• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kampung Wisata

2.1.3 Komponen Pariwisata

Komponen pariwisata merupakan berbagai aspek yang berperan didalam pariwisata itu sendiri. Terdapat 4 komponen pariwisata yang disebut 4A yaitu: Attraction, Accessibility, Amenities, and Ancillary (Cooper, 2000).

Berikut merupakan penjelasan mengenai empat komponen pariwisata tersebut.

a. Attraction

Crouch dan Ritchie (1999) dalam Vengesayi (2003), menyatakan bahwa atraksi merupakan elemen dasar dari sebuah destinasi wisata yang juga sebagai motivator kunci bagi wisatawan untuk mau berkunjung. Sependapat dengan itu, Goeldner et al.

(2000), dalam Vengesayi (2003), menyatakan bahwa atraksi merupakan alasan utama pengunjung memilih suatu destinasi daripada yang lain. Atraksi dikelompokan menjadi lima kelompok utama kebudayaan, alam, event, rekreasi dan hiburan.

Sedangkan Pitana dan Diarta (2009), mengartikan atraksi sebagai elemen-elemen yang terkandung dalam destinasi secara individual atau kombinasinya memegang peranan penting dalam memotivasi wisatawan untuk berkunjung ke destinasi tersebut.

Atraksi destinasi bisa berupa:

1. Atraksi alam seperti landscape, pantai, pegunungan, iklim, lembah;

2. Atraksi buatan seperti kota bersejarah, taman dan resor;

3. Atraksi budaya seperti atraksi teatrikal, drama, festival, museum dan galeri, dan;

4. Atraksi sosial seperti kesempatan berbaur dengan masyarakat di daerah tujuan wisata dan ikut mengalami cara hidupnya bersama.

Tabel II. 1 Diskusi Jenis Atraksi dalam Komponen Pariwisata

No. Sumber Atraksi dalam dan galeri, dan 2. Atraksi sosial

seperti kesem-patan berbaur dengan masya-rakat di daerah tujuan wisata dan ikut mengalami cara hidupnya bersama.

2 Pitana dan Diarta (2009)

1. Atraksi alam seperti landscape, pantai, pegunungan, iklim, lembah;

2. Atraksi buatan seperti kota bersejarah, taman dan resor;

3. Atraksi budaya seperti atraksi teatrikal, drama, festival, museum dan galeri, dan;

4. Atraksi sosial seperti kesempatan berbaur dengan masyarakat di daerah tujuan wisata dan ikut mengalami cara hidupnya bersama.

Sumber: Penulis, 2018

Secara garis besar, Goeldner serta Pitana dan Diarta memiliki kemiripan dalam menjabarkan jenis atraksi sebagai komponen utama pariwisata. Jika disesuaikan dengan kondisi wilayah penelitian

sebagai kampung wisata yang memiliki nilai budaya, maka jenis atraksi yang dipakai yaitu, sebagi berikut:

1. Atraksi budaya seperti atraksi teatrikal, drama, festival, museum dan galeri; dan

2. Atraksi sosial seperti kesempatan berbaur dengan masyarakat di daerah tujuan wisata dan ikut mengalami cara hidupnya bersama.

b. Accessibility

Menurut Trihatmodjo, dalam Yoeti (1997), aksesi-bilitas adalah kemudahan dalam mencapai daerah tujuan wisata baik secara jarak geografis atau kecepatan teknis, serta ketersediaan sarana tranportasi ke tempat tujuan wisatanya. Aksesibilitas juga merupakan salah satu aspek penting yang mendukung pengembangan pariwisata, karena menyangkut pengembangan lintas sektoral.

(Suwantoro, 2002).

Dalam pariwisata, aksesibilitas menurut Medlik (2003) merupakan fungsi jarak dari pusat populasi yang merupakan pasar pengunjung pariwisata dan transportasi eksternal yang dapat meraih destinasi pariwisata. Hal ini diukur dari segi jarak tempuh, waktu yang ditempuh atau biaya yang terlibat (Medlik, 2003).

Menurut Suwantoro (1997), Aksesibilitas merupakan akses penghubung antar zona untuk mempermudah mencapai tujuan dari daerah asal ke daerah tujuan wisata. Wujud unsur yang dapat dijadikan tolak ukur, antara lain:

a. Klasifikasi kelas jalan b. Jarak kawasan wisata

c. Ketersediaan jumlah moda angkutan beserta jaringan trayek

d. Kondisi prasarana dan sarana perhubungan darat, laut, dan udara

e. Frekuensi dan kecepatan layanan moda transportasi menuju kawasan wisata

Sedangkan Soekadijo (1997), mengungkapkan bahwa aksesibilitas terdiri dari akses informasi dimana adanya kemudahan menemukan dan mencapai objek wisata, akses kondisi jalan yang dapat dilalui untuk sampai ke tempat wisata serta adanya tujuan akhir suatu perjalanan.

1. Akses informasi.

Akses informasi dalam pariwisata yaitu berupa promosi dan publikasi. Bentuk informasi yang lengkap, baik publikasi maupun promosi dari objek wisata tentu menyebabkan para wisatawan semakin mudah menyeleksi kawasan-kawasan yang dipilih untuk dikunjungi. Promosi adalah kegiatan yang intensif dalam waktu yang relatif singkat. Promosi juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan suatu program pemasaran.

Sedangkan publikasi harus berusaha lebih menyesuaikan produk dengan permintaan pasar, maka publikasi berusaha menciptakan permintaan atau memengaruhi permintaan dengan cara me-nonjolkan kesesuaian produk pariwisata dengan permintaan. Publikasi dapat berupa leaflet, brosur serta publikasi lewat media masa.

2. Akses kondisi jalan menuju obyek wisata

Akses jalan masuk dari sebuah objek wisata sebagai akses utama pengunjung, harus berhubungan dengan prasarana umum. Kondisi jalan umum dan jalan akses menentukan aksesibilitas suatu obyek wisata. Aksesibilitas ini merupakan syarat yang penting sekali untuk obyek wisata.

3. Sebagai tempat akhir perjalanan.

Sebagai tempat akhir perjalanan, sebuah objek wisata harus memiliki terminal (pemberhentian), atau setidak-tidaknya tersedia tempat parkir. Baik jalan akses maupun tempat parkir harus sesuai dengan kebutuhan, yaitu sesuai dengan jumlah wisatawan yang diharapkan kedatangannya dan jenis serta jumlah kendaraan yang diperkirakan akan digunakan oleh para wisatawan.

Tabel II. 2 Diskusi Jenis Aksesibilitas dalam Komponen Wisata

No. Sumber Aksesibilitas dalam Komponen Wisata 3. Biaya yang terlibat

1. Akses informasi 2. Akses

1. Klasifikasi kelas jalan

2. Jarak kawasan wisata 3. Ketersediaan

jumlah moda angkutan beserta jaringan trayek 4. Kondisi prasarana

dan sarana perhubungan darat, laut, dan udara 5. Frekuensi dan

1. Akses informasi 2. Akses kondisi jalan 3. Sebagai tempat

akhir perjalanan Sumber: Penulis, 2018

Dari ketiga sumber diatas, maksud aksesibilitas dalam komponen wisata adalah bagaimana pengunjung dapat sampai ditempat wisata, yang dilihat dari segi sisi informasi yang terkait keberadaan sebuah tempat wisata, kondisi prasarana

penghubung atau akses jalur masuk, serta adanya tempat pemberhentian untuk menuju sebuah tempat wisata, baik terminal atau setidaknya tempat parkir.

Untuk itu, batasan jenis aksesibilitas yang diambil dengan melihat kondisi wilayah penelitian adalah:

1. Akses informasi,

2. Akses penghubung/jalur masuk, dan 3. Akses pemberhentian/parkir.

c. Amenities

Pitana dan Diarta (2009), menjelaskan bahwa fasilitas destinasi/amenitas merupakan elemen yang berhubungan dengan destinasi yang dapat membuat wisatawan untuk tinggal, baik menikmati ataupun berpartisipasi dalam atraksi yang ditawarkan.

Fasilitas destinasi bisa berupa:

1. Akomodasi, 2. Restoran, 3. Café dan bar,

4. Transportasi, termasuk penyewaan alat transportasi dan taxi, serta pelayanan lain termasuk toko, salon, pelayanan informasi dan sebagainya.

Spillane (2000), mengungkapkan bahwa fasilitas fisik (physical facility) adalah sarana yang disediakan oleh pengelola obyek wisata untuk memberikan pelayanan atau kesempatan kepada wisatawan menikmatinya. Dengan tersedianya sarana, maka mendorong calon wisatawan untuk berkunjung dan menikmati objek wisata dengan lebih lama.

Suwantoro (2002), menyatakan bahwa fasilitas pariwisata terdiri dari akomodasi, restauran, usaha rekreasi dan hiburan, transportasi serta sarana lain seperti souvenir shop, penyedia air dan sarana toilet.

Akomodasi adalah sarana untuk menyediakan

pelayanan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan makan dan minum serta jasa lainnya.

Tabel II. 3 Diskusi Jenis Amenitas dalam Komponen Wisata

No. Sumber Amenitas dalam Komponen Wisata 4. Transportasi,

termasuk penyewaan alat transportasi dan taxi, serta pelayanan lain termasuk toko, salon, pelayanan 3. Toko souvenir 4. Sarana toilet

2 Suwantoro

4. Transportasi 5. Sarana lain seperti

souvenir shop 6. Penyedia air 7. Sarana toilet Sumber: Penulis, 2018

Jenis amenitas menurut ahli yang tersebut diatas merupakan hal yang dapat memengaruhi kunjungan wisatawan, sehingga adanya upaya penyediaan amenitas tersebut diperlukan. Dengan menyesuaikan kondisi wilayah penelitian dan upaya penyediaannya oleh masyarakat yaitu:

1. Akomodasi

2. Tempat makan/warung 3. Toko souvenir

4. Sarana toilet

d. Ancillary

Menurut Gunn dan Var (2002), ancillary atau penyokong merupakan komponen penunjang pariwisata yang dapat digunakan untuk memper-mudah wisatawan selama berwisata. Keberadaan ancillary di destinasi akan menjadikan wisatawan nyaman, aman dan terjamin keselamatannya.

Adapun ancillary menurut Sugiama (2015) dapat berupa tourism board, tourism association, ataupun tourism communities. Layanan tambahan diberikan oleh lembaga atau instansi berwenang di daerah terdiri dari peraturan yang mendukung penyeleng-garaan kegiatan wisata dan dukungan petugas yang siap sedia membantu wisatawan.

Dari penjelasan empat komponen pariwisata yang digunakan, berikut disajikan sintesa diskusi masing-masing jenis komponen wisata.

Tabel II. 4 Sintesa Diskusi Jenis Komponen Pariwisata Komponen

Pariwisata Jenis Komponen Pariwisata Attraction 1. Atraksi budaya seperti atraksi teatrikal,

drama, festival, museum dan galeri, dan

2. Atraksi sosial seperti kesempatan berbaur dengan masyarakat di daerah tujuan wisata dan ikut mengalami cara hidupnya.

Accessibility 1. Akses informasi,

2. Akses penghubung/jalur masuk, dan 3. Akses pemberhentian/parkir.

Amenities 1. Akomodasi

2. Tempat makan/warung 3. Toko souvenir

4. Sarana toilet

Ancillary 1. Kelompok penyokong wisata