• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Komposisi Resin Komposit

Kebanyakan resin komposit menggunakan campuran monomer aromatic dan atau aliphatic dimetacrylate seperti bisphenol A glycidyl methacrylate (BIS-GMA), selain itu juga banyak dipakai adalah tryethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA), dan urethane dimethacrylate (UDMA) adalah dimethacrylate yang umum digunakan dalam komposit gigi. Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi (komposit) dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960, ketika Bowen memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. Kelemahan sistem epoksi, seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan perubahan warna, mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi (CH-O-CH2) dan akrilat (CH2=CHCOO-). Percobaan-percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul BIS-GMA. Molekul tersebut memenuhi persyaratan matrik resin suatu komposit gigi.

BIS-GMA memiliki viskositas yang tinggi sehingga membutuhkan tambahan cairan dari dimethacrylate lain yang memiliki viskositas rendah yaitu TEGDMA untuk menghasilkan cairan resin yang dapat diisi secara maksimal dengan partikel glass.

Sifatnya yang lain yaitu sulit melakukan sintesa antara struktur molekul yang alami dan kurang melekat dengan baik terhadap struktur gigi.

b) Filler

Dikenali sebagai filler inorganik. Filler inorganik mengisi 70 persen dari berat material. Beberapa jenis filler yang sering dijumpai adalah berbentuk manik-manik

kaca dan batang, partikel seramik seperti quartz (SiO2), litium-aluminium silikat (Li2O.Al2O3.4SiO2) dan kaca barium (BaO) yang ditambahkan untuk membuat komposit menjadi radiopak.

Ukuran partikel yang sering dipakai berkisar antara 4 hingga 15m. Partikel yang dikategorikan berukuran besar sehingga mencapai 60m pernah digunakan tetapi permukaan tumpatan akan menjadi kasar sehingga mengganggu kenyamanan pasien.

Bentuk dari partikel juga terbukti penting karena manik-manik bulat sering terlepas dari material mengakibatkan permukaan menjadi aus. Bentuk filler yang tidak beraturan mempunyai permukaan yang lebih baik dan tersedia untuk bonding dan dapat dipertahankan di dalam resin.

Penambahan partikel filler dapat memperbaiki sifat resin komposit:

1. Lebih sedikit jumlah resin, pengerutan sewaktu curing dapat dikurangi 2. Mengurangkan penyerapan cairan dan koefisien ekspansi termal

3. Memperbaiki sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan dan resisten terhadap abrasi

c) Coupling agent

Ikatan antara bahan pengisi dan matriks resin dapat dipertahankan dengan penggunaan senyawa silikon organik atau bahan penghubung silane. Molekul silane memiliki kelompok reaktif pada kedua ujungnya dan dilapisi pada permukaan bahan pengisi oleh produsen sebelum pencampuran dengan oligomer. Selama polimerisasi, ikatan ganda pada molekul silane bereaksi dengan polimer matriks. Hasil akhirnya adalah bahan dengan sifat kekuatan yang lebih besar daripada bahan pengisi atau matriks secara terpisah. Bonding juga dapat meningkatkan retensi bahan pengisi selama abrasif pada permukaan komposit. Akibatnya, partikel pengisi menjadi keras dan matriks yang dihasilkan menjadi lembut. Aplikasi bahan coupling yang tepat dapat meningkatkan sifat mekanis dan fisik serta memberikan kestabilan hidrolitik dengan mencegah air menembus antara permukaan bahan pengisi dan resin matriks.13-15

d) Bahan penghambat polimerisasi

Merupakan penghambat bagi terjadinya polimerisasi dini. Monomer dimethacrylate dapat berpolimerisasi selama penyimpanan maka dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor). Sebagai inhibitor, sering digunakan hydroquinone, tetapi bahan yang sering digunakan pada saat ini adalah monometyhl ether hydroquinone.

e) Penyerap ultraviolet (UV)

Ini bertujuan meminimalkan perobahan warna karena proses oksidasi.

Camphorquinone dan 9-fluorenone sering dipergunakan sebagai penyerap UV.

f) Opacifiers

Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. Bahan yang sering dipergunakan adalah titanium dioksida dan aluminium dioksida.

g) Pigmen warna

Bertujuan agar warna resin komposit menyamai warna gigi geligi asli. Zat warna yang biasa dipergunakan adalah ferric oxide, cadmium black, mercuric sulfide, dan lain-lain. Ferric oxide akan memberikan warna coklat-kemerahan. Cadmium black memberikan warna kehitaman dan mercuric sulfide memberikan warna merah.13-15 3.2 Klasifikasi

Resin komposit dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu menurut ukuran filler dan menurut cara aktivasi.13-15

3.2.1 Ukuran filler

Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiler, resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.

1.Resin Komposit Tradisional

Resin komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20μm dan ukuran partikel terbesar adalah 40μm. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu

permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel filler menonjol keluar dari permukaan.

2. Resin Komposit Mikrofiler

Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02μm dan antara ukuran 0.01-0.05μm. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler yang besar dalam kontak dengan resin.

3. Resin Komposit Hibrid

Komposit hibrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata berukuran 15-20μm dan juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0.01-0.05μm seperti terlihat pada gambar 3. Perlu diketahui bahawa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit jumlah colloidal silica, tetapi tidak mempengaruhi sifat-sifat dari komposit itu.

4.Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil

Untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumnya telah dilakukan perbaikan metode dengan cara grinding kaca. Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler dengan ukuran partikel kurang dari 1μm, dan biasanya berukuran 0.1-1.0μm , yang biasanya dikombinasi dengan colloidal silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish permukaannya sehingga menjadi lebih rata dibanding partikel filler berukuran besar.

Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih rata karena setiap permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari partikel filler.

5. Resin komposit nanofiller

Komposit nanofiller mempunyai muatan filler yangt tinggi untuk memperoleh kekuatan dan ketahanan seperti komposit mikrohidbrid,memiliki estetis yang baik serta kekuatan dan ketahanan yang hampir sama dengan komposit

mikrofiller.Komposit mikrofiller memiliki partikel kecil dengan ukuran rata-rata 0,02-0,1µm.13-15

3.2.2 Cara Aktivasi

Cara aktivasi dari resin komposit dapat dibagi tiga yaitu : 3.2.2.1 Aktivasi secara kimia

Produk yang diaktivasi secara khemis terdiri dari dua pasta, satu yang mengandung benzoyl peroxide (BP) initiator dan yang satu lagi mengandung aktivator aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi, rantai –O–O– putus dan elektron terbelah diantara kedua molekul oksigen (O). Pasta katalis dan base diletakkan di atas mixing pad dan diaduk dengan menggunakan instrument plastis selama 30 detik.

Dengan pengadukan tersebut, amine akan bereaksi dengan BP untuk membentuk radikal bebas dan polimerisasi dimulai. Adonan yang telah siap diaduk kemudian dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan instrument plastis atau syringe.

13-15

3.2.2.2 Aktivasi mempergunakan cahaya

Sistem aktivasi menggunakan cahaya pertama kali diformulasikan untuk sinar ultraviolet (UV) membentuk radikal bebas. Pada masa kini, komposit yang menggunakan curing sinar UV telah digantikan dengan sistem aktivasi sinar tampak biru yang telah diperbaiki kedalaman curing, masa kerja terkontrol, dan berbagai kebaikan lainnya. Disebabkan kebaikan ini, komposit yang menggunakan aktivasi sinar tampak biru lebih banyak digunakan dibanding material yang diaktivasi secara khemis.

Komposit yang menggunakan aktivasi dari sinar ini terdiri dari pasta tunggal yang diletakkan dalam syringe tahan cahaya. Pasta ini mengandung photosensitizer, Camphorquinone (CQ) dengan panjang gelombang diantara 400-500 nm dan amine yang menginisiasi pembentukan radikal bebas. Bila bahan ini, terkontaminasi sinar tampak biru (visible blue light, panjang gelombang ~468nm) memproduksi fase eksitasi dari photosensitizer, dimana akan bereaksi dengan amine untuk membentuk radikal bebas sehingga terjadi polimerisasi lanjutan.

Working time bagi komposit tipe ini juga tergantung pada operator. Pasta hanya dikeluarkan dari tube pada saat ingin digunakan karena terkena sinar pada pasta dapat menginisiasi polimerisasi. Pasta diisi kedalam kavitas, disinar dengan

sinar biru dan terjadi polimerisasi sehingga bahan resin mengeras. Camphorquinone (CQ) menyerap sinar tampak biru dan membentuk fase eksitasi dengan melepaskan elektron seperti amine (dimetyhlaminoethyl methacrylate [DMAEMA]).

3.2.2.3Aktivasi dual (dual-cured)

Jenis resin komposit berdasarkan dual-cured berisi inisiator dan akselerator yang memungkinkan teraktivasi oleh sinar dan mengeras dengan sendirinya (self curing).

13-15

4.1 Kebaikan, Kerugian dan Kegunaan 4.1.1 Kebaikan

Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada tambalan gigi posterior dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam yang dapat menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya yang sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.15

4.1.2 Kerugian

Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi bahan ini dapat berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi pengerutan. Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada marginal tambalan.

Komposit dengan filler berukuran kecil dapat dipergunakan sehingga 9 tahun, lebih lekas rusak dibandingkan dengan tambalan amalgam.15

4.1.3 Kegunaan resin komposit

1. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay) 2. Veneer mahkota logam dan jembatan (prosthodontic resin)

3. Pasak.

4. Semen pada orthodontic brackets, Maryland bridges, ceramic crown, inlay, onlay.

5. Pit dan fisur sealant.

6. Memperbaiki tambalan restorasi porselen yang rusak.15

4.2 Karbamid Peroksida

Karbamid peroksida telah digunakan sebagai bahan pemutih gigi sejak tahun 1989 dan merupakan bahan yang sering dipakai dalam perawatan pemutihan gigi vital (Perdigão et al, 2004) menggunakan teknik homebleaching. Pemutihan gigi menggunakan karbamid peroksida 10% disetujui di beberapa negara besar seperti Amerika (ADA), Canada (FDA) dan Eropa (SCCNFP) karena lebih aman, murah dan efektif untuk pemutihan gigi vital. Beberapa penelitian mengenai karbamid peroksida 10% menyatakan bahwa bahan ini membutuhkan waktu lebih lama tetapi akan memutihkan gigi sama dengan konsentrasi tinggi, tanpa perubahan ireversibel terhadap pulpa (Matis, 2003). Karbamid peroksida juga tersedia dalam konsentrasi 15% dan 20% .16

Karbamid peroksida merupakan jenis bahan pemutih gigi untuk diskolorasi eksternal yang juga dikenal sebagai hidrogen peroksida urea. Bahan pemutihan gigi dengan karbamid peroksida biasanya juga mengandung gliserin atau propilen glikol, sodium stanat, asam fosfat atau asam sitrat, dan zat perasa tambahan. Dalam beberapa bahan, karbopol, polimer asam poliakrilat yang larut air, ditambahkan sebagai bahan thickening serta untuk memperpanjang waktu penyimpanan. Karbopol juga dapat menambah kekentalan dan daya lekat serta memperlambat proses pelepasan oksigen dari karbamid sehingga memungkinkan oksigen bereaksi lebih lama dengan bahan yang menyebabkan pewarnaan .

Bahan yang dapat menghasilkan warna dalam larutan atau permukaan merupakan senyawa organik yang memiliki rantai konjugasi yang panjang baik dalam bentuk ikatan tunggal maupun rangkap. Bahan tersebut mengandung heteroatom, karbonil, dan cicin fenil dalam sistem konjugasi dan sering dikenal dengan sebutan kromofor. Pemutihan dan dekolorisasi kromofor dapat terjadi melalui perusakan satu atau lebih ikatan rangkap dalam rantai konjugasi, dengan memotong rantai konjugasi, atau dengan mengoksidasi molekul kimia lainnya dalam rantai konjugasi. Hidrogen peroksida mengoksidasi berbagai varietas senyawa organik maupun inorganik.

Mekanisme reaksi ini bervariasi tergantung pada substrat, lingkungan reaksi, dan katalisis. Secara umum, mekanisme pemutihan dengan hidrogen peroksida tidak

dimengerti dengan baik (Joiner, 2006).Karbamid peroksida 10% pecah menjadi hidrogen peroksida (H2O2) 3,35%, urea (CH4N2O) 6,65%, air, dan oksigen. Karbamid peroksida 15% pecah menjadi 5,4% hidrogen peroksida (H2O2) dan karbamid peroksida 20% pecah menjadi hidrogen peroksida 7%. Pecahan ini menjadi perhatian khusus karena efeknya belum diketahui secara pasti.16 Hidrogen peroksida sendiri dapat terurai menjadi air dan oksigen secara spontan dengan reaksi sebagai berikut : 2 H2O2 → 2 H2O + O2 + Energi.

Bahan pemutih peroksida dan nonperoksida masuk melalui enamel ke tubuli dentin dan mengoksidasi pigmen pada dentin, menyebabkan warna gigi menjadi lebih cerah.16 Proses ini dapat dipercepat menggunakan pemanasan dengan sinar berintensitas cahaya rendah atau sinar dengan intensitas cahaya tinggi, misalnya sinar kuring komposit konvensional, sinar laser, sinar plasma arc dengan intensitas tinggi .Larutan peroksida mengalir secara bebas melalui email dan dentin karena porusitas dan permeabilitas struktur keduanya. Perpindahan secara bebas ini terjadi karena berat molekul peroksida yang relatif lebih rendah serta penetrasi alami radikal oksigen dan superoksida .16

4.3 Uji Impact Charpy

Impact Strength adalah ukuran bagi kekuatan suatu bahan ketika bahan tersebut patah akibat benturan yang terjadi secara tiba-tiba. Kekuatan impak yaitu energi dibagi lebar dan tebal bahan dengan satuan J/mm2, yang menunjukkan deformitas plastis sehingga terjadinya fraktur.

Impact strength didapat menggunakan sampel dengan ukuran tertentu diletakkan pada alat penguji kekuatan impak dengan lengan pemukul yang dapat diayun. Pemukul tersebut kemudian diayun dan membentur sampel hingga patah selanjutnya energi yang tertera pada alat penguji dibaca dan dicatat lalu dilakukan perhitungan impact strength. Perhitungan impact strength menggunakan rumus : Impact Strength = E

b x d Keterangan:

E = Energi ( Joule)

b = Lebar batang uji (mm) d = Tebal batang uji (mm)

Terdapat dua tipe alat penguji kekuatan impak yaitu Izod dan Charpy. Pada alat penguji Izod sampel dijepit secara vertikal pada salah satu ujungnya sedangkan alat penguji Charpy kedua ujung sampel diletakkan pada posisi horizontal. Alat yang digunakan untuk uji impact strength pada penelitian ini adalah alat uji Charpy yaitu Amslerotto Walpret Werke GMBH, Germany.

BAB 3

2. Lab Teknik Mesin Polteknik Negeri Medan

3.4 Populasi,Sampel dan Besar Sampel :

3.4.1 Populasi : Spesimen Resin Komposit

Nanofil 3.4.2

Sampel : hasil cetakan resin komposit

nanofil dalam bentuk blok berukuran 80 mm x 5 mm x 2 mm

3.4.3 Besar Sampel :

Pada penelitian ini besar sampel dihitung berdasarkan rumus Federer : (t-1)(r-1)≥15

Keterangan t :jumlah perlakuan r:jumlah sampel

Dalam penelitian ini terdapat tiga kelompok dengan maka t=3 dan jumlah sampel (r) tiap kelompok dapat ditentukan sebagai berikut:

(3-1)(r-1)≥15 2(r-1) ≥15 (r-1) ≥7.5 r ≥7.5+1 r ≥8.5

Sampel minimum dalam penelitian ini adalah 9 sampel .Jumlah sampel yang digunakan adalah 27 sampel .

3.5 Variabel Penelitian 3.5.1 Variabel Bebas

Kurun waktu aplikasi larutan karbamid peroksida 10% yaitu 7 hari dan 14 hari.

3.5.2 Variabel Tergantung

Impact strength resin komposit nanofil 3.5.3 Variabel Terkendali

1. Cara pemanipulasian resin komposit 2. Waktu aplikasi bleaching yaitu 2 jam 3. Durasi sinar polimerasasi selama 20 detik

4. Ukuran sampel resin komposit (8mm x5mm x2mm) 5. Jarak penyinaran (1mm)

6. 8 kali penyinaran pada sampel resin komposit 7. Jumlah bahan bleaching yang dioleskan pada sampel 3.5.4 Variabel Tidak Terkendali

1. Suhu ruangan saat penyimpanan sampel 2. Kelembaban

3.6 Definisi Operasional

1. Resin komposit nanofil adalah sifat kombinasi antara kekuatan mekanik dengan permukaan polis yang sangat baik sehingga dapat digunakan baik untuk restorasi gigi anterior maupun posterior.

2. Impact Strength adalah ukuran bagi kekuatan suatu bahan ketika bahan tersebut patah akibat benturan yang terjadi secara tiba-tiba.

3. Bleaching adalah proses penghilangan stain yang terdapat didalam struktur gigi (email dan dentin ) melalui reaksi oksidasi dan reduksi secara khemis dengan menggunakan bahan bleaching karbamid peroksida 10 % diaplikasi pada kurun waktu 7 hari dan 14 hari.

4. Karbamid peroksida 10% adalah bahan pemutih gigi yang digunakan di Kedokteran Gigi maupun sebagai home bleaching.

5. Grup control adalah grup placebo (tanpa aplikasi) yang diukur impact strength 24 jam setelah pembuatan sampel.

.

3.7 Alat dan Bahan Penelitan 3.7.1 Alat Penelitian

1. Light cured LED Prolux 770 made in Taiwan

2.Sarung tangan

3.Masker

4.Glass slide

5.Alat uji kaji Impact Charpy made in Germany

6.Insrumen plastis

7.Wadah plastis

8.Kuas

9.Mold sampel

3.7.2 Bahan Penelitian

1. Resin komposit nanofil Polofil NHT light-curing made in Germany

Komposisi: resin nano-hybrid filler.

2.Karbamid peroksida 10% Opalescene made in USA

Komposisi: karbamid peroksida, potassium nitrat dan fluoride

3.7.3 Prosedur Kerja

1. Pembuatan sampel resin komposit

a) Resin komposit diambil menggunakan instrumen plastis dan diletakkan dalam cetakan yang diletakkan di atas glass plate agar didapatkan bagian dasar yang rata dan tidak lengket dengan cetakan. Resin komposit dipadatkan lalu bagian atasnya diletakkan glass plate berketebalan 1 mm agar permukaan atas rata dan isinya semakin padat.

b) Resin komposit nanofil kemudian disinari menggunakan light curing unit selama 20 detik. Alat sinar diletakkan tegak lurus diatas glass plate yang diletakan diatas cetakan yang berisi resin komposit nanofil sehingga jarak penyinaran 1 mm ( sesuai ketebalan glass plate ).

c) Resin komposit dikeluarkan dari cetakan dan bagian bawah di beri tanda dengan spidol.

d) Diperoleh sampel resin komposit.

2. Perlakuan sampel

a) Kelompok 1 (kontrol) yaitu tanpa diaplikasi karbamid peroksida 10% dan direndam didalam aquades selama 24 jam pada suhu kamar.Setelah 24 jam resin komposit dikeringkan dan diletakkan pada alat uji impact Charpy dalam posisi horizontal dan diukur impact strengthnya.Data yang diperoleh dicatat.

b) Kelompok 2 (aplikasi karbamid peroksida 10% selama 7 hari) diaplikasikan permukaan atas sampel dan dibiarkan selama 2 jam kemudian dibilas menggunakan air kran,dikeringkan dan dimasukkan kedalam aquades pada suhu kamar sampai perlakuan berikutnya. Selesai 7 hari impact strength diukur menggunakan alat uji Impact Charpy dan dicatat datanya.

c) Kelompok 3 (aplikasi karbamid peroksida 10% selama 14 hari) diaplikasikan permukaan atas sampel dan dibiarkan selama 2 jam kemudian dibilas menggunakan air kran,dikeringkan dan dimasukkan kedalam aquades pada

suhu kamar sampai perlakuan berikutnya. Selesai 14 hari, impact strength diukur menggunakan alat uji Impact Charpy dan dicatat datanya.

3.Analisis Data

Analisis perbedaan data impact strength resin komposit tanpa diaplikasi karbamid peroksida 10% dan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% untuk 7 hari dan 14 hari menggunakan uji non parametrik yaitu uji Kruskal Walis dan Mann Whitney.

3.8Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer.

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil pengukuran impact strength resin komposit nanofil pada kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 dapat dilihat pada tabel 1. Kelompok 1 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,77 ± 0,05 J/mm2, kelompok 2 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,72 ± 0,04 J/mm2 dan kelompok 3 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,62 ± 0,04 J/mm2.

Tabel 1. Hasil pengukuran Impact strength resin komposit nanofil pada kelompok 1,kelompok 2 dan kelompok 3 setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % dengan kurun waktu yang berbeda.

No sampel Impact Strength ( J /mm2)

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 1 3,8 3,7 3,64 2 3,8 3,7 3,6 3 3,8 3,7 3,6 4 3,8 3,7 3,6 5 3,7 3,7 3,6 6 3,7 3,8 3,7 7 3,8 3,7 3,66 8 3,8 3,8 3,6 9 3,7 3,7 3,62 x 3,77 3,72 3,62 SD 0.05 0.04 0.04

Sebelum dilakukan uji analisis antara kelompok perlakuan, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test (Lampiran 5). Hasilnya, setiap kelompok perlakuan memiliki data yang tidak terdistribusi normal. Kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis untuk mengetahui adanya perbedaan dari nilai Impact strength resin komposit nanofil antar kelompok.

Hasil analisa dengan uji Kruskal Wallis dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji Kruskal Wallis Nilai Impact pada Kelompok 1, Kelompok 2, dan Kelompok 3.

NO Variabel n x ± SD p. value

1 Kelompok 1 9 3,77 ± 0,05

0,000

2 Kelompok 2 9 3,72 ± 0,04

3 Kelompok 3 9 3,62 ± 0,04

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan ada perbedaan signifikan nilai impact strength kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa impact strength resin komposit nanofil mengalami penurunan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10%.

Untuk melihat perbedaan nilai impact strength antar masing –masing kelompok dilakukan uji Mann Whitney dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 3. Dari tabel didapat dilihat bahwa hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dimana nilai p=0,065 (p>0,05). Adanya perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p<0,05) dan antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,001 (p<0,05).

NO Variabel n p.value

1 Kelompok 1-Kelompok 2 9 0,065

2 Kelompok 1-Kelompok 3 9 0,000

3 Kelompok 2-Kelompok 3 9 0,001

Pada penelitian ini terlihat bahwa nilai rerata impact strength resin komposit nanofil mengalami penurunan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % selama 7 hari dan 14 hari.Gambar 10 menunjukkan nilai rerata impact strength yang menurun setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % selama 7 hari dan 14 hari.

Gambar 11. Grafik Pengukuran Nilai Impact Strength Resin Komposit Nanofil pada Kelompok Kontrol, Aplikasi 7 hari dan 14 hari.

Kontrol 7 hari 14 hari

Impact strength

Kelompok Perlakuan

(J/mm2) 3,77

3,72

3,62

BAB 5 PEMBAHASAN

Hasil uji non parametrik pada kelompok 1, kelompok 2 dan kelompok 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dimana, impact strength resin nanofil menjadi berkurang setelah diaplikasi bahan bleaching karbamid peroksida 10%. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilai impact antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dimana nilai p=0,065 (p>0,05), antara kelompok 1 dengan kelompok 3 ada perbedaan dimana nilai p=0,000 (p<0,05) dan ada perbedaan nilai impact antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p<0,05). Pengurangan impact strength pada kelompok 2 dan kelompok 3 dapat dilihat dengan jelas. Ini terjadi karena oksidasi dan reduksi matrik resin komposit yang disebabkan oleh bahan bleaching apabila pengulangan aplikasi karbamid peroksida 10 % dilakukan dalam kurun waktu 1 minggu dan 2 minggu.

Pelepasan radikal bebas oleh oksigen nasen akan memicu penguraian polimer resin komposit dengan terjadi degradasi dari perubahan kekerasan. Radikal bebas ini akan menyebabkan dan terurainya ikatan non reaktif ganda pada bagian yang paling rentan, sehingga mengakibatkan pengurangan kekerasan mikro permukaan.18 Radikal bebas yang terlepas ini juga akan berpengaruh terhadap ikatan filler resin sehingga menyebabkan terlepasnya ikatan filler dengan matriks resin.18 Menurut Kareem dan Jehad (2012), ukuran filler juga berpengaruh terhadap perubahan kekerasan mikro dari suatu material. Semakin besar ukuran filler suatu material, maka akan mengurangi efektifitas dari polimerisasi sehingga menyebabkan penurunan kekerasan mikro. Ukuran filler juga berpengaruh terhadap ikatan antara filler dengan matriks.

Semakin kecil ukuran filler, maka ikatan yang timbul juga lebih kuat.18

Prabakhr et al (2010) menyatakan bahwa resin komposit yang mengandung bahan organik lebih mudah mengalami perubahan kimia dibandingkan bahan keramik dan logam.Kim et al (2004) menyatakan tidak ada perubahan pada kekerasan resin komposit nanofil apabila diaplikasi bahan bleaching.18 Bahan bleaching peroksida dapat menyebabkan efek pada restorasi material gigi namun untuk penemuan resin komposit yang terbaru yaitu resin komposit nanofil yang mempunyai mekanikal properti yang tinggi kemungkinan hanya mengalami perubahan

Dokumen terkait