BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Pendidikan Inklusi
5. Komponen Keberhasilan Pendidikan Inklusi
Salah satu fakor keberhasilan pendidikan inklusi adalah strategi pembelajaran yang diterapkan di lembaga sekolah. Komponen keberhasilan pendidikan inklusi saling berkaitan satu sama lain dan menentukan segala aspek yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan belajar anak berkebutuhan khusus Mohammad Takdir (2013: 161).
Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusi di suatu lembaga sekolah perlu didukung oleh semua pihak termasuk keselarasan pandangan terhadap anak berkebutuhan khusus, antara pemerintah, guru,
dan masyarakat karena keselarasan pandangan menjadi salah satu hal penting sebagai awal pemahaman pendidikan inklusi.
Ada beberapa faktor yang menjadi penentu keberhasilan pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus. Berikut faktor-faktor penentu keberhasilan pendidikan inklusi menurut Mohammad Takdir Ilahi (2013: 167-189).
a. Tenaga Pendidik (Guru)
Pendidik atau guru yang mengajar harus memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, yaitu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap tentang materi yang akan diajarkan/dilatihkan, dan memahami karakter siswa. (2013: 168). Guru berperan penting dalam menerapkan metode yang tepat agar potensi anak didik dapat berkembang dengan cepat.
Pendidik atau guru sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa, memiliki peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan dari suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut menguasai sejumlah kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan proses pembelajaran, antara lain kemampuan menguasai bahan ajar, kemampuan dalam mengelola kelas, kemampuan dalam menggunakan metode, media, dan sumber belajar dan kemampuan untuk melakukan penilaian, baik proses maupun hasil.
b. Input Peserta Didik
Didalam lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi, semua peserta didik tanpa terkecuali harus terlibat aktif dalam mengelolaan segala kegiatan pembelajaran sehingga mampu menciptakan kondisi sekolah yang baik Mohammad Takdir Ilahi (2013: 180).
Peneliti berpendapat bahwa peserta didik menjadi komponen penting dalam proses pelaksanaan pendidikan inklusi. Dalam setiap pelaksanaan pembelajaran, peserta didik diatur sedemikian rupa agar mereka dapat ikut serta merealisasikan tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
c. Fleksibel Kurikulum (Bahan Ajar)
Segala sesuatu yang hendak diajarkan kepada anak didik harus berdasarkan kurikulum yang sudah direncanakan sebelumnya. Dalam proses pengembangan dan pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Menurut Tatang M. Amirin dkk (2011: 37) kurikulum adalah segala kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang dituangkan dalam bentuk rencana yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran disekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memahamai karakteristik dan tingkat kebutuhan anak dalam mengikuti proses
pembelajaran sehingga tidak terkesan mendapatkan tekanan psikologis yang bisa mempengaruhi mental siswa atau peserta didik. Kurikulum penting untuk menata arah dan tujuan kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik tanpa mengabaikan hak-haknya yang belum terpenuhi.
d. Lingkungan dan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi
Di dalam lembaga pendidikan orangtua dituntut untuk aktif berkomunikasi dan berkonsultasi tentang permasalahan dan kemajuan belajar anaknya, kolaborasi dalam mengatasi hambatan belajar anaknya, serta mengembangkan potensi anak melalui program- program lain di luar sekolah. Selain lingkungan dan orangtua, pemerintah juga berperan penting dalam menentukan pelaksanaan pendidikan inklusi Mohammad Takdir Ilahi (2013: 185).
Lingkungan memiliki peran sangat penting guna mencapai tujuan pendidikan inklusi. Lingkungan harus di sesuaikan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi, Ini adalah tugas kita bersama termasuk penyelenggara sekolah inklusi. Selain itu peran orangtua juga sangat menentukan untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri agar anak berkebutuhan khusus tidak putus asa dalam menjalani proses pendidikan.
e. Sarana Prasarana
Di dalam dunia pendidikan Sarana dan prasarana adalah salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan pelaksanaan
pendidikan inklusi. Sebagai salah satu komponen keberhasilan, tersedianya sarana prasarana tidak serta merta mudah diperoleh dengan mudah, tetapi membutuhkan kerja keras pemerhati pendidikan untuk mengupayakan fasilitas pendukung yang mendorong peningkatan kualitas anak berkebutuhan khusus Mohammad Takdir Ilahi (2013: 188).
Dapat disimpulkan bahwa sarana prasarana hendaknya disesuaikan dengan tuntutan kurikulum atau bahan ajar yang telah dikembangkan. Dalam dunia pendidikan, sarana prasarana berkaitan langsung dengan ruang kelas, perpustakaan, ruang bimbingan, ruang konseling (BK), akses jalan, dan ruang multimedia.
f. Evaluasi Pembelajaran
Menurut Mohammad Takdir (2013: 187) evaluasi pembelajaran bagi peserta didik berarti kegiatan menilai proses dan hasil belajar, baik yang berupa kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakulikuler. Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan dan prestasi belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan- tujuan yang telah ditetapkan. Proses evaluasi digunakan untuk menilai kepada objek yang dievaluasi sehingga manfaat atau nilai instrinsiknya dapat disampaikan kepada orang lain.
Menurut Arif S. Sadiman dalam Mohammad Takdir (2013: 187) ada dua macam evaluasi multimedia yang berkaitan dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus yaitu:
1) Evaluasi Formatif adalah proses mengumpulkan tentang evektifitas bahan-bahan pembelajaran termasuk media dalam pembelajaran. 2) Evaluasi Sumatif adalah menentukan apakah media yang dibuat dapat digunakan dalam situasi tertentu dan untuk menentukan apakah media tersebut benar-benar efektif atau tidak ketika digunakan.
Peneliti berpendapat bahwa evaluasi sangat di perlukan dalam proses implementasi kebijakan pendidikan inklusi. Dengan adanya evaluasi akan diketahui apa saja yang perlu diperbaiki dan yang perlu dikembangkan.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusi bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa Pasal 7 dan Pasal 9 bahwa, satuan pendidikan penyelenggaraan pendidikan inklusi menggunakan kulikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, dan minatnya. Begitu pula penilaiannya sebagaimana disebutkan dalam pasal Permendikinas tersebut:
1) Penilaian hasil belajar bagi peserta didik pendidikan inklusi mengacu pada jenis kurikulum tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
2) Peserta didik yang mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan standar nasional
pendidikan atau diatas standar pendidikan nasional wajib mengikuti Ujian Nasional.
3) Peserta didik yang memiliki kelainan dan mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum yang dikembangkan dibawah standar pendidikan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
4) Peserta didik yang menyelesaikan dan lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan mendapatkan ijazah yang blankonya dikeluarkan oleh pemerintah.
5) Peserta didik yang memiliki kelainan yang menyelesaikan pendidikan berdasarkan kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dibawah standar nasional pendidikan mendapatkan Surat Tanda Tamat Belajar yang blankonya dikeluarkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
6) Peserta didik yang memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar dapat melanjutkan pendidikan pada tingkat atau jenjang yang lebih tinggi pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi atau satuan pendidikan khusus.
Dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah inklusi wajib membuat dan memodifikasi kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Khusus untuk siswa berkebutuhan khusus yang mengikuti pembelajaran berdasarkan kurikulum standar nasional pendidikan diperbolehkan mengikuti ujian nasional dan mendapatkan surat tanda tamat belajar dan diperbolehkan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.