• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Diabetes Melitus

2.3.5 Komplikasi Oral Yang Ditimbulkan Oleh Diabetes Melitus

Komplikasi oral yang terjadi pada diabetes mellitus yang tidak terkontrol sangatlah merusak. Hal ini mencakup gingivitis dan penyakit periodontal, xerostomia dan disfungsi kelenjar saliva, kerentanan pada bakteri yang meningkat, infeksi viral dan fungal (kandidiasis), karies, abses periapikal, kehilangan gigi, terganggunya kemampuan untuk menggunakan protesa (berhubungan dengan disfungsi kelenjar saliva), gangguan pengecapan, lichen planus, dan sindrom mulut terbakar.21

2.3.5.1 Gingivitis dan Penyakit Periodontal

Kerentanan terhadap penyakit periodontal merupakan komplikasi oral yang paling sering ditemukan pada pasien diabetes mellitus. Pasien dengan kontrol diabetes mellitus yang rendah memiliki risiko tertinggi dalam pembentukan penyakit periodontal. Hal ini dimulai dari gingivitis dan kemudian, dengan kontrol glikemik yang rendah, berkembang ke penyakit periodontal lanjutan. Anak-anak dengan diabetes dan orang dewasa dengan kontrol metabolik yang dibawah optimal menunjukkan kecendrungan ke arah skor gingivitis yang lebih tinggi.21

Pada sebuah studi menyatakan bahwa prevalensi penyakit periodontal berkisar 9,8% dari 263 pasien dengan diabetes tipe 1, dibandingkan dengan 1,7% pada pasien tanpa diabetes. Beberapa studi telah mendemonstrasikan bahwa pasien dengan diabetes tipe 1 dan kronis, kontrol metabolik pada penyakit harus diperpanjang dan penyakit periodontal lebih parah daripada pasien yang dengan teliti mengontrol diabetesnya. Pasien dengan diabetes tipe 1 dan retinopati cenderung menunjukkan kehilangan perlekatan gingiva lebih besar. Jadi, oral hygiene yang baik sangatlah penting pada pasien dengan diabetes tipe 1.21

Terdapat studi yang lebih banyak pada pasien dengan diabetes tipe 2 yang dihubungkan dengan penyakit periodontal. Studi ini menunjukkan bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 dapat mengalami penyakit periodontal tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pasien tanpa diabetes. Suatu studi pada India Pima, dimana 40% orang-orangnya menderita diabetes tipe 2, orang-orang yang usianya dibawah 40 tahun mengalami peningkatan kehilangan perlekatan gingiva lebih besar dibandingkan dengan orang-orang tanpa diabetes, sebagaimana juga terjadi kehilangan tulang alveolar yang berhubungan dengan peningkatan intoleransi glukosa atau kontrol metabolik yang rendah. Pada studi ini pula diketahui bahwa kerusakan jaringan periodontal meningkat berdasarkan usia dan derajat keparahan diabetesnya. Kehilangan gigi juga memiliki persentase 15 kali lebih tinggi pada penderita diabetes dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki diabetes.21

2.3.5.2 Disfungsi Kelenjar Saliva dan Xerostomia

Terdapat beberapa laporan bahwa mulut kering (xerostomia) dan hipofungsi kelenjar saliva ditemukan pada pasien diabetes, yang disebabkan oleh poliuria atau karena masalah endokrin atau metabolik. Ketika lingkungan normal dalam mulut berubah karena adanya penurunan aliran saliva atau perubahan dalam komposisi saliva, dalam mulut yang sehat dapat menjadi rentan terhadap karies dental. Kekeringan, atropi, dan mukosa oral yang pecah-pecah merupakan komplikasi terhadap produksi saliva yang tidak cukup. Disertai dengan mukositis, ulser dan deskuamasi, sebagaimana inflamasi dan depapilasi lidah merupakan masalah yang

biasa dijumpai. Kesulitan dalam lubrikasi makanan, mengunyah, merasa, dan menelan juga merupakan komplikasi dalam disfungsi saliva dan kemungkinan berkontribusi dengan gangguan asupan nutrisi.21

Peningkatan jumlah karies dental telah diketahui terjadi pada pasien muda yang menderita diabetes dan kemungkinan berhubungan dengan disfungsi saliva. Namun, terdapat hubungan antara pasien dewasa dengan diabetes dan karies yang aktif dan kehilangan gigi dimana hal ini lebih sering ditemui pada pasien diabetes dengan kontrol glikemik yang rendah.21

2.3.5.3 Kandidiasis

Kandidiasis oral merupakan infeksi fungal yang biasanya berhubungan dengan hiperglikemia dan merupakan komplikasi pada diabetes yang terkontrol rendah maupun tidak terkontrol. Lesi oral berhubungan dengan kandidiasis, termasuk median rhomboid glossitis (atropi papilla tengah), glositis atropik, denture stomatitis, pseudomembraneous candidiasis (thrush), dan angular cheilitis. Candida albicans

adalah komponen flora oral normal yang jarang berkolonisasi dan menginfeksi mukosa oral tanpa faktor pendukung. Hal ini mencakup kondisi yang berkompromis dengan imun, misalnya AIDS, kanker, atau diabetes, maupun penggunaan gigitiruan yang digubungkan dengan oral hygiene yang buruk dan penggunaan antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu panjang. Disfungsi saliva, kompromis fungsi imun, dan hiperglikemia yang memberikan potensi substrat untuk pertumbuhan fungi merupakan faktor utama terjadinya kandidiasis oral pada pasien dengan diabetes.21

2.3.5.4 Sindroma Mulut Terbakar (Burning Mouth Syndrome)

Pasien dengan Burning Mouth Syndrome (BMS) biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda klinis atau lesi yang terdeteksi, walaupun terdapat simptom rasa sakit dan terbakar yang intens. Etiologi BMS bervariasi dan biasanya sulit untuk diuraikan secara klinis. Simptom rasa sakit dan terbakar muncul sebagai hasil dari satu faktor atau bisa saja dari beberapa faktor yang berkombinasi. Pada diabetes tak terkontrol, faktor etiologinya adalah disfungsi kelenjar saliva, kandidiasis, dan abnormalitas

neurologi, seperti depresi. Saraf otonom dan sensorik-motorik neuropati merupakan bagian dari sindrom diabetes dan prevalensi neuropati pada diabetes mellitus sekitar 50%, 25 tahun setelah onset pertama diabetes, dengan 30% terjadi pada orang dewasa yang mengalami diabetes.21

Neuropati dapat menyebabkan simptom parestesi dan kesemutan, mati rasa, rasa sakit atau terbakar yang disebabkan oleh perubahan patologis yang melibatkan saraf pada daerah oral. Diabetes berhubungan dengan BMS, namun, neuropati dari diabetes berhubungan dengan rasa sakit dan terbakar pada bagian tubuh lainnya, seperti kaki.21

Pada kasus tertentu menemukan bahwa BMS sering ditemukan pada kasus diabetes tipe 2 yang tidak terdiagnosis, dimana kebanyakan kasus juga diselesaikan setelah diagnosis medis dan perawatan lebih lanjut saat melakukan kontrol glikemik. Kemajuan kontrol glikemik memegang peranan penting dalam menurunkan kejadian komplikasi, seperti xerostomia dan kandidiasis, dan faktor-faktor ini kemungkinan berkontribusi lebih signifikan terhadap resolusi simptom yang berhubungan dengan BMS pada pasien diabetes.21

2.3.5.5 Lichen Planus

Lichen planus sering dijumpai dan merupakan penyakit mukokutan dengan penyebab yang tidak diketahui. Hal ini secara umum dianggap sebagai proses imun yang dimediasi yang melibatkan reaksi hipersensitifitas pada level mikroskopik. Hal ini dikarakteristikkan dengan infiltrasi limfosit T yang terletak pada jaringan epitel. Sel imun lainnya, misalnya makrofag, sel dendrit, dan sel Langerhans, juga terlihat mengalami peningkatan jumlah pada lesi lichen planus. Terlihat ada hubungan antara lichen planus dan hipertensi ataupun diabetes. Namun, suatu studi pada 40 pasien dengan lichen planus ditemukan bahwa 11 pasien (28%) memiliki diabetes, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menyatakan bahwa diabetes mungkin berhubungan dengan immunopatogenesis lichen planus.21

Infeksi oral akut biasanya terjadi pada diabetes dengan kontrol rendah dan berdasarkan pada tingkat keparahannya. Kontrol glikemik pada manajemen diabetes merupakan kunci utama untuk menurunkan dampak oral infeksi akut.21

Dokumen terkait