sharia Economic Law, Vol. 1, No. 01, Maret 2018.

Abdullah, S. Saiful, dkk, Penerapan Hukum Asuransi Kerugian Terhadap Perlindungan Resiko E-Commerce Berbasis Portal, Jakarta: PT.

Mandiri Nirizindo Utama,2018.

Aelman, Laurensius, Lembaga-Lembaga Negara Independen, Yogyakarta:

Deepublish, 2019.

Ahmadi, Fahmi Muhammad dan Jaenal Aripin, Metode Penelitian Hukum, Ciputat: Lembaga Penelitian, 2010.

Ali, AM. Hasan, Asuransi dalam Prespektif Hukum Islam: Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis, dan Praktis, Jakarta: Jakarta Kecana, 2004.

Ali, Zaenuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Amrin, Abdul, Asuransi Syariah (Keberadaan dan Kelebihannya Ditengah Asumsi Konvensional), Jakarta: PT. Gramedia, 2006.

Anwar, Khoiril, Asuransi Syariah Halal dan Maslahat, Solo: Tiga Serangkai, 2007.

Astanti, Dhian Indah dan Subaidah Ratna Juita, “Kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Melakukan Fungsi Pengawasan pada Lembaga Perbankan Syariah” Jurnal Law and Justice, Vol 2, No 2, Oktober, 2017.

Chandra, M. Jeffri Arlinandes, “Kewenangan Bank Indonesia dalam Pengaturan dan Pengawasan Perbankan Setelah Terbitnya Undang-undang No. 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan”, Jurnal Hukum Sehasen, Vol 1, No. 1, 2015.

Dewi, Gemala. Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan dan Perasuransian di Indonesia. Depok: Kencana, 2017.

Efendi, Jonaedi dan Johnny Ibrahim, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Depok: Prenadamedia Group, 2018.

Effendi, Arif. “Asuransi Syariah Di Indonesia (Studi Tentang Peluang ke Depan Industri Asuransi Syariah)”. Wahana Akademika. Vol 3, 2016.

Fahrurrodzi, Muhammad Fahmi, “Akad Pembiayaan Murabahah Dan Musyarakah Pada Perbankan Syariah Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Kesesuaian Dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia”, Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.

Fajar, Mukti dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum-Normatif dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Fidhayanti, Dwi, “Pelaksanaan Akad Tabarru’ Pada Asuransi Syariah (Studi di Takaful Indonesia Cabang Malang), Jurisdictie, Jurnal Hukum dan Syariah, Vol. 3, No. 1, Juni 2012.

Goesniadhie, Kusnu. “Harmonisasi Sistem Hukum: Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik”. Jakarta : Nasa Media, 2010.

78

Hadi, Ahmad Chairul, Hukum Asuransi Syariah: Konsep Dasar, Aspek Hukum, dan Sistem Operasionalnya, Ciputat: UIN Press, 2015.

Hakim, M. Arif, “Analisis Aplikasi Akad Tabarru’ dalam Asuransi Syariah:

Studi Kasus AJB Bumiputera 1912 Syariah Cabang Kudus”, Jurnal Muqtasid, Vol. 3, No. 2, Desember 2012.

Hisamuddin, Nur dan Delon Wira Tri Manggala, Implementasi Akuntansi Akad Wakalah Bil Ujrah Perusahaan Asuransi Syariah Berdasarkan PSAK 108: Studi di PT Asuransi Takaful Keluarga, Jurnal Addin, Vol.8, No. 1, Februari 2014.

Indrawan, Rully dan Poppy Yaniawi, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Campuran untuk Manajemen, Pembangunan, dan pendidikan, Bandung: PT Rafika Aditama, 2014.

Iqbal, Muhaimin, Asuransi Umum Syariah Dalam Praktik, Jakarta: Gema Insani Press, 2005.

Latif, Azharuddin dan Diana Mutia. “Disparitas Penyelesaian Sengketa Jalur Litigasi Pada Polis Asuransi Syariah dan Putusan Pengadilan”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 16, 2019.

Lestari, Hesty D, “Otoritas Jasa Keuangan: Sistem Baru Dalam Pengaturan dan Pengawasan Sektor Jasa Keuangan”, Jurnal Dinamika Hukum, Vol 12, 2012.

Lumbuun, Ronald S, PERMA RI Wujud Kerancuan Antara Praktik Pembagian dan Pemisahan Kekuasaan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.

Mudrikah, Zulfa, “Transformasi Akad Bisnis Asuransi Syariah PT Takaful Keluarga”, Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.

Mughits, Abdul, “Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (KHES) dalam Tinjauan Hukum Islam”, Jurnal Al-Mawardi, XVIII, 2008,

Nashihul Ibad Elhas, “Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (Tinjauan Umum Hukum Islam)”. Jurnal Qolamuna, Vol 1, 2016.

Nopriansyah, Waldi, Asuransi Syariah Berkah Terakhir yang Tak Terduga, Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2016.

Nugraheni, Destri Budi, “Analisis Yuridis Akad Tabarru’ dan Akad Tijarah Dalam Produk Unit Link Syariah”, Mimbar Hukum, Vol. 28, No.

2, Juni 2012.

Nugroho, Setio Sapto. “Harmonisasi Pembentukan Peraturan Undangan”. Jakarta, Kepala Biro Peraturan Perundang-Undangan, 2009.

Nurwidiatmo, Tim Analisi dan Evaluasi Hukum Tentang Perasuransian (Asuransi Syariah) UU No. 2 Tahun 1992, Jakarta : Laporan Akhir, 2008.

Pakpahan, Rudy Hendra, “Akibat Hukm Dibentuknya Lembaga Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Pengawasan Lembaga Keuangan di Indonesia,” Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 9, No 3, Oktober 2012.

Prastowo, Andi, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016.

Pratiwi dan Ahmad Rifai, “Urgensi Pembentukan Kitab Undang-Undang Hukum Ekonomi Syariah Indonesia”, Jurnal Syariah 4, Juli, 2016.

Pratiwi, Rilia Cindi. “Analisis Efektivitas Pengawasan dan Pemeriksaan Kinerja Keuangan Perbankan Syariah di Otoritas Jasa Keuangan (Studi Kasus di Otoritas Jasa Keuangan Solo).”, Skirpsi S-1

80

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2018.

Rimdan, Kekuasaan Kehakiman Pasca Amandemen Konstitusi, Jakarta:

Kencana Prenada Media Grup, 2012.

Sjahdeini, Sutan Remy, Perbankan Syariah Produk-Produk dan Aspek-Aspek Hukumnya, Jakarta: Prenadamedia Grup, 2015.

Soedibyo, Anthonius Adhi dan Agustin Widjiastuti, “Kedudukan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan Berdasarkan Perundang-Undangan Terhadap Produk Perbankan”, Jurnal.

Soegiyono. “Pentingnya Harmonisasi Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan”. Jurnal Kajian Kebijakan dan Hukum Kedirgantaraan, 2015.

Soemitra, Andri, Hukum Ekonomi Syariah dan Fiqh Muamalah Di Lembaga Keuangan dan Bisnis Kontemporer, Jakarta:

Prenadamedia Group, 2019.

Sugiyono. “Memahami Penelitian Kualitatif”. Bandung: Alfabeta, 2012.

Suhartono. “Harmonisasi Peraturan Perundang-Undangan dalam Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara”. Desertasi Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011.

Suhendi, Hendi, Deni K. Yusup, Asuransi Takaful dari Teoritis ke Praktis, Bandung: Mimbar Pustaka, 2005.

Suhendi, Hendi, Fiqh Mamalah, Jakarta : Grafindo Persada, 2010.

Sula, Muhammad Syakir, Asuransi Syariah (life and General): Konsep dan Sistem Operasional, Jakarta: Gema Insani Press, 2004.

Sutedi, Adrian, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan,Jakarta: Raih Asa Sukses, 2014.

Thoin, Muhammad dan Anik, “Aspek Syariah dalam Asuransi Syariah”, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol 01, No. 01, Maret 2015.

Utami, Yuni dan Tabrani, “Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sebagai Pengawas Lembaga Keuangan dan Non Keuangan Yang Independen Di Indonesia”, Jurnal Universitas Pancasakti Tegal.

Wariesta, Ario, “Pemahaman Pengusaha Kecil Terhadap Asuransi Syariah”, Skripsi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.

Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang Baik: Gagasan Pembentukan Undang-Undang Berkelanjutan, Depok: RajaGrafindo Persada, 2010.

B. Regulasi

Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Fatwa DSN No: 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah

Fatwa DSN Nomor 39/DSN-MUI/X/2002 tentang Asuransi Haji.

Fatwa DSN-MUI No: 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Wakalah bil Ujrah Pada Asuransi Syari’ah dan Reasuransi Syari’ah.

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

82

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 18 Tahun 2010 tentang Penerapan Prinsip Dasar Penyelenggaraan Asuransi dan Usaha Reasuransi Dengan Prinsip Syariah.

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 69 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Reasuransi Syariah.

Perma No. 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.

Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

C. Internet

Kamus Besar Bahasa Indonesia, https://kbbi.web.id/prinsip.

Mengenal OJK: Sejarah, Fungsi dan Kebijakan Strategi Terkini, www.cermati.com.

Meninjau Kedudukan KHES dalam Hukum Positif Indonesia dan Fungsinya Terhadap Produk Perbankan Syariah, avandishare.blogspot.com.

Otoritas Jasa Keuangan, www.ojk.go.id.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

149 ةَؼشرًا ةً داعذك لا مامحك ٔلا ةهوسم

Orang yang dilepaskan haknya harus di-ketahui dengan jelas dan tertentu.

لماـ

penolakan ini tidak mempunyai kekuatan hukum. seseorang yang bukan anggota keluarganya, maka pelepasan hak itu adalah sah apabila tidak lebih dari

Ta’min dan I’adah Ta’min

لماـ

i’adah ta’min adalah :

ٔب .

BUKU II T e n t a n g A k a d dan i’adah ta’min adalah:

ٔب .

antar perusahaan ta’min, agen seba-gai bagian dari perusahaan dengan peserta.

b. Wakalah bil ujrah dapat diterapkan pada produk ta’min syariah yang mengandung unsur tabungan maup un unsur non tabungan.

لماـ

a. Kegiatan administrasi;

b. Pengelolaan dana;

c. Pembayaran klaim;

d. Dhaman ishdar/underwriting;

e. Pengelolaan portofolio risiko;

f. Pemasaran; dan

b. Besaran, cara dan waktu pemotongan ujrah fee dari premi.

c. Syarat yang disepakati, sesuai dengan jenis ta’min yang ditransaksikan.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

151 ةَؼشرًا ةً داعذك لا مامحك ٔلا ةهوسم

Kedudukan para pihak dalam akad waka-lah bil ujrah:

a. Perusahaan bertindak sebagai wakil yang mendapat kuasa untuk menge-lola dana;

b. Peserta/pemegang polis sebagai individu, dalam produk tabungan dan non tabungan bertindak sebagai pemberi kuasa untuk mengelola dana.

c. Peserta sebagai suatu badan/

kelompok, dalam akun non tabungan, bertindak sebagai pemberi kuasa untuk mengelola dana.

d. Wakil tidak boleh mewakilkan kepada pihak lain atas kuasa yang bukan tanggungan sehingga wakil tidak menanggung risiko terhadap kerugian investasi dengan mengurangi imbalan yang telah diterima oleh perusahaan ta’min, kecuali karena kecerobohan, wanprestasi, dan per-buatan melawan hukum, di samping sifat akad pada umumnya.

f. Perusahaan ta’min sebagai wakil tidak berhak memperoleh bagian dari hasil investasi apabila transaksi yang di-gunakan adalah pelaksanaan akad wakalah.

BUKU II T e n t a n g A k a d

1. Perusahaan selaku pemegang amanah wajib menginvestasikan dana yang terkumpul dan investasi wajib dilaku-kan sesuai dengan syariah.

2. Dalam pengelolaan dana investasi, baik tabungan maupun non tabungan, dapat digunakan akad Wakalah bil Ujrah dengan mengikuti ketentuan seperti di atas atau akad Mudharabah dengan mengikuti ketentuan Mudha-rabah.

يناثلا لصفلا

Bagian Kedua

ينمٔبخًا تداؽٕاو ينمٔبخًا في ةنترضلما ةتراضلما سلؼ

Akad Mudharabah Musytarakah pada Ta’min dan I’adah Ta’min

لماـ

Ketentuan hukum dari akad mudharabah musytarakah pada ta’min dan i’adah mudharabah musytarakah merupa-kan perpaduan antara pelaksanaan transaksi mudharabah dengan tran-saksi musyarakah dengan ketentuan yang mengikat pada masing-masing transaksi.

b. Perusahaan ta’min sebagai mudharib menyertakan modal atau dananya dalam investasi bersama peserta.

c. Modal atau dana perusahaan ta’min dan dana peserta diinvestasikan secara bersama-sama dalam portofolio.

d. Perusahaan ta’min sebagai mudharib mengelola investasi dana tersebut.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

153 ةَؼشرًا ةً داعذك لا مامحك ٔلا ةهوسم

Dalam transaksi mudharabah musytara-kah harus disebutkan paling sedikit:

ٔب.

c. Syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan produk ta’min yang

Ketentuan hukum dari transaksi mudha-rabah musytarakah pada ta’min dan i’adah ta’min:

a. Mudharabah musytarakah boleh di-lakukan oleh perusahaan ta’min, karena merupakan bagian dari hukum mudharabah.

b. Mudharabah musytarakah dapat di-terapkan pada produk ta’min dan i’adah ta’min yang mengandung unsur tabungan maupun non tabungan.

لماـ

Pembagian hasil investasi dapat dilaku-kan dengan salah satu alternatif sebagai berikut:

a. Hasil investasi dibagi antara perusa-haan sebagai pengelola modal dan peserta sebagai pemilik modal sesuai dengan nisbah yang disepakati, atau hasil investasi sesudah diambil oleh/dipisahkan untuk/disisih- kan perusahaan sebagai pengelola modal, dibagi antara perusahaan dengan para peserta sesuai dengan porsi masing-masing.

BUKU II T e n t a n g A k a d pro-porsional atau bagian hasil investasi sesudah diambil/dipisahkan/disisih-kan untuk perusahaan sebagai penge- lola modal dengan peserta sesuai dengan nisbah yang disepakati.

لماـ

Apabila terjadi kerugian maka

lem-baga keuangan syariah selem-bagai musy-tarik menanggung kerugian sesuai dengan porsi modal yang disertakan

لماـ

1. Perusahaan ta’min selaku pemegang amanah wajib melakukan investasi dari dana yang terkumpul.

2. Investasi sebagaimana dalam ayat (1) wajib dilakukan sesuai dengan prinsip syariah.

ثناثنا مصفنا

Bagian Ketiga

ينمٔبخًا تداؽٕاو ينمٔبخًا فى ةًراذدٕا يرف دولؾًا

Akad Non Tabungan pada Ta’min dan I’adah Ta’min

لماـ

Ketentuan umum dari ta’min dan i’adah ta’min non tabungan adalah:

ٔب.

pada semua produk ta’min dan i’adah ta’min.

b. Akad non tabungan pada ta’min dan i’adah ta’min berlaku pada semua bentuk transaksi yang dilakukan antar peserta pemegang polis.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

155 ةَؼشرًا ةً داعذك لا مامحك ٔلا ةهوسم

maksud pada huruf a adalah:

1) Ta’min ‘ala hayat/ta’min jiwa.

2) Ta’min ‘ala khasarah/ta’min kerugian. transaksi yang dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan tolong menolong antar peserta, bukan untuk tujuan

Dalam akad non tabungan, sekurang-kurangnya harus disebutkan: tabungan selaku peserta dalam arti badan/kelompok;

c. Cara dan waktu pembayaran premi dan klaim; dan

d. Syarat-syarat lain yang disepakati sesuai dengan jenis ta’min yang

Kedudukan para pihak dalam transaksi non tabungan:

a. Dalam transaksi non tabungan, peserta memberikan dana hibah yang digunakan untuk menolong peserta atau peserta lain yang terkena musibah.

BUKU II T e n t a n g A k a d

b. Peserta secara individu merupakan pihak yang berhak menerima dana non tabungan dan secara kolektif selaku penanggung.

c. Perusahan bertindak sebagai penge-lola dana hibah, atas dasar transaksi lembaga yang berfungsi sebagai pemegang amanah.

2. Pembukaan dana non tabungan harus terpisah dari dana lainnya.

3. Hasil investasi dari dana non tabungan menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun non tabungan.

4. Dari hasil investasi, perusahaan ta’min dan i’adah ta’min dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan transaksi mu-dharabah atau transaksi mumu-dharabah musytarakah atau memperoleh upah berdasarkan transaksi wakalah bil ujrah.

Apabila terjadi kelebihan dana non tabungan maka boleh dilakukan bebe-rapa alternatif sebagai berikut:

ٔب.

a. Diperlakukan seluruhnya sebagai dana cadangan dalam akun non tabungan.

b. Disimpan sebagian sebagai dana cadangan dan dibagikan sebagian lainnya kepada para peserta yang memenuhi syarat aktuaria/ manaje-men risiko.

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES)

157 ةَؼشرًا ةً داعذك لا مامحك ٔلا ةهوسم

cadangan dan dapat dibagikan seba-gian lainnya kepada perusahaan ta’min dan i’adah ta’min dan para peserta sepanjang disepakati oleh para peserta. kebajikan, maka perusahaan ta’min dan i’adah ta’min wajib menang-gulangi kekurangan tersebut dalam bentuk pinjaman.

2. Pengembalian dana pinjaman kepada perusahaan ditutup dari surplus dana non tabungan. Penyelenggaraan ta’min haji dilakukan )

dengan prinsip sebagai berikut:

ٔب.

a. Berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

b. Bersifat tolong-menolong antar sesama jamaah haji.

c. Transaksi bertujuan untuk menolong sesama jamaah haji yang terkena musibah kecelakaan atau kematian.

d. Transaksi dilakukan antara jamaah haji sebagai peserta ta’min non tabungan dengan Lembaga Asuransi Syariah yang bertindak sebagai pengelola dana non tabungan.

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 69 /POJK.05/2016

TENTANG

PENYELENGGARAAN USAHA PERUSAHAAN ASURANSI, PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH, PERUSAHAAN REASURANSI,

DAN PERUSAHAAN REASURANSI SYARIAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (3), Pasal 18 ayat (4), Pasal 26 ayat (2), Pasal 28 ayat (6), Pasal 29 ayat (5), Pasal 31 ayat (5), dan Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, perlu menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5253);

2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 337, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5618);

SALINAN

Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERUSAHAAN ASURANSI, PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH, PERUSAHAAN REASURANSI, DAN PERUSAHAAN REASURANSI SYARIAH.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini yang dimaksud dengan:

1. Perusahaan adalah perusahaan asuransi, perusahaan asuransi syariah, perusahaan reasuransi, dan perusahaan reasuransi syariah.

2. Perusahaan Asuransi adalah perusahaan asuransi umum dan perusahaan asuransi jiwa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

3. Perusahaan Asuransi Syariah adalah perusahaan asuransi umum syariah dan perusahaan asuransi jiwa syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

4. Usaha Asuransi Umum adalah usaha jasa pertanggungan risiko yang memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

5. Usaha Asuransi Jiwa adalah usaha yang menyelenggarakan jasa penanggulangan risiko yang memberikan pembayaran kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak dalam hal tertanggung meninggal dunia atau tetap hidup, atau

- 3 -

pembayaran lain kepada pemegang polis, tertanggung, atau pihak lain yang berhak pada waktu tertentu yang diatur dalam perjanjian, yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

6. Usaha Reasuransi adalah usaha jasa pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi, perusahaan penjaminan, atau perusahaan reasuransi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

7. Usaha Asuransi Umum Syariah adalah usaha pengelolaan risiko berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi dengan memberikan penggantian kepada peserta atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita peserta atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

8. Usaha Asuransi Jiwa Syariah adalah usaha pengelolaan risiko berdasarkan prinsip syariah guna saling menolong dan melindungi dengan memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggal atau hidupnya peserta, atau pembayaran lain kepada peserta atau pihak lain yang berhak pada waktu tertentu yang diatur dalam perjanjian, yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

9. Usaha Reasuransi Syariah adalah usaha pengelolaan risiko berdasarkan prinsip syariah atas risiko yang

perusahaan penjaminan syariah, atau perusahaan reasuransi syariah lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

10. Perusahaan Asuransi Umum adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Asuransi Umum.

11. Perusahaan Asuransi Jiwa adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Asuransi Jiwa.

12. Perusahaan Asuransi Umum Syariah adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Asuransi Umum Syariah.

13. Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Asuransi Jiwa Syariah.

14. Perusahaan Reasuransi adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Reasuransi.

15. Perusahaan Reasuransi Syariah adalah perusahaan yang menyelenggarakan Usaha Reasuransi Syariah.

16. Perusahaan Pialang Asuransi adalah perusahaan yang menyelenggarakan usaha jasa konsultasi dan/atau keperantaraan dalam penutupan asuransi atau asuransi syariah serta penanganan penyelesaian klaimnya dengan bertindak untuk dan atas nama pemegang polis, tertanggung, atau peserta.

17. Perusahaan Pialang Reasuransi adalah perusahaan yang menyelenggarakan usaha jasa konsultasi dan/atau keperantaraan dalam penempatan reasuransi atau penempatan reasuransi syariah serta penanganan penyelesaian klaimnya dengan bertindak untuk dan atas nama Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, perusahaan penjaminan, perusahaan penjaminan syariah, Perusahaan Reasuransi, atau Perusahaan Reasuransi Syariah yang melakukan penempatan reasuransi atau reasuransi syariah.

- 5 -

18. Perusahaan Ceding adalah:

a. Perusahaan Asuransi Umum yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi atau Perusahaan Asuransi Umum lain;

b. Perusahaan Asuransi Umum Syariah yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi Syariah, unit syariah pada Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Asuransi Umum Syariah lain atau unit syariah pada Perusahaan Asuransi Umum;

c. unit syariah pada Perusahaan Asuransi Umum yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi Syariah, unit syariah pada Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Asuransi Umum Syariah atau unit syariah pada Perusahaan Asuransi Umum lain;

d. Perusahaan Asuransi Jiwa yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi;

e. Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi Syariah atau unit syariah pada Perusahaan Reasuransi;

f. unit syariah pada Perusahaan Asuransi Jiwa yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi Syariah atau unit syariah pada Perusahaan Reasuransi;

g. perusahaan penjaminan yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi; atau

h. perusahaan penjaminan syariah atau unit syariah pada perusahaan penjaminan yang mengalihkan sebagian risikonya kepada Perusahaan Reasuransi Syariah atau unit syariah pada Perusahaan Reasuransi.

kegiatan perasuransian berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

20. Unit Syariah adalah unit kerja di kantor pusat Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor di luar kantor pusat yang menjalankan usaha berdasarkan Prinsip Syariah.

21. Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi yang selanjutnya disebut PAYDI adalah produk asuransi yang paling sedikit memberikan perlindungan terhadap risiko kematian, dan memberikan manfaat yang mengacu pada hasil investasi dari kumpulan dana yang khusus dibentuk untuk produk asuransi baik yang dinyatakan dalam bentuk unit maupun bukan unit.

22. Asuransi Kredit adalah lini Usaha Asuransi Umum yang memberikan jaminan pemenuhan kewajiban finansial penerima kredit apabila penerima kredit tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit.

23. Suretyship adalah lini Usaha Asuransi Umum yang memberikan jaminan atas kemampuan principal dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian pokok antara principal dan obligee.

23. Suretyship adalah lini Usaha Asuransi Umum yang memberikan jaminan atas kemampuan principal dalam melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian pokok antara principal dan obligee.

Dokumen terkait