• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok III. Pada kelompok III, anggota kelompok hanya berasal dari Tidore dan Bacan. Ciri khas dari kelompok ini adalah berdasarkan kemiripan

IDENTIFICATION OF ESSENTIAL OIL CONTENS OF NUTMEG GARMPLASM (Myristica spp.)

B. Komponen Minyak Atsiri Fuli Pala

1. M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna merah tebal (FMTB)

Kromatogram hasil analisis GC-MS minyak fuli pala berwarna merah tebal spesies M. fragrans Houtt. menghasilkan 25 puncak. Setiap puncak kromatogram mewakili masing-masing senyawa fuli pala merah tebal. Komponen atsiri ter-besar yang berhasil teridentifikasi dalam minyak fuli merah tebal adalah mono-terpene hydrocarbon sebesar 62.79% (10 komponen), monoterpene alcohol 11.54% (7 komponen), aromatic ether 23.30% (7 komponen) dan aromatic mono-terpene 2.37% (1 komponen) (Tabel 23). Persentase terbesar komponen kimia fuli pala tebal merah adalah sabinene 16.22%, pinene 14.47%, pinene 8.35%, terpinene 6.64%, terpinen-4-ol 8.90% dan myristicin 13.41% (Tabel 23).

Persentase terbesar komponen eter aromatis sebagai penyusun utama aroma mutu minyak fuli pala terdiri atas myristicin 13.41%, elemicin 1.51%, safrol 1.31%, serta golongan eugenol 7.00%. Kadar myristicin fuli lebih tinggi di-bandingkan dengan kadar myristicin biji yaitu diatas 10% (10 – 17%). Minyak fuli mempunyai sifat tidak beracun dan tidak menyebabkan iritasi, tetapi bila

digunakan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pingsan, hal ini karena kandungan myristicin, elemicin dan safrol tergolong sebagai aromatic ether yang mempunyai sifat psikotropik yang bersifat karsinogenik yang dapat menyebabkan halusinasi dan perasaan mengantuk terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak (Purseglove et al. 1981; Muchtaridi, 2007).

Tabel 23. Komponen minyak atsiri M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna merah tebal (FMTB)

No Peak

Nilai Retensi (menit)

Nama Komponen Volatil Kons.

(%) Kode 1 4.211 -pinene 15.47 MH 2 5.753 -pinene 8.35 MH 3 6.011 sabinene 17.22 MH 4 6.763 3–caren 1.44 MH 5 7.034 -mircene 2.90 MH 6 7.611 -terpine 4.35 MH 7 8.215 limonene 3.76 MH 8 8.492 -Phellandrene 3.66 MH 9 9.815 -terpinene 6.64 MH 10 10.587 p-cymene 2.37 AM 11 11.239 -Terpinolen 2.00 MH 12 19.239 -Terpineol 0.33 MA 13 23.544 4-thujana 0.24 MA 14 24.378 2-sikloheksen-1-ol 0.60 MA 15 26.578 Terpinen-4-ol 9.90 MA 16 27.844 2-sikoloheksen-1-ol 0.34 MA 17 31.606 -Terpinoel 0.93 MA 18 34.082 Trans-piperitol 0.20 MA 19 40.478 Safrol 1.31 AE 20 47.283 Methyleugenol 5.93 AE 21 49.711 Eugenol 0.07 AE 22 50.021 Methyl isoeugenol 0.91 AE 23 50.645 Elemicin 1.51 AE 24 51.164 Myristicin 13.41 AE 25 52.416 Cis-isoeugenol 0.17 AE

Keterangan : MH = Monoterpene Hydrocarbon, MA = Monoterpene Alcohols AM = Aromatic Monoterpene, AE = Aromatic Ether

2. M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna merah tipis (FMTP)

Kromatogram analisis GC-MS M. fragrans Houtt. fuli pala merah tipis memperlihatkan 24 puncak, dan setiap puncak mewakili satu komponen atsiri.

Tabel 24. Komponen minyak atsiri M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna merah tipis (FMTP)

No Peak

Nilai Retensi (menit)

Nama Komponen Volatil Kons.

(%) Kode 1 4.211 -pinene 13.26 MH 2 5.754 -pinene 7.80 MH 3 5.997 sabinene 14.21 MH 4 6.754 3–caren 1.30 MH 5 7.039 -mircene 2.41 MH 6 7.601 -terpine 4.03 MH 7 8.211 limonene 2.99 MH 8 8.487 2-thujana 3.18 MH 9 9.811 -terpinene 6.26 MH 10 10.587 p-cymene 2.08 AM 11 11.239 -Terpinolen 1.78 MH 12 19.244 Cis-4-thujana 0.53 MA 13 23.544 Sabinene-hydrate 0.40 MA 14 24.373 4-thujana 0.56 MA 15 25.573 terpinen-4-ol 7.91 MA 16 27.835 2-sikloheksen-1-ol 0.33 MA 17 31.602 -Terpineol 0.78 MA 18 40.473 Safrol 1.32 AE 19 47.283 methyleugenol 9.71 AE 20 49.711 Eugenol 0.07 AE 21 50.021 Methyl isoeugenol 2.24 AE 22 50.645 Elemicin 3.24 AE 23 51.159 Myristicin 14.24 AE 24 52.411 Cis-isoeugenol 0.37 AE

Keterangan : MH = Monoterpene Hydrocarbon, MA = Monoterpene Alcohols AM = Aromatic Monoterpene, AE = Aromatic Ether

Komponen aroma yang berhasil diidentifikasi menunjukkan bahwa minyak pala fuli merah tipis tersusun dari 24 komponen atsiri. Komponen-komponen tersebut adalah monoterpene hydrocarbon sebesar 57.22% (10 komponen), monoterpene alcohols 10.5% (6 komponen), aromatic ether 30.19% (7 kompo-nen) dan aromatic monoterpene 2.08% (1 komponen) (Tabel 24).

Komponen utama monoterpen hidrokarbon yaitu sabinene 14.21%,

-pinene13.26%, -pinene 7.8%, -terpinene6.26% dan -terpine 4.03%. Untuk komponen utama monoterpen alkohol yaitu terpinen-4-ol 7.91% dan terpineol 0.78%, sedangkan monoterpen aromatis adalah cymene 2.08%.

Komponen utama kualitas minyak fuli yaitu eter aromatis, terdiri atas myristicin 15.24%, elemicin 3.24%, safrol 1.32% dan golongan eugenol 10.39%. Minyak pala dari fuli memiliki kadar myristicin lebih tinggi dibanding minyak pala dari biji. Bila minyak pala diproses lebih lanjut akan menghasilkan 84% tri-myristicin, suatu kristal beracun turunan dari safrol yang merupakan senyawa dari methylene dioxyphenyl (Erowid, 2001), senyawa tersebut biasanya diguna-kan untuk sabun, detergen, parfum pengharum ruangan dan aroma terapi. 3. M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna putih tebal (FPTB)

Hasil analisis GC-MS M. fragrans Houtt. dari fuli pala bewarna putih tebal yang menunjukkan 23 puncak, dan setiap puncak mewakili masing-masing komponen atsiri fuli pala. Hasil analisis GC-MS minyak atsiri fuli pala berwarna putih tebal teridentifikasi mengandung monoterpene hydrocarbon 62.19%, mono-terpene alcohols 11.96%, ether aromatic 24.25% serta aromatic monoterpene 1.60% (Tabel 25).

Menurut Marlatt et al. (1992), selain komponen aromatik, monoterpen yang terdapat terbanyak dalam minyak atsiri adalah monoterpen hidrokarbon dan monoterpen alkohol. Monoterpen teroksigenasi merupakan penyusun komponen volatile minyak atsiri yang sangat berkontribusi terhadap kandungan aroma minyak atsiri.

Aroma minyak pala yang khas merupakan akibat dari kandungan be-berapa komponen kimia, seperti monoterpen hidrokarbon 62.19%, dengan kom-ponen utama sabinene 21.76%, - -pinene 19.19%, limonene 4.04% dan terpine 3.85%, sedangkan komponen fenolik eter terutama myristicin 14.37%, safrol 1.41% dan methyl eugenol 4.60%. Komponen lain yang ikut berperan yaitu monoterpen alkohol yaitu terpinen-4-ol 9.95%.

Tabel 25. Komponen minyak atsiri M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna putih tebal (FPTB) No Peak Nilai Retensi (menit)

Nama Komponen Volatil Kons.

(%) Kode 1 4.211 -Pinene 12.89 MH 2 5.754 -pinene 6.50 MH 3 6.015 Sabinene 20.76 MH 4 6.763 3–caren 1.36 MH 5 7.044 -mircene 2.69 MH 6 7.611 -terpine 3.85 MH 7 8.220 limonene 4.04 MH 8 8.496 2-thujana 1.27 MH 9 9.820 -terpinene 5.99 MH 10 10.592 p-cymene 1.60 AM 11 11.244 -Terpinolen 1.84 MH 12 24.373 Cis-4-thujana 0.57 MA 13 26.582 terpinen-4-ol 9.95 MA 14 27.844 2-sikloheksen-1-ol 0.35 MA 15 31.606 -Terpineol 0.89 MA 16 34.087 Trans-p-men-en3-ol 0.20 MA 17 40.483 Safrol 1.51 AE 18 47.278 Methyleugenol 4.60 AE 19 49.716 Eugenol 0.09 AE 20 50.021 Methyl isoeugenol 0.48 AE 21 50.645 Elemicin 2.87 AE 22 51.164 Myristicin 15.37 AE 23 52.416 Isoeugenol 0.43 AE

Keterangan : MH = Monoterpene Hydrocarbon, MA = Monoterpene Alcohols AM = Aromatic Monoterpene, AE = Aromatic Ether

4. M. fragrans Houtt. fuli pala berwarna putih tipis (FPTP)

Analisis GC-MS fuli pala M. fragrans Houtt. berwarna putih tipis (FPTP) teridentifikasi sebanyak 24 puncak, dengan masing-masing puncak mewakili komponen atsiri fuli pala. Komponen terbesar yang teridentifikasi adalah mono-terpene hydrocarbon sebesar 62.74% (10 komponen), komponen monoterpene

alcohols yaitu 12.11% (6 komponen) aromatic ether 23.17% (7 komponen) dan aromatic monoterpene 1.98% (1 komponen) (Tabel 26).

Tabel 26. Komponen minyak atsiri Myristica fragrans Houtt. fuli pala berwarna putih tipis (FPTP)

No Peak

Nilai Retensi (menit)

Nama Komponen Volatil Kons.

(%) Kode 1 4.215 -pinene 13.92 MH 2 5.763 -pinene 7.09 MH 3 6.015 sabinene 20.15 MH 4 6.758 3–caren 1.51 MH 5 7.039 -mircene 2.54 MH 6 7.611 -terpine 3.91 MH 7 8.206 -limonene 3.68 MH 8 8.501 -Phellandrene 2.11 MH 9 9.816 -terpinene 6.08 MH 10 10.582 p-cymene 1.98 AM 11 11.254 -Terpinolen 1.75 MH 12 19.244 4-thujanol 0.93 MA 13 23.544 Sabinene-hydrate 0.92 MA 14 24.378 2-sikloheksen-1-ol 0.58 MA 15 26.573 terpinen-4-ol 8.62 MA 16 27.840 2-sikloheksan-1-ol 0.32 MA 17 31.602 -terpineol 0.74 MA 18 40.483 Safrol 1.29 AE 19 47.273 Methyleugenol 5.24 AE 20 49.716 Eugenol 0.10 AE 21 50.026 Methyl isoeugenol 0.59 AE 22 50.645 Elemicin 2.30 AE 23 51.164 Myristicin 13.41 AE 24 52.421 Isoeugenol 0.24 AE

Keterangan : MH = Monoterpene Hydrocarbon, MA = Monoterpene Alcohols AM = Aromatic Monoterpene, AE = Aromatic Ether

Komponen-komponen kimia minyak atsiri M. fragrans Houtt. fuli pala ber-warna putih tipis tidak berbeda dengan komponen atsiri M. fragrans Houtt. fuli

pala berwarna merah tipis, yang berbeda hanya dalam persentase kuantitasnya. Persentase komponen monoterpen hidrokarbon fuli merah tipis (57.22%) lebih sedikit rendah dengan kadar fraksi sabinene (14.21%) juga lebih rendah dibandingkan dengan fuli putih tipis (62.74%), dan sabinene 20.15%. Hal yang sama untuk komponen eter aromatik, fraksi myristicin fuli merah merah tipis sebesar 15.24% lebih tinggi dibanding myristicin fuli putih tipis yaitu 13.41%. Persentase komponen monoterpen hidrokarbon, monoterpen alkohol dan kom-ponen aromatik tidak berbeda pada fuli pala warna putih tebal dan fuli pala merah tebal.

Komponen Minyak Atsiri Pala

Berdasarkan hasil analisis GC-MS pada 9 spesies pala dan fuli pala, maka komponen terbesar yang teridentifikasi adalah monoterpene hydrocarbon, monoterpene alcohols, aromatic ether dan aromatic monoterpene. Keempat kom-ponen tersebut, yaitu komponen monoterpen hidrokarbon merupakan komponen terbesar komposisinya dalam minyak pala yaitu 56.04–78.93% dan fuli 57.22–62.79%. Komponen utama yang juga berpengaruh terhadap kualitas minyak pala adalah golongan eter aromatik. Komposisi komponen dalam biji 7.19–26.63% dan fuli pala 23.17–30.19%. Komposisi komponen monoterpen alkohol pada biji 11.56–16.32% dan fuli 10.51–12.11% dan komponen monoterpen aromatik ter-dapat dalam jumlah yang kecil dalam biji dan fuli yaitu berkisar 1.60–2.37%.

Purseglove et al. (1981) melaporkan bahwa komposisi kimia minyak pala terdiri atas hidrokarbon monoterpen yang jumlahnya antara 61–88%, hidrokarbon teroksigenasi 5–15% dan eter aromatis 2–18%, sedangkan senyawa lainnya ter-dapat dalam jumlah yang sangat kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari 9 spesies yang dianalisis memperlihatkan perbedaan terhadap komponen monoterpen hidrokarbon serta eter aromatik. Spesies M. speciosa Warb. Me-ngandung persentase komponen monoterpen hidrokarbon lebih tinggi dengan kandungan eter aromatik paling rendah diantara 9 spesies pala. Spesies M. fragrans Houtt. dan M. succedanea Reinw. mempunyai persentase komponen monoterpen hidrokarbon dan eter aromatik yang tidak berbeda. Demikian pula pada Myristica sp. (PKBM, PTLK dan PHG1) memperlihatkan komponen mono-terpen hidrokarbon dan monomono-terpen teroksigenasi dengan persentase komposisi tidak berbeda dengan M. fragrans Houtt. Fuli pala warna merah tipis

me-nunjukkan perbedaan persentase lebih rendah untuk komponen monoterpen hidrokarbon dan monoterpen alkohol, tetapi untuk komponen eter aromatik mem-perlihatkan hasil yang tidak berbeda diantara fuli pala. Proporsi eter aromatik selalu lebih tinggi pada fuli dibanding dalam minyak pala.

Tabel 27. Komposisi minyak atsiri biji dan fuli pala dari 9 spesies di Maluku Utara

Spesies Golongan komponen (%) Monoterpen hidrokarbon Monoterpen aromatik Monoterpen alkohol Eter aromatik M. fragrans Houtt.(MFK) 61.61 2.20 12.10 24.05 M. fragrans Houtt. (FPBB) 60.31 2.20 14.63 24.55 M. succedanea Reinw.(MSC) 56.04 1.97 14.06 26.63 M. fatua Houtt.(MFT) 65.26 2.09 15.87 15.10

M. argentea Warb.(MARG) 69.76 1.97 13.14 15.13

M. speciosa Warb.(MSPC) 78.93 1.28 12.59 7.19

Myristica sp.aksesi Kecil Kulit Merah (PKBM) 69.65 1.67 16.32 12.36

Myristica sp. aksesiTelur Kambing Kecil (PTLK) 67.44 1.59 11.56 19.40

Myristica sp. aksesi Tidore Buah Besar (PHG1) 72.82 1.96 13.91 11.31

M. fragrans Houtt.–fuli merah tebal (FMTB) 62.79 2.37 11.54 23.30

M. fragrans Houtt.fuli merah tipis (FMTP) 57.22 2.08 10.51 30.19

M. fragrans Houtt.fuli putih tebal (FPTB) 62.19 1.60 11.96 24.25

M. fragrans Houtt.fuli putih tipis (FPTP) 62.74 1.98 12.11 23.17

Senyawa monoterpen yang terkandung dalam minyak pala merupakan

komponen atsiri dominan. Forrest dan Heacock (1972) melaporkan bahwa mi-nyak pala dapat mengandung komponen monoterpen hingga 80%. Belitz dan Grosh (1987) mengemukakan bahwa minyak biji pala mengandung 80% mono-terpen hidrokarbon, 4% monomono-terpen alkohol dan 11% senyawa aromatik. Kompo-nen minyak fuli terdiri atas 87.5% monoterpen hidrokarbon, 5.5% monoterpen alkohol dan 7% senyawa aromatik. Purseglove et al. (1981) mengatakan kons-tituen utama minyak atsiri pala dan fuli adalah monoterpen hidrokarbon, dan bersama sejumlah kecil komponen monoterpen oksigenasi dan eter aromatik. Penelitian juga mendapatkan bahwa beberapa spesies yang diuji memperlihat-kan komponen eter aromatik yang tinggi. Komponen aromatik adalah komponen yang paling penting baik dari segi ekonomi maupun nilai industri.

Perbedaan intensitas dan beberapa komponen aroma pada seluruh sampel minyak pala yang dianalisis tersebut karena faktor perbedaan spesies

dan faktor tempat tumbuh. Reineceius (1994) mengatakan bahwa minyak atsiri yang memberikan aroma spesifik pada tanaman terdiri atas campuran komponen organik yang terbentuk secara alami dengan jumlah yang relatif dan juga ter-gantung dari spesies dan faktor agrikultural seperti lingkungan, iklim, kondisi tanah, waktu pemanenan dan penanganan pasca panen.

Hasil analisis GC-MS pada 9 spesies pala dan fuli pala memperlihatkan komponen aromatik dari spesies M. fragrans Houtt., M. succedanea Reinw. dan Myristica sp. aksesi Telur kambing Kecil (PTLK) mengandung persentase komponen myristicin dan elemicin yang sama, tetapi persentase komponen safrol dan methyleugenol untuk M. fragrans Houtt. (FPBB) cukup tinggi yaitu sebesar 4.26% dan 4.27%. Persentase komponen myristicin terendah dihasilkan pada spesies M. argentea Warb., M. speciosa Warb. dan Myristica sp. aksesi Tidore Buah Besar (PHG1). Rata-rata kadar safrol dari 9 spesies yang dianalisis termasuk rendah yaitu dibawah 1% (kecuali M. fragrans Houtt. 4.26%, FPBB). Kadar elemicin terendah dihasilkan dari spesies M. speciosa Warb. dan Myristica sp. aksesi Kecil Kulit Merah (PKBM). Untuk komponen methyleugenol, per-sentasenya bervariasi diantara 9 spesies pala, dengan persentase terendah ter-dapat pada M. speciosa Warb. 0.66% (Tabel 28).

Tabel 28. Komponen utama senyawa aromatik 9 spesies pala dan fuli pala dari Maluku Utara

Spesies

Komponen Aromatik (%) Myristicin Elemicin Safrol

Methyl-Eugenol

M. fragrans Houtt.(MFK) 10.33 3.31 1.16 7.16

M. fragrans Houtt. (FPBB) 12.30 2.79 4.26 4.27

M. succedanea Reinw.(MSC) 12.90 2.90 1.59 7.48

M. fatua Houtt.(MFT) 10.55 2.65 0.92 1.18

M. argentea Warb.(MARG) 5.77 2.01 0.70 5.61

M. speciosa Warb.(MSPC) 5.13 0.34 0.87 0.66

Myristica sp.aksesi Kecil Kulit Merah (PKBM) 8.79 0.58 0.74 1.52

Myristica sp. aksesiTelur Kambing Kecil (PTLK) 12.37 1.49 1.71 2.19

Myristica sp. aksesi Tidore Buah Besar (PHG1) 6.15 1.57 0.78 1.96

M. fragrans Houtt.–fuli merah tebal (FMTB) 13.41 1.51 1.31 5.92

M. fragrans Houtt.fuli merah tipis (FMTP) 15.24 3.24 1.32 7.71

M. fragrans Houtt.fuli putih tebal (FPTB) 14.37 2.87 1.41 4.60

Baldry et al. (1976) melaporkan Komposisi komponen minyak pala dari berbagai wilayah geografis dilaporkan sama dalam hal kualitasnya, tetapi secara substansial berbeda dalam kuantitas kandungan volatil. Komponen minyak atsiri yang berasal dari India Barat (Grenada) ditemukan rendah alpha-pinene, safrol, dan myristicin tetapi tinggi sabinene bila dibandingkan dengan minyak atsiri pala dari India Timur. Konsentrasi myristicin yang tinggi ditemukan menjadi ciri khas minyak pala dari india Timur (Indonesia), tetapi terdapat variasi yang cukup besar antara masing-masing minyak pala, dengan konstituen persentase myristicin berkisar 3.3–13.5%.

Komponen aromatik yang berhasil diidentifikasi dari fuli pala berwarna merah dan putih memperlihatkan komponen myristicin untuk semua jenis fuli pa-da kisaran 13.41–15.24%, dengan kadar myristicin tertinggi dihasilkan fuli pala berwarna merah tipis. Rata-rata safrol yang teridentifikasi diatas 1% dengan ki-saran 1.29–1.41%, konsentrasi safrol dalam minyak fuli termasuk tinggi. Mutu kualitas minyak pala dibutuhkan persentase kandungan safrol dibawah 1 %.

Elemicin merupakan komponen utama dari fraksi eter aromatik yang ter-kandung dalam minyak pala dan fuli. Elemicin berkontribusi terhadap pem-bentukan aroma mutu minyak pala dalam jumlah yang lebih kecil dibanding safrol dan myristicin. Aroma minyak pala terutama disebabkan oleh adanya eter aromatis, dengan komponen utama myristicin, safrol, elemicin dan eugenol yang memberikan bau khas pala dan pengaruh menenangkan (Purseglove et al. 1981). Walaupun myristicin berkontribusi paling banyak dalam hal jumlah, tapi myristicin bukan merupakan komponen tunggal pembentuk roma pala. Aroma minyak pala dibentuk oleh gabungan komponen-komponen penyusunnya dengan myristicin yang paling banyak memberikan kontribusi terhadap aroma minyak atsiri pala.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Archer (1988) memperlihatkan bah-wa pala Indonesia M.fragrans Houtt. mengandung myristicin 2% lebih tinggi bila dibandingkan dengan M. argentea Warb. 0,13%. Myristicin dilaporkan tidak di-temukan dalam M. Muelleri Warb. Kandungan safrol, yang dicurigai bersifat kar-sinogen masing-masing sebesar 0.13% dalam M. fragrans Houtt, 0.51% M. argentea Warb. dan 0.24% dalam M. Muelleri Warb. Fraksi myristicin bersama dengan elemicin yang bertanggung jawab atas sifat halusinogen pada biji pala.

Simpulan

Kadar minyak atsiri tertinggi dihasilkan spesies M. succedanea Reinw. (12.56%) dan Myristica sp. aksesi Tidore Buah Besar (PHG1) dan kadar ter-rendah M. argentea Warb. (8.84%) dan M. speciosa Warb. (9.37%). Kadar minyak atsiri fuli sebesar 19.60–21.30%. Kadar minyak fuli 21%, lebih tinggi dibanding-kan kadar minyak biji pala (11%). Sifat fisiko-kimia (bobot jenis, indeks bias, putaran optik, sisa penguapan dan kelarutan dalam etanol) 9 spesies pala Maluku Utara umumnya stabil dan memenuhi standar mutu SNI, kecuali spesies M. succedanea Reinw, M. fatua Houtt. memiliki putaran optik yang tinggi me-nyimpang dari standar SNI. Sifat fisiko-kimia 4 macam fuli pala memenuhi standar SNI.

Analisis GC-MS minyak dari 9 spesies dan fuli pala menunjukkan bahwa minyak pala tersusun atas komponen monoterpen hidrokarbon, monoterpen alkohol, monoterpen aromatik dan eter aromatik, dengan persentase komponen monoterpen hidrokarbon lebih tinggi. Komponen minyak atsiri 9 spesies dan fuli memiliki komponen utama yang sama yaitu -pinene, -pinene, sabinene dan terpinen-4-ol. Pinene merupakan senyawa monoterpen hidrokarbon yang banyak dijumpai dalam minyak pala dan fuli pala. Komponen aromatik utama 9 spesies pala dan fuli pala adalah myristicin, safrol, elemicin dan methyleugenol. Kadar myristicin tertinggi di jumpai pada M. fragrans Houtt. 12.30%, M. succedanea Reinw. 12.90% dan Myristica sp. aksesi Telur Kambing (PLTK) 12.37%, serta pada fuli berwarna merah tipis. Kadar safrol tertinggi dijumpai pada M. fragrans Houtt. (FPBB) 4.26% .

IDENTIFIKASI SEKS TANAMAN PALA (Myristica fragans Houtt.)

Abstrak

Permasalahan utama budidaya tanaman pala dengan cara pembibitan yaitu belum dapat diketahui pasti tipe seks tanaman bibit, seks tanaman baru diketahui saat tanaman berumur 5-7 tahun. Identifikasi tipe seks menggunakan penanda morfologi pada stadia biji dan bibit pala akan menghindarkan terpilihnya tanaman jantan sehingga akan lebih mengefesienkan waktu, biaya dan tenaga kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan metode penanda yang dapat mendeteksi dan membedakan secara dini seks tanaman pala pada stadia biji dan tanaman bibit kurang dari enam bulan. Bahan penelitian adalah populasi tana-man pala di Ternate, Tidore, dan Makian serta benih pala. Metode penelitian analisis Khi-kuadrat dan analisis SAS. Hasil penelitian memperlihatkan berdasar-kan penanda morfologi dapat membedaberdasar-kan pohon betina dan jantan, monoe-cious dan trimonoecious dan bunga hermaphrodit. Perbedaan pohon betina dan jantan adalah bunga betina yang tidak memiliki staminate dan bunga jantan tidak memiliki pistilate. Morfologi Seks tanaman betina habitus lebih piramid, daun lebih besar, bunga 1-3, sedangkan tanaman jantan habitus lebih semi piramid-membola dengan daun lebih kecil dan jumlah bunga lebih dari 3 pertangkai. Morfologi tanaman monoecious, hermaphrodit dan trimonoecious tidak mem-perlihat perbedaan dengan tanaman betina. Prediksi seks berdasarkan biji yang bertanduk dan berlingir adalah biji jantan, biji yang tidak bertanduk dan berlingir adalah biji betina. Morfologi bibit bercabang dan akar bercabang adalah tanaman betina, bibit dan akar tidak bercabang adalah tanaman jantan dengan nisbah ratio prediksi gabungan seks biji, perakaran dan percabangan 2:1. 3:1, 9:6:1 dan 9:3:3:1, dengan tipe seks betina lebih dominan.

SEX IDENTIFICATION OF NUTMEG PLANTS (Myristica fragans Houtt.)

Abtract

Nutmeg plant development by way of breeding is still experiencing difficulties in the provision of seeds that can not be known for certain sex mature plants at the plant, where the sex of new plants are known as 5-year-old plants. Identification of the type of sex using morphological markers in seeds and seedlings stadia nutmeg will prevent the election of a male plant so it would be mengefesien time, cost, manpower and other resources. The purpose of this study is a method to detect markers that distinguish early sex and gender on the stadia nutmeg crop seeds and seedlings of plants less than six months. Materials research is a nutmeg plant populations in Ternate, Tidore, and Makian and nutmeg seed. Research methods Khi-square analysis and analysis of SAS. The results show based on morphological markers to distinguish between male and female trees, and flowers monoecious, trimonoecious and hermaphrodit. Differences in female and male trees are the female flowers with no staminate and male flowers do not have pistilate. Sex morphology of the female plants habitus more pyramids, larger leaves, flowers 1-3, while the male plants more semi habitus pyramid - membola with smaller leaves and flower number more than 3 pertangkai. Sex morphology monoecious plants, and trimonoecious, hermaphrodit showed no difference with the female plants. Predicted sex is based on the horns and berlingir seeds are seeds that are not male and beans are the seeds berlingir horns and females. Branching morphology of seedlings and root branching are female plants, seeds and plant roots are not branching ratio of males to the sex ratio predictions of seed, roots and branching is 2:1, 3:1, 9:6:1 and 9:3:3:1 with a type of female sex is more dominant.

Key words: nutmeg, morphological markers, sex nutmeg, hermaphrodit, sex prediction

Pendahuluan

Budidaya tanaman pala dengan cara pembibitan hingga saat ini masih mengalami kendala dalam hal penyediaan bibit yang belum bisa diketahui seks tanaman pada saat tanaman dewasa. Saat ini petani pala di Maluku Utara masih menghadapi kendala dalam mendeteksi dini atau menentukan seks tanaman pala terutama pada stadia bibit berumur kurang dari enam bulan. Seks tanaman baru diketahui setelah tanaman dewasa berumur 5–7 tahun. Jangka waktu yang lama tersebut akan sia-sia bila tanaman pala yang ditanam ternyata merupakan tanaman jantan, sebab tanaman jantan tidak akan menghasilkan buah, dan hal ini mengakibatkan kerugian bagi petani pekebun.

Pada pohon pala dewasa yang telah berumur lebih dari 7 tahun, dengan karakter morfologi dapat dibedakan pohon pala jantan dan betina. Pada per-kebunan pala dikenal ada rekomendasi seks ratio 1:10, yang berarti dalam setiap 10 barisan pohon betina terdapat 1 pohon jantan. Untuk mendapatkan komposisi pertanaman pala yang ideal seperti diatas, jenis kelamin tanaman pala harus ditentukan sejak stadia benih hingga bibit. Sampai sekarang belum dapat di-ketahui apakah suatu biji dapat berkembang menjadi tanaman jantan, betina atau berumah satu (Hadad dan Syakir,1992). Seks tanaman pala jantan, betina dan berumah satu tidak dapat dibedakan sebelum tanaman berbunga yaitu se-telah berumur 5 – 7 tahun (Purseglove et al. 1981).

Selama ini, untuk memenuhi rekomendasi seks ratio 1:10, dilakukan pe-mangkasan pohon pala jantan dewasa untuk memperkecil rasio pohon jantan terhadap pohon betina. Kegiatan pemangkasan pohon pala jantan tersebut ten-tunya cukup merugikan, baik dari segi waktu maupun biaya. Masalah diatas rupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya tanaman pala karena me-nurut Deinum (1949), serta Hadad dan Syakir (1992), dari 100 biji yang ditanam, yang menjadi pohon betina sebanyak 55, pohon jantan 40 dan pohon monoe-cious 5. Kondisi nisbah kelamin demikian sangat merugikan karena hasil pro-duksi pala menjadi lebih rendah dari yang seharusnya diperoleh akibat ba-nyaknya tanaman jantan yang tidak dikehendaki sejak awal.

Salah satu solusi yang telah dicoba untuk mengatasi kerugian tersebut yaitu dengan melakukan grafting pada pohon pala betina. Ada beberapa kendala dalam melakukan grafting pada tanaman pala, yaitu tingkat keberhasilannya masih cukup rendah yaitu sekitar 15%. Faktor penyebabnya yaitu adanya

ken-dala inkompatibilitas antara batang bawah dan batang atas, sehingga metoda tersebut belum bisa digunakan untuk mengatasi masalah seks ratio (Hadad dan Syakir, 1992). Penelitian selanjutnya mengenai penentuan seks melalui ekstrak daun tanaman pala. Ekstrak daun pala yang berasal dari berbagai seks pala

Dokumen terkait