DENGAN KURUN WAKTU YANG BERBEDA
Oleh:
FATIN SYAHEERAH BT SAIDIN NIM: 090600147
Dosen Pembimbing:
1.Lasminda Syafiar, drg, Mkes
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
Tahun 2016 Fatin Syaheerah bt Saidin
Impact Strength Permukaan Resin Komposit Nanofil Setelah Diaplikasi Karbamid Peroksida 10 % Pada Kurun Waktu Berbeda
xii + 33 halaman
Resin komposit merupakan gabungan matrik resin dan filler inorganik, yang keduanya diikat oleh coupling agent.Impact strength resin komposit nanofil dipengaruhi ukuran filler, polishing, dan penggunaan bahan bleaching yaitu karbamid peroksida 10 %. Bahan aktif yang terkandung dalam material pemutihan gigi bersifat sangat reaktif dalam menguraikan senyawa-senyawa penyebab terjadinya diskolorasi intrinsik maupun ekstrinsik. Sifat reaktif dari bahan pemutih gigi ini dapat menimbulkan efek samping misalnya perubahan fisik dari material restorasi, seperti warna, kekerasan mikro, kekasaran permukaan, dan kebocoran ion di dalam rongga mulut termasuk terhadap bahan restorasi yang terdapat di dalam mulut seperti amalgam, porselen, semen ionomer kaca, kompomer, giomer, dan resin komposit (El-Murr dkk., 2011). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan impact strength resin komposit nanofil setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % selama 7 hari dan 14 hari. Penelitian ini menggunakan sampel resin komposit nanofil berbentuk balok dengan panjang 80 mm ,lebar 5 mm dan tinggi 2 mm. Sampel dibagi menjadi tiga kelompok yang masing- masing terdiri dari 9 sampel yaitu kelompok kontrol, kelompok aplikasi karbamid peroksida 10% selama 7 hari dan kelompok aplikasi karbamid peroksida 10% selama 14 hari. Nilai Impact strength resin komposit nanofil terhadap karbamid peroksida 10% diuji menggunakan alat uji Impact Charpy, Hasil pengukuran impact strength kelompok kontrol menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,77 ± 0,05 J/mm2, kelompok 7 hari menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,72 ± 0,04 J/mm2 dan kelompok 14 hari menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,62 ± 0,04 J/mm2.Kemudian hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis statistik non parametrik. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan nilai impact antara
7 hari dengan 14 hari ada perbedaan signifikan dimana nilai p=0,001 (p<0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa karbamid peroksida 10 % mengurangkan impact strength resin komposit nanofil dan semakin lama kurun waktu aplikasi akan semakin besar pengurangan yang terjadi.
Daftar Rujukan:22 (1983-2013)
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 27 Januari 2017 Pembimbing: Tanda Tangan
1. Lasminda Syafiar, drg, M.Kes NIP : 19540803 198003 2001
………..
pada tanggal 27 Januari 2017
TIM PENGUJI
KETUA : Lasminda Syafiar, drg., M.Kes ANGGOTA : 1. Rusfian, drg., M.Kes
2. Astrid Yudhit, drg., M.Si
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia- Nya, sehingga proposal ini telah selesai disusun. Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda dan Ibunda atas segala pengorbanan, doa, dukungan dan kasih sayangnya.
Dipenulisan proposal ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, pengarahan dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Trelia Boel,drg.,M.Kes.,Sp.RKG(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara
2. Lasminda Syafiar, drg., M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu Material dan Teknologi dan juga selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, bimbingan, penjelasan dan motivasi selama proses penyusunan proposal sampai dengan selesai.
3. Seluruh staf pengajar dan karyawan di Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara atas masukan dan bantuan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Dr. Darwin Yunus Nasution, MS selaku Kepala Bagian Laboratorium Terpadu Universitas Sumatera Utara atas bantuannya selama penulis melakukan penelitian.
5. Maya Fitria, SKM., M.Kes selaku dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat yang telah banyak mengarahkan dan memberikan masukan dalam mengolah data skripsi ini.
Rasa hormat dan terima kasih yang tiada terhingga penulis persembahkan kepada orangtua penulis, Ayah Saidin bin Md Khir dan Farehah binti Othman atas segala doa, kasih sayang, dukungan, dan semangat yang selalu diberikan kepada penulis.
Medan, Nopember 2016 Penulis,
( Fatin Syaheerah binti Saidin ) NIM : 090600147
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PENGESAHAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ...
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Hipotesis Penelitian………... 4
1.5 Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Resin Komposi ... 5
2.2 Sifat-sifat Resin Komposit ... 5
2.2.1Sifat fisik ……… 5
2.2.2Sifat mekanik………... 7
3.1 Komposisi Resin Komposit... 8
3.2 Klasifikasi... ... 10
3.2.1Ukuran filler... ... 10
3.2.2Cara Aktivasi... ... 12
3.2.2.1 Aktivasi Secara Kimia... 12
3.2.2.2 Aktivasi Mempergunakan Cahaya... ... 12
3.2.2.3 Aktivasi Dual………... 13
4.1 Kebaikan, Kerugian dan Kegunaan... ... 13
4.1.1Kebaikan... ... 13
4.1.2Kerugian... ... 13
4.1.3 Kegunaan resin komposit... ... 13
4.2 Karbamid Peroksida ... 14
4.3 Uji Impact Charpy ... 16
BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ... 17
3.2 Desain Penelitian ... 17
3.3 Tempat Penelitian ... 17
3.4 Populasi,Sampel dan Besar Sampel ... 17
3.4.1 Populasi ... 17
3.4.2 Sampel ... 17
3.4.3 Besar sampel ... 17
3.5 Variabel Penelitian ... 18
3.5.1 Variabel Bebas ... 18
3.5.2 Variabel Tergantung... 18
3.5.3 Variabel Terkendali ... 18
3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 18
3.6 Definisi Operasional ... 19
3.7 Alat dan Bahan Penelitan 3.7.1 Alat Penelitian……… 19
3.7.2 Bahan Penelitian………. 22
3.7.3 Prosedur Kerja………. 23
3.8 Pengolahan Data dan Analisis Data………... 24
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Hasil Penelitian dan Analisis Hasil Penelitian……... 25
BAB 5 PEMBAHASAN... 28
BAB 6 KESIMPULAN... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 31 LAMPIRAN
1. Hasil pengukuran Impact strength resin komposit nanofil pada kelompok 1,kelompok 2 dan kelompok 3 setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % dengan kurun waktu yang berbeda.……… ……….. 25
2. Hasil Uji Kruskal Walis Nilai Impact pada Kelompok 1,
Kelompok 2 dan Kelompok 3………... ……… 26 3. Hasil Uji Mann Whitney Nilai Impact Kelompok 1,Kelompok 2
Dan Kelompok 3……… 27
Gambar Halaman 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Light cured………..
Sarung tangan...
Masker...
Glass Slide………...
Alat Uji Impact Strength Charpy………
Instrumen Plastis……….
Wadah plastis………..
Kuas………
Mold sampel………
Resin Komposit Nanofil Polofil NHT light-curing…………...
Karbamid Peroksida 10% Opalescene………
Grafik Pengukuran Nilai Absorbed Resin Komposit Nanofil pada Kelompok Kontrol, Aplikasi I Minggu dan Aplikasi II Minggu…….
19 20 20 20 21 21 21 22 22 22 22
27
Lampiran
1. Alur penelitian.
2. Hasil pengukuran impact strength resin komposit nanofil setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% dengan kurun waktu berbeda.
3. Hasil pengukuran selisih impact strength resin komposit nanofil setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% dengan kurun waktu berbeda.
4. Kerangka Konsep
5. Kerangka Teori Bleaching 6. Kerangka Teori Resin Komposit
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemutihan gigi merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki estetika di dalam perawatan restoratif gigi. Penggunaan pemutih gigi dikenal setelah sistem home bleaching ditemukan oleh Haywood dan Heyman pada tahun 1989 1-3. Pemutihan gigi dapat dilakukan di rumah (home bleaching) dan di praktek dokter gigi (office bleaching). Pada home bleaching sering digunakan karbamid peroksida konsentrasi rendah yaitu 10%-22%, sedangkan pada office bleaching digunakan hidrogen peroksida dan karbamid peroksida konsentrasi tinggi, yaitu 35%-50%.
Office bleaching sering dilakukan pada pasien yang tidak mempunyai waktu yang cukup banyak untuk melakukan home bleaching dan menginginkan efek pemutihan gigi yang cepat dan lebih jelas.4,5.
Hidrogen peroksida 35% dan karbamid peroksida 35% merupakan dua agen office bleaching yang sering digunakan saat ini. Hidrogen peroksida merupakan senyawa kimia reaktif yang sangat tidak stabil, jernih, tidak berbau dan bersifat asam.
Hidrogen peroksida mengandung unsur hidrogen dan oksigen (H2O2) yang dapat terurai menjadi radikal bebas. Sedangkan karbamid peroksida yang memiliki struktur kimia CO(NH2)2 H2O2 merupakan senyawa kimia organik yang terdiri dari hidrogen peroksida dan urea.6 Karbamid peroksida merupakan keadaan dimana hidrogen peroksida dalam keadaan lebih stabil. Bahan aktif bleaching sangat reaktif dalam mengurai senyawa-senyawa diskolorasi (staining) yang terdapat di ekstrinsik maupun intrinsik struktur gigi. Sifat reaktif dari bahan aktif bleaching ini dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan di dalam rongga mulut termasuk terhadap bahan restorasi yang terdapat di dalam rongga mulut seperti amalgam, porselen, ormocer, glass ionomer, kompomer dan restorasi resin komposit.7 Saat ini restorasi resin komposit sangat sering ditemukan pada gigi geligi yang akan dilakukan proses pemutihan, baik pada gigi anterior maupun posterior. Hal ini dikarenakan resin
komposit memiliki estetik yang sangat baik, tidak mudah larut dalam cairan mulut, tahan terhadap dehidrasi dan relatif mudah untuk dimanipulasi.8Kekurangan dari resin komposit yaitu sifat pengerutan saat polimerisasi dan koefisien termal ekspansinya yang tinggi. Jenis resin komposit terbaru yang sedang dikembangkan saat ini adalah resin komposit nanofil. Resin komposit nanofil memiliki sifat kombinasi antara kekuatan mekanik dengan permukaan polis yang sangat baik. Resin komposit nanofil memiliki permukaan yang lebih halus dan mengkilat, pengkerutan (shrinkage) polimerisasi yang lebih minim dan resistensi yang lebih baik serta memiliki daya atrisi yang lebih rendah bahkan dapat digunakan untuk restorasi regio posterior sekalipun.8,9
Restorasi resin komposit sering diganti setelah proses bleaching dilakukan.
Hal ini dikarenakan oleh efek fisik-mekanik negatif yang mungkin terjadi pada restorasi akibat proses bleaching. Perubahan warna pada resin komposit setelah proses bleaching merupakan salah satu alasan yang relevan sehingga perlu dilakukan penggantian restorasi. Pasien disarankan untuk melakukan penggantian restorasi resin komposit setelah warna gigi dan nilai kuat ikatan resin komposit ke enamel telah stabil yaitu minimal 2 minggu setelah proses bleaching.8,9Bleaching juga dapat menyebabkan perubahan kekerasan permukaan dan warna pada resin komposit, serta menimbulkan keretakan dan marginal mikroleakage pada restorasi resin komposit.
Perubahan kekerasan dan kekasaran permukaan restorasi resin komposit adalah hal yang umum digunakan untuk menganalisis efek negatif yang mungkin timbul dikarenakan oleh agen aktif bleaching dengan menggunakan karbamid peroksida 10% dan hidrogen peroksida 35%. Studi laboratorium menunjukkan efek bahan zat pemutih pada bahan gigi menunjukkan perubahan klinis signifikan untuk sebagian besar bahan gigi restoratif setelah pemutihan.10 Adapun efek pemutihan pada microhardness permukaan komposit, ada kontroversi mengenai dampak rendah konsentrasi 10-16% karbamid peroksida pada microhardness permukaan material komposit restoratif. Dalam beberapa penelitian, pelunakan resin komposit dikaitkan dengan home bleaching11. Resin komposit nanofil memiliki sifat kombinasi antara kekuatan mekanik dengan permukaan polis yang sangat baik sehingga dapat
digunakan baik untuk restorasi gigi anterior maupun posterior. .Beberapa penelitian mengatakan bahwa keadaan permukaan restorasi resin komposit akan berubah setelah dilakukannya proses pemutihan. Restorasi dapat menunjukkan peningkatan kekasaran permukaan, perubahan warna, timbulnya keretakan, perubahan microhardness, serta meningkatnya marginal mikroleakage.Penelitian ini diuji kembali oleh Li dkk. yang menyimpulkan bahwa seluruh bukti memperlihatkan bahan home bleaching yang mengandung peroksida aman bila digunakan sesuai anjuran.12
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas dapat dirumuskan masalah, yaitu :
Apakah terdapat perbedaan impact strength resin komposit setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% dengan kurun waktu 7 hari dan 14 hari.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Mengetahui perbedaan pada impact strength resin komposit setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% dengan kurun waktu 7 hari dan 14 hari.
1.4 Hipotesis Penelitian
Dari uraian tersebut dapat diambil suatu hipotesis,yaitu:
1. Tidak ada perbedaan impact strength resin komposit bila diaplikasi dalam pemutih karabamid peroksida 10% setelah 7 hari dan 14 hari.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Menambah informasi mengenai . perbedaan pada impact strength resin komposit setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% dengan kurun waktu 7 hari dan 14 hari.
2. Menambah pengetahuan dan pertimbangan klinis bagi dokter gigi untuk melakukan perawatan pemutihan gigi pada pasien dengan restorasi resin komposit.
3. Sebagai dasar acuan untuk penelitian lebih lanjut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Resin Komposit
Istilah bahan komposit mengacu pada kombinasi tiga dimensi dari sekurang- kurangnya dua bahan kimia yang berbeda dengan satu komponen pemisah yang nyata diantara keduanya. Bila konstruksi tepat, kombinasi ini akan memberikan kekuatan yang tidak dapat diperoleh bila hanya digunakan satu komponen saja. Bahan restorasi resin komposit adalah suatu bahan matriks resin yang di dalamnya ditambahkan pasi anorganik (quartz, partikel silica koloidal) sedemikian rupa sehingga sifat-sifat matriksnya ditingkatkan.13
2.2 Sifat-sifat Resin Komposit
Sama halnya dengan bahan restorasi kedokteran gigi yang lain, resin komposit juga memiliki sifat. Ada beberapa sifat – sifat yang terdapat pada resin komposit, antara lain:13,14
2.2.1. Sifat fisik
1. Polymerization shrinkage
Resin komposit memiliki kekurangan yaitu mengalami pengerutan selama polimerisasi. Hal ini akan menyebabkan kebocoran mikro, kegagalan perlekatan bahan adhesif, iritasi pulpa, karies sekunder, sensitif pasca restorasi serta kegagalan restorasi. Dasar dari teknik penambalan sedikit demi sedikit adalah untuk mengompensasi pengerutan yang terjadi pada saat pengerutan. Campuran pertama yang dimasukkan ke dalam dasar kavitas akan sudah terpolimerisasi sebagian sewaktu campuran berikutnya diambil serta dimasukkan ke dalam kavitas sehingga adanya ruangan karena pengerutan lapisan pertama akan diisi oleh lapisan berikutnya.
2. Sifat termal
Resin komposit memberikan isolasi termal yang baik untuk pulpa gigi karena matriks polimer organik memiliki konduktivitas termal yang rendah. Koefisien linear
ekspansi termal dari resin komposit berkisar 25-38 x 10-6/ºC untuk resin komposit dengan partikel halus dan 55-68 x 10-6/ºC untuk resin komposit dengan partikel microfine. Konduktivitas termal dari semua resin komposit cocok dengan enamel dan dentin dan jauh lebih baik dibandingkan dengan amalgam. Konduktivitas termal resin komposit dengan partikel halus adalah lebih besar dari resin komposit dengan partikel microfine karena konduktivitas pengisi anorganik lebih tinggi dibandingkan dengan matriks polimer.
3. Penyerapan air
Penyerapan air resin komposit hybrid (5-17 mg/mm3) lebih rendah dibandingkan dengan resin komposit microfine (26-30 mg/mm3) karena fraksi volume yang lebih rendah dari polimer dalam resin komposit dengan partikel halus. Kualitas dan stabilitas bahan antara silane penting dalam meminimalkan kerusakan ikatan antara bahan pengisi dan polimer dan jumlah penyerapan air. Penyerapan air merupakan proses yang lambat bila dibandingkan dengan polymerization shrinkage dan stress.
Penyerapan air oleh resin komposit berkorelasi dengan penurunan kekerasan permukaan dan ketahanan aus.
4.Kelarutan
Kelarutan resin komposit bervariasi 0,25-2,5 mg/mm3 dan berkisar antara 1,5%
sampai 2,0% dari berat bahan asli. Alkohol adalah pelarut bis-GMA dan gel fluor yang ditambah asam akan meningkatkan laju disolusi partikel bahan pengisi. Oleh karena itu, produk yang tidak mengandung alkohol harus digunakan.
5.Kestabilan warna
Warna sangat penting dalam restorasi estetik. Perubahan warna dapat terjadi dari oksidasi dan hasil dari pertukaran air dalam matriks polimer dan interaksi dengan polimer yang tidak bereaksi dan inisiator yang tidak terpakai atau akselerator.
6.Kekasaran permukaan
Kekasaran adalah suatu bentuk iregularitas pada tekstur permukaan yang disebabkan karena friksi, penggunaan yang berlebihan, goresan mekanis dan kimiawi. Kekasaran
permukaan dihitung berdasarkan alat surface roughness tester yang nilainya dinyatakan dalam Ra dengan satuan μm.13-15
2.2.2. Sifat Mekanis a. Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan suatu bahan untuk menahan tekanan yang diberikan kepadanya tanpa terjadi kerusakan. Kekuatan tarik dan kekuatan tekan yang diuji dengan metode diametral dan kekuatan lentur dan modulus untuk komposit gigi sangat penting. Kekuatan tekan sangat penting karena diperlukan untuk kekuatan mengunyah. Kekuatan lentur dan modulus tekan resin komposit microfilled dan flowable sekitar 50% lebih rendah dari nilai untuk resin komposit hybrid dan resin komposit packable karena volume persen bahan pengisi yang terdapat di dalam komposit ini sendiri.
b. Modulus elastisis
Modulus lentur dari resin komposit microfilled dan flowable biasanya lebih rendah daripada resin komposit packable karena penurunan volume persen bahan pengisi yang terdapat di dalam resin ini sendiri.
c. Kekerasan permukaan
Restorasi harus memiliki permukaan halus dan teratur tetapi kondisi ini tidak sering terjadi karena resin komposit sering terpapar dengan abrasi, erosi dan atrisi di dalam rongga mulut. Kekerasan permukaan memberikan indikasi ketahanan terhadap penetrasi ketika di bebani dengan indentasi. Nilai kekerasan tergantung pada metode yang digunakan untuk pengukuran. Umumnya, nilai yang rendah menunjukkan angka kekerasan bahan yang lunak dan sebaliknya. Nilai kekerasan untuk resin komposit (22-80 kg/mm2) yaitu lebih rendah dari enamel (343 kg/mm2) dan amalgam (110 kg/mm2). Kekerasan permukaan resin komposit dengan partikel yang halus lebih besar dari nilai untuk resin komposit dengan partikel microfine karena fraksi kekerasan dan volume partikel bahan pengisi.
d. Wear rates
Dalam kondisi klinis, restorasi resin komposit berkontak dengan permukaan lain seperti gigi antagonis, partikel makanan dan cairan rongga mulut yang dapat menyebabkan keausan dan degradasi. Tekanan oklusal terhadap bahan restorasi gigi lebih besar di posterior dibanding dengan tekanan oklusal di anterior. Beberapa studi klinis telah melaporkan bahwa generasi terbaru dari nanokomposit memiliki ketahanan aus yang sangat baik. Komposit nanofilled telah terbukti menunjukkan ketahanan aus yang mirip dengan enamel alami manusia.13-15
3.1 Komposisi Resin Komposit a) Bahan utama/Matriks resin
Kebanyakan resin komposit menggunakan campuran monomer aromatic dan atau aliphatic dimetacrylate seperti bisphenol A glycidyl methacrylate (BIS-GMA), selain itu juga banyak dipakai adalah tryethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA), dan urethane dimethacrylate (UDMA) adalah dimethacrylate yang umum digunakan dalam komposit gigi. Perkembangan bahan restorasi kedokteran gigi (komposit) dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960, ketika Bowen memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. Kelemahan sistem epoksi, seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan perubahan warna, mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi (CH-O-CH2) dan akrilat (CH2=CHCOO-). Percobaan-percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul BIS-GMA. Molekul tersebut memenuhi persyaratan matrik resin suatu komposit gigi.
BIS-GMA memiliki viskositas yang tinggi sehingga membutuhkan tambahan cairan dari dimethacrylate lain yang memiliki viskositas rendah yaitu TEGDMA untuk menghasilkan cairan resin yang dapat diisi secara maksimal dengan partikel glass.
Sifatnya yang lain yaitu sulit melakukan sintesa antara struktur molekul yang alami dan kurang melekat dengan baik terhadap struktur gigi.
b) Filler
Dikenali sebagai filler inorganik. Filler inorganik mengisi 70 persen dari berat material. Beberapa jenis filler yang sering dijumpai adalah berbentuk manik-manik
kaca dan batang, partikel seramik seperti quartz (SiO2), litium-aluminium silikat (Li2O.Al2O3.4SiO2) dan kaca barium (BaO) yang ditambahkan untuk membuat komposit menjadi radiopak.
Ukuran partikel yang sering dipakai berkisar antara 4 hingga 15m. Partikel yang dikategorikan berukuran besar sehingga mencapai 60m pernah digunakan tetapi permukaan tumpatan akan menjadi kasar sehingga mengganggu kenyamanan pasien.
Bentuk dari partikel juga terbukti penting karena manik-manik bulat sering terlepas dari material mengakibatkan permukaan menjadi aus. Bentuk filler yang tidak beraturan mempunyai permukaan yang lebih baik dan tersedia untuk bonding dan dapat dipertahankan di dalam resin.
Penambahan partikel filler dapat memperbaiki sifat resin komposit:
1. Lebih sedikit jumlah resin, pengerutan sewaktu curing dapat dikurangi 2. Mengurangkan penyerapan cairan dan koefisien ekspansi termal
3. Memperbaiki sifat mekanis seperti kekuatan, kekakuan, kekerasan dan resisten terhadap abrasi
c) Coupling agent
Ikatan antara bahan pengisi dan matriks resin dapat dipertahankan dengan penggunaan senyawa silikon organik atau bahan penghubung silane. Molekul silane memiliki kelompok reaktif pada kedua ujungnya dan dilapisi pada permukaan bahan pengisi oleh produsen sebelum pencampuran dengan oligomer. Selama polimerisasi, ikatan ganda pada molekul silane bereaksi dengan polimer matriks. Hasil akhirnya adalah bahan dengan sifat kekuatan yang lebih besar daripada bahan pengisi atau matriks secara terpisah. Bonding juga dapat meningkatkan retensi bahan pengisi selama abrasif pada permukaan komposit. Akibatnya, partikel pengisi menjadi keras dan matriks yang dihasilkan menjadi lembut. Aplikasi bahan coupling yang tepat dapat meningkatkan sifat mekanis dan fisik serta memberikan kestabilan hidrolitik dengan mencegah air menembus antara permukaan bahan pengisi dan resin matriks.13-15
d) Bahan penghambat polimerisasi
Merupakan penghambat bagi terjadinya polimerisasi dini. Monomer dimethacrylate dapat berpolimerisasi selama penyimpanan maka dibutuhkan bahan penghambat (inhibitor). Sebagai inhibitor, sering digunakan hydroquinone, tetapi bahan yang sering digunakan pada saat ini adalah monometyhl ether hydroquinone.
e) Penyerap ultraviolet (UV)
Ini bertujuan meminimalkan perobahan warna karena proses oksidasi.
Camphorquinone dan 9-fluorenone sering dipergunakan sebagai penyerap UV.
f) Opacifiers
Tujuan bagi penambahan opacifiers adalah untuk memastikan resin komposit terlihat di dalam sinar-X. Bahan yang sering dipergunakan adalah titanium dioksida dan aluminium dioksida.
g) Pigmen warna
Bertujuan agar warna resin komposit menyamai warna gigi geligi asli. Zat warna yang biasa dipergunakan adalah ferric oxide, cadmium black, mercuric sulfide, dan lain-lain. Ferric oxide akan memberikan warna coklat-kemerahan. Cadmium black memberikan warna kehitaman dan mercuric sulfide memberikan warna merah.13-15 3.2 Klasifikasi
Resin komposit dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu menurut ukuran filler dan menurut cara aktivasi.13-15
3.2.1 Ukuran filler
Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiler, resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.
1.Resin Komposit Tradisional
Resin komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20μm dan ukuran partikel terbesar adalah 40μm. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu
permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel filler menonjol keluar dari permukaan.
2. Resin Komposit Mikrofiler
Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02μm dan antara ukuran 0.01-0.05μm. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler yang besar dalam kontak dengan resin.
3. Resin Komposit Hibrid
Komposit hibrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata berukuran 15-20μm dan juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0.01-0.05μm seperti terlihat pada gambar 3. Perlu diketahui bahawa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit jumlah colloidal silica, tetapi tidak mempengaruhi sifat-sifat dari komposit itu.
4.Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil
Untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumnya telah dilakukan perbaikan metode dengan cara grinding kaca. Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler dengan ukuran partikel kurang dari 1μm, dan biasanya berukuran 0.1-1.0μm , yang biasanya dikombinasi dengan colloidal silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish permukaannya sehingga menjadi lebih rata dibanding partikel filler berukuran besar.
Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih rata karena setiap permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari partikel filler.
5. Resin komposit nanofiller
Komposit nanofiller mempunyai muatan filler yangt tinggi untuk memperoleh kekuatan dan ketahanan seperti komposit mikrohidbrid,memiliki estetis yang baik serta kekuatan dan ketahanan yang hampir sama dengan komposit
mikrofiller.Komposit mikrofiller memiliki partikel kecil dengan ukuran rata-rata 0,02-0,1µm.13-15
3.2.2 Cara Aktivasi
Cara aktivasi dari resin komposit dapat dibagi tiga yaitu : 3.2.2.1 Aktivasi secara kimia
Produk yang diaktivasi secara khemis terdiri dari dua pasta, satu yang mengandung benzoyl peroxide (BP) initiator dan yang satu lagi mengandung aktivator aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi, rantai –O–O– putus dan elektron terbelah diantara kedua molekul oksigen (O). Pasta katalis dan base diletakkan di atas mixing pad dan diaduk dengan menggunakan instrument plastis selama 30 detik.
Dengan pengadukan tersebut, amine akan bereaksi dengan BP untuk membentuk radikal bebas dan polimerisasi dimulai. Adonan yang telah siap diaduk kemudian dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan instrument plastis atau syringe.13-
15
3.2.2.2 Aktivasi mempergunakan cahaya
Sistem aktivasi menggunakan cahaya pertama kali diformulasikan untuk sinar ultraviolet (UV) membentuk radikal bebas. Pada masa kini, komposit yang menggunakan curing sinar UV telah digantikan dengan sistem aktivasi sinar tampak biru yang telah diperbaiki kedalaman curing, masa kerja terkontrol, dan berbagai kebaikan lainnya. Disebabkan kebaikan ini, komposit yang menggunakan aktivasi sinar tampak biru lebih banyak digunakan dibanding material yang diaktivasi secara khemis.
Komposit yang menggunakan aktivasi dari sinar ini terdiri dari pasta tunggal yang diletakkan dalam syringe tahan cahaya. Pasta ini mengandung photosensitizer, Camphorquinone (CQ) dengan panjang gelombang diantara 400-500 nm dan amine yang menginisiasi pembentukan radikal bebas. Bila bahan ini, terkontaminasi sinar tampak biru (visible blue light, panjang gelombang ~468nm) memproduksi fase eksitasi dari photosensitizer, dimana akan bereaksi dengan amine untuk membentuk radikal bebas sehingga terjadi polimerisasi lanjutan.
Working time bagi komposit tipe ini juga tergantung pada operator. Pasta hanya dikeluarkan dari tube pada saat ingin digunakan karena terkena sinar pada pasta dapat menginisiasi polimerisasi. Pasta diisi kedalam kavitas, disinar dengan
sinar biru dan terjadi polimerisasi sehingga bahan resin mengeras. Camphorquinone (CQ) menyerap sinar tampak biru dan membentuk fase eksitasi dengan melepaskan elektron seperti amine (dimetyhlaminoethyl methacrylate [DMAEMA]).
3.2.2.3Aktivasi dual (dual-cured)
Jenis resin komposit berdasarkan dual-cured berisi inisiator dan akselerator yang memungkinkan teraktivasi oleh sinar dan mengeras dengan sendirinya (self curing).13-
15
4.1 Kebaikan, Kerugian dan Kegunaan 4.1.1 Kebaikan
Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada tambalan gigi posterior dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam yang dapat menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya yang sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.15
4.1.2 Kerugian
Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi bahan ini dapat berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi pengerutan. Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada marginal tambalan.
Komposit dengan filler berukuran kecil dapat dipergunakan sehingga 9 tahun, lebih lekas rusak dibandingkan dengan tambalan amalgam.15
4.1.3 Kegunaan resin komposit
1. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay) 2. Veneer mahkota logam dan jembatan (prosthodontic resin)
3. Pasak.
4. Semen pada orthodontic brackets, Maryland bridges, ceramic crown, inlay, onlay.
5. Pit dan fisur sealant.
6. Memperbaiki tambalan restorasi porselen yang rusak.15
4.2 Karbamid Peroksida
Karbamid peroksida telah digunakan sebagai bahan pemutih gigi sejak tahun 1989 dan merupakan bahan yang sering dipakai dalam perawatan pemutihan gigi vital (Perdigão et al, 2004) menggunakan teknik homebleaching. Pemutihan gigi menggunakan karbamid peroksida 10% disetujui di beberapa negara besar seperti Amerika (ADA), Canada (FDA) dan Eropa (SCCNFP) karena lebih aman, murah dan efektif untuk pemutihan gigi vital. Beberapa penelitian mengenai karbamid peroksida 10% menyatakan bahwa bahan ini membutuhkan waktu lebih lama tetapi akan memutihkan gigi sama dengan konsentrasi tinggi, tanpa perubahan ireversibel terhadap pulpa (Matis, 2003). Karbamid peroksida juga tersedia dalam konsentrasi 15% dan 20% .16
Karbamid peroksida merupakan jenis bahan pemutih gigi untuk diskolorasi eksternal yang juga dikenal sebagai hidrogen peroksida urea. Bahan pemutihan gigi dengan karbamid peroksida biasanya juga mengandung gliserin atau propilen glikol, sodium stanat, asam fosfat atau asam sitrat, dan zat perasa tambahan. Dalam beberapa bahan, karbopol, polimer asam poliakrilat yang larut air, ditambahkan sebagai bahan thickening serta untuk memperpanjang waktu penyimpanan. Karbopol juga dapat menambah kekentalan dan daya lekat serta memperlambat proses pelepasan oksigen dari karbamid sehingga memungkinkan oksigen bereaksi lebih lama dengan bahan yang menyebabkan pewarnaan .
Bahan yang dapat menghasilkan warna dalam larutan atau permukaan merupakan senyawa organik yang memiliki rantai konjugasi yang panjang baik dalam bentuk ikatan tunggal maupun rangkap. Bahan tersebut mengandung heteroatom, karbonil, dan cicin fenil dalam sistem konjugasi dan sering dikenal dengan sebutan kromofor. Pemutihan dan dekolorisasi kromofor dapat terjadi melalui perusakan satu atau lebih ikatan rangkap dalam rantai konjugasi, dengan memotong rantai konjugasi, atau dengan mengoksidasi molekul kimia lainnya dalam rantai konjugasi. Hidrogen peroksida mengoksidasi berbagai varietas senyawa organik maupun inorganik.
Mekanisme reaksi ini bervariasi tergantung pada substrat, lingkungan reaksi, dan katalisis. Secara umum, mekanisme pemutihan dengan hidrogen peroksida tidak
dimengerti dengan baik (Joiner, 2006).Karbamid peroksida 10% pecah menjadi hidrogen peroksida (H2O2) 3,35%, urea (CH4N2O) 6,65%, air, dan oksigen. Karbamid peroksida 15% pecah menjadi 5,4% hidrogen peroksida (H2O2) dan karbamid peroksida 20% pecah menjadi hidrogen peroksida 7%. Pecahan ini menjadi perhatian khusus karena efeknya belum diketahui secara pasti.16 Hidrogen peroksida sendiri dapat terurai menjadi air dan oksigen secara spontan dengan reaksi sebagai berikut : 2 H2O2 → 2 H2O + O2 + Energi.
Bahan pemutih peroksida dan nonperoksida masuk melalui enamel ke tubuli dentin dan mengoksidasi pigmen pada dentin, menyebabkan warna gigi menjadi lebih cerah.16 Proses ini dapat dipercepat menggunakan pemanasan dengan sinar berintensitas cahaya rendah atau sinar dengan intensitas cahaya tinggi, misalnya sinar kuring komposit konvensional, sinar laser, sinar plasma arc dengan intensitas tinggi .Larutan peroksida mengalir secara bebas melalui email dan dentin karena porusitas dan permeabilitas struktur keduanya. Perpindahan secara bebas ini terjadi karena berat molekul peroksida yang relatif lebih rendah serta penetrasi alami radikal oksigen dan superoksida .16
4.3 Uji Impact Charpy
Impact Strength adalah ukuran bagi kekuatan suatu bahan ketika bahan tersebut patah akibat benturan yang terjadi secara tiba-tiba. Kekuatan impak yaitu energi dibagi lebar dan tebal bahan dengan satuan J/mm2, yang menunjukkan deformitas plastis sehingga terjadinya fraktur.
Impact strength didapat menggunakan sampel dengan ukuran tertentu diletakkan pada alat penguji kekuatan impak dengan lengan pemukul yang dapat diayun. Pemukul tersebut kemudian diayun dan membentur sampel hingga patah selanjutnya energi yang tertera pada alat penguji dibaca dan dicatat lalu dilakukan perhitungan impact strength. Perhitungan impact strength menggunakan rumus : Impact Strength = E
b x d Keterangan:
E = Energi ( Joule)
b = Lebar batang uji (mm) d = Tebal batang uji (mm)
Terdapat dua tipe alat penguji kekuatan impak yaitu Izod dan Charpy. Pada alat penguji Izod sampel dijepit secara vertikal pada salah satu ujungnya sedangkan alat penguji Charpy kedua ujung sampel diletakkan pada posisi horizontal. Alat yang digunakan untuk uji impact strength pada penelitian ini adalah alat uji Charpy yaitu Amslerotto Walpret Werke GMBH, Germany.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian : Eksperimental
3.2 Desain Penelitian : Posttest only control group design
3.3 Tempat Penelitian : 1. Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi,Fakultas Kedokteran Gigi,USU Medan.
2. Lab Teknik Mesin Polteknik Negeri Medan
3.4 Populasi,Sampel dan Besar Sampel :
3.4.1 Populasi : Spesimen Resin Komposit
Nanofil 3.4.2
Sampel : hasil cetakan resin komposit
nanofil dalam bentuk blok berukuran 80 mm x 5 mm x 2 mm
3.4.3 Besar Sampel :
Pada penelitian ini besar sampel dihitung berdasarkan rumus Federer : (t-1)(r-1)≥15
Keterangan t :jumlah perlakuan r:jumlah sampel
Dalam penelitian ini terdapat tiga kelompok dengan maka t=3 dan jumlah sampel (r) tiap kelompok dapat ditentukan sebagai berikut:
(3-1)(r-1)≥15 2(r-1) ≥15 (r-1) ≥7.5 r ≥7.5+1 r ≥8.5
Sampel minimum dalam penelitian ini adalah 9 sampel .Jumlah sampel yang digunakan adalah 27 sampel .
3.5 Variabel Penelitian 3.5.1 Variabel Bebas
Kurun waktu aplikasi larutan karbamid peroksida 10% yaitu 7 hari dan 14 hari.
3.5.2 Variabel Tergantung
Impact strength resin komposit nanofil 3.5.3 Variabel Terkendali
1. Cara pemanipulasian resin komposit 2. Waktu aplikasi bleaching yaitu 2 jam 3. Durasi sinar polimerasasi selama 20 detik
4. Ukuran sampel resin komposit (8mm x5mm x2mm) 5. Jarak penyinaran (1mm)
6. 8 kali penyinaran pada sampel resin komposit 7. Jumlah bahan bleaching yang dioleskan pada sampel 3.5.4 Variabel Tidak Terkendali
1. Suhu ruangan saat penyimpanan sampel 2. Kelembaban
3.6 Definisi Operasional
1. Resin komposit nanofil adalah sifat kombinasi antara kekuatan mekanik dengan permukaan polis yang sangat baik sehingga dapat digunakan baik untuk restorasi gigi anterior maupun posterior.
2. Impact Strength adalah ukuran bagi kekuatan suatu bahan ketika bahan tersebut patah akibat benturan yang terjadi secara tiba-tiba.
3. Bleaching adalah proses penghilangan stain yang terdapat didalam struktur gigi (email dan dentin ) melalui reaksi oksidasi dan reduksi secara khemis dengan menggunakan bahan bleaching karbamid peroksida 10 % diaplikasi pada kurun waktu 7 hari dan 14 hari.
4. Karbamid peroksida 10% adalah bahan pemutih gigi yang digunakan di Kedokteran Gigi maupun sebagai home bleaching.
5. Grup control adalah grup placebo (tanpa aplikasi) yang diukur impact strength 24 jam setelah pembuatan sampel.
.
3.7 Alat dan Bahan Penelitan 3.7.1 Alat Penelitian
1. Light cured LED Prolux 770 made in Taiwan
2.Sarung tangan
3.Masker
4.Glass slide
5.Alat uji kaji Impact Charpy made in Germany
6.Insrumen plastis
7.Wadah plastis
8.Kuas
9.Mold sampel
3.7.2 Bahan Penelitian
1. Resin komposit nanofil Polofil NHT light-curing made in Germany
Komposisi: resin nano-hybrid filler.
2.Karbamid peroksida 10% Opalescene made in USA
Komposisi: karbamid peroksida, potassium nitrat dan fluoride
3.7.3 Prosedur Kerja
1. Pembuatan sampel resin komposit
a) Resin komposit diambil menggunakan instrumen plastis dan diletakkan dalam cetakan yang diletakkan di atas glass plate agar didapatkan bagian dasar yang rata dan tidak lengket dengan cetakan. Resin komposit dipadatkan lalu bagian atasnya diletakkan glass plate berketebalan 1 mm agar permukaan atas rata dan isinya semakin padat.
b) Resin komposit nanofil kemudian disinari menggunakan light curing unit selama 20 detik. Alat sinar diletakkan tegak lurus diatas glass plate yang diletakan diatas cetakan yang berisi resin komposit nanofil sehingga jarak penyinaran 1 mm ( sesuai ketebalan glass plate ).
c) Resin komposit dikeluarkan dari cetakan dan bagian bawah di beri tanda dengan spidol.
d) Diperoleh sampel resin komposit.
2. Perlakuan sampel
a) Kelompok 1 (kontrol) yaitu tanpa diaplikasi karbamid peroksida 10% dan direndam didalam aquades selama 24 jam pada suhu kamar.Setelah 24 jam resin komposit dikeringkan dan diletakkan pada alat uji impact Charpy dalam posisi horizontal dan diukur impact strengthnya.Data yang diperoleh dicatat.
b) Kelompok 2 (aplikasi karbamid peroksida 10% selama 7 hari) diaplikasikan permukaan atas sampel dan dibiarkan selama 2 jam kemudian dibilas menggunakan air kran,dikeringkan dan dimasukkan kedalam aquades pada suhu kamar sampai perlakuan berikutnya. Selesai 7 hari impact strength diukur menggunakan alat uji Impact Charpy dan dicatat datanya.
c) Kelompok 3 (aplikasi karbamid peroksida 10% selama 14 hari) diaplikasikan permukaan atas sampel dan dibiarkan selama 2 jam kemudian dibilas menggunakan air kran,dikeringkan dan dimasukkan kedalam aquades pada
suhu kamar sampai perlakuan berikutnya. Selesai 14 hari, impact strength diukur menggunakan alat uji Impact Charpy dan dicatat datanya.
3.Analisis Data
Analisis perbedaan data impact strength resin komposit tanpa diaplikasi karbamid peroksida 10% dan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10% untuk 7 hari dan 14 hari menggunakan uji non parametrik yaitu uji Kruskal Walis dan Mann Whitney.
3.8Pengolahan Data dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer.
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil pengukuran impact strength resin komposit nanofil pada kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 dapat dilihat pada tabel 1. Kelompok 1 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,77 ± 0,05 J/mm2, kelompok 2 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,72 ± 0,04 J/mm2 dan kelompok 3 menunjukkan nilai rerata dan standar deviasi 3,62 ± 0,04 J/mm2.
Tabel 1. Hasil pengukuran Impact strength resin komposit nanofil pada kelompok 1,kelompok 2 dan kelompok 3 setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % dengan kurun waktu yang berbeda.
No sampel Impact Strength ( J /mm2)
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 1 3,8 3,7 3,64 2 3,8 3,7 3,6 3 3,8 3,7 3,6 4 3,8 3,7 3,6 5 3,7 3,7 3,6 6 3,7 3,8 3,7 7 3,8 3,7 3,66 8 3,8 3,8 3,6 9 3,7 3,7 3,62 x 3,77 3,72 3,62 SD 0.05 0.04 0.04
Sebelum dilakukan uji analisis antara kelompok perlakuan, dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test (Lampiran 5). Hasilnya, setiap kelompok perlakuan memiliki data yang tidak terdistribusi normal. Kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis untuk mengetahui adanya perbedaan dari nilai Impact strength resin komposit nanofil antar kelompok.
Hasil analisa dengan uji Kruskal Wallis dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji Kruskal Wallis Nilai Impact pada Kelompok 1, Kelompok 2, dan Kelompok 3.
NO Variabel n x ± SD p. value
1 Kelompok 1 9 3,77 ± 0,05
0,000
2 Kelompok 2 9 3,72 ± 0,04
3 Kelompok 3 9 3,62 ± 0,04
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan ada perbedaan signifikan nilai impact strength kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa impact strength resin komposit nanofil mengalami penurunan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10%.
Untuk melihat perbedaan nilai impact strength antar masing –masing kelompok dilakukan uji Mann Whitney dan hasilnya dapat dilihat pada tabel 3. Dari tabel didapat dilihat bahwa hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dimana nilai p=0,065 (p>0,05). Adanya perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p<0,05) dan antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,001 (p<0,05).
NO Variabel n p.value
1 Kelompok 1-Kelompok 2 9 0,065
2 Kelompok 1-Kelompok 3 9 0,000
3 Kelompok 2-Kelompok 3 9 0,001
Pada penelitian ini terlihat bahwa nilai rerata impact strength resin komposit nanofil mengalami penurunan setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % selama 7 hari dan 14 hari.Gambar 10 menunjukkan nilai rerata impact strength yang menurun setelah diaplikasi karbamid peroksida 10 % selama 7 hari dan 14 hari.
Gambar 11. Grafik Pengukuran Nilai Impact Strength Resin Komposit Nanofil pada Kelompok Kontrol, Aplikasi 7 hari dan 14 hari.
Kontrol 7 hari 14 hari
Impact strength
Kelompok Perlakuan
(J/mm2) 3,77
3,72
3,62
BAB 5 PEMBAHASAN
Hasil uji non parametrik pada kelompok 1, kelompok 2 dan kelompok 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dimana, impact strength resin nanofil menjadi berkurang setelah diaplikasi bahan bleaching karbamid peroksida 10%. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilai impact antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dimana nilai p=0,065 (p>0,05), antara kelompok 1 dengan kelompok 3 ada perbedaan dimana nilai p=0,000 (p<0,05) dan ada perbedaan nilai impact antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dimana nilai p=0,000 (p<0,05). Pengurangan impact strength pada kelompok 2 dan kelompok 3 dapat dilihat dengan jelas. Ini terjadi karena oksidasi dan reduksi matrik resin komposit yang disebabkan oleh bahan bleaching apabila pengulangan aplikasi karbamid peroksida 10 % dilakukan dalam kurun waktu 1 minggu dan 2 minggu.
Pelepasan radikal bebas oleh oksigen nasen akan memicu penguraian polimer resin komposit dengan terjadi degradasi dari perubahan kekerasan. Radikal bebas ini akan menyebabkan dan terurainya ikatan non reaktif ganda pada bagian yang paling rentan, sehingga mengakibatkan pengurangan kekerasan mikro permukaan.18 Radikal bebas yang terlepas ini juga akan berpengaruh terhadap ikatan filler resin sehingga menyebabkan terlepasnya ikatan filler dengan matriks resin.18 Menurut Kareem dan Jehad (2012), ukuran filler juga berpengaruh terhadap perubahan kekerasan mikro dari suatu material. Semakin besar ukuran filler suatu material, maka akan mengurangi efektifitas dari polimerisasi sehingga menyebabkan penurunan kekerasan mikro. Ukuran filler juga berpengaruh terhadap ikatan antara filler dengan matriks.
Semakin kecil ukuran filler, maka ikatan yang timbul juga lebih kuat.18
Prabakhr et al (2010) menyatakan bahwa resin komposit yang mengandung bahan organik lebih mudah mengalami perubahan kimia dibandingkan bahan keramik dan logam.Kim et al (2004) menyatakan tidak ada perubahan pada kekerasan resin komposit nanofil apabila diaplikasi bahan bleaching.18 Bahan bleaching peroksida dapat menyebabkan efek pada restorasi material gigi namun untuk penemuan resin komposit yang terbaru yaitu resin komposit nanofil yang mempunyai mekanikal properti yang tinggi kemungkinan hanya mengalami perubahan
yang kecil.18Menurut Bailey dan Swift Jr. (1992) terdapat pengurangan kekerasan pada resin komposit hybrid dan microparticle apabila diaplikasi agen bleaching yang mengandung 10%
karbamid peroksida.19 Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pengurangan kekerasan resin komposit nanofil antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dan ada perbedaan nilai impact antara kelompok 2 dengan kelompok 3.
Dalam penemuan Carreiro et al (2004) menyatakan efek aging dalam aquades selama 24 jam dapat mengurangi kekerasan pada semua jenis resin komposit dan ini terbukti dari penelitian yang telah dilakukan dengan perendaman dalam aquades.20 Hasil penelitian Oliveira et al (2010), dalam menguji penyimpanan resin komposit selama 24 jam dalam aquades masih tidak mempunyai pengaruh efek kepada mekanikal properti resin komposit kerana waktu perendaman yang singkat.Ini adalah kerana proses penyerapan air adalah proses yang lambat dan memerlukan kurun waktu yang lama untuk mengukur efek dari proses penyerapan air oleh resin komposit.21
Hasil penelitian Cho et al (2009) ,mendapati terdapat reaksi antara bahan bleaching dengan resin komposit.Menurut penulis,ketahanan fraktur yaitu daya tahan bahan dari retak atau patah merupakan indikator penting dalam menguji ketahanan resin komposit dalam menerima beban. Hasil penelitiannya juga terbukti dengan meningkatnya nilai value fracture toughness resin komposit nanofil setelah diaplikasi bahan bleaching.22
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan signifikan impact strength resin nanofil antara kelompok aplikasi karbamid peroksida 10% pada kurun waktu 7 hari dan 14 hari.
2. Terjadi pengurangan pada impact strength resin komposit annofil setelah diaplikasi karbamid peroksida 10%.
6.2 Saran
1. Penelitian lebih lanjut harus terhadap kelompok sampel yang lebih besar agar didapat tingkat validitas yang lebih tinggi sehingga perubahan sifat impact strength resin komposit yang diberi aplikasi karbamid peroksida 10% dapat dilihat lebih jelas.
2. Penelitian yang selanjutnya diharapkan menggunakan metode atau alat yang lebih akurat untuk memperoleh data yang akurat.
1. Haywood VB. History, safety and effectiveness of current bleaching techniques and applications of nightguard vital bleaching technique. Quintessence International. 1992;23:7.
471-88.
2. Haywood, Leonard R, Nelson C, Brunson W.D. Efectiveness, side effects and long term status of nightguard vital bleaching. JADA 1994; 125. September. 1219-26.
3. Fasanaro TS (1992) Bleaching teeth: history, chemicals and methods used for common tooth discolorations. J Esthet Dent 4(3): 71-8.
4. Goldstein RE, Garber DA. Complete Dental Bleaching. Chicago. Quintessence Publishing . 1995(2):1-100.
5. Faunce. Management of discolored teeth. Dental Clinics of North America. 1983;27:4. 657- 70.
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrogen_peroxide Wikipedia® is a registered trademark of the Wikimedia Foundation, Inc. 01:20, 31 March 2006.
7. Jakfar S. Pengaruh Agen Aktif Bleaching Terhadap Jaringan Keras dan Lunak Mulut Serta Bahan Restorasi Kedokteran Gigi. Cak Dent J 2009 ; 2(1): 62-9.
8. Spyrides GM. Effect of whitening agent on dentin bonding. J. Esthet dent 2000;24:39-44.
9. Bailey J Shawn. Effect of home bleaching products on composite resin. Quintessence international 1992;23(7) : 489-94.
10. Hummert TW, Osborne JW, Norling BK, Cardenas HL. Mercury in solution following exposure of various amalgams to carbamide peroxides. Am J Dent 1993; 6:305-9.
11. Bailey and Swift, 1992Bailey, S.J. and Swift, E.J. Jr. Effects of home bleaching products on composite resins. Quintessence Int. 1992; 23: 489–94.
12. Tam Laura. Clinical trial of three 10% carbamide peroxide bleaching products. Canadian Dental Association. 2005;1-10.
13. Cabe FJ, Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th ed. USA : Blackwell Scientific Publications, 1984;138-152
14. Phillips, Kenneth J. Anusavice. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi 10 ed. Jakarta :
Evolve, 2003.115-234
16. Greenwall L ,. Bleaching Techniques in Restorative Dentistry: An Illustrated Guide. 1st edn.
London: Martin Dunitz Ltd.2001;31-60
17. http://en.wikipedia.org/wiki/Charpy_impact_test (23 september 2014) 18. Hindawi Publishing Corporation International Journal of Dentistry 2009;1-2
19. Bailey SJ,Swift EJ Jr.Effects of home bleaching products on composite resins,Quintessence Int 1992;23;489-94
20. Sharafeddin Farahnaz,Sharifi Elham, The Effect of Microwave/Laboratory Light Source Postcuring Technique and Wet-Aging on Microhardness of Composite Resin. Dent. J 2013;10(3):370-375
21. Olieviera JC,Aiello G,Mendes B,Urban VM,Campanha NH ,Jorge JH .Effect of storage in water and thermocycling on hardness and roughness of resin materials of temporary restorations.J Mater Res.2010;13:355-9
22. Cho SD,Bulpakdi P,Matis BA ,Plat JA.Effect of bleaching on fracture toughness of resin composites.Oper Dent.2009;34(6):703-8
Pembuatan 27 sampel resin komposit(80mmx5mmx2mm)
Disinar selama 20 detik
kontrol (n=9)
aplikasi karbamid peroksida 10%
setiap hari selama 1 minggu (n=9)
aplikasi karbamid peroksida 10% setiap hari selama 2
minggu (n=9)
Ukur perubahan impact strength
Analisis perubahan data kelompok tanpa aplikasi karbamid peroksida 10% dan kelompok yang diaplikasi karbamid peroksida
10% dalam waktu 1 minggu dan 2 minggu
HASIL PENGOLAHAN DATA MASTER DATA PENELITIAN
Sampel Kelompok1 Kelompok 2 Kelompok3
1 3.8 3.7 3.64
2 3.8 3.7 3.6
3 3.8 3.7 3.6
4 3.8 3.7 3.6
5 3.7 3.7 3.6
6 3.7 3.8 3.7
7 3.8 3.7 3.66
8 3.8 3.8 3.6
9 3.7 3.7 3.62
Total 33.9 33.5 32.62
Rataan 3.77 3.72 3.62
SD 0.05 0.04 0.04
1. Uji Deskriptif (untuk mendapatkan nilai mean dan SD)
Descriptive Statistics
9 3.70 3.80 3.7667 .05000
9 3.70 3.80 3.7222 .04410
9 3.60 3.70 3.6244 .03575
9 Kelompok_1
Kelompok_2 Kelompok_3 Valid N (listwise)
N Minimum Maximum Mean Std. Dev iation
2. Uji Normalitas
Tests of Normality
.414 9 .000 .617 9 .000
.471 9 .000 .536 9 .000
.309 9 .014 .760 9 .007
Kelompok_1 Kelompok_2 Kelompok_3
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Kolmogorov -Smirnova Shapiro-Wilk
Lillief ors Significance Correction a.
3. Uji Perbedaan (dilakukan dengan uji Man Whitney dan Kruskal) karena data tidak berdistribusi normal
Antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dengan Kruskal Wallis Test )
Ranks
9 11.50
9 7.50
18 Kelompok2
1.00 2.00 Total X2
N Mean Rank
Test Statisticsa,b
3.400 1 .065 Chi-Square
df
Asy mp. Sig.
X2
Kruskal Wallis Test a.
Grouping Variable: Kelompok2 b.
Antara kelompok 1 dengan kelompok 2 dengan Mann Whitney Test )
Mann-Whitney Test
Ranks
9 11.50 103.50
9 7.50 67.50
18 Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 2 Total X
N Mean Rank Sum of Ranks
Test Statisticsb
22.500 67.500 -1.844 .065 .113a Mann-Whitney U
Wilcoxon W Z
Asy mp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
X
Not corrected f or ties.
a.
Grouping Variable: Kelompok b.
Antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dengan Kuskal Wallis Test
Ranks
9 13.83
9 5.17
18 Kelompok13
1.00 3.00 Total X13
N Mean Rank
Test Statisticsa,b
12.712 1 .000 Chi-Square
df
Asy mp. Sig.
X13
Kruskal Wallis Test a.
Grouping Variable: Kelompok13 b.
Antara kelompok 1 dengan kelompok 3 dengan Mann Whitney Test
Mann-Whitney Test
Ranks
9 13.83 124.50
9 5.17 46.50
18 Kelompok
Kelompok 1 Kelompok 3 Total X
N Mean Rank Sum of Ranks
Test Statisticsb
1.500 46.500 -3.565 .000 .000a Mann-Whitney U
Wilcoxon W Z
Asy mp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
X
Not corrected f or ties.
a.
Grouping Variable: Kelompok b.
Antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dengan Kruskal Wallis Test
Ranks
9 13.61
9 5.39
18 Kelompok23
2.00 3.00 Total X23
N Mean Rank
Test Statisticsa,b
11.972 1 .001 Chi-Square
df
Asy mp. Sig.
X23
Kruskal Wallis Test a.
Grouping Variable: Kelompok23 b.
Antara kelompok 2 dengan kelompok 3 dengan Mann Whitney Test
Mann-Whitney Test
Ranks
9 13.61 122.50
9 5.39 48.50
18 Kelompok
Kelompok 2 Kelompok 3 Total X
N Mean Rank Sum of Ranks
Test Statisticsb
3.500 48.500 -3.460 .001 .000a Mann-Whitney U
Wilcoxon W Z
Asy mp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
X
Not corrected for ties.
a.
Grouping Variable: Kelompok b.
Kesimpulan :
1. Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 2 baik dengan Kruskal Wallis Test (p =0.065) maupun dengan Mann Whitney Test (p=0.111)
2. Ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan kelompok 3 baik dengan Kruskal Wallis Test (p =0.000) maupun dengan Mann Whitney Test (p=0.000) 3. Ada perbedaan signifikan antara kelompok 2 dengan kelompok 3 baik dengan Kruskal Wallis Test (p =0.001) maupun dengan Mann Whitney Test (p=0.000)
Tests of Normality
Kelompok
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
absorbed Kontrol .414 9 .000 .617 9 .000
Minggu 1 .230 9 .188 .807 9 .025
Minggu 2 .190 9 .200* .864 9 .107
impact Kontrol .414 9 .000 .617 9 .000
Minggu 1 .471 9 .000 .536 9 .000
Minggu 2 .309 9 .014 .760 9 .007
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Karena p<0,05, data tidak terdistribusi normal maka uji menggunakan non parametric yaitu kruskal walis dan mann whitney
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
absorbed Minggu 1 9 13.83 124.50
Minggu 2 9 5.17 46.50
Total 18
impact Minggu 1 9 13.61 122.50
Minggu 2 9 5.39 48.50
Total 18
Test Statisticsb
absorbed impact
Mann-Whitney U 1.500 3.500
Wilcoxon W 46.500 48.500
Z -3.471 -3.460
Asymp. Sig. (2-tailed) .001 .001
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000a .000a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Kelompok
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
absorbed Kontrol 9 13.83 124.50
Minggu 2 9 5.17 46.50
Total 18
impact Kontrol 9 13.83 124.50
Minggu 2 9 5.17 46.50
Total 18