HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Persepsi Masyarakat tentang DBD
Persepsi masyarakat di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 dilakukan dengan metode wawancara menggunakan pedoman wawancara untuk masyarakat. Jumlah responden berdasarkan perhitungan rumus slovin adalah 97 responden. Responden yang dipilih adalah responden yang sering berada di rumah dengan kisaran umur sekitar 20-70 tahun. Pengetahuan masyarakat tentang penyakit DBD dihasilkan nilai Skala Likert 3,08. Pengetahuan masyarakat tentang nyamuk sebagai vektor penyakit DBD dihasilkan nilai Skala Likert 2,91. Pengetahuan tentang cara pencegahan DBD dihasilkan nilai Skala Likert 2,90. Tindakan masyarakat tentang cara
44
pencegahan DBD dihasilkan nilai skala likert 2,89. Penderita DBD di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 didapatkan dengan nilai Skala Likert 1,80. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 14.
4.4.1 Pengetahuan penyakit DBD
Pengetahuan masyarakat di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 tentang penyakit DBD tergolong sangat baik. Hal itu diketahui berdasarkan pada nilai Skala Likert 3,08. Masyarakat umumnya telah mengetahui DBD merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Gejala penyakit DBD seperti demam tinggi secara tiba-tiba selama dua sampai 14 hari, pendarahan pada kulit berupa bintik-bintik merah (petechia), sakit kepala berat, dan nyeri otot atau sendi. Penyakit akut lainnya juga menunjukkan gejala yang sama dengan penyakit DBD, sehingga sulit dideteksi. Hal tersebut ditunjang dengan penelitian yang dilakukan oleh Fauzy dkk. (2014) menyatakan bahwa masyarakat umumnya telah mengetahui bahwa penyakit DBD merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Gejala-gejala yang muncul sulit dideteksi karena hampir sama dengan penyakit lain seperti tifus.
Gambar 14. Nilai interpretasi setiap komponen wawancara
45 Penyuluhan atau sosialisasi penyakit DBD kepada masyarakat Bareng Tenes RW 02 dilaksanakan saat perkumpulan PKK RT maupun RW. Pihak puskesmas juga sering melakukan penyuluhan ketika ditemukan penderita DBD di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 Malang. Hal tersebut disebabkan penyebaran penyakit DBD di suatu wilayah bisa sangat cepat, maka harus segera dilakukan pencegahan seperti penyuhulan kepada masyarakat tentang cara pencegahan (Fauzy dkk., 2014).
4.4.2 Pengetahuan tentang nyamuk sebagai vektor DBD
Pengetahuan masyarakat tentang nyamuk sebagai vektor DBD tergolong cukup baik. Hal tersebut diketahui berdasarkan pada nilai Skala Likert 2,91. Sebagian besar masyarakat telah mengetahui bahwa nyamuk merupakan vektor dari penyakit DBD dengan ciri-ciri nyamuk DBD seperti pada bagian tubuh dan kakinya terdapat bintik-bintik putih. Nyamuk aktif pada pagi sampai menjelang sore hari.
sehingga beberapa masyarakat menyimpulkan bahwa tidur siang sangat berbahawa karena dapat memberi peluang digigit oleh nyamuk DBD. Sedikit masyarakat yang tidak mengatahui bahwa nyamuk merupakan vektor penyakit DBD, melainkan gejala akut dari penyakit tifus.
4.4.3 Pengetahuan tentang cara pencegahan DBD
Pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan DBD tergolong cukup baik. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai Skala Likert 2,90. Pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan dengan mencegah berkembangbiaknya vektor penyakit DBD yaitu nyamuk.
Saat fase larva, nyamuk hidup di air, sedangkan saat fase dewasa hidup di udara (Soegijanto, 2006). Pencegahan yang bisa dilakukan adalah mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk. Genangan air selama lebih dari lima hari dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Nyamuk dewasa memiliki kebiasan beristirahat ditempat gelap seperti gantungan baju, kelambu dan lain-lain. Umumnya masyarakat telah mengetahui cara pencegahan DBD dengan melakukan gerakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur), namun tidak sedikit pula masyarakat yang masih tidak mengetahui tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyakit DBD.
46
4.4.4 Tindakan pencegahan DBD
Tindakan masyarakat tentang pencegahan penyakit DBD tergolong kurang baik. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai Skala Likert 2,23. Tindakan pencegahan yang dilakukan masyarakat seperti menguras bak mandi dua sampai tiga hari sekali, menggunakan ember di kamar mandi, menggunakan abate di bak mandi, beberapa masyarakat menggunakan lotion anti nyamuk, dan tidak menggantung baju secara berlebihan. Masyarakat umumnya membersihkan rumah di bagian dalam saja, sehingga bagian luar rumah sering terabaikan. Hal tersebut dapat dilihat dari tempat penampungan air penampungan air seperti pot bunga, kaleng bekas, gelas bekas dan lain-lain.
Kegiatan kerja bakti para RW 02 dilakukan setiap hari jumat.
Kerja bakti yang dilakukan warga antara lain membersihkan halaman rumah. Kegiatan jumantik di RW 02 dilakukan secara rutin dua minggu sekali dengan anggota sekitar 20 orang. Tindakan pencegahan DBD dengan 3M tidak selalu dilakukan dengan baik oleh masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari tindakan masyarakat yang membuang barang bekas di tempat sampah dengan alasan nantinya akan diangkut oleh petugas sampah.
Hadi (2013) menyatakan penyakit DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, sehingga tidak ada pengobatan yang dapat menghentikan perkembangan virus ini. Oleh karena itu, pihak medis hanya dapat menghilangkan gejala-gejala yang muncul dari penderita. Selain itu upaya menghindari hisapan nyamuk juga dilakukan seperti PSN, fogging, larvasida dan 3M.
Program 3M merupakan salah satu program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dicanangkan oleh pemerintah.
Menguras merupakan kegiatan kebersihan yang diantaranya menyikat bak mandi, bak WC dan lain-lain. Menutup merupakan kegiatan yang menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum dan lain-lain). Mengubur merupakan kegiatan yang berhubungan dengan menyingkirkan atau memusnahkan barang bekas (seperti kaleng, ban dan sebagainya). Pengurasan tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur, minimal seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat tersebut.
Istilah lain yang dikenal dengan 3M Plus yaitu kegiatan 3M yang diperluas dengan cara seperti mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
47 Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar. Menutup lubang pada potongan bambu/pohon dan memasang kawat kasa.
Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar.
Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai dan menggunakan kelambu serta memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk Ae. aegypti (Priwahyuni & Ropita, 2014).
4.4.5 Penderita DBD di Kelurahan Bareng Tenes
Penderita DBD di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 tergolong jarang. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai Skala Likert 1,80.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Malang (2016) Puskesmas Bareng Tenes RW 02 tercatat 35 kasus DBD, sedangkan saat dilakukan wawancara tidak ada warga Bareng Tenes RW 02 yang terkena penyakit DBD. Hal tersebut dikarenakan penderita DBD yang tercatat bukanlah warga Bareng Tenes RW 02 melainkan warga lain yang berobat di Puskesmas Bareng Tenes.
Masyarakat umumnya pernah terkena DBD saat masih kecil.
Anak-anak cenderung lebih rentan karena faktor imunitas yang lebih rendah jika dibandingkan oleh dewasa. Penyebaran DBD yang ditularkan oleh nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus. Jika suatu daerah diketahui adanya serangan penyakit DBD, maka sangat mungkin terdapat penderita lain. Sehingga tindakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan fogging harus dilakukan untuk mencegah tersebarnya penyakit DBD pada suatu wilayah tersebut (Fauzy dkk., 2014). tersebut dapat dilihat dalam Tabel 11.
Nilai Density Figure di Kelurahan Bareng Tenes RW 02 Malang menunjukkan kategori kepadatan populasi nyamuk yang tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai ABJ (30 %) yang kurang dari standart Depkes (95 %). Nilai tersebut juga tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan nilai ABJ di Kota Tangerang Selatan yaitu 72,7 % (Astuti dkk, 2016) Nilai CI (28,05 %) masih tergolong tinggi dan kurang dari standart WHO (˂10 %). Nilai CI di daerah ini lebih