• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Dalam Sediaan Hair Tonic .1 Etanol 96% .1 Etanol 96%

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1Kesimpulan

2.6 Komponen Dalam Sediaan Hair Tonic .1 Etanol 96% .1 Etanol 96%

Pemerian etanol berupa cairan tidak berwarna, mudah menguap, jernih dan berbau khas. Etanol mudah bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut organik. Dalam formulasi sediaan ini, etanol digunakan sebagai pelarut (Rowe, et al., 2009).

2.6.2 Natrium metabisulfit

Natrium metabisulfit merupakan kristal tidak berwarna, serbuk kristal berwarna putih hingga putih krem yang berbau. Digunakan sebagai antioksidan dalam sediaan oral, parenteral dan topikal. Natrium metabisulfit sedikit larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam gliserin dan air. Konsentrasi yang digunakan sebagai antioksidan adalah 0,01-0,1% (Wade and Paul, 1994).

2.6.3 Metil paraben

Metil paraben merupakan hablur atau serbuk tidak berwarna, atau kristal putih, tidak berbau atau berbau khas lemah yang mudah larut dalam etanol dan eter, praktis tidak larut dalam minyak, dan larut dalam 400 bagian air. Metil paraben digunakan secara luas sebagai bahan pengawet antimikroba dalam kosmetik, produk makanan, dan sediaan farmasi. Golongan paraben efektif pada

topikal umumnya metil paraben digunakan dengan konsentrasi antara 0,02-0,3% (Rowe, et al., 2009).

2.6.4 Propil paraben

Propil paraben merupakan serbuk hablur putih, tidak berbau, dan tidak berasa. Larut dalam etanol dan propilen glikol, sedikit larut dalam air. Propil paraben memiliki aktivitas sebagai antimikroba, umumnya digunakan sebagai pengawet untuk sediaan farmasi, kosmetik dan makanan. Konsentrasi yang digunakan untuk sediaan topikal adalah 0,01-0,6% (Wade dan Paul, 1994).

2.6.5 Mentol

Pemerian mentol ialah serbuk kristal tidak berwarna dengan bau dan rasa khas. Mentol tidak tercampur dengan timol, resorsin, kloral hidrat dan pirogalol. Kegunaan mentol ialah pemberi sensasi dingin pada sediaan topikal dan juga memberi bau. Mentol larut dalam etanol dan dapat juga digunakan sebagai peningkat penetrasi ke kulit. Pada sediaan kosmetik, penggunaannya berkisar 0,1-2,0% (Rowe, et al., 2009).

2.6.6 Carboxy Methyl Cellulose Natrium (CMC Na)

CMC Na merupakan serbuk granul berwarna putih atau hampir putih, tidak berbau dan higroskopis. Tidak larut dalam aseton, etanol, eter, dan toluene. Mudah terdispersi dalam air dalam segala temperatur. Memilik pH 6,0-8,0. Penyimpanannya dalam wadah tertutup rapat. Kegunaannya adalah sebagai suspending agent. Konsentrasi yang digunakan sebagai suspending agent adalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Rambut mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia. Rambut berperan sebagai proteksi terhadap lingkungan yang merugikan, antara lain suhu dingin atau panas, dan ultraviolet. Rambut juga berfungsi sebagai pengatur suhu, pendorong penguapan keringat, dan sebagai indera peraba yang sensitif. Di era sekarang ini, peranan rambut lebih condong pada keserasian dan estetika (Azis dan Muktiningsih, 1999).

Rambut mengalami siklus pertumbuhan dan kerontokan yang berbeda pada setiap helainya (Mitsui, 1992). Kerontokan merupakan siklus alami dari rambut, namun terkadang kuantitas dan frekuensi kerontokan menjadi meningkat sehingga terjadi kebotakan. Hal ini umumnya disebabkan oleh gangguan hormonal, efek samping obat, makanan yang dikonsumsi dan stres (Nusmara, 2012).

Perawatan rambut tidak cukup hanya dengan menggunakan shampo yang hanya bersifat sebagai pembersih, namun juga perlu dipelihara dan dirawat sehingga lebih sehat dan indah. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan hair tonic (Nusmara, 2012).

Perangsang pertumbuhan rambut (hair tonic) adalah sediaan yang mengandung bahan-bahan yang diperlukan oleh rambut, akar rambut dan kulit kepala (Tranggono dan Latifah, 2007). Sediaan hair tonic saat ini sudah banyak terdapat di pasaran, baik dari bahan kimia maupun dari bahan herbal. Penggunaan

Pisang (Musa paradisiaca Linn.) merupakan tanaman yang berbuah hanya sekali, kemudian mati (Dalimartha, 2003). Air bonggol pisang (Musa paradisiaca Linn.) secara empiris telah digunakan oleh masyarakat sebagai penyubur rambut, dengan mengusapkan langsung pada rambut air bonggol pisang yang telah tertampung beberapa hari dari hasil kerokan bagian tengah batang pisang sampai mendekati bonggolnya.

Menurut Rikenawati, getah dari bonggol pisang tersebut mengandung saponin, flavonoid, asam askorbat, antrakuinon, kuinon, lektin dan tannin. Zat antrakuinon yang terkandung di dalam getah bonggol pisang bermanfaat untuk menyehatkan sekaligus menumbuhkan, menyuburkan dan mengatasi kerontokan rambut. Disamping itu, batang pisang mengandung protein, kalsium (Ca), zat besi (Fe), fosfor (P), selenium, vitamin B, vitamin C, serta air dan lemak yang merupakan nutrisi sehingga rambut menjadi tebal (Iffah, 2015).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Priskila (2012) menyebutkan, air yang terdapat pada bonggol pisang mengandung senyawa-senyawa fitokimia antara lain saponin, antrakuinon, kuinon, lektin dan tanin. Air bonggol pisang raja pada penelitian ini diformulasi sebagai sediaan hair tonic dalam bentuk larutan. Sediaan hair tonic dalam bentuk larutan dipilih karena mudah diaplikasikan dan tidak lengket seperti sediaan semisolid lain sehingga tidak meninggalkan kerak yang dapat memicu terbentuknya ketombe.

Air bonggol pisang raja pada penelitian ini diformulasikan ke dalam sediaan hair tonic dalam bentuk larutan, kemudian dilakukan uji stabilitas fisik dari

sediaan hair tonic yang dibuat, selanjutnya diuji efektivitasnya terhadap pertumbuhan rambut tikus.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. apakah air bonggol pisang raja dapat diformulasikan sebagai sediaan hair tonic dalam bentuk larutan?

b. apakah sediaan hair tonic air bonggol pisang raja stabil dalam penyimpanan?

c. apakah sediaan hair tonic air bonggol pisang raja memiliki efektivitas terhadap pertumbuhan rambut tikus?

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

a. air bonggol pisang raja dapat diformulasikan sebagai sediaan hair tonic dalam bentuk larutan.

b. sediaan hair tonic air bonggol pisang raja stabil dalam penyimpanan.

c. hair tonic yang mengandung air bonggol pisang raja 5%, 10% dan 15%

memiliki efektivitas pertumbuhan rambut ditinjau dari rata-rata panjang rambut, diameter rambut dan bobot rambut tikus.

a. untuk mengetahui apakah air bonggol pisang raja dapat diformulasikan sebagai sediaan hair tonic dalam bentuk larutan.

b. untuk mengetahui apakah sediaan hair tonic air bonggol pisang raja stabil dalam penyimpanan.

c. untuk mengetahui bagaimana efektivitas sediaan hair tonic air bonggol pisang raja yang diformulasi bila dibandingkan dengan sediaan hair tonic yang ada di pasaran.

Dokumen terkait