• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen-komponen Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT)

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 31-38)

KEGIATAN SISWA

2.1.5 Model Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT)

2.1.5.5 Komponen-komponen Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT)

Analisis komponen-komponen Model TGT Slavin (2005:170) menjelaskan terdapat 4 komponen utama yang digunakan dalam model TGT yaitu:

1. Sintagmatik

a. Tahap menyampaikan informasi

Pada tahap penyampaian informasi dalam materi pelajaran oleh guru menggunakan cara diskusi, ceramah, maupun demonstrasi atau eksperimen dan dapat dibantu dengan media-media yang ada di sekolah guna memberikan informasi yang benar, nyata dan sesuai isi materi mata pelajaran tertentu. Pada tahapan ini guru harus menjelaskan secara sistematis dan jelas agar dalam penyampaian materi dapat diterima oleh peserta didik. Selanjutnya isi materi tersebut akan digunakan oleh peserta didik untuk menjawab kuis yang akan diberikan pada tahap berikutnya.

b. Tahap pembentukan tim atau pengorganisasian kelompok

Pada tahap ini guru membuat kelompok-kelompok dengan beranggotakan 4 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan pemahaman akademik yang berbeda-beda, dengan maksud agar mampu mengarahkan semua tim/kelompok untuk belajar bekerjasama untuk mengkaji materi yang diberikan oleh guru. Dengan berdiskusi dapat membantu anggota tim/kelompok yang berkemampuan akademik kurang sehingga secara tim/kelompok siap mengikuti kuis dan mampu meningkatkan hubungan antar sesama anggota tim/kelompok, meningkatkan kepercayaan diri dan keakraban antar peserta didik.

c. Tahap permainan (Game Tournament)

Pada tahap permainan, guru membuat permainan akademik yaitu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai materi ajar sebelumnya. Tahap ini merupakan indikator bagi guru untuk mengetahui kemajuan pengetahuan peserta didik setelah mendapatkan informasi secara klasikal dan hasil diskusi bersama tim/kelompoknya.

d. Tahap rekognisi tim

Tahapan ini menunjukan gambaran perbedaan peningkatan kemampuan /prestasi peserta didik, yang diperoleh dari jumlah skor tiap anggota tim/kelompok kemudian dicari rata - ratanya.

2. Prinsip Reaksi

Prinsip reaksi merupakan menggambarkan respon guru terhadap TGTpeserta dididiknya, peranan guru pada model adalah sebagai berikut: 1) Membangun ikatan emosional guna terciptanya suasana belajar yang nyaman atau kondusif dalam kegiatan belajar-mengajar; 2) Guru tidak hanya menjadi sumber/media pengetahuan bagi peserta didik tapi guru juga berperanan sebagai fasilitator, pendamping, dan motivator bagi peserta didik; 3) Guru harus mampu menciptakan suasana psikologis yang positif agar peserta didik memberikan respon yang baik terhadap materi yang disampaikan; 4) Guru harus mampu menjelaskan pentingnya bekerjasama agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan termasuk upaya peningkatan keterampilan kooperatif peserta didiknya; 5) Memberikan bantuan yang terbatas, maksud dari bantuan terbatas adalah hanya pada peserta didik yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut dapat berupa pertanyan untuk membuka wawasan peserta didik.

3. Sistem Sosial

Sistem sosial adalah pola hubungan guru dengan peserta didik pada saat terjadinya proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, pola hubungan antara guru dan peserta didik yaitu terjadi interaksi dua arah, yang artinya interaksi yang terjadiantara guru dengan peserta didik dan antara peserta didikdengan peserta didik yang lain. Proses pembelajaran dalam model TGT lebih berpusat pada peserta didik (student centered approach) karena peserta didik tidak dianggap sebagai objek belajar yang dapat diatur dan dibatasi oleh kemauan guru, melainkan peserta didik ditempatkan sebagai subjek yang belajar sesuai dengan bakat,

minatdan kemampuan yangdimiliki sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan peserta didik dalam TGT yang belajar bersama secara berkelompok dan melibatkan peseta didik sebagai tutor sebaya tanpa adanya tekanan dari guru. Dengan pembelajaran seperti itu, maka akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

4. Daya Dukung

Model pembelajaran TGT dalam pelaksanaannya memerlukan sarana, bahan dan alat yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sehingga dapat merubah lingkungan belajar yang semula membosankan menjadi lebih menarik dan dapat menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Tetapi tidak memerlukan fasilitas pendukung khusus seperti peralatan khusus atau ruangan khusus melainkan hanya meja-meja yang akan dipakai pada saat game tournament, buku-buku yang menyangkut materi yang dipelajari, LKS dan buku penunjang yang relevan.

5. Dampak Instrusional dan Dampak Pengiring TGT 1) Dampak Instruksional (Instructional Effect)

Dampak pembelajaran yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu sebagai berikut: a) Kemampuan konstruksi pengetahuan: dalam TGT peserta didik melakukan aktivitas dalam kelompok-kelompok kecil dan berinteraksi dalam sebuah permainan yang melibatkan peserta didik. Dengan aktivitas semacam ini dan dilaksanakan secara rutin, kemampuan peserta didik dalam konstruksi pengetahuan secara mandiri akan meningkat; b) Penguasaan bahan ajar: dalam model TGT, informasi (pengetahuan) melalui tugas yang dilakukan oleh kelompok. Pengetahuan yang diperoleh

sendiri dapat bertahan lama dalam ingatan peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebihbermakna; c) Kemampuan berpikir kritis: dalam model pembelajaran TGT, peserta didik dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikiran peserta didik sehingga kemampuan berpikir kritis peserta didik dapat berkembang dengan optimal; d) Keterampilan kooperatif: pembelajaran dengan TGT memberikan kesempatan kepada peserta didik dengan berbagai latar belakang kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda untuk bekerja sama, saling tergantung dan belajar menghargai satu sama lainnya. Kondisi semacam ini memungkinkan berkembangnya keterampilan-keterampilan untuk bekerja sama yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

2) Dampak Pengiring (Nurturant Effect)

Dampak pengiring yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu sebagai berikut: a) Minat (interest): minat yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran; b) Kemandirian atau otonomi dalam belajar: dalam pembelajaran yang menggunakan TGT, peserta didik tidak menerima pengetahuan secara pasif dari gurunya, tetapi peserta didik berupaya sendiri mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dalam kelompok-kelompok kecil. Kondisi semacam ini akan menumbuhkan kemandirian atau otonomi peserta didik dalam belajar; c) Nilai (value): pada TGT terkandung nilai kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda; d) Sikap positif

terhadap suatu mata pelajaran tertentu: adanya suasana persaingan yang kompetitif antar kelompok akan membuat peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran, baik dalammempelajari bahan ajar dan membangun pengetahuan sendiri. Kondisi ini akan membuat pembelajaran menjadi menyenangkan. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, maka akan dapat menumbuhkan sikap positif terhadap suatu mata pelajaran tertentu.

Bagan 2.2

Dampak Pengiring dan Dampak Instruksional Model PembelajaranTeam Games Tournament (TGT) Keterangan : Dampak Instruksional Dampak Pengiring Sportif Berfikir kritis Kerja sama Komunikatif Tanggung jawab Teams Game Tournament (TGT) Menentukan sifat bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga. Menghitung keliling dan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga.

Mengidentifikasi bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga. Memecahkan masalah tentang keliling dan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga. Menganalisis bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga. Menyelesaikan masalah keliling dan luas persegi, persegi panjang, dan segitiga. Menghargai

Antusias

2.1.5.6 Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran dengan Model Pembelajaran

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 31-38)

Dokumen terkait