TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Komponen-komponen Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:1.3), “laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan tersebut.”
2.3.1 Neraca atau laporan posisi keuangan (Balance Sheet)
Defenisi neraca menurut Reeve, Warren dan Fees (2002:24) adalah “Laporan mengenai suatu daftar aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu biasanya pada akhir bulan atau akhir tahun.”
Neraca terdiri dari 3 bagian yaitu: Aktiva, Hutang, dan Modal 2.3.1.1 Aktiva
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2002:13) aktiva adalah “Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh.”
Aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran-pengeluaran yang belum dialokasikan pada penghasilan yang akan datang serta aktiva yang tidak berwujud lainnya (intangible assets) misalnya Goodwil, hak paten dan sebagainya.
Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu aktiva lancar dan aktiva tidak lancar.
2.3.1.1.1 Aktiva Lancar
Menurut Munawir (2004:14), “aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukar menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumsi dalam periode berikunya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan normal).
Secara umum aktiva lancar, meliputi kas dan semua aktiva yang dalam jangka waktu singkat akan kembali lagi dalam bentuk kas. Dimana jangka waktunya tidak lebih dari satu tahun terhitung dari tanggal neraca.
Penyajian pos-pos aktiva lancar di dalam neraca didasarkan pada urutan likuiditasnya, sehingga penyajiannya diliputi dari aktiva yang paling likuid sampai pada aktiva yang paling tidak likuid.
Dari uraian diatas yang temasuk dalam kelompok aktiva yang likuid adalah sebagai berikut:
2.3.1.1.1.1 Kas atau uang tunai, yang meliputi uang kertas, cek dan segala sesuatu yang dapat disamakan dengan uang kas,
2.3.1.1.1.2 Surat-surat berharga yang merupakan investasi jangka pendek, berupa saham, obligasi dan jenis-jenis surat berharga lainnya yang dapat dijual, 2.3.1.1.1.3 Piutang wessel, tagihan kepada pihak
perjanjian yang diatur dalam undang undang,
2.3.1.1.1.4 Piutang dagang, tagihan kepada pihak lain (kepada kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit,
2.3.1.1.1.5 Persediaan, adalah persediaan yang berupa barang dagangan, barang setengah jadi, atau bahan mentah yang dimiliki perusahaan pada suatu saat tertentu,
2.3.1.1.1.6 Penghasilan yang masih harus diterima, adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang timbul dari penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan tetapi saat penyesuaian
neraca belum diterima pembayarannya,
2.3.1.1.1.7 Biaya dibayar dimuka, adalah pembayaran dimuka yang telah dilakukan oleh perusahaan seperti pembayaran sewa dimuka,
pembayaran premi asuransi dimuka dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2 Aktiva Tidak Lancar
Menurut Munawir (2004:16), “aktiva tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dalam satu kali perputaran operasi perusahaan).” Sedangkan menurut Tunggal (1995:11), “aktiva
tidak lancar adalah aktiva yang mempunyai masa penggunaan yang relatif panjang, dalam arti tidak akan habis dipakai dalam satu siklus operasi perusahaan atau satu tahun dan tidak dengan segera dijadikan kas.”
Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar adalah sebagai berikut:
2.3.1.1.2.1 Investasi jangka panjang, dapat berupa surat-surat berharga seperti saham, obligasi, wessel jangka panjang, investasi dalam bentuk aktiva tetap berwujud (tanah, mesin-mesin) tetapi belum digunakan usaha sekarang, penyisihan dana untuk tujuan jangka panjang seperti dana pelunasan obligasi, dan pembelian saham sendiri dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2.2 Aktiva tetap berwujud, kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang fisiknya nampak (konkrit) dan digunakan dalam operasi yang bersifat permanen (aktiva tersebut mempunyai umur manfaat jangka panjang atau tidak habis dalam satu periode kegiatan perusahaan). Seperti bangunan kantor, pabrik, mesin, dan lain sebagainya.
2.3.1.1.2.3 Aktiva tetap tak berwujud (intangible fixed asset), merupakan kekayaan perusahan yang secara fisik tidak tampak tetapi merupakan milik perusahaan dan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
2.3.1.1.2.4 Beban yang ditangguhkan (deferred charges), merupakan pengeluaran yang dibebankan perusahaan pada periode berikutnya.
2.3.1.1.2.5 Aktiva lain-lain yang mana belum menunjukkan kekayaan atau aktiva perusahaan yang belum dimasukkan dalam klasifikasi sebelumnya seperti gedung dalam proses, tanah dalam penyelesaian, piutang jangka panjang dan sebagainya.
2.3.1.2 Kewajiban (Hutang)
Menurut Munawir (2004:18), “hutang adalah Semua kewajiban keuangan perusahan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditor.” Dari pengertian di atas maka hutang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
2.3.1.2.1 Hutang lancar (hutang jangka pendek)
Hutang lancar adalah kewajiban dari perusahaan yang harus dibayarkan dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
Hutang lancar terdiri atas:
2.3.1.2.1.1 Hutang dagang, adalah suatu bentuk hutang lancar yang tidak disertai dengan janji tertulis secara formal yang timbul akibat pembelian barang atau jasa secara kredit.
2.3.1.2.1.2 Hutang wessel, hutang yang disertai janji tertulis (diatur oleh undang-undang) yang dibuat oleh perusahaan untuk membayar sejumlah uang kepada atau perusahaan lain pada waktu yang telah ditetapkan dalam surat tersebut.
2.3.1.2.1.3 Hutang pajak, baik pajak perusahaan tersebut maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke kas negara.
2.3.1.2.1.4 Biaya yang masih harus dibayar, adalah hutang yang timbul karena jasa-jasa yang diterima oleh perusahaan dalam suatu periode tetapi belum dibayar.
Misalnya, hutang gaji kepada pegawai, hutang bunga, hutang pajak, hutang sewa, dan lain-lain biaya yang masih harus dibayar. 2.3.1.2.2 Hutang jangka panjang.
Hutang jangka panjang adalah kewajiban keuangan dari perusahaan yang mana jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca yang terdiri atas:
2.3.1.2.2.1 Hutang obligasi, adalah suatu janji tertulis untuk membayar pokok pinjaman pada saat jatuh tempo ditambah dengan bunga yang akan dibayar secara teratur pada waktu tertentu,
2.3.1.2.2.2 Hutang hipotik yaitu hutang yang dijamin dengan aktiva tetap tertentu, 2.3.1.2.2.3 Pinjaman jangka panjang.
2.3.1.3 Ekuitas (Modal)
Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang ditahan, atau dapat diartikan sebagai selisih antara aktiva yang dimiliki perusahaan dengan seluruh hutang-hutang perusahaan. Terkadang dalam prakteknya klasifikasi dalam neraca seringkali membingungkan pembaca dengan nama reserve (cadangan) yang merupakan surplus, yang mana cadangan tersebut merupakan hak para pemilik perusahaan, sebagai contoh “cadangan untuk ekspansi” adalah merupakan pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning) yang mana dalam neraca akan masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).
2.3.3 Laporan Laba Rugi (Income Satement)
Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan dan biaya yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu.
Bentuk-bentuk laporan laba rugi terbagi atas dua yaitu:
2.3.3.1 Bentuk single step, adalah dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi suatu kelompok, sehingga untuk menghitung rugi laba bersih hanya memerlukan satu
langkah yakni mengurangkan total biaya dengan total pendapatan.
2.3.3.2 Bentuk multiple step, yakni pengelompokan yang lebih teliti sesuai prinsip yang digunakan secara umum.
Tujuan pokok laporan laba rugi adalah melaporkan kemampuan riil perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Laporan laba rugi perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan berbagai unsur kinerja keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara wajar. Laporan laba rugi minimal mencakup pos-pos berikut:
2.3.3.1 Pendapatan, 2.3.3.2 Laba rugi usaha, 2.3.3.3 Beban pinjaman,
2.3.3.4 Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas,
2.3.3.5 Beban pajak,
2.3.3.6 Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan, 2.3.3.7 Pos luar biasa,
2.3.3.8 Hak minoritas,
2.3.3.9 Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan. (IAI, 2002:1.14)
2.3.4 Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menggambarkan peningkatan atau penurunan aktiva bersih atau kekayaan selama periode yang bersangkutan. Perusahaan harus menyajikan laporan perubahan ekuitas sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan:
2.3.4.1 Laba atau rugi bersih periode yang bersangkutan,
2.3.4.2 Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui secara langsung dalam ekuitas,
2.3.4.3 Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi dan perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur dalam PSAK terkait,
2.3.4.4 Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada pemilik,
2.3.4.5 Saldo akumulasi laba atau rugi pada awal dan akhir periode serta perubahan, dan
2.3.4.6 Rekonsiliasi antar nilai tercatat dari masing-masing jenis modal saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap perubahan. (IAI, 2002:1.17)
Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan.
2.3.5 Laporan Arus Kas
Laporan arus kas dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pemakai untuk mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemapuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan keadaan dan peluang. (IAI, 2002:2.1) Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pemakai mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flow) dari berbagai perusahaan.
2.3.6 Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas
Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:
2.3.6.1 Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting,
2.3.6.2 Informasi yang diwajibkan dalam pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas,
2.3.6.3 Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
(IAI, 2002:1.17) 2.4 Analisis Laporan Keuangan
Menurut Soemarso (2005:21), “analisis laporan keuangan adalah menghubungkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan angka lain atau menjelaskan perubahannya (trend).”
Sedangkan menurut Harahap (1997:190),
Analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai makna antara satu dengan yang lainnya baik antara data kuantitatif maupun data nonkuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pemakai dari laporan keuangan terdiri dari pemakai internal perusahaan dan eksternal perusahaan. Pemakai internal seperti manajemen dalam menganalisa laporan keuangan dapat menilai perkembangan perubahan serta berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan yang akan datang. Sedangkan untuk pemakai eksternal, laporan keuangan tersebut dapat memberikan informasi bagi para pemilik perusahaan, kreditor, bursa saham, pemerintah tentang
kondisi keuangan dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu untuk menjawab adanya pertanyaan-pertanyaan dari pihak eksternal dan internal tersebut maka perlu dilakukan analisis terhadap laporan keuangan tersebut yang berfungsi untuk membandingkan atau mengidentifikasikan laporan keuangan tersebut terhadap pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut.
2.4.1 Sifat-sifat Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan mempunyai sifat-sifat seperti:
2.4.1.1 Fokus pelaporan adalah laporan laba rugi, neraca, arus kas, yang merupakan akumulasi transaksi dari keterjadian historis, dan penyebab terjadinya dalam suatu perusahaan, 2.4.1.2 Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang
sudah berlalu terhadap dampak prospek perkembangan keuangan perusahaan dimasa yang akan datang,
2.4.1.3 Dasar analisa adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan prinsip tersendiri sehingga hasil analisa sangat tergantung pada kualitas laporan ini. Penguasaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi sangat diperlukan dalam menganalisa laporan keuangan.
2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk menambah informasi yang ada dalam suatu laporan keuangan.
Secara lengkap tujuan analisis laporan keuangan adalah:
2.4.2.1 Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam, daripada yang terdapat dari laporan keuangan,
2.4.2.2 Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implicit),
2.4.2.3 Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan,
2.4.2.4 Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan dengan komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari luar perusahaan,
2.4.2.5 Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk prediksi dan peringkat (rating) 2.4.2.6 Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para
pengambil keputusan seperti:
2.4.2.6.1 Dapat menilai prestasi perusahaan,
2.4.2.6.3 Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari aspek waktu tertentu seperti posisi keuangan (asset, dan modal pada neraca), hasil usaha perusahaan (hasil dan biaya), likuiditas, solvabilitas, aktivitas, rentabilitas atau profibilitas, dan indikator pasar modal, 2.4.2.6.4 Menilai perkembangan dari waktu ke waktu, 2.4.2.6.5 Melihat komposisi struktur keuangan, arus dana 2.4.2.7 Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut
kriteria tertentu yang sudah dikenal dalam bisnis,
2.4.2.8 Dapat membandingkan situasi perusahaan dan perusahaan lain dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau standar ideal.
2.4.2.9 Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan, baik posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan, dan sebagainya,
2.4.2.10 Dapat memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan di masa yang akan datang.
2.4.3 Prosedur Analisis
Menurut Smith dan Skousen (2001:590),
Prosedur analitis dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu: 2.4.3.1 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data
keuangan yang berasal dari dua periode atau lebih Kategori ini meliputi laporan komparatif dari berbagai ratio dan trend untuk data pada sejumlah laporan yang berurutan, analisis perubahan pada neraca, perhitungan rugi laba, dan laporan perubahan posisi keuangan.
2.4.3.2 Perbandingan dan pengukuran berdasarkan data keuangan hanya dari suatu periode fiskal
Kategori ini mencakup penetapan hubungan neraca dengan perhitungan rugi laba periode berjalan dan penganalisaan laba dan kemampuan menghasilkan laba.
2.4.4 Metode Analisis
Secara umum metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
2.4.4.1 Metode Analisis Horizontal
Adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun (periode) sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Metode ini disebut juga dengan metode analisis dinamis karena metode ini bergerak dari tahun ketahun (periode).
2.4.4.2 Metode Analisis Vertikal
Adalah metode yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama, karena membandingkan antara pos-pos yang satu dengan pos-pos yang lainnya pada laporan keuangan yang sama.
Metode ini disebut juga sebagai metode statis karena metode ini hanya membandingkan pos-pos laporan keuangan pada tahun yang sama.
2.4.5 Teknik analisis
Teknik analisis yang biasa digunakan dalam analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
2.4.5.1 Analisis perbandingan laporan keuangan, 2.4.5.2 Analisis seri trend atau angka index,
2.4.5.3 Laporan dengan persentase per komponen (common size statement),
2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan modal kerja, 2.4.5.4 Analisis sumber dan penggunaan dana,
2.4.5.5 Analisis rasio,
2.4.5.6 Analisis perubahan laba kotor 2.4.5.7 Analisis Break-even
Dari jenis analisis di atas, penulis akan mempersempit cakupan pembahasannya, yaitu hanya menyajikan analisis rasio dalam Penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan yaitu mengenai analisis rasio.