• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.2. Kondisi Terumbu Karang

2.2.3. Megabenthos

2.2.3.1. Komposisi Jenis Megabenthos

Tabel 11. Pola kehadiran spesies megabentos pada setiap stasiun di perairan TWP

Gili Matra

Jika dilihat dari jumlah individu tiap spesies atau kelompok spesies megabenthos yang didapatkan di seluruh stasiun penelitian, terlihat bahwa terdapat dua spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah yang mendominasi. Kedua spesies atau kelompok spesies megabenthos tersebut yaitu bulu babi / echinoids dan siput pemakan polip karang / Drupella spp. Dari seluruh megabenthos target yang ditemukan, bulu babi ditemukan sebanyak 34,091% (75 individu), dan Drupella spp. ditemukan sebanyak 56,364% (124 individu). Spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah sedang adalah lola / Trochus spp, yaitu ditemukan sebanyak 5% (11 individu). Sedangkan spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah sedikit antara lain bintang laut bermahkota duri / Acanthaster planci, kima / giant clams dan udang karang / lobsters. Dari total megabenthos target yang ditemukan, Acanthaster planci ditemukan sebanyak 0,455% (1 individu), kima ditemukan sebanyak 2,727% (6 individu) dan lobster yang ditemukan sebanyak 1,364% (3 individu). Kelompok spesies megabenthos lainnya yaitu holothurian bahkan tidak ditemukan selama penelitian di delapan titik penyelaman, baik kelompok yang memiliki nilai ekonomis penting untuk dikonsumsi (teripang) maupun kelompok yang tidak dikonsumsi. Gambaran mengenai prosentase megabenthos target yang ditemukan selama penelitian disajikan pada Gambar 13.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

menuju Samudera Hindia melewati Selat Lombok. Sebagian besar lainnya dibelokkan ke arah timur menuju Laut Banda sebelum akhirnya menuju Samudera Hindia melalui Celah Timor dan Selat Ombai di Nusa Tenggara Timur.

Rataan terumbu (reef flat) perairan Gili Matra tidak begitu luas di sekeliling pulau. Dasar perairan rataan terumbu ditutupi susbtrat keras dan sedikit bagian berpasir dan patahan karang mati. Tubir (reef front) tidak terlihat jelas karena berada jauh garis pantai, bagian lereng terumbu (reef sloop) relatif landai dengan kemiringan sekitar 30-60o, terkadang ditemukan bagian berundak dan berlanjut sampai kedalaman sekitar 20-30 meter. Di beberapa lokasi terlihat kerusakan terumbu diduga pengaruh pengeboman serta penambangan pasir laut dan batu karang di masa lalu.

Pengamatan megabenthos dilakukan di delapan stasiun pengamatan permanen di lokasi terumbu karang yang terpilih. Kondisi tutupan karang di lokasi transek secara umum masuk dalam kategori rusak dan relatif tidak terlalu bagus, dengan kisaran prosentase tutupan karang 10 – 40%. Baik atau buruknya kondisi terumbu karang kadang sangat berpengaruh pada komposisi jenis megabenthos yang berasosiasi di dalamnya. Misalnya, berbagai jenis lobster dan teripang sangat tergantung pada terumbu karang dengan kondisi yang masih baik. Dan sebaliknya, komposisi jenis megabenthos tidak jarang juga menentukan kondisi terumbu karang, misalnya ada atau tidaknya biota pemakan polip karang.

2.2.3.1. Komposisi jenis megabenthos

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari delapan stasiun yang diamati, enam dari tujuh spesies atau kelompok spesies megabenthos target berhasil ditemukan di wilayah perairan Gili Matra ini. Pada pengamatan di seluruh stasiun didapatkan sebanyak 220 individu megabenthos target dengan pola kehadiran spesies atau kelompok spesies megabenthos seperti yang disajikan pada Tabel 11.

31

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam kegiatan COREMAP Fase III kali ini yang diberi nama COREMAP-CTI, ada penambahan lokasi baru yang sebelumnya tidak ada di COREMAP fase II. Lokasi lokasi baru yang ditambahkan adalah lokasi perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang pengelolaannya ada dibawah Kementrian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan KKPN ini adalah Taman Wisata Perairan Gili Matra (TWP Gili Matra). Taman Wisata Perairan Gili Matra merupakan kesatuan dari perairan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang letaknya berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Gili Matra adalah daerah tujuan wisata bagi turis yang mayoritas berasal dari mancanegara. Taman Wisata Perairan Gili Matra yang selanjutnya disebut TWP Gili Matra mempunyai luas wilayah sebesar 2.954 Ha yang terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan sisanya berupa wilayah perairan laut.

Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di TWP Gili Matra merupakan sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut terutama di bidang pariwisata. Untuk itu perlu adanaya kesadaran dari berbagai pihak dalam mengelola dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir ini.

Dalam rangka mendukung program COREMAP-CTI dan melaksanakan evaluasi yang berkelanjutan di kawasan konservasi TWP tersebut, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh P2O-LIPI bekerjasama dengan UPT dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Mataram yang berada di bawah Direktur Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melakukan kajian bersama dalam rangka pengelolaan kondisi kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya yakni ekosistem lamun dan ekosistem mangrove.

Tujuan dari studi awal ini untuk mendapatkan data dasar/awal mengenai ekosistem terumbu karang beserta ekosistem terkait lainnya dilokasi perairan TWP Gili Matra. Data dasar dan data monitoring nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi yang penting bagi keberhasilan program COREMAP CTI di perairan tersebut. Selain itu data tersebut dapat dipakai sebagai acuan bagi pemangku kebijakan dalam mengambil suatu kebijakan.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

Tabel 11. Pola kehadiran spesies megabentos pada setiap stasiun di perairan TWP

Gili Matra

Jika dilihat dari jumlah individu tiap spesies atau kelompok spesies megabenthos yang didapatkan di seluruh stasiun penelitian, terlihat bahwa terdapat dua spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah yang mendominasi. Kedua spesies atau kelompok spesies megabenthos tersebut yaitu bulu babi / echinoids dan siput pemakan polip karang / Drupella spp. Dari seluruh megabenthos target yang ditemukan, bulu babi ditemukan sebanyak 34,091% (75 individu), dan Drupella spp. ditemukan sebanyak 56,364% (124 individu). Spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah sedang adalah lola / Trochus spp, yaitu ditemukan sebanyak 5% (11 individu). Sedangkan spesies atau kelompok spesies megabenthos yang ditemukan dalam jumlah sedikit antara lain bintang laut bermahkota duri / Acanthaster planci, kima / giant clams dan udang karang / lobsters. Dari total megabenthos target yang ditemukan, Acanthaster planci ditemukan sebanyak 0,455% (1 individu), kima ditemukan sebanyak 2,727% (6 individu) dan lobster yang ditemukan sebanyak 1,364% (3 individu). Kelompok spesies megabenthos lainnya yaitu holothurian bahkan tidak ditemukan selama penelitian di delapan titik penyelaman, baik kelompok yang memiliki nilai ekonomis penting untuk dikonsumsi (teripang) maupun kelompok yang tidak dikonsumsi. Gambaran mengenai prosentase megabenthos target yang ditemukan selama penelitian disajikan pada Gambar 13.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

menuju Samudera Hindia melewati Selat Lombok. Sebagian besar lainnya dibelokkan ke arah timur menuju Laut Banda sebelum akhirnya menuju Samudera Hindia melalui Celah Timor dan Selat Ombai di Nusa Tenggara Timur.

Rataan terumbu (reef flat) perairan Gili Matra tidak begitu luas di sekeliling pulau. Dasar perairan rataan terumbu ditutupi susbtrat keras dan sedikit bagian berpasir dan patahan karang mati. Tubir (reef front) tidak terlihat jelas karena berada jauh garis pantai, bagian lereng terumbu (reef sloop) relatif landai dengan kemiringan sekitar 30-60o, terkadang ditemukan bagian berundak dan berlanjut sampai kedalaman sekitar 20-30 meter. Di beberapa lokasi terlihat kerusakan terumbu diduga pengaruh pengeboman serta penambangan pasir laut dan batu karang di masa lalu.

Pengamatan megabenthos dilakukan di delapan stasiun pengamatan permanen di lokasi terumbu karang yang terpilih. Kondisi tutupan karang di lokasi transek secara umum masuk dalam kategori rusak dan relatif tidak terlalu bagus, dengan kisaran prosentase tutupan karang 10 – 40%. Baik atau buruknya kondisi terumbu karang kadang sangat berpengaruh pada komposisi jenis megabenthos yang berasosiasi di dalamnya. Misalnya, berbagai jenis lobster dan teripang sangat tergantung pada terumbu karang dengan kondisi yang masih baik. Dan sebaliknya, komposisi jenis megabenthos tidak jarang juga menentukan kondisi terumbu karang, misalnya ada atau tidaknya biota pemakan polip karang.

2.2.3.1. Komposisi jenis megabenthos

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari delapan stasiun yang diamati, enam dari tujuh spesies atau kelompok spesies megabenthos target berhasil ditemukan di wilayah perairan Gili Matra ini. Pada pengamatan di seluruh stasiun didapatkan sebanyak 220 individu megabenthos target dengan pola kehadiran spesies atau kelompok spesies megabenthos seperti yang disajikan pada Tabel 11.

32

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam kegiatan COREMAP Fase III kali ini yang diberi nama COREMAP-CTI, ada penambahan lokasi baru yang sebelumnya tidak ada di COREMAP fase II. Lokasi lokasi baru yang ditambahkan adalah lokasi perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang pengelolaannya ada dibawah Kementrian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan KKPN ini adalah Taman Wisata Perairan Gili Matra (TWP Gili Matra). Taman Wisata Perairan Gili Matra merupakan kesatuan dari perairan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang letaknya berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Gili Matra adalah daerah tujuan wisata bagi turis yang mayoritas berasal dari mancanegara. Taman Wisata Perairan Gili Matra yang selanjutnya disebut TWP Gili Matra mempunyai luas wilayah sebesar 2.954 Ha yang terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan sisanya berupa wilayah perairan laut.

Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di TWP Gili Matra merupakan sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut terutama di bidang pariwisata. Untuk itu perlu adanaya kesadaran dari berbagai pihak dalam mengelola dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir ini.

Dalam rangka mendukung program COREMAP-CTI dan melaksanakan evaluasi yang berkelanjutan di kawasan konservasi TWP tersebut, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh P2O-LIPI bekerjasama dengan UPT dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Mataram yang berada di bawah Direktur Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melakukan kajian bersama dalam rangka pengelolaan kondisi kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya yakni ekosistem lamun dan ekosistem mangrove.

Tujuan dari studi awal ini untuk mendapatkan data dasar/awal mengenai ekosistem terumbu karang beserta ekosistem terkait lainnya dilokasi perairan TWP Gili Matra. Data dasar dan data monitoring nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi yang penting bagi keberhasilan program COREMAP CTI di perairan tersebut. Selain itu data tersebut dapat dipakai sebagai acuan bagi pemangku kebijakan dalam mengambil suatu kebijakan.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam kegiatan COREMAP Fase III kali ini yang diberi nama COREMAP-CTI, ada penambahan lokasi baru yang sebelumnya tidak ada di COREMAP fase II. Lokasi lokasi baru yang ditambahkan adalah lokasi perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang pengelolaannya ada dibawah Kementrian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan KKPN ini adalah Taman Wisata Perairan Gili Matra (TWP Gili Matra). Taman Wisata Perairan Gili Matra merupakan kesatuan dari perairan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang letaknya berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Gili Matra adalah daerah tujuan wisata bagi turis yang mayoritas berasal dari mancanegara. Taman Wisata Perairan Gili Matra yang selanjutnya disebut TWP Gili Matra mempunyai luas wilayah sebesar 2.954 Ha yang terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan sisanya berupa wilayah perairan laut.

Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di TWP Gili Matra merupakan sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut terutama di bidang pariwisata. Untuk itu perlu adanaya kesadaran dari berbagai pihak dalam mengelola dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir ini.

Dalam rangka mendukung program COREMAP-CTI dan melaksanakan evaluasi yang berkelanjutan di kawasan konservasi TWP tersebut, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh P2O-LIPI bekerjasama dengan UPT dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Mataram yang berada di bawah Direktur Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melakukan kajian bersama dalam rangka pengelolaan kondisi kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya yakni ekosistem lamun dan ekosistem mangrove.

Tujuan dari studi awal ini untuk mendapatkan data dasar/awal mengenai ekosistem terumbu karang beserta ekosistem terkait lainnya dilokasi perairan TWP Gili Matra. Data dasar dan data monitoring nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi yang penting bagi keberhasilan program COREMAP CTI di perairan tersebut. Selain itu data tersebut dapat dipakai sebagai acuan bagi pemangku kebijakan dalam mengambil suatu kebijakan.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

Gambar14. Diagram prosentase kehadiran masing-masing spesies megabenthos pada masing-masing stasiun di perairan Gili Matra

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tiga kelompok megabenthos target yang memiliki nilai ekologis penting bagi terumbu karang (bulu babi, siput pemakan polip karang dan bintang laut bermahkota duri) dapat ditemukan di lokasi penelitian. Bulu babi merupakan megabenthos yang cukup dominan dan dapat ditemukan di seluruh stasiun. Ditemukannya bulu babi, terutama jenis Diadema setosum menunjukkan bahwa karang di wilayah tersebut dalam kondisi tidak sehat. Bulu babi adalah indikator kesehatan karang, dimana kehadiran dalam jumlah besar mengindikasikan karang yang tidak sehat (Vimono, 2007). Diadema setosum memangsa algae yang tumbuh pada karang mati, sesuai dengan sifatnya sebagai algae feeder. Kehadiran bulu babi hitam ini sebenarnya memiliki peran yang menguntungkan bagi ekosistem terumbu karang karena turut membersihkan algae, sehingga memungkinkan karang untuk tumbuh dengan baik setelah substrat dibersihkan oleh Diadema setosum dari keberadaan algae.

Jenis megabenthos kedua yang memiliki nilai ekologis penting bagi terumbu karang adalah siput pemakan polip karang atau Drupella spp. Drupella spp. merupakan megabenthos yang paling dominan dan dapat ditemukan di semua stasiun. Drupella spp. merupakan keong yang memiliki kebiasaan memakan polip karang, terutama pada karang bercabang maupun karang masif (Arbi, 2009). Secara ekologis, keong pemakang polip karang ini memiliki peran sebagai pengendali alami Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

Gambar 13. Diagram perbandingan jumlah individu dari masing-masing spesies megabenthos target di perairan TWP Gili Matra

Dilihat dari prosentase kehadiran masing-masing spesies fauna megabenthos pada tiap stasiun, terlihat Stasiun TKGM 03 memiliki fauna megabenthos yang paling miskin, yaitu hanya terdapat tiga spesies atau kelompok spesies megabenthos (bulu babi, Drupella spp. dan kima) dan masing-masing hanya terdiri dari satu individu. Sedangkan Stasiun TKGM 06 merupakan stasiun yang memiliki megabenthos yang paling beranekaragam, yaitu terdiri dari lima spesies atau kelompok spesies megabenthos (bulu babi, Drupella spp., kima, lobster dan lola). Enam stasiun lain memiliki jumlah spesies atau kelompok spesies megabenthos antara tiga sampai empat dengan komposisi yang berbeda-beda. Keberadaan setiap spesies atau kelompok spesies megabenthos tidak lepas dari kondisi kesehatan terumbu karang sebagai habitat alaminya. Gambaran mengenai prosentase kehadiran masing spesies atau kelompok spesies megabenthos target pada masing-masing stasiun di perairan Gili Matra yang ditemukan selama penelitian di delapan lokasi disajikan pada Gambar 14.

33

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam kegiatan COREMAP Fase III kali ini yang diberi nama COREMAP-CTI, ada penambahan lokasi baru yang sebelumnya tidak ada di COREMAP fase II. Lokasi lokasi baru yang ditambahkan adalah lokasi perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang pengelolaannya ada dibawah Kementrian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan KKPN ini adalah Taman Wisata Perairan Gili Matra (TWP Gili Matra). Taman Wisata Perairan Gili Matra merupakan kesatuan dari perairan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang letaknya berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Gili Matra adalah daerah tujuan wisata bagi turis yang mayoritas berasal dari mancanegara. Taman Wisata Perairan Gili Matra yang selanjutnya disebut TWP Gili Matra mempunyai luas wilayah sebesar 2.954 Ha yang terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan sisanya berupa wilayah perairan laut.

Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di TWP Gili Matra merupakan sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut terutama di bidang pariwisata. Untuk itu perlu adanaya kesadaran dari berbagai pihak dalam mengelola dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir ini.

Dalam rangka mendukung program COREMAP-CTI dan melaksanakan evaluasi yang berkelanjutan di kawasan konservasi TWP tersebut, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh P2O-LIPI bekerjasama dengan UPT dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Mataram yang berada di bawah Direktur Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil melakukan kajian bersama dalam rangka pengelolaan kondisi kesehatan terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya yakni ekosistem lamun dan ekosistem mangrove.

Tujuan dari studi awal ini untuk mendapatkan data dasar/awal mengenai ekosistem terumbu karang beserta ekosistem terkait lainnya dilokasi perairan TWP Gili Matra. Data dasar dan data monitoring nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi yang penting bagi keberhasilan program COREMAP CTI di perairan tersebut. Selain itu data tersebut dapat dipakai sebagai acuan bagi pemangku kebijakan dalam mengambil suatu kebijakan.

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

Gambar14. Diagram prosentase kehadiran masing-masing spesies megabenthos pada masing-masing stasiun di perairan Gili Matra

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tiga kelompok megabenthos target yang memiliki nilai ekologis penting bagi terumbu karang (bulu babi, siput pemakan polip karang dan bintang laut bermahkota duri) dapat ditemukan di lokasi penelitian. Bulu babi merupakan megabenthos yang cukup dominan dan dapat ditemukan di seluruh stasiun. Ditemukannya bulu babi, terutama jenis Diadema setosum menunjukkan bahwa karang di wilayah tersebut dalam kondisi tidak sehat. Bulu babi adalah indikator kesehatan karang, dimana kehadiran dalam jumlah besar mengindikasikan karang yang tidak sehat (Vimono, 2007). Diadema setosum memangsa algae yang tumbuh pada karang mati, sesuai dengan sifatnya sebagai algae feeder. Kehadiran bulu babi hitam ini sebenarnya memiliki peran yang menguntungkan bagi ekosistem terumbu karang karena turut membersihkan algae, sehingga memungkinkan karang untuk tumbuh dengan baik setelah substrat dibersihkan oleh Diadema setosum dari keberadaan algae.

Jenis megabenthos kedua yang memiliki nilai ekologis penting bagi terumbu karang adalah siput pemakan polip karang atau Drupella spp. Drupella spp. merupakan megabenthos yang paling dominan dan dapat ditemukan di semua stasiun. Drupella spp. merupakan keong yang memiliki kebiasaan memakan polip karang, terutama pada karang bercabang maupun karang masif (Arbi, 2009). Secara ekologis, keong pemakang polip karang ini memiliki peran sebagai pengendali alami Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

Gambar 13. Diagram perbandingan jumlah individu dari masing-masing spesies megabenthos target di perairan TWP Gili Matra

Dilihat dari prosentase kehadiran masing-masing spesies fauna megabenthos pada tiap stasiun, terlihat Stasiun TKGM 03 memiliki fauna megabenthos yang paling miskin, yaitu hanya terdapat tiga spesies atau kelompok spesies megabenthos (bulu babi, Drupella spp. dan kima) dan masing-masing hanya terdiri dari satu individu. Sedangkan Stasiun TKGM 06 merupakan stasiun yang memiliki megabenthos yang paling beranekaragam, yaitu terdiri dari lima spesies atau kelompok spesies megabenthos (bulu babi, Drupella spp., kima, lobster dan lola). Enam stasiun lain memiliki jumlah spesies atau kelompok spesies megabenthos antara tiga sampai empat dengan komposisi yang berbeda-beda. Keberadaan setiap spesies atau kelompok spesies megabenthos tidak lepas dari kondisi kesehatan terumbu karang sebagai habitat alaminya. Gambaran mengenai prosentase kehadiran masing spesies atau kelompok spesies megabenthos target pada masing-masing stasiun di perairan Gili Matra yang ditemukan selama penelitian di delapan lokasi disajikan pada Gambar 14.

34

Baseline Survey Kesehatan Terumbu karang dan Ekosistem Terkait di Taman Wisata Perairan Gili Matra

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dalam kegiatan COREMAP Fase III kali ini yang diberi nama COREMAP-CTI, ada penambahan lokasi baru yang sebelumnya tidak ada di COREMAP fase II. Lokasi lokasi baru yang ditambahkan adalah lokasi perairan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) yang pengelolaannya ada dibawah Kementrian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kawasan KKPN ini adalah Taman Wisata Perairan Gili Matra (TWP Gili Matra). Taman Wisata Perairan Gili Matra merupakan kesatuan dari perairan Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang letaknya berada di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Gili Matra adalah daerah tujuan wisata bagi turis yang mayoritas berasal dari mancanegara. Taman Wisata Perairan Gili Matra yang selanjutnya disebut TWP Gili Matra mempunyai luas wilayah sebesar 2.954 Ha yang terdiri dari daratan seluas 665 Ha dan

Dokumen terkait