• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Landasan Teori

2.2.4. Komponen Pertumbuhan Wilayah

Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah yang terjadi di daerah tersebut. Pertambahan pendapatan itu diukur dengan nilai riil, artinya dinyatakan dengan harga konstan. Hal itu juga menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di wilayah tersebut yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilyah tersebut juga ditentukan oleh seberapa besar terjadi transfer-payment yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.

Pemerintah pusat telah melihat bahwa masing-masing wilayah memiliki keunggulan yang kompetitif serta komparatif yang berbeda. Dengan adanya perbedaan keunggulan komparatif tiap daerah, maka harus dapat dimanfaatkan dan ditetapkan skala prioritas bagi masing-masing wilayah (Saptomo, 2008).

Herath dkk (2011) dalam jurnalnya berpendapat bahwa metode Shift Share menganalisis pertumbuhan regional berasal dari tahun 1940-an. Metode tersebut umumnya digunakan untuk menggambarkan tren pertumbuhan sejarah, memperkirakan pertumbuhan regional, menganalisis efek dari suatu kebijakan, atau mengembangkan perencanaan strategis bagi masyarakat. Namun, analisis ini secara umum banyak digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan regional dan

industri serta memeriksa daya saing pertumbuhan daerah dan industri dalam periode tertentu.

Secara skematik (Budiharsono, 2001), model analisis shift share disajikan pada:

Gambar 2. Model Analisis Shift Share

Berdasarkan Gambar 2, dapat dipahami bahwa pertumbuhan sektor perekonomian pada suatu wilayah dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu:

komponen pertumbuhan nasional (national growth component) disingkat PN atau komponen pertumbuhan regional (regional growth component) disingkat PR, komponen pertumbuhan proporsional (proportional or industrial mix growth component) disingkat PP dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (regional share growth component) disingkat PPW. Dari ketiga komponen tersebut dapat diidentifikasikan pertumbuhan suatu sektor perekonomian, apakah pertumbuhannya cepat atau lambat. Apabila PP + PPW ≥ 0, maka pertumbuhan sektor perekonomian termasuk ke dalam kelompok progresif (maju), tetapi apabila PP + PPW ≤ 0 berarti sektor perekonomian tersebut memiliki pertumbuhan yang lambat.

1. Komponen Pertumbuhan Nasional/ Pertumbuhan Regional

Komponen pertumbuhan nasional/ regional adalah perubahan produksi suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi nasional secara umum, perubahan kebijakan ekonomi nasional, atau perubahan dalam hal-hal yang mempengaruhi perekonomian suatu sektor dan wilayah. Bila diasumsikan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik ekonomi antarsektor dan antarwilayah, maka adanya perubahan akan membawa dampak yang sama pada semua sektor dan wilayah. Akan tetapi pada kenyataannya beberapa sektor dan wilayah tumbuh lebih cepat daripada sektor dan wilayah lainnya.

2. Komponen Pertumbuhan Proporsional

Komponen pertumbuhan proporsional tumbuh karena perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan mentah, perbedaan dalam kebijakan industri dan perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar.

3. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah

Timbulnya komponen pertumbuhan pangsa wilayah terjadi karena peningkatan atau penurunan PDRB atau kesempatan kerja dalam suatu wilayah dibandingkan wilayah lainnya. Cepat lambatnya pertumbuhan ditentukan oleh keunggulan komparatif, akses pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial dan ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah terebut.

2.2.6 Peran Sektor Pertanian

Sektor pertanian adalah sektor paling strategis, sektor ini sebagai penyedia bahan baku bagi industri (input market), penyedia tenaga kerja, penyedia bahan makanan,

tempat pemasaran hasil industri dan penghasil devisa negara. Setiap kebijakan yang menyentuh kepentingan petani akan membawa pengaruh besar terhadap perekonomian nasional (Saragih, 2002).

Sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia merupakan salah satu sektor ekonomi yang berbasis sumber daya domestik dan dikuasai oleh sebagian besar rakyat. Pembangunan sektor pertanian dan aktivitas-aktivitas ekonomi yang banyak menggunakan produk pertanian dapat menjadi cara yang efektif dan efisien dlam membangun sumber daya alam sambil menyerap tenaga kerja di kawasan pedesaan (Yudhoyono, 2004).

Menurut Jhingan (2010) sumbangan atau jasa dari sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi terletak dalam hal:

a. Menyediakan surplus pangan besar sehingga akan meningkatkan pendapatan.

b. Meningkatkan permintaan akan produk industri dengan demikian akan mendorong peningkatan pendapatan di sektor industri.

c. Menyediakan tambahan penghasilan devisa untuk impor barang-barang bagi pembangunan melalui ekspor hasil pertanian terus-menerus.

d. Meningkatkan pendapatan desa.

e. Memperbaiki kesejahteraan rakyat pedesaan.

Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ―3 F contribution in the economy‖, yaitu food (pangan), feed (pakan), dan fuel (bahan bakar). Peranan pertanian terkait dengan ―food‖ adalah sektor pertanian sebagai leading sector dalam pembangunan ketahanan pangan, yang artinya sektor pertanian sangat menentukan terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas.

Kaitannya dengan ―feed‖, sektor pertanian memiliki peranan sebagai pemasok terbesar bahan baku utama seperti pakan ternak. Sedangankan pada ―fuel‖ sebagai penghasil sumber energi terbaharukan (renewable) untuk keperluan bahan bakar (Daryanto, 2009).

Menurut Bank Dunia (2008), sektor pertanian dapat dijadikan dasar untuk mewujudkan sebuah pembangunan berkelanjutan dan mengurangi kemiskinan.

Pertumbuhan PDB yang berbasis sektor pertanian empat kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan jika dibandingkan pertumbuhan PDB berbasis sektor lain.

Hal tersebut didasarkan pada kemampuan sektor pertanian dalam menyerap dan menciptakan tenaga kerja. Akan tetapi pertumbuhan sektor pertanian di beberapa negara berkembang melambat antara lain akibat underinvestment, misinvestment, dan berkurangnya ODA (Overseas Development Assistance).

2.3 Penelitian Terdahulu

Dalam hasil penelitian oleh Yulianti (2011) tentang penentuan prioritas komoditi unggulan buah-buahan di Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan aplikasi analisis LQ dan daya tarik—daya saing menyimpulkan bahwa komoditas unggulan yang menjadi prioritas utama untuk dikembangkan pada beberapa kecamatan adalah mangga, pepaya, jambu air, rambutan, nangka dan duku/ langsat.

Dari hasil penelitian oleh Hafidh Amrullah (2010) tentang kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan wilayah Kabupaten Serang dengan pendekatan analisis location quotient dan shift share dengan menggunakan metode analisis data yang digunakan yaitu Analisis Location Quotient, Analisis Shift Share,

Analisis Gabungan Location Quotient dan Shift Share serta Analisis Pengganda Pendapatan dan Tenaga Kerja. Sektor pertanian merupakan sektor basis yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah Kabupaten Serang, bersama dengan sektor bangunan, sektor jasa-jasa dan sektor keuangan. Sedangkan subsektor pertanian yang menjadi subsektor basis adalah subsektor perikanan dan subsektor peternakan. Sektor pertanian menempati peringkat kedua dalam prioritas pengembangan sektor perekonomian, bersama dengan sektor bangunan, sektor keuangan dan sektor jasa-jasa. Karena tidak ada sektor yang menempati peringkat sebagai sektor utama, maka sektor yang menempati peringkat kedua naik menjadi sektor utama. Adapun urutan prioritas pengembangan sektor utama bila dilihat dari nilai LQ adalah sektor bangunan, sektor jasa-jasa, sektor pertanian dan sektor keuangan. Sedangkan subsektor pertanian yang menempati peringkat utama adalah subsektor peternakan. Sedangkan subsektor pertanian yang menempati posisi sebagai subsektor utama adalah subsektor peternakan. Subsektor perikanan menempati peringkat kedua dan subsektor tanaman bahan makanan menempati peringkat ketiga. Sedangkan subsektor kehutanan menempati peringkat keempat dan subsektor perkebunan menempati peringkat kelima. Kontribusi sektor pertanian dalam penerimaan PDRB Kabupaten Serang melalui analisis pengganda pendapatan selama tahun 2003-2007 cenderung meningkat. Rata-rata hasil perhitungan angka pengganda pendapatan adalah 6,945; yang berarti bila terjadi perubahan pendapatan sektor pertanian sebesar Rp. 1,000 maka akan meningkatkan pendapatan total Kabupaten Serang sebesar Rp. 6,945. Sedangkan kontribusi sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja melalui analisis pengganda tenaga kerja selama tahun 2003-2007 juga cenderung meningkat. Rata

rata angka pengganda tenaga adalah 3,177; yang berarti bila terjadi perubahan kesempatan kerja sektor pertanian di Kabupaten Serang sebanyak satu orang maka akan terjadi perubahan kesempatan kerja di Kabupaten Serang secara keseluruhan sebanyak tiga orang.

2.4 Kerangka Pemikiran

Perekonomian Kabupaten Karo terdiri dari banyak sektor dan beberapa diantaranya memiliki kontribusi yang besar, seperti sektor pertanian, dan sektor non pertanian contohnya sektor industri. Pertanian merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar untuk perekonomian Kabupaten Karo. Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor yaitu pertanian, kehutanan, dan Perikanan

Analisis Metode Location Quatient (LQ) merupakan salah satu metode untuk mengetahui sektor/ subsektor basis dan non basis, dalam suatu wilayah. Dalam penelitian ini akan dianalisis adalah sub- sub sektor pertanian yang menjadi basis di Kabupaten Karo. Sektor basis ini berarti bahwa barang dan jasa dari sub sektor tersebut mampu mencukupi kebutuhan lokal, bahkan barang dan jasa tersebut mampu untuk di ekspor ke luar daerah, sebaliknya sektor non basis belum mampu mencukupi kebutuhan lokal bahkan mengalami kekurangan sehingga daerah tersebut harus mengimpor barang dan jasa dari luar wilayah.

Metode untuk menganalisis pertumbuhan wilayah menggunakan analisis metode shift share. Melalui analisis ini akan diketahui penyebab- penyebab pertumbuhan sekaligus melihat potensi pengembangannya di masa yang akan datang. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pergeseran pertumbuhan sub sektor pertanian di

Kabupaten Karo. Analisis Shift Share terdiri dari tiga komponen, yaitu Komponen Pertumbuhan Nasional (PN), Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP), dan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW). Analisis komponen pertumbuhan pada penelitian ini difokuskan pada komponen Pertumbuhan Proporsional (PP) dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW).

Pada penelitian ini untuk mengetahui prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam perekonomian wilayah di Kabupaten Karo, analisis yang digunakan yaitu analisis metode gabungan antara Location Quatient (LQ) dan Shift share.

Penentuan prioritas pada sub sektor pertanian akan memberikan kontribusi pada perekonomian wilayah. Tujuannya agar pemerintah dapat lebih mengkhususkan pengembangan sub sektor yang menjadi basis agar tetap menjadi basis dan sub sektor non basis agar meningkat menjadi basis sehingga sub sektor tersebut akan memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan wilayah di Kabupaten Karo.

Berdasarkan uraian tersebut, diperoleh kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambar 3. Skema Kerangka Pemikiran Metode Pengukuran PN

- Jasa Pertanian dan Perburuan 2. Kehutanan dan Penebangan Kayu 3. Perikanan

Keterangan:

Kenyatakan Keterkaitan

2.5 Hipotesis Penelitian

1.

Terdapat beberapa sub sektor pertanian basis di Kabupaten Karo.

2. Pergeseran pertumbuhan sub sektor pertanian pada struktur perekonomian Kabupaten Karo meningkat.

3. Prioritas pengembangan sub sektor pertanian di Kabupaten Karo adalah sub sektor tanaman bahan pangan dan sub sektor tanaman hortikultura.

3.1 Metode penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive, yaitu ditetapkan secara sengaja dengan mempertimbangkan tujuan dari penelitian. Kabupaten Karo dipilih dengan pertimbangan bahwa PDRB sektor pertanian di Kabupaten Karo adalah salah satu yang tertinggi di wilayah dataran tinggi Provinsi Sumatera Utara dan sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar pada perekonomian Kabupaten Karo. Kontribusi yang besar menyebabkan sektor pertanian berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Tabel 2. PDRB Sektor Pertanian di Kabupaten pada Wilayah Dataran Tinggi Provinsi Sumatera Utara 2016 (Milyar)

No. Kabupaten PDRB Sektor Pertanian

1. Sumber: Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 2017

3.2 Metode Penentuan Sampel

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dengan range tahun 2012 – 2016 yang dianalisa dengan alat bantu program Microsoft Office Excel 2007.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), literatur- literatur dan hasil-hasil

penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini maupun instansi terkait lainnya.

3.4 Metode Analisis Data

Untuk menyelesaikan masalah 1, yaitu mengetahui sektor perekonomian dan sub sektor pertanian yang menjadi sektor basis di Kabupaten Karo dengan menggunakan analisis Location Quotient (LQ).

Metode LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari PDRB Kabupaten Karo yang menjadi pemacu pertumbuhan. Metode LQ digunakan untuk mengkaji kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi/basis kegiatan perekonomian. Sehingga nilai LQ yang sering digunakan untuk penentuan sektor basis dapat dikatakan sebagai sektor yang akan mendorong tumbuhnya atau berkembangnya sektor lain serta berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Menurut Budiharsono (2001), besarnya LQ diperoleh dari persamaan berikut:

⁄ ⁄

Dimana:

LQ = Indeks Location Quotient.

vi = Pendapatan (PDRB) sektor/sub sektor i pada sektor pertanian di Kabupaten Karo (rupiah).

vt = Pendapatan (PDRB) total wilayah di Kabupaten Karo (rupiah).

Vi = Pendapatan (PDRB) sektor/sub sektor i pada sektor pertanian di Provinsi Sumatera Utara (Rupiah).

Vt = Pendapatan (PDRB) total wilayah di Provinsi Sumatera Utara (Rupiah).

Kriteria:

LQ > 1, peranan sektor/ sub sektor tersebut di Kabupaten Karo lebih menonjol daripada peranannya di Provinsi Sumatera Utara maka sektor/ sub sektor i pada sektor pertanian tersebut merupakan sektor/ sub sektor basis.

LQ = 1, maka sektor/ sub sektor tersebut hanya mampu melayani pasar di Kabupaten Karo.

LQ < 1, peranan sektor/ sub sektor tersebut di Kabupaten Karo lebih kecil daripada peranannya di Provinsi Sumatera Utara maka sektor/ sub sektor i pada sektor pertanian tersebut merupakan sektor/ sub sektor non basis.

Untuk menyelesaikan masalah 2, yaitu mengetahui pergeseran pertumbuhan sub sektor pertanian pada struktur perekonomian Kabupaten Karo dengan menggunakan analisis Shift Share. Analisis Shift-share merupakan suatu analisis yang dilakukan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektoral pada perekonomian regional maupun lokal. (Soepono, 1993).

Rumus Analisis Shift Share:

atau

Kriteria:

a. PNij < 0 = Pertumbuhan PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo termasuk lambat.

PNij ≥ 0 = Pertumbuhan PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo termasuk cepat.

b. PPij < 0 = Pertumbuhan PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo termasuk lambat jika dibandingkan dengan sub sektor yang sama di Provinsi Sumatera Utara.

PPij ≥ 0 = Pertumbuhan PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo termasuk cepat jika dibandingkan dengan sub sektor yang sama di Provinsi Sumatera Utara.

c. PPWij < 0 = Sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo tidak memiliki daya saing jika dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara.

d. PPWij ≥ 0 = Sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo memiliki daya saing yang baik jika dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara.

(Mahila,2007)

Analisis ini menggunakan 3 informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu: Komponen pertumbuhan regional, komponen pertumbuhan proporsional dan komponen pertumbuhan pangsa pasar. Nilai komponen PR, PP, dan PPW didapat dari perhitungann nilai Ra, R1 dan r1. Dari ketiga komponen tersebut jika dijumlahkan akan didapat nilai perubahan PDRB.

1. Komponen Pertumbuhan Regional

Komponen PR adalah perubahan produksi suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi regional secara umum, perubahan kebijakan ekonomi regional, atau perubahan dalam hal-hal yang mempengaruhi perekonomian suatu sektor dan wilayah. Bila diasumsikan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik ekonomi antarsektor dan antarwilayah, maka adanya perubahan akan membawa dampak

yang sama pada semua sektor dan wilayah. Akan tetapi kenyataannya beberapa sektor dan wilayah tumbuh lebih cepat daripada sektor dan wilayah lainnya.

Komponen pertumbuhan regional dapat dirumuskan sebagai berikut:

PR1j = (Ra-1) y1j

Di mana:

PR1j = Pertumbuhan Regional PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo.

y1j = PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo pada tahun dasar analisis (Rupiah).

(Ra) = Persentase perubahan PDRB yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan regional(%).

y’.. = PDRB total Provinsi Sumatera Utara pada tahun akhir analisis (Rupiah).

y.. = PDRB total Provinsi Sumatera Utara pada tahun dasar analisis (Rupiah).

2. Komponen Pertumbuhan Proporsional

Komponen PP terjadi karena perbedaan sektor dalam permintaan produk akhir, perbedaan dalam ketersediaan bahan mentah, perbedaan dalam kebijakan industri dan perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Komponen pertumbuhan proporsional dapat dirumuskan sebagai berikut:

PP1j = (R1-Ra)y1j

Dimana:

PP1j = Pertumbuhan Proporsional PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo.

y1j = PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo pada tahun dasar analisis (Rupiah).

(R1-Ra) = Persentase perubahan PDRB yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan proporsional (%).

y’1 = PDRB sub sektor pertanian i di Provinsi Sumatera Utara pada tahun akhir analisis (Rupiah).

y1 = PDRB sub sektor pertanian i di Provinsi Sumatera Utara pada tahun dasar analisis (Rupiah).

3. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah

Timbul karena peningkatan atau penurunan PDRB atau kesempatan kerja di Kabupaten Karo dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara. Cepat lambatnya pertumbuhan ditentukan oleh keunggulan komparatif, akses pasar, dukungan kelembagaan, prasarana sosial dan ekonomi serta kebijakan ekonomi regional pada wilayah tersebut. Komponen pertumbuhan pangsa wilayah dirumuskan sebagai berikut:

PPW1j = (r1-R1) y1j

Di mana:

PPW1j = Pertumbuhan Pangsa wilayah PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo.

y1j = PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo pada tahun dasar analisis (Rupiah).

(r1-R1) = Persentase perubahan PDRB yang disebabkan oleh komponen pertumbuhan pangsa wilayah (%).

y’1j = PDRB sub sektor pertanian i di Kabupaten Karo pada tahun akhir analisis (Rupiah).

Untuk menyelesaikan masalah 3, yaitu mengetahui prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam perekonomian wilayah di Kabupaten Karo dengan menggunakan analisis gabungan Location Quotient (LQ) dan Shift Share.

Analisis prioritas pembangunan diperoleh dengan cara menggabungkan antara hasil analisis Location Quotient dan analisis Shift Share sehingga dapat direkomendasikan kebijakan pembangunan regional berupa penentuan sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan regional (Soesilo, N. I., 2000).

Tabel 3. Kriteria Pengembangan Prioritas Sub Sektor Pertanian dengan Analisis Gabungan LQ dan Shift Share

No. Prioritas LQ PP PPW Sumber: Soesilo, N. I., 2000

Kriteria penentuan prioritas dari hasil penggabungan analisis ini terbagi dalam tiga kategori yaitu :

1. Prioritas I, adalah yang merupakan sektor basis dengan salah satu atau kedua nilai dari PP dan atau PPW bernilai positif (+);

2. Prioritas II, adalah yang merupakan sektor basis dan memiliki nilai PP dan PPW bernilai negatif (-), atau merupakan sektor bukan basis tetapi memiliki nilai PP dan PPW bernilai positif (+); dan

3. Prioritas III, adalah yang merupakan sektor bukan basis dengan salah satu atau kedua nilai dari PP dan atau PPW bernilai positif (+) atau keduanya bernilai negatif (-).

3.5. Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menafsirkan penelitian ini maka perlu dibuat definisi dan batasan operasional.

3.5.1 Definisi

1. Pertumbuhan sektor pertanian adalah penambahan maupun pengurangan pendapatan sektor pertanian dalam periode yang sudah ditentukan.

2. Wilayah basis adalah wilayah yang telah mampu memenuhi kebutuhan di wilayahnya sendiri dan surplus produksinya mampu dijual ke luar wilayah tersebut.

3. Penentuan sub sektor basis adalah menentukan sub- sub sektor di Kabupaten Karo yang menjadi sub sektor basis dan non basis sektor pertanian menggunakan kriteria kontribusi (dengan analisis LQ).

4. PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto) adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.

5. Produk Domestik Regional Bruto sektor pertanian merupakan jumlah Nilai Tambahan Bruto dari sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan, perkebunan, kehutanan, perternakan, perikanan dan jasa pertanian) atau nilai

barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di suatu wilayah / region dalamsektor pertanian pada periode tertentu, biasanya satu tahun, diukur dengan satuan rupiah.

6. PDRB atas dasar harga konstan adalah PDRB yang seluruh agregat dinilai dengan menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar tahun penghitungnya.

7. PDRB dari sisi lapangan usaha merupakan penjumlahan seluruh komponen nilai tambah bruto yang mampu diciptakan oleh sektor – sektor ekonomi atas berbagai aktivitas produksinya.

8. Prioritas adalah sub sektor yang diutamakan pada wilayah tersebut.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Sektor perekonomian yang diteliti adalah sektor pertanian khususnya sub sektor pertanian di Kabupaten Karo.

2. Data penelitian yang diolah adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Karo dari tahun 2012 s/d tahun 2016 atas dasar harga konstan tahun 2010.

3. Penelitian dilakukan pada tahun 2017.

4.1 Gambaran Geografi dan Iklim

Secara geografis letak Kabupaten Karo berada diantara 2º50’ – 3º19’ lintang utara dan 97º55’– 98º38’ bujur timur dengan luas 2.127,25 km2 atau 2,97% dari luas Provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Karo terletak pada jajaran bukit barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini sehingga rawan gempa vulkanik. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 200 – 1.500 meter di atas permukaan laut. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang, sebelah selatan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir, sebelah timur dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun dan sebelah barat dengan Provinsi Nangroe Aceh Darusalam.

Kabupaten Karo beriklim tropis dan mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan pertama mulai bulan Agustus sampai dengan bulan Januari dan musim kedua pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei, sedangkan musin kemarau biasanya pada bulan Februari, Juni dan Juli.

Curah hujan di Kabupaten Karo tahun 2016 tertinggi pada bulan Maret sebesar 16,9 mm dan terendah pada bulan Juli dan Agustus sebesar 1,4 mm sedangkan jumlah hari hujan tertinggi pada bulan Oktober dan November sebanyak 19 hari dan terendah pada bulan Agustus sebanyak 7 hari. Suhu udara berkisar antara

16,8°C sampai dengan 19,3°C dengan kelembaban udara rata-rata setinggi 88,18%.

4.2 Pemerintahan

Wilayah pemerintahan Kabupaten Karo sejak tanggal 29 Desember 2006 resmi berubah dari 13 kecamatan menjadi 17 kecamatan.Tahun 2010 terjadi pemekaran di beberapa desa, sehingga saat ini Kabupaten Karo memiliki 17 kecamatan, 259 desa, 10 kelurahan, 671 dusun, dan 96 lingkungan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 4. Wilayah Pemerintahan Kabupaten Karo 2017

No. Kecamatan Jumlah Sumber: Kabupaten Karo dalam Angka 2017

4.3 Penduduk dan Tenaga Kerja

Hasil sensus tahun 2010, penduduk Kabupaten Karo berjumlah 350.960 jiwa.

Pada pertengahan tahun 2016, menurut proyeksi penduduk sebesar 396.598 yang mendiami wilayah seluas 2.127,25 km². Kepadatan penduduk diperkirakan

Pada pertengahan tahun 2016, menurut proyeksi penduduk sebesar 396.598 yang mendiami wilayah seluas 2.127,25 km². Kepadatan penduduk diperkirakan

Dokumen terkait