BAB 7 ADVOKASI 145
F. Komunikasi dalam Advokasi
Uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa advokasi adalah berkomunikasi dengan para pengambil keputusan atau penentu kebijakan. Oleh sebab itu, advokasi disektor kesehat an adalah komunikasi antara para pejabat atau petugas kese hat an di semua tingkat dan tatanan dengan para penentu ke bi jakan ditingkat atau tatanan tersebut. Dengan demikian, ma ka sasaran komunikasi atau komunikannya secara struktu ral lebih tinggi daripada komunikator, atau paling tidak yang se tingkat. Dengan perkataan lain arah komunikasinya adalah ver tikal adalah berat pada komunikasi interpersonal (interper
sonal communication).
Keberhasilan komunikasi interpersonal dalam advokasi sa ngat ditentukan oleh efektivitas komunikasi para petugas kesehatan dengan para pembuat atau penentu kebijakan ter se but. Selanjutnya untuk menghasilkan komunikasi yang efek tif diperlukan prakondisi antara lain:
1. Atraksi Interpersonal
Atraksi interpersonal adalah daya tarik seseorang atau si kap positif pada seseorang yang memudahkan orang lain un tuk berhubungan atau berkomunikasi dengannya. Para pe tu gas kesehatan di semua tingkat dan tatanan, teruta ma para pe jabatnya sebagai seorang komunikator dituntut mempunyai daya atraksi interpersonal ini. Atraksi inter personal ini di tentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Daya tarik
Tiap orang memang mempunyai daya tarik yang ber beda satu sama lain. Daya tarik ini sangat ditentukan oleh sikap dan perilaku orang terhadap orang lain. Oleh sebab itu, da ya tarik pun dapat dipelajari misal nya dengan membiasa kan senyum kepada setiap orang, berpikir positif terhadap orang lain, dan me nempatkan diri lebih rendah dari orang lain, meski pun mempunyai kedudukan yang sama, bahkan le bih tinggi.
b. Percaya diri bukan berarti sombong, melainkan sua tu pe rasaan bahwa ia mempunyai kemampuan atau meng ua sai ilmu atau pengalaman di bidangnya. Oleh sebab itu, agar percaya diri ia harus mendalami pe nge tahuan teo re tis dan memperoleh pengalaman la pang an tentang bi dang nya terutama program yang akan dikomunikasikan ter sebut.
c Kemampuan
Hal ini berkaitan dengan percaya diri. Orang yang mam pu melakukan tugastugasnya, ia akan lebih per caya diri. Seorang kepala dinas kesehatan kabupa ten akan efektif berkomunikasi dengan bupati atau peja bat yang lain apabila telah menunjukkan prestasinya da lam menanggula ngi masalahmasalah kesehatan di wilayahnya.
d. Familiar
Petugas kesehatan yang sering muncul atau hadir da lam event tertentu, misalnya rapat, pertemuan infor mal, se mi nar dan sebagainya, akan lebih familiar, ter masuk dikalangan pemda setempat dan bupati. Oleh sebab itu, apa bi la akan melakukan lobying, atau so wan dalam rangka advokasi akan mudah diterima, daripada pejabat yang ja rang muncul dipertemu an pertemuan tersebut.
Menjalin hubungan baik atau kekeluargaan dengan para pejabat atau kekeluargaan dengan para pejabat atau ke luarga pejabat setempat adalah faktor yang penting untuk melakukan advokasi. Komunikasi in terpersonal akan le bih efektif bila dilakukan dengan orangorang yang dekat dengan kita.
2. Perhatian
Sasaran komunikasi (komunikan) dalam advokasi adalah para pembuat keputusan atau penentu kebijakan. Para pem buat atau penentu kebijakan di semua tingkat dan tatanan, secara struktural lebih tinggi atau yang sedera jat dengan pe tugas/pejabat kesehatan pada lingkup atau tatanan yang sama. Seperti telah disebutkan di atas tu juan utama advokasi adalah memperoleh komitmen atau dukungan kebijakan dari para pembuat keputusan. Untuk memberikan komitmen dan dukungan terhadap sesuatu pertama kali ia harus mempunyai perhatian terhadap se suatu tersebut.
Berdasarkan teori psikologis ada dua faktor yang meme ngaruhi perhatian seseorang, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ber asal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal terdiri dari faktor biologis (biologis, seks). Dan faktor sosiopsiko logis (pengetahu an, sikap, motivasi, kebiasaan, kemauan, kebutuhan, dan se ba gainya). Oleh sebab itu, apabila kita akan melakukan advo kasi atau berkomunikasi dengan pa ra pejabat tersebut kita harus melaluinya dengan halhal yang berkaitan dengan minat, kebiasaan, atau kebutuh an mereka. Kebutuhan seorang pejabat pada umumnya te lah sampai pada taraf kebutuhan yang pa ling tinggi, yakni aktualisasi diri (Abraham Maslow). Maka dengan mem berikan dukungan terhadap sektor kesehatan, yang akan berdampak terhadap prestasi atau keberhasilan pem bangun an di wilayahnya, dan akhirnya memperoleh
peng hargaan ada lah merupakan salah satu bentuk aktua lisasi diri.
3. Intensitas Komunikasi
Pesan atau informasi yang akan disampaikan melalui pro ses komunikasi advokasi adalah programprogram kese hatan yang akan dimintakan komitmen atau dukung annya dari para pembuat keputusan tersebut. Dalam komunikasi, pesan adalah faktor eksternal yang menarik perhatian komunikan (penerima pesan). Halhal yang me narik bia sanya adalah sesuatu yang mempunyai sifat me nonjol atau lain daripada yang lain. Pesan akan bersifat me nonjol atau lain daripada yang lain bila intensitasnya tinggi, dan diulang–ulang. Oleh sebab itu, agar komunikasi advokasi efektif, maka program yang ingin didukung oleh pejabat, harus sering dikomunikasikan melalui berba gai kesem patan atau pertemuan, baik pertemuan formal mau pun informal, melalui seminar, dan sebagainya. 4. Visualisasi
Seperti telah disebutkan di atas, untuk memperoleh perha tian dari para pembuat atau penentu kebijakan, maka pe sanpesan atau programprogram kesehatan yang kita tawarkan harus mempunyai intensitas tinggi. Di sam ping itu informasi atau pesan yang menarik perlu divisualisasi kan dalam media, khususnya media interpersonal. Media interpersonal yang paling efektif dalam rangka komunika si advokasi adalah flip chart, booklet, slide atau video cas
sate. Pesan tersebut didasari faktafakta yang diilustrasi
kan me lalui grafik, tabel, gambar atau foto.