BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.2 Kajian Pustaka
2.2.5 Bimbingan dan Konseling
2.2.5.6 Komunikasi Antarpribadi dalam Bimbingan dan Konseling
Dalam rangka pelayanan bimbingan terjadi interaksi antara tenaga pembimbing dengan siswa yang dibimbing. Interaksi itu bersifat manusiawi dan memiliki ciri-ciri khas. Interaksi manusiawi itu berlandaskan komunikasi antar sesama manusia, baik dalam bimbingan yang dilakukan secara individual, maupun yang diberikan secara kelompok. Komunikasi ini pada dasarnya komunikasi antarpribadi. Supaya komunikasi antarpribadi berlangsung secara efisien dan efektif, para partisipan membutuhkan bekal dasar keterampilan berkomunikasi (communication skills). Meskipun konseli biasanya tidak mahir dalam menggunakan keterampilan melancarkan komnikasi, namun dia berperan sebagai partisipan aktif dalam suatu proses komunikasi antarpribadi yang efektif dan efisien. Partisipan kedua adalah konselor, yang lebih mahir dalam menggunakan keterampilan pelancaran arus komunikasi dan dengan demikian mengangkat pertemuan pribadi menjadi proses komunikasi antarpribadi yang efektif dan efisien (Winkel & Hastuti, 2006:240).
Komunikasi antarpribadi pada tenaga bimbingan di sekolah dengan siswa dan mahasiswa yang dibimbing, menopang pertumbuhan budi serta perkembangan sosial orang yang dibimbing, membantu untuk membentuk identitas diri yang utuh serta menemukan dirinya sebagai orang pribadi, menolong orang itu untuk berpijak pada kenyataan dalm diri sendiri dan dalam lingkungan hidupnya, serta menunjang kesehatan mentalnya sejauh orang itu tidak akan merasa kesepian dan diasingkan dari komunikasi antarmanusia (Winkel &
Hastuti, 2006:241).
Untuk memulai, mengembangkan, dan memelihara komunikasi antarpribadi yang cukup hangat dan produktif, dibutuhkan beberapa kemampuan dasar, yaitu kemampuan untuk saling mempercayai dan saling memahami mengenai pikiran dan perasaan yang terungkapkan, kemampuan untuk saling menguarakan dan menangkap gagasan dan perasaan secara tepat dan jelas, kemampuan untuk saling membantu dalam menanggapi masalah-masalah yang haarus dihadapi serta saling memberikan dukungan, serta kemmapuan untuk menjaga kelestarian komunikasi yang sudah terjalin dan memecahkan secara konstruktif berbagai persoalan yang mungkin timbul selama pross komunikasi berlangsung. Kalaupun konseli belum memiliki kemampuan tersebut, namun konselor harus memiliki semuanya dan menunjukkan kemahiran secara konkret dalam perilakunya membantu konseli untuk mengembangkan/ menghayati kemampuan itu, sejauh yang diperlukan untuk menjamin keberhasilan wawancara konseling (Winkel & Hastuti, 2006:241).
Komunikasi antara dua pribadi memiliki tujuh unsur dasar (Winkel &
Hastuti, 2006:242), yaitu:
1. Segala maksud gagasan, pikiran, dan perasaan spesifik yang terdapat dalam batin pengirim serta bentuk tingkah laku yang dipilih (verbal atau nonverbal), merupakan langkah awal bagi pengiriman suatu pesan yang bermakna.
2. Kodifikasi oleh pengirim: maksud gagasan serta perasaan diubah ke dalam bentuk pesan atau berita yang dapat dikirmkan melalui lambang verbal dan nonverbal.
3. Pesan dikirimkan melalui saluran yang dianggap sesuai, saluran verbal bila digunakan kata-kata dan saluran nonverbal bila digunakan isyarat-isyarat.
4. Dekodifikasi oleh penerima: rangsangan yang diterima melalui kata-kata yang di dengar atau aneka isyarat yang ditangkap, diartikan untuk mengambil makna pesan yang telah dikirimkan.
5. Tanggapan batin oleh penerima: terhadap makna pesan yang diterima diberi suatu reaksi batin yang menghasilkan gagasan, perasaan, dan maksud tertentu.
6. Segala maksud gagasan, pikiran, dan perasaan spesifik yang terdapat dalam batin penerima serta bentuk tingkah laku yang dipilih (verbal atau nonverbal) merupakan tanggapan untuk dikirimkan sebagai pesan yang bermakna dan sekaligus menjadi langkah awal pengiriman pesan tersebut.
7. Hambatan (noise) dalam keeenam unsur di atas, yaiyu hal-hal yang mengganggu interaksi dan mempersulit proses komunikasi antarpribadi.
Hambatan dalam saluran adalah kegaduhan di dalam atau di luar ruan pertemuan dan cara bicara yang gagap.
Selama konseli dan konselor berinteraksi, mereka saling membuka diri (self disclosure), yaitu menyampaikan gagasan dan perasaan yang terkandung dalam batin masing-masing. Namun kemampuan membuka diri berkaitan erat dengan kesadaran tentang diri sendiri (self awareness). Di pihak konselor kesadaran diri menyangkut pikiran dan perasaannya yang berhubungan dengan tingkah laku konseli, baik verbal maupun non verbal. Di pihak konseli kesadaran diri menyangkut isi batinnya sendiri, dalam hal ini konseli mungkin sekali mengalami kesulitan karena dia tidak bisa refleksi diri dan baru berbuat demikian selama proses konseling. Untuk itu, konseli dapat dibantu dengan pemantulan oleh konselor tentang bagaimana dia menangkap serta menafsirkan perasaan, sikap, gagasan dan maksud batin yang terungkap (Winkel & Hastuti, 2006:244).
Oleh karena itu, konselor itu harus mahir dalam memberikan pemantulan secara konstruktif, sehingga konseli dibantu untuk mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik. Pemantulan yang baik tidak mengancam dan tidak membuat konseli bersikap defensif, dan mempunyai ciri (Winkel & Hastuti, 2006:245), sebagai berikut:
1. Diarahkan pada perilaku, gagasan, dan perasaan dalam bentuk suatu deskripsi yang subyektif mungkin tanpa disertai penilaian yang bernada mengadili dan tidak diarahkan pada kepribadian konseli.
2. Dikaitkan pada sesuatu yang spesifik dan tidak bernada serba abstrak dan umum.
3. Biberikan dalam bentuk upaya berbagi gagasan dan perasaan, bukan dalam bentuk nasihat yang berharga murah.
4. Diabdikan pada kebutuhan konseli yang dapat memanfaatkan pemantulan bagi pengenalan diri yang lebih dalam, bukan pada kebutuhan dan kemauan konselor.
Pelayanan oleh konselor di institusi pendidikan terlaksana dalam interaksi pribadi dan komunikasi antarpribadi yang bercorak membantu dan dibantu (helping relationship), yang berlangsung secara formal dan dikelola secara profesional. Ciri-ciri dari hubungan antarpribadi yang demikian adalah (Winkel &
Hastuti, 2006:346) sebagai berikut:
1. Bermakna, baik untuk konselor maupun konseli, karena kedua belah pihak melibatkan diri sepenuhnya.
2. Mengandung aneka unsur kognitif dan afektif, karena konselor dan konseli berfikir bersama serta alam perasaan konseli sepenuhnya diakui dan ikut dihayati oleh konselor.
3. Berdasarkan saling kepercayaan dan saling keterbukaan. Kedua partisipan saling mengandalkan sebagai pribadi yang berkehendak baik.
4. Berlangsung atas dasar saling memberikan persetujuan, dalam arti konseli menyetujui terjadinya komunikasi secara sukarela dan konselor menerima dengan rela permintaan untuk memberikan bantuan profesional.
5. Terdapat suatu kebutuhan di pihak konseli, yang diharapkannya dapat dipenuhi melalui wawancara konseling. Di pihak konselor kebutuhan itu disadari dan diakui termasuk lingkup keahliannya untuk berusaha memenuhinya.
6. Terdapat komunikasi dua arah, dalam arti konselor dan konseli saling menyampaikan pesan atau saling mengirimkan berita, baik melalui saluran verbal maupun saluran nonverbal. Pesan atau berita ini saling ditanggapi.
7. Mengandung strukturalisasi, dalam arti komunikasi tidak berlangsung ala kadarnya. Dalam hal ini konselor memikul porsi yang lebih besar, supaya komunikasi terarah, paling sedikit semua reaksi konselor mengikuti ungkapan pikiran dan perasaan konseli.
8. Berasaskan kerelaan dan usaha untuk bekerja sama agar tercapai suatu tujuan yang disepakati bersama.
9. Mengarah ke suatu perubahan pada diri konseli, perubahan itu adalah tujuan yang hendak dicapai bersama. Melalui komunikasi antarpribadi diharapkan konseli akan berubah sikap, berubah pandangan, dan berubah dalam mengambil tindakan, dibanding dengan saat sebelum proses konseling dimulai.
10. Terdapat jaminan bahwa kedua partisipan merasa aman, dalam arti konseli dapat yakin akan keikhlasan konselor sehingga keterbukaannya tidak akan disalahgunakan olehnya.