HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Komposisi Nyamuk yang Ditemukan di Bareng Tenes
Komposisi nyamuk yang ditemukan dari hasil survei selama tiga minggu di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 terdiri atas tiga spesies.
Ketiga spesies tersebut adalah Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Culex quinqeufasciatus.
4.1.1 Aedes aegypti
Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti menurut Djakaria (2004) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Classis : Insecta Ordo : Diptera Familia : Culicidae Genus : Aedes Spesies : Aedes aegypti
Gambar 7. Nyamuk Aedes aegypti (imago) hasil survei larva dan ovitrap yang dipelihara di laboratorium
1 mm
32
Nyamuk Ae. aegypti memiliki ciri tubuh berukuran lebih kecil dan warna tubuhnya lebih coklat dibandingkan dengan nyamuk Ae.
albopictus. Bagian kaki dan abdomennya berwarna hitam dengan belang putih. Ciri khas lain yang membedakan nyamuk ini dengan Ae. albopictus adalah pada bagian tengah dada (dorsal toraks).
Bagian skutum Ae. aegypti berwarna hitam dengan dua garis putih sejajar yang berdada di tengahnya dan di bagian kanan dan kirinya terdapat garis lengkung berwarna putih. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 7 (Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008 & Getachew dkk., 2015).
Nyamuk Ae. aegypti umumnya berkembangbiak pada tempat penampungan air alami seperti ban bekas, pecahan gelas kaca, pot bunga dan lain-lain. Tempat istirahat yang paling disukai oleh nyamuk Ae. aegypti adalah di kamar tidur, di dinding permukaan yang gelap, di dekat lantai dan di permukaan atas dinding yang dekat dengan langit-langit. Nyamuk betina biasanya beristirahat setelah memenuhi kebutuhan darah yang diperlukan untuk proses pematangan telur (Chadee, 2013).
Nyamuk Ae. aegypti lebih banyak ditemukan beraktifitas dan beristirahat di dalam ruangan (WHO dalam Arifudin dkk, 2016). Hal tersebut berkaitan dengan sifat nyamuk Ae. aegypti yang menyukai darah manusia (antrofilik) dan kebiasaan nyamuk yang beristirahat di tempat gelap, lembab serta tersembunyi di dalam ruangan (Athaillah dkk., 2017). Berdasarkan hasil survei larva dan ovitrap yang didapatkan tidak menunjang pernyataan tersebut. Nyamuk Ae.
aegypti ditemukan dominan di luar ruangan. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saleeza dkk. (2013) menyatakan bahwa larva nyamuk Ae. aegypti ditemukan di luar ruangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Rathor dalam Seleeza dkk. (2013) bahwa larva nyamuk Ae. aegypti ditemukan di tempat penampungan air alami seperti lubang pada pohon, namun masih dekat dengan manusia. Nyamuk merupakan hewan berdarah dingin, sehingga kehidupannya bergantung kepada faktor lingkungan (suhu) dan tempat gelap. Penelitian yang dilakukan oleh Chareonviriyaphap dalam Saleeza dkk. (2013) yang menyatakan bahwa Ae. aegypti dan Ae. albopictus melakukan perkembangbiakan di luar daripada di dalam ruangan, walaupun pada umumnya nyamuk Ae. aegypti lebih sering melakukan perkembangbiakan dan aktifitas di dalam ruangan, sedangkan Ae. albopictus lebih sering melakukan perkembangbiakan dan makan di luar ruangan.
33 4.1.2 Aedes albopictus
Klasifikasi nyamuk Aedes albopictus menurut Djakaria (2004) adalah sebagai berikut:
Kigdom : Animalia Pylum : Arthropoda Classis : Insecta Ordo : Diptera Familli : Culicidae Genus : Aedes
Spesies : Aedes albopictus
(
Gambar 8. Nyamuk Aedes albopictus (imago) hasil survei larva dan ovitrap yang direaring di laboratorium
Nyamuk Ae. albopictus memiliki bagian kaki dan abdomen yang berwarna hitam belang putih. Nyamuk ini biasa ditemukan di kebun atau pekarangan rumah yang terdapat banyak tanaman.
Nyamuk Ae. albopictus berukuran lebih besar dan lebih hitam dibandingkan nyamuk Ae. aegypti. Nyamuk ini memiliki ciri khas garis putih di tengah bagian dada (dorsal toraks). Skutum Ae.
1 mm
34
albopictus berwarna hitam dengan satu garis putih tebal di bagian tengahnya. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 8 (Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2008 &
Getachew dkk., 2015).
Berdasarkan hasil dari survei larva dan ovitrap, nyamuk Ae.
albopictus tidak ditemukan di dalam ruangan, semua nyamuk Ae.
albopictus ditemukan di luar ruangan. Hal tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosa (2007) yang menyatakan bahwa nyamuk Ae. albopictus cenderung lebih sering beraktifitas di luar rumah. Hasil ini juga didukung oleh WHO dalam Saleeza dkk (2013) yang menyatakan bahwa nyamuk Ae. albopictus lebih banyak ditemukan di luar ruangan yang ternaungi vegetasi dengan tempat perkembangbiakan yang cocok seperti ban bekas, tempat pembuangan sampah lubang pohon, ketiak daun, dan tempurung kelapa. Nyamuk Ae. albopictus ditemukan dalam tempat penampungan air alami seperti gelas bekas, kaleng bekas dan pot bunga serta pada ovitrap (buatan manusia). Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Rao (2010) yang menyatakan bahwa nyamuk Ae. albopictus ditemukan pada tempat penampungan air alami dan buatan manusia dengan sisa bahan organik di dalamnya. Kebiasaan menghisap nyamuk Ae. albopictus umumnya terjadi pada pagi hari di luar rumah. Suhu udara maksimum yang dibutuhkan untuk Ae. albopictus dapat hidup adalah 25-30 ºC (Straetemans, 2008).
4.1.3 Culex quinquefasciatus
Klasifikasi nyamuk Culex sp. menurut Romoser & Stoffolano (1998), adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Spesies : Culex quinquefasciatus
Nyamuk Cx. quinquefasciatus memiliki tubuh yang berwarna kecoklatan dan berukuran sedang serta memiliki bintik-bintik putih pada bagian dorsal abdomen. Bagian toraksnya memiliki banyak
35 rambut, tidak seperti spesies Aedes sp. yang memiliki proboscis berwarna hitam polos. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 9 (Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, 1989 dan Bhattacharya & Basu, 2016).
Gambar 9. Nyamuk Culex quinquefasciatus (imago) hasil survei larva dan ovitrap yang direaring di laboratorium
Nyamuk Cx. quinquefasciatus merupakan subspesies Cx.
pipiens yang terdistribusi secara global. Nyamuk Cx.
quinquefasciatus berkembang biak pada tempat penampungan air artifisial seperti saluran pembuangan air yang terbuka, genangan air limbah rumah tangga, genangan air tanah, parit dan tempat penampungan air kecil lainnya. Nyamuk ini termasuk dalam nyamuk nokturnal dengan kebiasaan menggigit pada malam hari. Selain manusia, nyamuk ini dapat menggigit hewan lain seperti ruminansia, babi, kelinci, anjing dan amfibia. Perkembangan embrio Cx.
quinquefasciatus memiliki pada suhu udara rendah ≤ 12 °C dan tinggi ≥32 °C untuk hidup (Bhattacharya & Basu, 2016).
Berdasarkan hasil survei larva dan ovitrap, nyamuk Cx.
quinquefasciatus ditemukan di dalam tempat penampungan air di luar ruangan bersamaan dengan Ae. aegypti dan Ae. albopictus. Hal
1 mm
36
tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saleeza dkk.
(2013) yang menyatakan bahwa Ae. albopictus dan Cx.
quinquefasciatus ditemukan dalam tempat penampungan air artifisial secara bersamaan.
4.2 Kelimpahan Nyamuk yang Ditemukan di Bareng Tenes