• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV LOKASI PENELITIAN

4.4 Komposisi Guru dan Siswa

4.4.4 Komposisi Siswa Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Ketunaan

No Tingkat Pendidikan Ketunaan Jumlah

1 SDLB

Sumber data: Operator SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara 4.4.5 Komposisi Siswa Berdasarkan Agama

Tabel 4.5 Komposisi Siswa Berdasarkan Agama

No Agama SDLB SMPLB SMALB Jumlah

Sumber data: Operator SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara

4.5 Visi, Misi dan Tujuan SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut 4.5.1 Visi

“Terwujudnya Pelayanan Optimal untuk menciptakan Insan Yang

Bertaqwa, berakhlak mulia, berkarakter, terampil dan berdaya saing sesuai dengan perkembangan zaman”.

4.5.2 Misi

1. Menciptakan sekolah yang Religius dan Humanis.

2. Membentuk peserta didik yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur.

3. Menciptakan peserta didik yang terampil sesuai dengan perkembangan zaman melalui berbagai kegiatan vokasional.

4. Meningkatkan prestasi dan pengetahuan peserta didik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

5. Menciptakan sekolah yang ramah anak.

6. Menciptakan sekolah yang asri dan ramah lingkungan.

4.5.3 Tujuan

1. Membimbing peserta didik agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.

2. Melaksanakan pendidikan dan latihan agar menghasilkan anak didik yang mampu mengembangkan kemampuannya dalam mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan dunia kerja.

3. Melatih peserta didik untuk hidup bermasyarakat, taat kepada norma, hukum dan aturan yang berlaku di masyarakat yang selanjutnya mampu memfungsikan peran sosialnya secara optimal.

4.6 Struktur Organisasi SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut

Gambar 4.1. Struktur Organisasi SLB Negeri PTP Sumut 4.7 Kondisi Umum Tentang Klien

SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara merupakan lembaga pendidikan inklusif yang menampung siswa dari berbagai penyandang disabilitas. Sejak pandemi covid-19, SLB Negeri PTP Sumut menerapkan pembelajaran jarak jauh sesuai dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Sistem pembelajaran jarak jauh yang dilakukan melalui 2 cara yaitu secara daring (dalam jaringan) dengan menggunakan handphone dan secara luring (luar jaringan) dengan mengambil lembar tugas siswa ke sekolah oleh orangtua. Sebagaimana halnya anak normal lainnya, anak berkebutuhan

khusus tunarungu juga ikut andil belajar daring. Dengan berbagai keterbatasan anak tunarungu dalam hal komunikasi, peran orangtua sangat penting untuk mendampingi anak belajar.

Informan yang dijadikan peneliti sebagai narasumber dalam penelitian ini adalah orangtua dari siswa tunarungu yang ikut berperan langsung dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Terkait peran-peran yang diemban orangtua selama anak belajar dirumah akan berpengaruh terhadap hasil belajar anak secara akademis. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala bagian kurikulum Sekolah Dasar Luar Biasa bahwa ada beberapa anak yang bahkan belum masuk di WhatsApp Grup kelas yang kemungkinan disebabkan tidak adanya Handphone, orangtua mengganti nomor, orangtua yang sibuk bekerja dan orangtua kurang dalam hal pendidikan. Namun, dijelaskan juga jika tidak memiliki fasilitas, orangtua bisa datang ke sekolah untuk diberi arahan dari guru yang bersangkutan.

Informan utama adalah orangtua siswa tunarungu ternyata rata-rata yang mendampingi anak adalah ibu, dikarenakan ayah bekerja diluar rumah. Kendati demikian, ayah juga berperan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh seperti memfasilitasi anak dengan menyediakan paket data internet dan handphone. Oleh karena itu peneliti ingin berfokus untuk meneliti tentang bagaimana peran orangtua dari siswa tunarungu dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama di rumah.

Klien yang dijadikan sebagai narasumber dalam penelitian ini terdiri 9 orang yaitu 5 informan utama, 1 informan kunci, dan 3 informan tambahan.

Adapun informan utama dalam penelitian ini ialah wali kelas siswa III B SDLB dan orangtua dari siswa tunarungu, kemudian informan kunci ialah Kepala Sub

Kurikulum SDLB dan terakhir informan tambahan yaitu saudara dari siswa tunarungu di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara.

4.8 Kondisi Umum Tentang Petugas

SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara mempunyai tugas melaksanakan pelatihan dan penyegaran serta pembinaan bagi tenaga kependidikan serta penyelenggaraan pendidikan sekolah luar biasa yang meliputi tingkat persiapan, dasar dan lanjutan.

Pendidikan formal UPT SLB-E mempunyai tugas pokok sebagai berikut:

a. Membantu peserta didik agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.

b. Melakukan percontohan penyelenggaraan pendidikan tingkat persiapan, dasar dan lanjutan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

c. Melaksanakan pendidikan dan latihan agar menghasilkan anak didik mampu mengembangkan kemampuan dalam mengikuti pendidikan lanjutan dan dunia kerja.

d. Melaksanakan pelayanan pendidikan dengan membentuk kelas yang berorientasi kepada peserta didik yaitu kelas akselerasi (olimpiade), kelas cerdas, kelas anak berbakat dan kelas bakat istimewa.

Fungsi UPT SLB Pembina Tingkat Provinsi Bagian E adalah sebagai berikut:

a. Mengadakan pelatihan penyegaran bagi gurudan tenaga kependidikan Sekolah Luar Biasa

b. Melakukan percontohan penyelanggaran pendidikan tingkat persiapan, dasar dan lanjutan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

c. Memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi murid, orangtua dan masyarakat.

d. Membina hubungan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat.

e. Melakukan publikasi yang menyangkut pendidikan luar biasa sesuai dengan kelainan/ketunaannya.

f. Melakukan urusan tata laksana/administrasi staf dan peserta didik.

g. Merencanakan Program Pengembangan SLB dan melaksanankan pendidikan yang berkompetensi.

h. Melaksanakan pendidikan dan latihan bagi anak didik sesuai dengan kelainan fisik dan atau mental serta perilaku dan sosial.

i. Melaksanakan peningkatan metode dan sistem pembelajaran yang efektif.

j. Melaksanakan evaluasi belajar.

4.9 Sarana dan Prasarana SLB Negeri PTP Sumut

Tabel 4.6 Daftar Sarana dan Prasarana SLB Negeri PTP Sumut

No. Jenis Jumlah

14. Kantor PKS 1

15. Lobi 1

16. Lapangan Upacara 1

17. Lapangan Basket 1

18. Lapangan Voli 1

19. Asrama 2

20. Aula 1

21. Ruang Guru 1

22. Gudang 1

23. UKS 1

24. Ruang Kepala Sekolah 1

25. Ruang Tata Usaha 1

Sumber Data: Operator SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut.

Dengan melihat Rekapan diatas menunujukkan bahwa keberadaan sarana dan prasarana SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara dari gambaran tabel di atas menunjukkan bahwa fasilitas yang ada sudah memadai sehingga pendidik dan peserta didik dapat menggunakan fasilitas tersebut dalam prosesbelajar.

56

4.10 Kondisi SLB Negeri PTP Sumut Selama Pembelajaran Jarak Jauh

Selama pandemi covid-19, SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara ikut juga melaksanakan Kebijakan Kemendikbud yaitu Pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh yang dimana seluruh siswa belajar dari rumah. Keadaan sekolah saat peneliti datangi sepi dan hanya ada beberapa staf sekolah yang hadir. Walaupun kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh di laksanakan tetapi menurut penuturan Kepala Kurikulum SDLB siswa tetap dapat melaksanakan perlombaan siswa disabilitas tingkat provinsi maupun nasional dengan menggunakan aplikasi zoom.

SLB negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan 2 sistem yaitu luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan/online). Sistem secara luring (luar jaringan) dianjurkan bagi para orangtua/wali siswa mengambil lembar tugas siswa ke sekolah. Ketika peneliti beberapa saat mendatang sekolah ada beberapa orangtua yang mengambil lembar tugas siswa, namun ada juga siswa yang tidak paham mengenai pelajaran mendatangi sekolah dengan catatan sudah menghubungi guru yang bersangkutan untuk dapat hadir di sekolah. Sistem secara daring (dalam jaringan), yakni melalui penggunaan Handphone yang terhubung dengan jaringan/online.

DOKUMENTASI PADA SAAT PENELITIAN

Foto Screenshot WhatsApp Grup Kelas IIIB

Foto di atas peneliti ambil ketika berlangsungnya penilaian walikelas terhadap siswa tunarungu yang sudah mengerjakan tugas di Grup WhatsApp.

Penilaiannya berbeda dengan penilian guru di sekolahada biasa, yakni berupa emoticon bintang untuk meningkatkan motivasi siswa. Wali Kelas menuturkan jika siswa biasanya suka dengan banyak bintang, jika bintangnya berkurang siswa cenderung menghubungi guru terkait penilaian.

Foto Salah Satu Informan Utama mendampingi anak belajar

Dalam melakukan penelitian, peneliti melaksanakan kegiatan observasi pada saat pembelajaran jarak jauh berlangsung. Kegiatan pemebelajaran yang dilakukan SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara pada masa pandemi covid-19 yaitu melalui aplikasi WhatsApp Grrup secara online dan juga

setiap 2 minggu sekali orangtua datang ke sekolah untuk mengambil lembar tugas siswa. Peneliti juga melakukan wawancara dengan Kepala bagian Kurikulum SDLB, wali kelas, orangtua dan dan juga saudara dari siswa tunarungu. Dari hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran melalui daring sudah berjalan berjalan lancar walaupun ada beberapa orangtua yang tidak aktif di grup WhatsApp. Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh melalui daring dilakukan sesuai roster yang berlaku.

Berdasarkan hasil analisis penelitian dan wawancara bahwa kondisi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini sudah cukup baik dan dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap peran orangtua yang mendampingi anak telah terlaksana sesuai dengan peran-perannya yang akan dijelaskan dalam hasil analisis penelitian. Peran orangtua selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh menunjukkan hasil belajar siswa. Peneliti bandingkan hasil belajar siswa selama belajar daring dengan sebelum adanya pandemi covid-19 dalam hal akademisnya cenderung naik dan ada juga yang tetap seperti semester sebelumnya. Penilaian siswa tunarungu yang tidak berpatok pada nilai tetapi dilihat dari sikap, keterampilan dan kemandirian siswa tersebut.

59 BAB V

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini peneliti akan menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan dengan menggunakan teknik pengumpulan data informasi wawancara yang mendalam kepada setiap informan kunci, informan utama dan informan tambahan. Peneliti juga mengumpulkan data yang dibutuhkan dari setiap informan yang telah diwawancara mengenai bagaimana Peran orangtua yang memiliki anak tunarungu dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara.

Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang dengan masing-masing 1 informan kunci yaitu Kepala Bagian Kurikulum, 5 informan utama yaitu 1 wali kelas siswa tunarungu dan 4 orangtua dari siswa tunarungu dan 3 informan tambahan yaitu saudara (kakak atau abang) dari siswa tunarungu di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara.

5.1 Deskripsi Hasil Penelitian 5.1.1 Informan Kunci I

Nama : Farri Yeni, S.Pd Umur : 48 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Kristen

Alamat : Jl. Sekip Gg.Sederhana No.24 AB Sei Putih Pendidikan Terakhir : S1-PLB IKIP Negeri Yogyakarta Pekerjaan : Guru/ PKS Kurikulum SDLB

Informan kunci yang peneliti wawancarai adalah Ibu Yeni selaku Kepala Bagian Kurikulum di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi. Yang memahami proses pembelajaran jarak jauh dilakukan dan penerapannya sesuai kurikulum.

Peneliti mulai menanyakan pendapat beliau tentang pengertian dari pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut, beliau menuturkan sebagai berikut:

“Menurut ibu Pembelajaran jarak jauh ya beginilah dek belajar dari rumah selama pandemi, belajar secara online untuk menghindari corona virus .”

Kemudian peneliti bertanya mengenai penerapan pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut. Ibu Yeni pun menuturkan sebagai berikut:

“Kalau penerapannyalewat Handphone dek, nanti kan dihubungi gurunya melalui WA, belajarnya sesuai jadwal roster seperti biasa dek, dilaporkan ke PKS tiap bulan,kalau sudah mau dekat ujian guru buat soal terus melaporkan ke PKS sehingga sampai penilaian siswa .”

Peneliti kemudian bertanya mengenai kontribusi atau bantuan yang dikeluarkan sekolah selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Beliau pun menuturkan sebagai berikut:

“Kan sudah ada juga didata dek untuk bisa mendapat kuota belajar kemendikbud, kemudian ketika ada lomba selama pandemi kami fasilitasi dan guru juga ikut workshop sekolah juga yang biayai walaupun ya secara online”.

Peneliti menanyakan apakah proses pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri pembina Tingkat Provinsi Sumut berjalan lancar. Beliau menjelaskan sebagai berikut:

“Proses belajar jarak jauh lumayan lancar dengan kerja sama antara sekolah, guru dan orangtua tapi ada memang masalah selama daring dek”.

Kemudian peneliti menanyakan terkait hambatan apa saja ketika pelaksanaan pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Hambatannya pasti ada dek, seperti orangtua siswa tidak mempunyai Handphone jadi kan komunikasi sama guru atau wali kelasnya terhambat, ada juga orangtuanya yang tidak mengerti pelajaran dari guru atau orangtuanya sibuk”.

Peneliti menanyakan respon orangtua siswa ketika harus menerapkann pembelajaran jarak jauh di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut. Beliau pun menuturkan sebagai berikut:

“Kalau responnya mau gimana lagi ya dek ya memang walaupun ada orangtua siswa yang mengeluh, sering minta belajar tatap muka tapi harus kita terapin sesuai kebijakan berlaku. Karena kan orangtua ini susah untuk membuat anak patuh untuk belajar ketika dirumah. Kemudian orangtua siswa yang tidak mengerti dari pelajaran untuk diajarkan pada anaknya”

Selanjutnya peneliti bertanya mengenai perubahan yang terjadi sebelum dan setelah adanya kebijakan pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Perubahannya banyak ya dek seperti waktu sebelum pandemi anak di sekolah bisa bermain dengan temannya kalau sekarang sudah jarang ketemu, kalaupun ketemu Cuma ketika mengambil lembar tugas saja. Jadi kalau sekarang peran guru digantikan orangtuanya di rumah.”

Peneliti kemudian bertanya mengenai keluhan orangtua terhadap sekolah terkait prose pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“orangtuanya banyak yang mengeluh pengin cepat-cepat belajar tatap muka segera, tapi Kota Medan masih PPKM Level 4 makanya kita juga belum bisa buat tatap muka dek.”

Peneliti menanyakan standar penilaian khusus kepada siswa disabilitas terutama siswa tunarungu. Belaiu menuturkan sebagai berikut:

“kalau kita kan karna SLB tidak berpatok pada nilai berdasarkan angka dek, kita menilai siswa untuk keseluruhan ketunaan melalui 4 aspek yaitu sikap, moral, keterampilan, kemandirian. Standar 4 aspek itu disesuaikan aja dengan keadaan selama pandemi, misalnya kemandirian nanti buat video siswa mencuci tangan lalu dikirim ke Whatsaap Grup kelasnya .”

5.1.2 Informan Utama I

Nama : Putri Salsabila Nugraha S, Pd Umur : 23 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam

Alamat : Jl.Budi Luhur No.176

Pendidikan Terakhir : S1-Pendidikan Luar Biasa Univ.Negeri Padang Pekerjaan : Guru / Wali Kelas IIIB Tunarungu SD

Informan utama pertama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Putri selaku Wali Kelas IIIB Tunarungu tingkat SD. Ibu Putri yang sudah menjadi guru atau wali kelas sudah berjuang selama 3 bulan di SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumut membimbing anak dalam pembelajaran jarak jauh. Peneliti menanyakan cara beliau mengajar secara daring. Beliau pun menuturkan sebagai berikut:

“Caranya memang berbeda dari mengajar seperti biasa, karna ini daring jadi komunikasi belajar lewat WhatsApp kemudian siswa disuruh buat

video. Kalau untuk menjelaskan lewat ketikan di WA Grup terus nanti ada anjuran untuk orangtua agar perhatiin anak belajar.”

Penulis kemudian bertanya Aplikasi apa yang digunakan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Kami Cuma pakai WhatsApp Grup aja dek. Karna kalau pake zoom atau media lain takutnya orangtuanya tidak mengerti.

Penulis menanyakan kapan proses pembelejaran jarak jauh berlangsung.

Beliau kemudian menuturkan sebagai berikut:

“Misalnya daring itu mulai dari jam 08.00 WIB pagi, kalau untuk mengirimkan tugas video 2 sampai 3 kali seminggu.

Peneliti menanyakan persiapan apa yang dilakukan siswa untuk mengikuti pembelajaran. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“kalau kakak suruh buat video harus pake seragam sekolah dek,.”

Peneliti menanyakan mekanisme absensi dalam pembelajaran jarak jauh.

Beliau kemudian menuturkan sebagai berikut:

“kalau untuk absen kakak cuma liat dari tugas. Hari ini kakak kasih tugas kalau siswa sudah ngerjain berarti dianggap hadir. Soalnya ada juga anak yang tidak aktif dek. Tidak tau entah ganti nomor WhtasApp atau bagaimana.”

Peneliti menanyakan sistem penilaian dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Nilai itu diliat dari kerapian, sikap, ketepatan waktu pengiriman tugas, dan keterampilan. Jadi kita tidak berpatok angka dek.”

Peneliti menanyakan mekanisme pembinaan siswa tunarungu pada pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Fleksibel aja terhadap orangtua siswa. Kakak tidak terlalu memberatkan siswa dengan banyak tugas dalam satu waktu, waktu pengerjaan tugas pun tidak memburu siswa karna ngerti juga orangtuanya kansibuk dek.”

Peneliti menanyakan program remidi bagi siswa tunarungu selama pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan:

“Remidi ketika ujian saja dek, kalau tgas harian tidak ada. Remidi juga kita buat tidak yang begitu sulit.”

Peneliti menanyakan tanggapan guru ketika siswa belum memahami materi yang disampaikan. Beliau menuturkan sebegai berikut:

“sebelum PPKM berlaku biasanya kalau memang tidak mengerti dan orangtua siswa pun tidak mengerti kami anjurkan datang ke sekolah, buat janji temu untuk menjelaskan materinya dek.”

Peneliti kemudian menanyakan tanggapan beliau tentang peran orangtua selama pembelajaran jarak jauh terhadap anak tunarungu. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Sudah sepatutnya seharusnya begitu dek, jadi orangtua bisa lebih dekat dengan anak. Tapi pastinya orangtua yang sibuk bekerja susah juga untuk dampingi anaknya belajar, harapannya orangtua lebih memperhatikan anak lagi ke depannya walaupun pandemi begini tetap harus semangat mengajari anak.”

5.1.3 Informan Utama II Nama : Naina Tullaila Umur : 45 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam

Alamat : Jl.Musyawarah E Saentis, Percut Sei Tuan Pendidikan terakhir : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga & Wiraswasta

Informan utama kedua yang peneliti wawancarai adalah Ibu Laila. Ibu Laila merupakan ibu rumah tangga yang mempunyai 4 orang anak. Anak keempat yang berkebutuhan khusus (tunarungu). Selain mengurus rumah tangga ibu Laila

juga berjualan sarapan pagi di depan rumah. Peneliti mulai mengajukan pertanyaan terkait kegiatan beliau selama pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Ibu di sela-sela jualan sarapan mengawasi anak belajar,mendampingi anak, liat grup WhatsApp kelas Aqila kalau ada tugas ibu panggil dia ngerjain.”

Peneliti menanyakan pendampingan anak selama proses pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Iya, ibu dampingi kalau belajar, biasanya Aqila datang ke depan (tempat jualan) sambil bawa lembar tugasnya.”

Peneliti menanyakan fasilitas yang menunjang proses belajar anak. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Ibu kasih megang Handphone, kadang paket dari sekolahnya habis dibeliin paket data baru sama ayahnya. Alat tulis juga dibeliin”

Peneliti menanyakan tingkat keparahan ketunarunguan anak kepada belaiu. Kemudian beliau menuturkan sebagai berikut:

“Aqila ini mulai dari awal masuk ke SLB udah di tes guru yang distu, kalau Aqila katanya udah parah, saraf pendengarannya udah putus sama sekali. Jadi bisa dibilang dia la yang paling parah di kelasnya.”

Peneliti menanyakan apakah anak memakai alat bantu dengar dalam proses pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“karna Aqila udah parah jadi kalau mau pake alat bantu dengar udah tidak bisa sama sekal, jadi percuma kalau mau pakai.”

Peneliti menanyakan yang dilakukan orangtua ketika anak tunarungu mengalami masalah teknologi dalam pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Ibu ajarin setidaknya yang ibu tahu kalau enggak paling nanti tanya sama kakak atau abangnya ini gimana buatnya (video), tapi kalau masalah Handphone dia bisa kok, enggak kesulitan sama sekali.”

Peneliti menanyakan yang dilakukan orangtua ketika anak kesulitan memahami materi pelajaran dari guru. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Ibu buat nanti permainan sesuai pelajaran itu terus dimotivasi dia biar tetap dikerjain tugasnya. Karna enggak terlalu pasih menggunakan bahasa isyarat jadi secara vokal aja di ajarin, dia juga niruin nanti.”

Peneliti menanyakan rasa bosan anak ketika pembelajaran jarak jauh selama pandemi. Beliau kemudian menuturkan sebagai berikut:

“kalau megang Handphone kayaknya dia enggak bosan, habis belajar nonton youtube, tiktok.”

Peneliti menanyakan kesulitan orangtua dalam mengajari dan mendampingi anak tunarungu belajar. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Ibu susah kalau mempraktekkan yang gurunya kirim jadi semampunya aja di kasih tau secara vokal.”

Peneliti menenyakan metode khusus dalam mengajari anak tunarungu dirumah. Belaiu menuturkan sebagai berikut:

“Cara lain ibu cuma kasih tunjuk benda aja kalau memang yang dimateri pelajaran ada objeknya disekitar lingkungan.”.

Peneliti kemudian bertanya apakah kesulitan dalam memahami materi yang anak belum pahami. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Iya, ibu enggak tau kadang gimana cara menyampaikan sama Aqila, kalau emang enggak ngerti ibu tanya lagi sama gurunya.”

Peneliti menanyakan perubahan anak selama pandemi terkhususnya setelah berlaku pembelajaran jarak jauh. Beliau menuturkan sebagai berikut:

“Aqila kebanyakan main Handphone, main sama kawannya yang dekat rumah. Kalau belajar harus inisiatif dia sendiri. Sudah mau dekat hari pengumpulan tugas dia cepat itu ngerjain tugasnya.”

Peneliti kemudian mennayakan perubahan nilai akademik anak setelah berlakunya pembelajaran jarak jauh. Beliau pun menuturkan sebagai berikut:

“Nilai dia dilihat dari raport meningkat dari semester sebekum adanya corona. Dia tunggu kawannya dulu mengirim tugas di WhatsApp baru dia semangat ngerjain tugasnya.”

Peneliti menanyakan tentang bantuan dari sekolah selama pembelajaran jarak jauh berlangsung. Beliau pun menuturkan sebagai berikut:

“Tahun lalu sebelum pandemi tiap masuk ajaran baru dapat bantuan Rp.700.000,- tapi sekarang setelah pandemi tidak ada. Bantuan Cuma kuota internet.”

5.1.4 Informan Utama III Nama : Yuyun Yunengsih Umur : 38 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Jenis Kelamin : Perempuan