ETIKA BISNIS Tujuan Pembelajaran:
B. Komponen Eika Bisnis
Hal yang perlu diperhaikan dalam menciptakan eika bisnis: 1. Pengendalian diri
2. Pengembangan tanggung jawab sosial 3. Mempertahankan jai diri
155
Etika Bisnis
5. Menerapkan konsep pembangunan tanggung jawab sosial 6. Menciptakan persaingan yang sehat
7. Menghindari sikap 5k (katabelece, kongkalikong, koneksi, kolusi, dan komisi) mampu mengatakan yang benar itu benar, dll.
Penjelasan hal yang perlu diperhaikan dalam menciptakan eika bisnis yaitu: 1. Pengendalian diri
Pelaku bisnis harus bisa mengendalikan dirinya dalam menjalankan usahanya. Pelaku bisnis idak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan juga harus memperhaikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah eika bisnis yang “eis”. Sebagai contoh, pelaku bisnis idak boleh mengurangi imbangan, memasukkan zat berbahaya dalam makanan (pengawet yang kadarnya melebihi ambang batas atau menggunakan pewarna teksil untuk makanan, menjual barang palsu namun dikatakan asli, menjual barang secara kredit dengan bunga yang sangat inggi dan sebagainya). Hal inipun dilarang oleh agama.
2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis dituntut peduli dengan keadaan masyarakat. Pelaku bisnis idak mengambil kesempatan dengan menjual dengan harga inggi saat kelebihan permintaan.
Sebagai contoh, pada saat terjadi bencana alam, permintaan akan sembilan bahan pokok sangat inggi, sehingga pedagang menaikkan harga seinggi-ingginya untuk memperoleh kesempatan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini idak eis meskipin idak melanggar hokum ataupun undang-undang. Pengusaha idak perduli dengan kondisi masyarakat yang terkena musibah. Mesinya perusahaan justru membantu masyarakat yang terkena bencana dengan harga yang lebih murah, ataupun malah menyumbangkan sebagian secara grais kepada masyarakat sebagai ujud keperduliannya. Saat ini pemerintah mewajibkan perusahaan untuk menjalankan CSR (Corporate social responsibility)
Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki berbagai bentuk tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepeningannya, yang di antaranya adalah konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Oleh karena itu, CSR berhubungan erat dengan “pembangunan berkelanjutan”, di mana suatu organisasi, terutama perusahaan, dalam melaksanakan akivitasnya harus mendasarkan keputusannya idak semata berdasarkan dampaknya dalam aspek ekonomi, misalnya ingkat keuntungan atau deviden, melainkan juga harus menimbang dampak sosial dan lingkungan yang imbul dari keputusannya itu, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka yang lebih panjang. Dengan pengerian tersebut, CSR dapat dikatakan sebagai kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara manajemen dampak (minimisasi dampak negaif dan maksimisasi dampak posiif)
terhadap seluruh pemangku kepeningannya. 3. Mempertahankan jai diri
Mempertahankan jai diri dan idak mudah untuk terombang - ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi adalah salah satu usaha menciptakan eika bisnis. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan idak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi. Sebagai contoh, saat ini telah berkembang bisnis dengan memanfaatkan teknologi internet dan jaringan sosial. Pelaku bisnis harus memperhaikan eika bisnis meskipun memanfaatkan teknologi informasi. Misalnya menjual barang sesuai dengan yang ditayangkan di gambar di internet, idak membajak akun orang lain yang dimanfaatkan untuk kejahatan atau penipuan dan sebagainya.
4. Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan eisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut idak memaikan yang lemah, dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah. Bahkan perusahaan yang besar menjadikan perusahaan kecil sebagai mitranya dan bapak angkatnya yang memberikan pembinaan dan kerja sama saling menguntungkan. Sebagai contoh: Dalam bidang pemasaran, perusahaan besar berindak sebagai pemasar produk industri kecil seperi kerajinan, usaha kecil yang memasok barang kepada usaha besar sebagai masukan untuk produksi selanjutnya
Bentuk kemitraan lain adalah pemberian kesempatan pelaihan sumber daya manusia, ada redistribusi asset produkif dari yang kuat kepada yang lemah, ada akses terhadap sumber-sumber pendanaan, ada akses informasi dan teknologi, dan ada akses terhadap pasar. Kerjasama yang dikembangkan melalui kemitraan akan memberikan manfaat baik bagi usaha kecil menengah dan koperasi maupun bagi usaha besar dalam membentuk jaringan usaha dan jaringan distribusi pemasaran produk.
5. Menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan.
Dunia bisnis seharusnya idak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang. Pelaku bisnis dituntut untuk idak mengekspoitasi lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa memperimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang. Selain itu pelaku bisnis idak boleh pula melakukan perusakan lingkungan, seperi melakukan pembakaran hutan sehingga menimbulkan asap yang mengganggu lingkungan serta, merusak tanah. 6. Mampu menyatakan yang benar itu benar
Arinya, kalau pelaku bisnis itu memang idak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan idak bisa dipenuhi, jangan menggunakan “katabelece” dari “koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi” serta memberikan “komisi” kepada pihak yang terkait. Akhir-akhir ini sering terjadi pelanggaran eika dalam bisnis berbentuk kolusi dan korupsi
157
Etika Bisnis
hingga akhirnya membawa pelaku ke ranah hokum. 7. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main bersama
Semua konsep eika bisnis yang telah ditentukan idak akan dapat terlaksana apabila seiap orang idak mau konsekuen dan konsisten dengan eika tersebut. Seandainya semua eika bisnis telah disepakai, sementara ada “oknum”, baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan “kecurangan” demi kepeningan pribadi, jelas semua konsep eika bisnis itu akan “gugur” satu semi satu.
8. Memelihara kesepakatan
Memelihara kesepakatan atau menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakai adalah salah satu usaha menciptakan eika bisnis. Jika eika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.
9. Menuangkan ke dalam Hukum Posiif
perlunya sebagian eika bisnis dituangkan dalam suatu hukum posiif yang menjadi Peraturan Perundang - Undangan dimaksudkan untuk menjamin kepasian hukum dari eika bisnis tersebut, seperi “proteksi” terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan bereika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan adanya moral dan eika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi