Tanaman kayu putih merupakan salah satu keluarga Murtaceae dengan bentuk berupa pohon yang bermanfaat sebagai sumber minyak atsiri berupa minyak kayu putih. Minyak atsiri yang dihasilkan dari daun kayu putih ini berguna sebagai bahan baku obat gosok yang memiliki banyak fungsi, seperti analgesik atau pereda nyeri, desinfektan atau pembunuh kuman, ekspektoran atau peluruh dahak dan antipasmodik atau pereda nyeri pada perut (Handita, 2011). Minyak kayu putih memiliki beberapa komponen penyusun yang cukup bervariasi. Dari hasil identifikasi komponen minyak atsiri yang diperoleh penyulingan daun kayu putih segar dengan menggunakan GC-MS diperoleh dari hasil bahwa minyak kayu putih pada daun tersebut mengandung 32 jenis komponen sedangkan dari penyulingan
Universitas Sumatera Utara
daun M. Folium kering diperoleh 26 jenis komponen yang menyusun minyak kayu putih yang dihasilkan dari penyulingan.
Dari beberapa komponen penyusun minyak kayu putih yang diperoleh dari penyulingan daun kayu putih terdapat 7 komponen penyusun utama minyak kayu putih dari daun segar, yaitu :
1. α–pinene
7. Elemol (Siregar & Nopelena, 2010).
Menurut Guenther 1990, menyebutkan bahwa komponen utama penyusun minyak kayu putih putih adalah sineol (C10H18O), piene (C10H8), benzaldehide (C10H5HO), limone (C10H16) dan sesquiterpen (C15H24).
Komponen yang memiliki kandungan cukup besar didalam minyak kayu putih, yaitu sineol sebesar 50% sampai dengan 65%.Dari berbagai macam komponen penyusun minyak kayu putih hanya kandungan komponen sineol dalam minyak kayu putih yang dijadikan penentu mitu minyak kayu putih.Sineol merupakan senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri, seperti pada minyak kayu putih. Semakin besar kandungan bahan sineol maka akan semakin baik mutu minyak kayu putih (Sumandiwangsa et al, 1973). Komponen penyusun Eukaliptus Robusta :piperitone, rho-cymene, linalool,1,8-cineole, terpinen-4-ol, sitronelat asetat dan alfa-terpinol. Obat: E. robusta dilaporkan memiliki aktivitas antimalaria yang signifikan.
Adapaun Peneliti terdahulu menganalisis kandungan yang dilakukan dengan proses destilasi yang sama namun jenis Eucalyptus Globulus yang berbeda dapat dilihat pada tabel 2.1
Universitas Sumatera Utara
Tabel. 2.1 Kandungan Kimia dari Daun minyak esensial Eukaliptus Globulus
Tabel 2.2 Karakteristik minyak atsiri Eucalyptus Citriodora dan perbandingannya dengan minyak nilam berdasarkan Standar Nasional Indonesia dan Essential Oil
Keterangan: SNI 06-2385-2006 (BSN 2006) ;EOA (2006)
No. Rumus Senyawa Kandungan
2.4.1 Sineol
Sineol atau 1,8-cineole adalah eter siklik alami dan anggota monoterpenoid. Eukaliptol dihasilkan dari banyak anggota marga Eucalyptus dan beberapa anggota suku Myrtaceae, Seperti Malaleuca dan Szygium.
Sineol juga dikenal dengan berbagai dengan berbagai sinonim : 1,8-cineole, eukaliptol, cajeputol, 1,8-epoksi-p-mentana, 1,8-oxido-p-mentana, eucalyptol, eucalyptole 1,3,3-trimetil-2-oxabicyclo [2,2,2] oktan, cineol, cineole.
Gambar 2.2 Struktur 1,8-Cineole
Cineole memiliki rumus molekul C10H18O, memiliki massa molar 154,249 g/mol, kepadatan 0,9225 g/cm, dan titik lebur 1,5 0C dan titik didih 176-177
OC. Dalam penelitian ini, konsentrasi sineol yang ditemukan mencapai 34,88%
dan merupakan konsentrasi tertinggi dibandingkan dibandingkan dengan senyawa lainnya. (Octavianus, 2016)
Eucalyptol (1,8-Cineole) merupakan senyawa organik tak berwarna yangpertama diidentifikasi dari Eucalyptus globulus pada tahun 1870 oleh Cloez (Boland, 1991). Senyawa ini diproduksi oleh beberapa jenis tanaman termasuk tanaman dari famili Myrtaceae yaitu kayu putih (Joel, 1991) Senyawa ini juga merupakan komponen penyusun minyak kayu putih.Senyawa eucalyptol bersifat mudah menguap.Senyawa eter siklik dan terpenoid ini menyusun sekitar 90% minyak esensial berbagai produk minyak Eucalyptus.Eucalyptol juga ditemukan pada daun bay, teh, basil, rosemary, ganja, dan berbagai tumbuhan berdaun aromatik lainnya (Fleming, 200).Senyawa ini juga terdapat dalam minyak kayu putih. Dalam minyak kayu putih terkandung senyawa eucalyptol sebanyak 21,3 %. Konsentrasi tersebut menyebabkan minyak kayu putih dapat digunakan sebagai insect repellent pada tubuh manusia. (Pino, 2013)
Universitas Sumatera Utara
Sineol dengan kemurnian 99,6-99,8 % dapat diperoleh dalam jumlah besar oleh distilasi fraksional minyak kayu putih. Senyawa 1,8-sineol memiliki karakteristik segar dan aroma camphor dan rasa pedas yang memiliki bioaktifitas yang memiliki banyak manfaat, yaitu penurunan aktivitas lokomotor (antikejang), anti-kanker dan anti-tumor, antibakteri, antifungi, antiinflamasi, antioksidan, insektisida dan repelan, dan dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskular. (Boland, et al, 1991).Meskipun dapat digunakan sebagai penyedap makanan dan bahan obat, sineol dapat mengakibatkan keracunan jika tertelan melebihi dosis normal (Science Lab, 2009).Komponen utama dalam Minyak Kayu putih adalah Sineol, yang Kadarnya mencapai 50-65 %.Senyawa ini terdapat pada sejumlah besar minyak atsiri. Minyak Kayu putih akan teramsuk kedalam kelas mutu U (Utama) jika memiliki kadar sineol ≥55% dan mutu P (Pertama) jika memiliki kadar sineol ≤ 55%. (Sumandiwangsa et al, 1973).
2.2.4. Biosintesis Minyak atsiri
Terpen-terpen adalah suatu golongan senyawa yang sebagian besar terjadi dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Hanya sedikit sekali terpen-terpen yang diperoleh dari sumber-sumber lain. Secara umum biosintesa dari terpenoid terjadi 3 reaksi dasar yaitu
: 1. Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat
2. Penggabungan kepala dan ekor dua unit isprene akan membentuk mono-, seksui-, di-, sester-, dan poli-terpenoid.
3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan steroid.
Beberapa contoh terpenoid :
Gambar 2.3 Struktur Terpenoid
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan proses biosintesis minyak atsiri atau pembentukan komponen minyak atsiri didalam tumbuhan, minyak atsiri dapat dibedakan menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah turunan terpen yang tebentuk dari asam asetat melauli jalur biosintesis asam mevalonat.Golongan kedua adalah senyawa aromatik yang tebentuk dari biosintesis asam sikimat melalui jalur fenil propanoid (Agusta, 2000). Sineol atau 1,8-cineole adalah eter siklik alami dan anggota monoterpenoid. Monoterpen merupakan senyawa yang memiliki jumlah atom C sebanyak 10 yang terdiri dari 2 unit isopren.Berikut adalah contoh dari pembentukan senyawa-senyawa monoterpen dan senyawa terpenoida berasal dari penggabungan 3,3 dimetil allil pirofosfat dengan isopentenil pirofosfat.
Gambar 2.4 Biosintesis Miracen, golongan Monoterpen Dari bahan asal yang sama juga dibentuk :
Gambar 2.5 Senyawa Golongan Monoterpen Semua senyawa di atas banyak terdapat dalam minyak atsiri.
Universitas Sumatera Utara
2.5. Sifat Fisika- Kimia Minyak Kayu Putih