• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

1.2 Keadaan Demografi

1.2.2 Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis

46

Secara garis besar, komposisi penduduk menurut umur dapat dikelompokkan dalam 3 kategori :

a. Usia muda / angkatan kerja belum produktif, yaitu usia 0-14 tahun b. Usia dewasa / angkatan kerja produktif, yaitu usia 15 – 59 tahun c. Usia tua / angkatan kerja produktif, yaitu usia 60 tahun keatas

Keadaan penduduk wilayah Kelurahan Gilingan menurut komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. 1

Penduduk Dalam Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin

No Kel. Umur Laki-laki Perempuan Jumlah

(1) (2) (3) (4) 1 0 – 4 335 620 955 2 5 – 9 989 843 1.832 3 10 – 14 1.080 1.157 2.237 4 15 – 19 1.088 1.146 2.234 5 20 – 24 1.213 1.324 2.537 6 25 – 29 1.131 1.140 2.271 7 30 – 39 1.274 1.200 2.474 8 40 – 49 1.238 1.208 2.446 9 50 – 59 1.208 1.050 2.258 10 60> 1.065 1.314 2.379 JUMLAH 10.621 11.002 21.623

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan.

commit to user

47

Dari data tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kategori penduduk usia belum produktif adalah 5.024 jiwa dan kategori usia tidak produktif sebesar 2379 jiwa. Sedangkan sisanya yang merupakan jumlah terbesar adalah 14.220 jiwa. Jadi dapat dinyatakan bahwa sebagian besar penduduk Kelurahan Gilingan termasuk dalam angkatan kerja produktif dan kondisi ini akan sangat berpengaruh dalam perkembangan wilayah itu sendiri.

1.2.3. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses dimana seorang individu dapat memahami dan memberikan makna dalam kehidupan sosial yang ada dalam masyarakat. Untuk mengetahui tingkat pendidikan penduduk di Kelurahan Gilingan, dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel. 2

Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan (Bagi Umur 5 tahun keatas)

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 Tamat Akademi / Perguruan Tinggi 1.715

2 Tamat SLTA 3.173 3 Tamat SLTP 3.819 4 Tamat SD 3.815 5 Tidak Tamat SD 1.996 6 Belum Tamat SD 4.983 7 Tidak Sekolah 1.167 JUMLAH TOTAL 20.668

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan,

48

Dari tabel. 2 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar penduduk Kelurahan Gilingan masih dalam tingkat pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan rendah ini dihitung dari jumlah keseluruhan penduduk yang tamat SD sampai dengan tidak sekolah sebesar 11.961 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk yang termasuk dalam tingkat pendidikan menengah yaitu tamat SLTP sampai dengan tamat SLTA sebanyak 6.992 jiwa. Dan tamat Akademi / Perguruan Tinggi 1.715 jiwa.

1.2.4. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Dengan lokasi yang berada di pusat Kota Surakarta, maka dapat dipastikan bahwa penduduk Kelurahan Gilingan tidak ada yang mempunyai pekerjaan sebagai petani maupun nelayan. Mata pencaharian penduduk Kelurahan Gilingan terbagi dalam berbagai pekerjaan seperti pengusaha, pegawai negeri, pengangkutan, pedagang maupun buruh. Tetapi selain itu penduduk Kelurahan Gilingan tercatat sebagai golongan lain-lain. Untuk memperjelas, dapat dilihat dalam tabel penggolongan penduduk sebagai berikut :

commit to user

49

Tabel. 3

Penduduk Menurut Mata Pencaharian (Bagi Umur 10 Tahun ketas)

No Mata Pencaharian Jumlah

1 Petani Sendiri - 2 Buruh Tani - 3 Nelayan - 4 Pengusaha 816 5 Buruh Industri 2.647 6 Buruh Bangunan 4.781 7 Pedagang 1.598 8 Pengangutan 1.461

9 Pegawai Negeri (Sipil/ABRI) 1.324

10 Pensiunan 1.418

11 Lain-lain 4.791

JUMLAH TOTAL 18.836

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan,

Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Bulan Februari, 2010

Dari data diaatas dapat diketahui bahwa mata pencaharian paling banyak penduduk Kelurahan Gilingan adalah golongan lain-lain yaitu sebesar 4.791 jiwa. Golongan lain-lain adalah mereka yang mempunyai pekerjaan di luar seperti apa yang disebutkan dalam tabel diatas.

1.2.5. Komposisi Penduduk Menurut Agama

Agama merupakan hal paling pokok dan mendasar serta menjadi hak asasi yang paling asasi bagi manusia. Agama dijadikan pedoman moral dan tingkah laku dalam kehidupan manusia. Perbedaan agama yang menimbulkan keserasian dalam masyarakat adalah selalu

50

yang diharapkan setiap anggota-anggotanya. Di Kelurahan Gilingan, jumlah dari masing-masing pemeluk agama dapat dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel. 4

Penduduk Menurut Agama

No Agama Jumlah 1 Islam 14.263 2 Kristen Khatolik 3.366 3 Kristen Protestan 3.778 4 Budha 216 5 Hindu - JUMLAH TOTAL 21.623

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Bulan Februari, 2010

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas agama penduduk Kelurahan Gilingan adalah agama Islam berjumlah 14.263 jiwa. Lainnya Kristen Khatolik berjumlah 3.366 jiwa, Kristen Protestan berjumlah 3.778 jiwa, Budha 261 jiwa, sedangkan penduduk di Kelurahan Gilingan tidak ada yang memeluk agama Hindu

1.2.6. Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang ada pada suatu daerah mempengaruhi perkembangan daerah tersebut, jika suatu daerah memiliki sarana dan prasarana yang lebih kompleks dan memadai, maka perkembangan daerah tersebut akan lebih cepat dibandingkan

commit to user

51

daerah yang sarana dan prasarananya tidak kompleks dan tidak memadai.

Sarana dan prasarana di Kelurahan Gilingan terdiri dari : a. Sarana komunikasi

Sarana komunikasi yang terdapat di Kelurahan Gilingan dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel. 5 Sarana Komunikasi

No Sarana Komunikasi Jumlah

1 Radio 185

2 Televisi 2300

Jumlah 2485

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta,

Bulan Februari, 2010

Sarana komunikasi sangat penting bagi manusia. Dengan sarana komunikasi, manusia dapat menyampaikan dan menerima informasi dengan cepat. Dengan demikian mereka tidak akan ketinggalan informasi.

Pada tabel 5 dapat diketahui bahwa sarana komunikasi yang ada meliputi 185 buah radio dan 2300 buah televisi. Dan yang merupakan sarana komunikasi paling banyak digunakan penduduk Kelurahan Gilingan adalah televisi yaitu berjumlah 2.300 buah.

52

b. Sarana Transportasi

Kemajuan perekonomian di Kelurahan Gilingan tentu saja didukung oleh sarana dan prasarananya. Prasarana yang ada di daerah itu terutama alat perhubungan yang berupa alat transportasi.

Sarana transportasi sangat penting dalam memperlancar aktifitas penduduk yang memerlukan perjalanan jauh. Sarana transportasi yang dimiliki penduduk Kelurahan Gilingan terdiri dari kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan pribadi berupa sepeda, sepeda motor, mobil. Sedangkan kendaraan umum berupa oplet/colt, bus, taksi, truk, andong/dokar, gerobak dan becak.

Tabel. 6 Sarana Transportasi

No Sarana Transportasi Jumlah

1 Sepeda 359 2 Sepeda Motor 285 3 Mobil Dinas 80 4 Mobil Pribadi 124 5 Mobil Taksi - 6 Oplet- Colt - 7 Bus - 8 Truk - 9 Andong/Dokar - 10 Gerobak dorong/hewan 100 11 Becakaaa 50

Sumber : Laporan Monografis Dinamis, Kelurahan Gilingan,

commit to user

53

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa sepeda merupakan sarana transportasi yang paling banyak dimiliki penduduk Kelurahan Gilingan. Hal ini disebabkan karena secara ekonomis lebih mudah didapatkan dari pada sarana transportasi yang lain. Di Kelurahan Gilingan terdapat 359 buah sepeda, sedangkan sarana transportasi yang paling sedikit dimiliki penduduk Kelurahan Gilingan adalah becak, yaitu ada 50 buah.

1.3.WANITA PEKERJA SEKS DI JALAN JALAK 2 CINDEREJO

LOR RT 02 RW 07, KELURAHAN GILINGAN

Jalan Jalak 2 Cinderejo Lor RT 02 RW 07 berada di sebelah Terminal Tirtonadi Kota Surakarta, tepatnya di depan Travel Agent Kelurahan Gilingan Kota Surakarta. Jalan Jalak 2 merupakan salah satu jalan yang berada di Kelurahan Gilingan. Di jalan ini banyak ditemui wanita pekerja seks setiap harinya. Rata-rata mereka berumur 30 tahun keatas dan ada beberapa yang berumur 20 tahun keatas. Dari wanita pekerja sek yang berada di Jalan Jalak 2 kebanyakan beragama Islam, dan ada beberapa wanita pekerja sek yang beragama Non Islam.

54

1.4.SARANA DAN PRASARANA IBADAH

Di Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta terdapat beberapa masjid dan mushola sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah. Masjid dan mushola tersebut selalu digunakan para warga sekitar atau pendatang untuk melaksanakan ibadah sholat, karena lokasinnyapun dipinggir jalan.

Pada hari tertentu biasanya diadakan pengajian rutin di masjid tersebut dan diperuntukkan untuk masyarakat di daerah tersebut, atau pada hari-hari besar Islam. Dan pada bulan suci Ramadhan biasanya di masjid yang ada di Kelurahan Gilingan diadakan acara seperti: Sholat

tarawih berjama”ah, Tadarussan, membagikan zakat, dan menjalankan

Sholat Ied besama.

Di Kelurahan Gilingan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, sehingga di wilayah Kelurahan Gilingan ada beberapa masjid dan mushola yang didirikan untuk melaksanakan ibadah bagi warga dan pemeluk agama Islam khususnya.

commit to user

55

2. Karakteristik Sosial Ekonomi Wanita Pekerja Seks yang Beragama Islam

di Kelurahan Gilingan

Profil Responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 2.1.Sulastri (37 Tahun)

Sulastri adalah seorang wanita pekerja seks yang berasal dari Semarang. . Sulastri bias sampai ke Solo karena diajak oleh temannya yang telah lama tinggal di Solo. Di Solo dia kost di Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan. Sulastri selain menjadi wanita pekerja seks dia juga bekerja sebagai tukang pijit tenda untuk menambah penghasilannya. Dia bekerja sebagai wanita pekerja seks di Jalan Jalak 2, karena faktor ekonomi yang menyebabkan hal ini.

Wanita yang mempunyai postur badan yang tidak terlalu tinggi ini merupakan pribadi yang ramah dan mempunyai respon positif terhadap orang lain. Sulastri termasuk wanita yang mencintai keluargannya. Walaupun tidak pernah mengenyam bangku sekolah, tetap bekerja untuk keluarganya walaupan menjadi wanita pekerja seks. Dari pernyataan diatas dapat dinyatakan, bahwa hal ini ditunjukkan dengan:

“…Lha mau kerja apa lagi mas, sekolah wae ora…, saya kerja

jadi pembantu yo ora betah, akhirre yo malah kerjo dadi WTS,

seng golek duitte gampang…”

56

2.2.Samiyem (35 tahun)

Sami jika dilihat dari penampilan luarnya memang terlihat berwajah hitam manis, yang berperawakan tidak terlalu tinggi dan agak gemuk. Dia termasuk orang yang enak diajak ngobrol, terbuka dan termasuk orang yang memiliki selera humor tinggi dan suka tertawa terbahak-bahak.

Sami merupakan wanita pekerja seks yang beroperasi di Jalan Jalak 2 Gilingan. Wanita kelahiran semarang ini bekerja seabagai WTS sejak 10 tahunan yang lalu. Dia memilih bekerja sebagai WTS karena dia hannya tamatan SD, dan karena dia mempunnyai anggapan bahwa sekarang mencari pekerjaan susah, jika tidak ada yang membawa maka susah untuk mendapatkan pekerjaan.

Saat ini sami menyandang status janda, sudah hampir 3 tahun yang lalu ditinggalkan suaminya. Suaminya meninggal dunia dikarenakan sesuatu penyakit yang telah lama diidapnya. Dari hasil perkawinannya Sami dikaruniai seorang anak yang ikut oleh keluargannya di semarang. Sami tinggal dikost-kostsan di Jalan Jalak 2, karena keadaan yang ditinggal oleh suaminya itu dia memutuskan untuk bekerja sebagai wani pekerja seks demi menghidupi anak dan keluargannya. Seperti yang diungkapkannya berikut ini:

commit to user

57

“…Lha mau gimana lagi mas, udah ndak punnya suami, terus

kalo bukan saya yang mencari duit untuk menghidupi anak dan

keluarga,siapa lagi…”

( Wawancara kamis, 22 September 2011 )

Sami cenderung memilih menjadi WTS di Jalan Jalak dikarenakan ditempat tersebut ramai dan penduduknya ramah tamah.

2.3.Sutarti ( 37 Tahun)

Tarti merupakan wanita kelahiran Purwodadi. Diusianya yang tergolong tua tersebut dia masih menyandang status single atau belum bersuami. Karena pada masa mudanya pernah dikecewakan pacarnya akhirnya terjun kedunia gelap alias pekerja seks. Seperti yang diungkapkannya berikut ini:

“… Statusku yo single mas,.. mau dikasih makan apa anakku mas,

hanya ini bekerjaan seng iso tak lakokke mas…”

(Wawancara Kamis, 22 September 2011, Responden Sutarti)

Yang penting dia ingin anaknya masih bisa melanjutkan sekolah, dan menjadi orang yang sukses. Agar nasibnya bisa lebih baik, tidak seprti orang tuanya.

2.4.Yanti ( 38 Tahun )

Yanti adalah wanita kelahiran Sragen. Hingga saat ini hasil perkawinannya dia telah dikaruniai 2 orang anak. Untuk dapat mencukupi kebutuhannya Yanti terjun kedunia malam, kira-kira sudah 3 tahun ini ia

58

terjun sebagai penjaja seks (PSK). Mau mau menjalani pekerjaan itu karena mencari pekerjaan susah, selain itu alasan lain karena ia hanya tamatan SMP.

Yanti cenderung memilih PSK di Jalan JAlak 2 Gilingan, karena menurutnya ramai banyak pengunjungnya. Hal seperti ini seperti yang diungkapkannya :

“… Ya pingin aja di gilingan mas soalnya kalau menurut saya

gilingan tempatnya ramai dan strategis…” (Wawancara Kamis, 22 September 2011)

Wanita ini sudah 3 tahunan bekerja sebagai PSK. Dia mengaku sebenarnya tidak mau bekerja seperti ini, dan ingin sekali keluar dari dunia malam, akan tetapi belum punya pekerjaan lain.

2.5.Ari (21 Tahun)

Ari mengaku tipikal seorang pendiam dan sedikit bicara. Ari mempunyai perawakan tubuh yang sesuai usianya yaitu berbadan langsing dan tidak terlalu tinggi. Wanita ini berperawakan kecil ini masih berstatus lajang atau belum menikah. Ari mengaku hanya berpendidikan terakhir SMA di salah satu SMA Negeri di Malang.

Ari merupakan wanita kelahiran Malang. Sudah 2 tahun ini dia menetap di Surakarta. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, ari menjadi wanita pekerja seks di Gang Jalak2. Seperti yang diungkapkannya berikut ini:

commit to user

59

“… untuk menyambung hidup mas, udah terlanjur suka dengan

pekerjaan seperti ini, mau nyari kerja yang lebih baik udah

terlanjur males…”

( Wawancara Kamis, 22 September 2011)

Berdasarkan data dari formasi tentang profil responden diatas dapat diketahui beberapa hal dbawah ini :

a. Tingkat Pendidikan Wanita Pekerja Seks Di Kelurahan Gilingan

Latar belakang tingkat pendidikan kebanyakan SD dan SMP, bahkan ada yang sama sekali tidak mengennyam pendidikan dibangku sekolah. Dari penelitian yang dilakukan peneliti, tingkat pendidikan Wanita Pekekerja Seks di Kelurahan Gilingan rata-rata, SD dan tidak bersekolah, dan beberapa yang sampai SMP, seperti yang di ungkapkan Ari :

“…pendidikan terakhir saya SMP, mau nerussin sudah tidak adah

biaya, terus saya memutuskan untuk bekerja, eh nggak taunya

malah kerja jadi WTS…”

(Wawancara Sabtu, 24 September 2011)

Jadi banyak ditemui bahwa Wanita Pekerja Seks di Kelurahan Gilingan mempunyai latar belakang pendidikan formal dari SD sampai SMP.

60

b. Status Perkawinan Wanita Sebagai Pekerja Seks (WPS) Di

Kelurahan Gilingan

Pada umumnya wanita sebagai pekerja seks ada yang berstatus menikah dan ada yang berstatus lajang atau belum menikah. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdapat wanita sebagai pekerja seks yang yang berstatus telah menikah, berikut ini ungkapan responden yang telah menikah :

“… Sudah menikah mas, saya punya 2 anak… ya karena ditinggal

suami mas, ya jadilah saya bekerja sebagai pekerja seks…” (Wawancara Kamis, 22 September 2011, Responden Sulastri)

“… Statusku ya punya bojo mas, la bojoku pengangguran mas,..

mau dikasih makan apa anakku mas, hanya ini bekerjaan seng iso

tak lakokke mas…”

(Wawancara Kamis, 22 September 2011, Responden Sutarti)

Kebanyakan dari mereka mengalami kegagalan dalam perkawinan, dan harus menafkahi keluarga. Merekapun memutuskan bekerja sebagai wanita pekerja seks di Gilingan.

Menurut penelitian yang dilakukan peneliti, sebagian besar didominasi oleh mereka yang usianya 30 tahun keatas, tetapi ada satu responden yang umurnya 21 tahun. Dia bernama Ari, berikut ini penuturrannya:

“… dari semua yang menjadi WPS di Gang Jalak 2, aku yang

paling muda mas, kebanyakan dari mereka sudah berkepala

commit to user

61

c. Motivasi menjadi wanita pekerja seks

Mengkaji tentang alasan perempuan sebagai wanita pekerja sek sangat berhubungan dengan faktor-faktor pendukung yang mempengaruhi munculnya perilaku tersebut. Para wanita pekerja seks di Jalan Jalak 2. Sebagian besar menempatkan alas an kurang terpenuhinya kebutuhan ekonomi dikarenakan suaminya pengangguran dan ada yang kecewa karena pacarnya sehingga mau tidak mau terjun ke dunia malam. Berikut ungkapan dari mereka :

“… ya, karena tuntutan ekonomi mas, apalagi saya ndak punya

keahlian apa-apa, ya bisanya Cuma seperti ini mas,..” (Wawancara 22 September 2011 Responden Sulasrti)

“…“wah mas, saya juga tidak tahu awalnya pekerjaan itu apa?...

ya saya mengiyakan aja mas,.. karena tidak tahu harus bagaimana, sampai sekarang mas saya bekerja sebagai wnita pekerja seks”

(Wawancara 22 September 2011 Responden Sutarti)

Akan tetapi ada alasan lain kenapa mereka menjadi Wanita Pekerja Seks. Alasannya kekurangan ekonomi, karena dicampakkan pacarnya, pengaruh dunia luar, mereka cenderung mempunyai rasa ketertarikan kerja di dunia malam sebagai wanita pekerja seks.

62

“… ya, karena tuntutan ekonomi mas, apalagi saya ndak punya

keahlian apa-apa, ya bisanya Cuma seperti ini mas,..” (Wawancara 22 September 2011 Responden Sulasrti)

“…“wah mas, saya juga tidak tahu awalnya pekerjaan itu apa?...

ya saya mengiyakan aja mas,.. karena tidak tahu harus bagaimana, sampai sekarang mas saya bekerja sebagai penjaja

seks”

(Wawancara 22 September 2011 Responden Sutarti)

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengalaman pertama kali mereka terjun sebagai WTS sangat bervariasi dari faktor ekonomi dan keluarga, ataupun alasan lain sehingga mereka bekerja sebagai WTS, Seperti ajakan teman menjadi alasan kenapa mereka menjadi WTS, berikut ungkapan dari mereka :

“…waktu itu saya ditinngal suami saya, entah kemana nggak ada

kabarnya, dan mulai saat itu kehidupan saya berubah, awalnya Cuma diajak temen, meski terasa berat karena saya tahu apa yang saya lakukan adalah kesalahan, tapi demi mencari uang, saya kemudian WTS, saya pun dengan mudah mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan saya sehari-hari…

(Wawancara Kamis,22 September 2011)

“…Waktu itu suami saya tidak bekerja, sehinnga saya harus

bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak-anak saya…” (Wawancara Kamis, 22 September 2011)

Selain itu masih ada alasan-alasan lain yang melatarbelakangi pertama kali kenapa mereka bekerja sebagai WTS, yaitu karena

commit to user

63

perceraian, ditinggal suami, dan karena tuntuttan kebutuhan sehari-hari, berikut ungkapan dari mereka :

“…riyen goro-gorone kulo saget kerjo ngoten niki, kulo pegattan

kaleh bojo kulo mas, terus jek ngopenni anak kulo kaleh, sakniki sekolah teng ndeso tumot mbahne, kulo kerjo ngoten niki mung

pengen nyukupi kebutuhan anak karo keluarga mas…” ( Wawancara Kamis, 22 September 2011 )

“…ya sejak aku ditinggal suamiku mas, yo alesane karna

ditinggal suamiku kui…”

(Wawancara Kamis, 22 September 2011)

“…awalnya cuma pengen coba-coba aja mas, eh nggak taunnya

malah keterusana, habis kerjane yo enak sich mas…” (Wawancara Kamis, 22 September 2011)

Dari penelitian yang dilakukan peneliti dapat dilihat bahwa di Jalan Jalak 2 ini tidak pernah sepi dari pelanggan. Hal itu karena di Jalan Jalak 2 ini untuk mendapatkan wanita pekerja seks tidak perlu mengeluarkan uang banyak, sehingga dapat dikatakan juga nilai jual atau harga wanita pekerja seks di Jalan Jalak 2 relatif murah dibandingkan wanita pekerja seks ditempat lain. Seperti yang diungkapkan para pelanggan wanita pekerja seks berikut ini:

“.. Menurut saya di Gilingan keadaannya sejuk, harganya juga

murah, 30 ribu, 35 ribu itu udah dapet cewek, itu 1 permainan…” (Wawancara Kamis 22 September 2011 Responden Hendro)

64

“… Lha mau gimana lagi mas, lha kebiasaan disitu, aku kan

Cuma tukang becak disitu, orang-orang kan nggak tahu kalau aku sering pakai PSK disitu, tau nya kan aku Cuma tukang becak disitu, mau ditempat lain malu, takut ketahuan. Selain itu harganya terjangkau, lebih murah dari pada di tempat lainnya, kalau aku 30 ribu, ituj sudah satu permainan…”

(Wawancara Kamis, 22 September 2011 Responden Edi)

“… Aku paling suka di Gilingan… suka lokasinya, lokasinya ada

kafenya, suka karena itu, selain itu juga harganya terjangkau…

30 ribu itu minimlah, itu untuk satu cewek, 1 permainan …” (Wawancara 22 September 2011 Responden Roni)

“… Ya pingin aja digilingan mas soalnya kalau menurut saya

gilingan murah-murah orangnya juga bagus-bagus, 30 ribu udah

dapat cewek sama kamarnya, untuk 1 permainana..” (Wawancara 22 September 2011 Responden Joko)

“… Harganya lebih murah disitu, tempatnya juga lebih asyik, ada hiburannya ada kafenya… 30 ribu itu sudah sekali permainan…” (Wawancara 22 September 2011 Responden Parjo)

d. Penghasilan Wanita Pekerja Seks di Kelurahan Gilingan

Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, dari kebanyakan wanita pekerja seks di Kelurahan Gilingan berpenghasilan pas-passan dan bahkan ada yang hanya berpenghasilan sedikit setiap malamnya. Karena pelanggan mereka juga dari golongan menengah bawah seperti, sopir, buruh biasa, dan tukang becak. Yang sesuai dengan kantong

commit to user

65

mereka, berikut ini penuturan dari para wanita pekerja seks tentang penghasilan mereka :

“…kalo saya biasannya memasang tarif 70 ribu mas, tapi

kebanyakan masih dtawar jadi 40 ribu,dalam semalam penghasilan saya Cuma 80 ribu,itu saja tidak tentu tergantung berapa banyak saya melayani pelanggan, itupun kadang saya masih bayar uang kamar hotel mas, tapi yo nggak apa-apa yang

penting dapat pemasukan…”

(Wawancara kamis, 22 September 2011)

“…saya biasannya lihat dulun sapa yang mau pake mas, kalo

sudah langganan ya saya paling narik 30 ribu ja, klo pelanggan baru saya tarik 50 ribu sekalian uang kamar,kalo penghasilan saya nggak tentu mas,tergantung dapat pelanggan berapa,paling-

paling Cuma 60 ribu bersih mas…” (Wawancara kamis, 22 September 2011)

“…kalo pengahasilan saya nggak tentu mas dalam waktu

semalam,kadang semalam hanya dapat 2 sampai 3 pelanggan,itupun saya mendapatkan bersih hanya 70 ribu,kadang

malah kurang dari itu mas..”

(Wawancara kamis, 22 September 2011)

“…nggak tentu sich mas kalo penghasilan saya,kadang semalam

hanya dapat 30 ribu,tergantung dari berapa orang yang pake saya,kalo pas sepi paling Cuma dapat uang makan saja dari

orang yang hanya nyuruh nemenin…” (Wawancara kamis, 22 September 2011)

“…dalam semalam itu biasannya saya dapat uang 140 ribu bersih

mas,tapi juga tergantung sama yang mau pake saya,biasannya dalam semalam saya bisa melayani 3 sampai 4 orang mas,tapi yo

nggak tentu juga sich mas…”

66

Berikut ini matriks tentang karakteristik Wanita Pekerja Seks di Kelurahan Gilingan:

Dokumen terkait