• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompos dari Gulma Lahan Gambut

Dalam dokumen FORDA - Jurnal (Halaman 35-40)

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab baik secara aerobik atau anaerobik. Kompos telah digunakan secara luas selama ratusan tahun dan telah terbukti mampu menangani limbah pertanian sekaligus

berfungsi sebagai pupuk alami. Masyarakat Cina, Jepang dan masyarakat Asia lainnya telah membuat kompos sejak 4000 tahun yang lalu. Pengomposan memerlukan waktu yang lama, namun setelah ditemukan teknik pembuatan bokasi, kini prosesnya berjalan lebih cepat.

Kompos memberi manfaat yang baik untuk tanah dan tanaman, yaitu: memperkaya mikroba tanah, meningkatkan unsur hara makro dan mikro, memperbaiki struktur tanah, menyehatkan tanah dan tanaman karena dengan memperoleh cukup unsur hara, tanaman akan tumbuh sehat sehingga kuat menghadapi serangan penyakit. Komoditi pertanian hortikultura, lebih dianjurkan menggunakan pupuk organik atau kompos dibandingkan pupuk lainnya (Simamora dan Salunduk, 2006).

Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (dengan oksigen) dan anaerobik (tanpa oksigen). Pengomposan secara anaerobik sering menghasilkan bau yang tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia dan H2S. Proses pembuatan kompos digambarkan pada Gambar 1.

Agar diperoleh hasil pengomposan yang optimal beberapa faktor perlu diperhatikan seperti : ukuran bahan, rasio C/N, kelembapan dan aerasi, temperatur, derajat keasaman, serta mikroorganisme yang terlibat (Tabel 1). Oleh :

Reni Setyo Wahyuningtyas

Kompos dari Gulma

Lahan Gambut

Nilai C/N rasio bahan merupakan faktor paling penting dalam proses pengomposan, hal ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari aktivitas mikroorganisme yang membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan pembentuk sel dan nitrogen untuk membentuk sel. Jika C/N rasio tinggi, pengomposan akan berjalan lambat, sebaliknya jika C/N rasio terlalu rendah pengomposan akan berjalan sangat cepat sehingga banyak unsur N yang menguap ke udara.

Tabel 1. Persyaratan karakteristik bahan baku yang sesuai untuk proses pengomposan

Karakteristik Bahan Rentangan

Baik Ideal

C/N rasio 20:1 – 40:1 25:1 – 30 :1

Kandungan air 40 – 65% 50-60%

Konsentrasi oksigen > 5% ≥ 5% Ukuran partikel (inci Ø) 1/8 – 1/2 Bervariasi

pH 5,5 – 9 6,5 – 8,5

Densitas (kg/m3) < 0,7887 -

Temperatur (º C) 43-65,5 54-60

Sumber: Rynk, dkk. (1992)

Hasil inventarisasi tumbuhan bawah lahan gambut sebagai bahan kompos potensial diperoleh 23 jenis tumbuhan bawah seperti pada Tabel 2.

Ujicoba pembuatan kompos dari 18 jenis tumbuhan bawah menunjukkan bahwa kalopogonium (Calopogonium muconoides) menunjukkan kualitas terbaik dengan nilai C/N terendah serta kandungan unsur N, P, Ca dan Mg yang tinggi.

Sejak kementrian pertanian mencanangkan program “Go Organik 2010”, kebutuhan pupuk organik di Indonesia juga terus mengalami peningkatan. Sementara produksi kompos di Indonesia saat ini baru mencapai 10% dari potensi kebutuhan pertanian dalam negeri yang diperkirakan mencapai 11 juta ton per tahun (Djuarnani et al., 2005). Kebutuhan akan pupuk organik bahkan meningkat menjadi 12,3 juta ton (tahun 2011), 12,6 juta ton tahun (tahun 2012) dan prediksi mencapai 12,9 juta ton (tahun 2013).

Saat ini pertanian organik juga telah menjadi trend. Produk-produk pertanian dengan label organik cenderung mempunyai nilai jual lebih tinggi dan mempunyai banyak peminat terutama konsumen yang peduli akan bahaya

Gambar 1. Ilustrasi proses pembuatan bokasi/kompos dari tumbuhan bawah lahan gambut secara aerobik dengan kultur bakteri (EM4)

Tabel 2. Potensi dan nilai C/N rasio beberapa jenis tumbuhan bawah di lahan gambut.

No. Nama Potensi

di lapangan

Nilai C/N 1. Rumput paitan (Axonopus compresssus (Swartz) P. Beauv.) 31 ton/ha n.a 2. Rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach.) 95 ton/ha 50.00

3. Kelakai (Stenochlaena palustris Bedd. FERN) 55 ton/ha 41,72

4. Gulma bunga kuning (Jussieua erecta Linn.) 57 ton/ha 25,23

5. Pakis-pakisan (Blechnum indicum Burm.f.) 32 ton/ha 50.94

6. Alang-alang (Imperata cylindrica (L.) Raeuschel) 26 ton/ha 50.17

7. Purun tikus (Eleocharis ochrostachys Steud.) 44 ton/ha 41,10

8. Karamunting kodok (Melastoma malabathricum L.) 55 ton/ha 49.92 9. Anggrek tanah (Philydrum lanuginosum Banks ex Gaertn.) 46 ton/ha 41.46 10. Eupatorium (Chromolaena odorata King & H. E Robins.) 65 ton/ha 21,07

11. Kalopogonium (Calopogonium mucunoides Desv.) 35 ton/ha 32.22

12. Keladingan (Scleria purpurascens Steud.) 65 ton/ha n.a

13. Sejenis anggrek tanah (Xyris indica L.) 115 ton/ha 96.60

14. Rumput bundung (Leersia hexandra Sw.) 82,5 ton/ha 39.47

15. Rumput bantalaki (Hymenachne amplexicaulis Nees.) 35 ton/ha 29.24

16. Teki besar (Scirpus grossus L.f.) 31 ton/ha 38.89

17. Rumput bantak (Polygonum minus Huds sp.depressum Dans.) 45 ton/ha 32.20 18. Anakan galam (Melaleuca cajuputi subsp. Cumingiana) 35 ton/ha 39.73 19. Kumpai minyak (Hymenachne acutigluma (Steudel) Gilliland.) 80 ton/ha 27.25

20. Kumpai batu (Cynodon dactylon (L.) Pers.) 42 ton/ha 49.46

21. Bakung / jungkal (Hymenocallis litthoralis (Jacq.) Salibs) 25 ton/ha n.a

22. Bulu babi (Leptaspis urceolata) 300 ton/ha n.a

23. Eceng gondok (Eichornia crassipes) 125 ton/ha 17,60

Sumber : Wahyuningtyas et al., 2010 Keterangan : n.a = data tidak tersedia

bahan kimia. Kenyataan tersebut mulai disadari para petani di lahan gambut dan merupakan peluang baik untuk meningkatkan nilai jual produk mereka. Potensi bahan baku berupa hijauan, limbah pertanian dan kotoran

ternak sangat mendukung pengembangan pembuatan pupuk organik skala bisnis selain dapat meningkatkan pendapatan petani juga membuka peluang usaha baru dan penyerapan tenaga kerja di pedesaan.

K

ualitas penelitian ditentukan oleh metodologi dan kualitas data yang digunakan dalam penyusunan hasil penelitian atau karya tulis ilimiah. Kualitas data tersebut ditentukan oleh sebaran data (cakupan geografi ) yang luas, dan cakupan rentang suatu data (time series) yang panjang. Namun, data-data tersebut sangat sulit diperoleh. Hal ini disebabkan oleh data tersebut terdapat pada masing- masing peneliti dan instansi pengumpul data tersebut. Faktor-faktor ini akan menyulitkan dalam menyusun suatu hasil penelitian yang berkualitas dan komprehensif. Kesulitan penyusunan akan berpengaruh pada kualitas penelitian/karya tulis yang disusun.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesulitan tersebut yakni pembangunan sistem data base penelitian. Data base tersebut disusun dari data hasil penelitian yang telah dikumpulkan oleh instansi penelitian dan peneliti-peneliti instansi. Sistem tersebut harus mampu menampung seluruh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh balai, mudah digunakan oleh semua pengguna dan mempunyai prosedur dalam penggunaan data.

Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru sebagai bagian dari suatu instansi penelitian dan pengembangan mencoba membangun suatu sistem data base penelitian. Sistem data base tersebut masih sangat terbatas untuk pertumbuhan dan hasil tegakan jenis hutan tanaman. Sistem ini dibangun dari hasil-hasil penelitian pertumbuhan dan hasil terutama oleh Instansi Badan Litbang Kehutanan. Sistem data base tersebut bernama APDATE (Aplikasi Pertumbuhan dan hAsil TEgakan).

APDATE ini terdiri dari tiga menu utama yakni: Master data, Menu editing, dan Menu laporan (repport). Master data dan menu editing ini hanya dapat digunakan dan

dibuka oleh admin dan penganalisis sistem. Pengguna dapat mendapatkan hasil sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dari pengguna. Sistem ini dapat menampilkan karakteristik tanaman (CAI, MAI, Peninggi, LBDS, dan Volume) dan Tabel Volume untuk jenis dan lokasi tertentu. Namun demikian, aplikasi ini masih sangat terbatas pada karakteristik pertumbuhan dan hasil tegakan. Sistem ini masih memerlukan tambahan data pertumbuhan dan hasil tegakan dengan cakupan yang luas dan time series yang panjang sehingga keterandalan sistem ini dapat ditingkatkan.

Gambar 1. Halaman Utama Aplikasi Data Base

Saat ini, sistem ini masih pada tahap trial untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. Pengembangan sistem ini masih sangat dimungkinkan untuk tujuan-tujuan yang lain seperti data base biomassa atau serapan karbon pada beberapa lokasi dan tapak tertentu. Hal ini akan meningkatkan kualitas dari sistem data base yang dibangun.

PENINGKATAN

KUALITAS PENELITIAN

MELALUI PEMBANGUNAN

DATA BASE

Oleh:

Muhammad Abdul Qirom

ARTIKEL

Gambar 2. Halaman editing

Gambar 4. Master provinsi data base

Gambar 6. Pilihan provinsi

Gambar 3. Input karakteristik tanaman

Gambar 5. Pilihan jenis tanaman

B

anjarbaru, 19 September 2013. Ballroom Ulin Novotel Banjarmasin menjadi tempat yang indah dan tepat untuk merayakan HUT 30 tahun BPK Banjarbaru. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru telah memasuki dekade ketiga dalam perjalanannya. Dimulai pada tahun 1983 dengan nama Balai Teknologi Reboisasi, kemudian berubah menjadi Balai

Dalam dokumen FORDA - Jurnal (Halaman 35-40)

Dokumen terkait