• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA

4. Komunikasi Informal

Komunikasi informal cenderung mengandung laporan rahasia dari orang-orang dan peristiwa yang tidak mengalir melalui saluran perusahaan yang formal. Informasi yang diperoleh lebih memperhatikan apa yang dikatakan atau didengar oleh seseorang dari pada apa yang dikeluarkan oleh pemegang kekuasaan. Paling tidak sumbernya terlihat rahasia meskipun informasi itu sendiri bukan rahasia.72

Informasi dalam komunikasi informal dibintal timbul melalui rantai kerumunan dimana seseorang menerima informasi dan diteruskan kepada seseorang atau lebih seterusnya, sehingga informasi tersebut tersebar ke berbagai kalangan. Implikasinya adalah kebenaran informasi tersebut menjadi jelas atau kabur. Meski demikian, komunikasi informal disini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial, mempengaruhi orang lain, dan mengatasi permasalahan pribadi sehingga kelambatan dalam komunikasi formal yang biasanya cenderung kaku dan harus melampaui

72

berbagai jalur terlebih dahulu bisa diatasi dengan cara mengadakan pertemuan, ini adalah salah satu media komunikasi secara langsung dan dapat dilakukan secara formal maupun informal dalam membahas apa pun. Pertemuan formal adalah pertemuan yang sudah diatur acara, tempat, serta waktu. Sedangkan pertemuan informal biasanya disebut dengan rapat.dan konsultasi. hal di atas sesuai dengan yang disampaikan Ka. Bintal :

“Jika ada permasalah langsung saja disampaikan kemudian kita akan adakan pertemuan dan langsung kita cari solusinya, jadi langsung disampaikan agar miss komunikasi baik dilapangan maupun di dalam bintal tidak mengganggu kinerja anggota. misalnya didalam lingkungan Bintal ada anggota yang mau NCR (Nikah, Cerai, Rujuk) atau dilapangan pak ini kurang ini dan itu penceramahnya mendadak tidak hadir dll, kita cari solusinya sebab disini bintal adalah sebagai bengkel bagi warga TNI AU Lanud Atang Sendjaja dalam memecahkan segala bentuk permasalahan yang sifatnya kerohanian dan pembinaan mental prajurit sendiri”

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi informal merupakan media pendukung terjadinya komunikasi internal dibintal. Komunikasi informal dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan sosial, mempengaruhi orang lain, dan mengatasi permasalahan pribadi sehingga kelambatan dalam komunikasi formal dapat diatasi. seperti membahas masalah di setiap bidang, mengevaluasi hasil kerja para anggotanya, memberi motivasi dan konsultasi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka pada bab ini peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut :

 Pola Komunikasi organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi

 Komunikasi Informal dalam organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja anggota.

A. Pola Komunikasi

Dari beberapa kesimpulan penelitian, pola komunikasi yang digunakan di Bintal adalah Pola Komunikasi Roda dan Rantai. Pada pola roda pemimpin menjadi fokus Perhatian, ia dapat berhubungan dengan semua anggota kelompok dan menjadi badan pengawas suatu kegiatan, sedangkan dalam teknis pelaksanaan kegiatannya sedikit mengadopsi pola rantai dalam hal ini, ketika A dapat berkomunikasi dengan B, B dapat berkomunikasi dengan C, C dapat berkomunikasi dengan D, dan seterusnya namun tetap dalam pengawasan pimpinan. Kedua pola tersebut cukup efektif digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Bintal. Hal ini terlihat dari adanya komunikasi yang terjalin secara dua arah (komunikan-komunikator, komunikator-komunikan) dalam segala hal yang berhubungan dengan kegiatan kedinasan maupun kemasyarakatan. Kemudian menimbulkan adanya feedback dan efek baik berupa pertukaran infromasi, perubahan perilaku anggota, adanya semangat

kelompok yang tinggi, hubungan interpersonal yang akbrab, kesetiakawanan

dan perasaan “kita” yang dalam, perkataan, kepatuhan, dan pengetahuan

wawasan keagamaan hingga pelaksanaan ibadahnya.

Adapun aliran komunikasi yang tejalin di Bintal adalah aliran ke bawah, komunikasi ke atas, komunikasi horizontal dan komunikasi informal.

1. Komunikasi Vertikal ke Bawah dilakukan untuk penyampaian- penyampaian informasi berupa insturksi menyangkut berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan dan tugas-tugas pokok serta fungsi dari masing- masing sub bidang, dengan melalui apel, pengumuman dan tatap muka, selain instruksi, informasi mengenai tugas dan kegiatan anggota juga disampaikan dengan diadakannya briefing kemudian evaluasi rutin sebelum dan sesudah kegiatan.

2. Komunikasi vertikal ke Atas di bintal dilandasi dengan rasa saling menghormati saling terbuka dan adanya kesadaran pentingnya berkomunikasi antara kedua anggota dengan tingkat jabatan berbeda sehingga pimpinan dapat melihat kualitas kinerja bawahannya dan hal tersebut merupakan salah satu penunjang efektifitas suatu kegiatan. Semua elemen dilibatkan untuk saling berbagi saran dan masukan komunikasi agar tercipta partisipasi anggota dalam proses pelaksaan kegiatan serta tugas-tugas yang akan dilaksanakan.

3. Komunikasi Informal biasa terjadi pada saat jam kerja atau waktu-waktu istirahat untuk memenuhi kebutuhan sosial, mempengaruhi orang lain, dan mengatasi permasalahan pribadi sehingga kelambatan dalam komunikasi

formal dapat diatasi. seperti membahas masalah di setiap bidang, mengevaluasi hasil kerja para anggotanya, memberi motivasi dan konsultasi.

A. Saran

Dari kesimpulan diatas, maka ada beberapa saran yang disampaikan agar dapat dijadikan bahan pertimbangan serta evaluasi terhadap pola komunikasi organisasi Bintal TNI AU Lanud Atang Sendjaja Bogor: 1. Pertahankan Pola komunikasi organisasi yang sudah di lakukan cukup

baik oleh Bintal, sebab dilihat dari alur frekuensi pertemuan yang hampir setiap hari dan adanya berbagai konsultasi serta dialog antar anggota membuat komunikasi organisasi hampir tidak menemukan hambatan-hambatan yang berarti.

2. Saran berikutnya adalah Bintal perlu meningkatkan bentuk penghargaan kepada anggota atau staffnya yang telah menunjukkan prestasinya dalam bekerja, berdasarkan penelitian terlihat bahwa nilai dari penghargaan reward masih harus diperlukan untuk memotivasi, meningkatkan performa kinerja dan mutu kualitas para anggota atau staff serta mencapai komitmen organisasi sesuai visi misi Bintal.

DAFTAR PUSTAKA

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandaung :Rosdakarya, 2007),

Roudhonah, Ilmu Komunikasi, Jakarta: UIN Press, 2007,

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta :Kencana, 2006), Cet Ke-1. h 254

Djamaludin Abidin ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, (Jakarta:Gema Insani Press

1996),

R Wayne Pace dan Don F. Faules, Komunikasi Organisasi,(Bandung Rosdakarya,

2006),

Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Realition dan Komunikasi (Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 2006,

Stewart Silvia Moss, 2001, Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi, PT

Remaja Rosadakarya, Bandung

YS. Gunadi, Himpunan Istilah Komunkasi (Jakarta :Gramedia, 1998),

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,

2008)

Arni Muhamad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995)

H.A.W Widjaya, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi Aksara,

1997)

Y.S Gunadi, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: Gramedia, 1998) h. 71 Effendi,

Dinamika Komunikasi

Onong Uchana, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya,2002),

Lppsm, Fungsi Organisasi, Artikel diakses pada tanggal 1 oktober 2010 dari www.lppsm.co.id

R Wayne Pace dan Don F. Faules, Komunikasi Organisasi, (Bandung: Rosdakarya,

2006)

Soleh Soemiratm dkk, Komunikasi Organisasional, (Jakarta, Universitas Terbuka,

2000), Modul Kuliah

Abdullah Masmuh, Komunikasi Organisasi dalam Perspektif Teori dan Praktek

(Malang: UMM Press, 2008)

Abdullah Masmuh, Komunikasi Dalam Perspektif Teori dan Praktek, (Malang; UMM

Press, 2008)

Keith Davis & Jhon W. Newstrom, Perilaku dalam Organisasi ( Jakarta: Erlangga, 1985)

Burhan Bungis, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana Perdana Media Group, 2007)

Stephen P. Robbins, Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 2002)

Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001)

Masdar Helmi, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, (semarang: Toha Putra, 1973)

Ahmad Tanzeh, Pengantar medote Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009) Zakyiah Derajat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental, (Jakarta:

Bulan Bintang, 1982)

Departemen Han-Kam RI, Buku petunjuk Pelaksanaan Pola Dasar Pembinaan Mental ABRI, (Bogor, Pentak Laund Atang Sendjaja 1998)

Nama : Letkol. Sus Makhin S.Ag, M.Sc

Jabatan : Kepala Bintal TNI AU Lanud Atang Sendjaja Tempat : Kantor Bintal

Tanggal : 18 September 2015 1. Apa yang dimaksud dengan Bintal?

“Bintal adalah Pembinaan Mental yang mana tugasnya adalah membina, membentuk dan mengisi jiwa kejuangan sebagai insan pancasila yang teguh, peka dan ulet. Mewujudkan jiwa persatuan dan kesatuan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Y.M.E Sehingga menjadikan prajurit yang taat, dan menunjukan budi pekerti baik. Di samping itu dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh pengabdian kapan, dimana, dan dalam keadaan apapun atau dengan kata lain terwujudnya warga TNI AU dan keluarganya yang taat dalam beribadah dalam ajaran agama sehingga terwujudnya perilaku atau sikap yang mencerminkan insan prajurit sesuai Sapta Marga, sumpah prajurit dan Delapan wajib TNI”

2. Mengapa diadakan bintal dilingkungan TNI AU?

Setiap prajurit wajib diberikan Pembinaan Mental sebab, Pembinaan mental itu pada hakekatnya adalah pembinaan manusia yang terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu Fisik, Intelektual, dan Mentalnya. (Fisik) yang sempurna belum tentu mencerminkan keluhuran dan kemuliaan seseorang sebagai manusia secara utuh. (Intelektual) merupakan unsur yang tidak langsung dapat di amati kualitasnya, kualitas intelektual di tentukan sejauh mana keluasan dunia ilmu pengetahuan dapat dikuasai, keterampilannya dalam memecahkan masalah yang dihadapi, kemampuan ini sifatnya abstrak dan tidak dibatasi oleh kondisi fisik yang dimilikinya. (Mental) unsur mental merupakan unsur yang sangat menentukan sebab mental merupakan pendorong, pengendali tingkah laku dan perbuatan manusia.

3. Menurut bapak, apakah komunikasi itu sangat diperlukan dalam sebuah organisasi?

“Komunikasi berkaitan dengan masalah bintal itu sangat berperan sekali baik dari atasan

ke bawahan atau bawahan ke atasan dan untuk sesamanya, karena apabila komunikasi yang terjalin baik maka semua hal yang berkaitan dengan tugas pokok akan berjalan baik pula. Dan orang bisa berdakwah retorikanya harus baik dan lancar, disamping itu materi agama juga harus menguasai apa-apa yang harus disampaikan ke pada audience, bagaimana audience itu bisa menerima materi sesuai dengan tahap tingkatan atau pendidikannya, dan kita memilah orang-orang yang mempunyai kredibilitas dan kualitas sebagai narasumber dibidang keagamaan tersebut baik itu orang Bintal sendiri maupun

kita undang tokoh masyarakat”

4. Bagaimana komunikasi yang terjalin di Bintal lanud atang sendjaja antara atasan kepada bawahan atau sebaliknya dan sesama karyawan?

Komunikasi disini sama seperti biasanya warga sipil, tetapi disini hirarki tentara lebih jelas kepangkatan berpengaruh. Organisasi Bintal TNI AU Lanud Atang Sendajaja secara

komunikasi dan pendapat sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat itu. 5. Apa saja yang dikomunikasikan antara pimpinan dengan bawahan?

“Sebagai atasan yang saya bicarakan berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat atau yang sedang akan dilaksanakan pada saat itu, seperti kita adakan briefing untuk setiap kegiatan yang akan kita rengiat baik itu mingguan, bulanan dan tahunan kemudian kontrol dan pengawasan. Dan tidak ada perbedaan semuanya bisa menberikan saran komunikasi terkait pelaksanaan kegiatan yang akan kita laksanakan. Jika ada kesalahan pada anggota saya maka saya wajib menegur dan memberi masukan agar kedepannya bisa lebih baik lagi”

6. Apa saja yang dikomunikasikan antara bawahan kepada pimpinan?

Mengenai tugas-tugas dan konseling misalnya, ada beberapa permasalahan baik pribadi, keluarga dan dikantor sendiri, kita bicarakan dan saya coba cari solusi terbaiknya”

7. Apa saja yang dikomunikasikan sesama anggota?

“Biasanya berkaitan dengan masalah koordinasi kerja atar anggota dalam melaksanakan tugas atau kegiatan secara bersama mengkoordinir semua aktivitas mereka”

8. Jika ingin berkomunikasi dengan atasan apakah melalui tahapan?

Jika hendak menghadap atasan secara administratif keorganisasian tentu ada tahapan yang harus dijalani sesuai yang sudah di tetapkan. Tetapi jika menghadapnya bersifat non formal bisa langsung bertemu.

9. Apakah ada jarak antara orang-orang yang memiliki otoritas lebih tinggi dengan karyawan/bawahannya?

Sebenarnya tidak ada jarak diantara pimpinan dan bawahan atau sebaliknya semua biasa saja, intinya saling menghargai dan menghormati, sama saja seperti di organisasi/instansinya manapun, hanya di TNI jika ada perintah dari atasan harus dilaksanakan tidak ada kata tidak.

10.Apa saja pembagian kerja berdasarkan divisi Bintal?

“Untuk menunjang kegiatan pembinaan mental diadakan pembinaan Rohani yang meliputi (Islam, Hindu Budha, Khatolik dan Protestan), pembinaan Bintra Juang, Mental Ideologi dan pelayanan-pelayanan konseling. Yang kesemuanya diutamakan tanpa terkecuali, dibuktikan dengan diperingatinya hari-hari besar agama dan hari-hari besar nasional”

11.Bagaimana struktur organisasi Bintal?

Struktur organisasi Bintal itu ada Ka Bintal, ada Tata Usaha dan Kesekretariatan kemudian ada Kasubsi BintraJuang dan Mental Ideologi, Kasubsi pembinaan Rohani Islam, Kasubsi pembinaan Rohani Hindu Budha, Kasubsi pembinaan Rohani Katholik dan Protestan lalu ada staff/anggota.

2. Melaksanakan peringatan hari-hari besar agama Islam, Hindu Budha, Katholik dan Protestan semua dilaksanakan seperti Ceramah agama, solat dhuha berjamaah, pengajian, dan itu kita laksanakan sesuai dengan sub seksi agamanya masing-masing. 3. Memperingati hari besar nasional dan hari jadi TNI. Kemudian kami adakan

pelayanan-pelayanan di Bintal antara lain,

a. Membantu melaksanakan Nikah, Rujuk, Cerai bagi seluruh anggota/prajurit TNI AU Lanud Atang Sendjaja,

b. Membantu melaksanakan Perawatan Jenazah bagi para anggota TNI AU Lanud Atang Sendjaja baik yang aktif maupun yang purnawirawan.

c. Bimbingan ibadah haji dan umroh.

d. Pengumpulan dan penyaluran zakat dan Konseling.

e. Setiap hari rabu lima agama melaksanakan ibadah bersamaan sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Khusus bagi yang muslim dilaksanakan solat dhuha berjamaah dan disitu diadakan cerah agama dan setiap dua bulan sekali diadakan pengajian bersama seluruh warga Bogor tempatnya di Masjid Ajnihatul Wathoni atau di Masjid Attaqwa Lanud Atang Sendjaja.

13.Materi apa saja yang disampaikan dalam kegiatan Bintal?

1. Materi Pembinaan Mental Rohani yang bersumber pada nilai-nilai dan ajaran Agama (Islam, Kristen Khatolik dan Protestant, Hindu dan Budha) Sesuai dengan sub seksi agamanya masing-masing dan sesuai dengan tingkat pemahaman prajurit. Masalah ketaqwaan, Iman Islam Ikhsan.

2. Materi Pembinaan Mental Ideologi yang bersumber pada nilai-nilai Ideologi Negara Pancasila.

3. Materi pembinaan Mental Tradisi Kejuangan yang bersumber pada nilai budaya dan tradisi keprajuritan bangsa Indonesia.

14.Faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dalam baik dalam kegiatan berkomunikasi atau dalam pelaksanaan kegiatan bintal?

“Setiap kegiatan pasti ada kekurangan dan kelebihan dan saya kira tidak ada kata penghambat di TNI Semua harus dilaksanakan apapun itu yang terjadi harus dilaksanakan. untuk sementara ini alhamdulillah belum ada hambatan yang berarti hanya masalah teknis saja misalnya, penceramahnya mendadak tidak bisa hadir, maka dengan segara saya ambil tindakan untuk segera mencari pengganti, begitupun di kantor masalah naik turunnya performa kinerja anggota itu biasa. Dan saya harus segera menyelesaikan dengan bijaksana. Sebab Perwira itu harus punya banyak solusi. Untuk faktor pendukungnya, kita semua terdukung oleh komandan dalam segala hal, kita memiliki sarana prasarana yang cukup baik untuk laksanakan kegiatan pembinaan, dan kita memiliki tenaga ahli yang cukup kredibel dalam bidangnya khusnya dalam bidang

keagamaan”

15.Bagaimana iklim organisasi di bintal?

“komunikasi organisasi tidak ada suasana, di Bintal itu sudah diatur dan sudah ditetapkan

oleh TNI AU sesuai dengan jenjang kepangkatan dan sudah di tetapkan untuk masing- masing anggota dalam melaksanakan tugas serta tanggungjawabnya secara profesional dan disiplin. kalo diluar tugas Bintal suasana komunikasi terjalin sangat baik sekali

“Jika ada permasalah langsung saja disampaikan kemudian kita akan adakan pertemuan

dan langsung kita cari solusinya, jadi langsung disampaikan agar miss komunikasi baik dilapangan maupun di dalam bintal tidak mengganggu kinerja anggota. misalnya didalam lingkungan Bintal ada anggota yang mau NCR (Nikah, Cerai, Rujuk) atau dilapangan pak ini kurang ini dan itu penceramahnya mendadak tidak hadir dll, kita cari solusinya sebab disini bintal adalah sebagai bengkel bagi warga TNI AU Lanud Atang Sendjaja dalam memecahkan segala bentuk permasalahan yang sifatnya kerohanian dan pembinaan

HASIL WAWANCARA Nama : Entin Sumartini

Jabatan : Kepala Staff Tata Usaha dan Kesekretariatan Bintal TNI AU Atang Sendjaja Tempat : Kantor Bintal Atang Sendjaja

Tanggal : 22 September 2015

1. Bagaimana komunikasi yang terjalin di Bintal lanud atang sendjaja?

Disini hirarki kepangkatan sangat berpengaruh tetapi walaupun begitu komunikasi di Bintal hampir tidak jauh berbeda layaknya orang-orang sipil misalnya, ketika ada saran- saran yang ingin disampaikan atau ingin berkosultasi kepada pimpinan apabila ada suatu permasalah baik dalam pekerjaan maupun keluarga bisa langsung menghadap, atau apabila tidak dengan pimpinan bisa dengan rekan-rekan di Bintal lainnya.

2. Jika ingin berkomunikasi dengan atasan apakah melalui tahapan? Apakah ada divisi khusus dalam penyampaian informasi?

Kalau di bintal tidak ada media atau divisi khusus, kalau saya dan anggota lain mau menghadap Ka. Bintal langsung saja keruangannya atau dari Ka. Bintal mau menyampaikan sesuatu ke anggotanya langsung saja tanpa melalui divisi khusus. Tapi kalo dari pusat komandan lanud ingin menyampaikan suatu info atau tugas-tugas perintah ke setiap kesatuan di Lanud Atang Sendjaja, misal dari lanud ke Bintal itu ada yang namanya Urdal (Urusan Dalam) yang berpangkat perwira sebagai penghubung komunikasi. medianya berupa surat perintah atau langsung melalui HT (Handly Talky), via telpon, yang sifatnya tugas-tugas/perintah, baru setelah itu nanti dari bapak Ka. Bintal menyampaikan langsung kepada kami.

3. Apa saja yang dikomunikasikan antara pimpinan dengan bawahan?

“Biasanya komunikasi yang disampaikan dari pimpinan hal-hal yang bersifat teknis, seperti teknis kegiatan. Yang biasa dikomunikasikan itu seperti jobdesk dalam bentuk

diskusi atau dialog.”

4. Apa saja yang dikomunikasikan antara bawahan kepada pimpinan?

“Komunikasi dari bawahan ke atasan selain laporan tugas biasanya lebih meminta saran, kalau anggota ada kendala, atau masalah yang butuh penyelesaian langsung datang dan bertanya ke atasa”

5. Apa saja yang dikomunikasikan sesama karyawan?

“Tergantung, kalau komunikasi ke sesama biasanya sekedar ngobrol-ngobrol biasa saja dan koordinasi masalah pekerjaan, terkadang di kerjaan itu kadang ada aja posisi yang jomblang (gak imbang) terus tugas menumpuk secara beriringan dengan divisi lain nah, itu harus dikomunikasikan biar tidak terhambat. Intinya kita saling mengcover aja”

6. Adakah hambatan yang terjadi dalam berkomunikasi? Jika ada, hambatan apa yang pernah dirasakan?

kadang selalu ada yang namanya kecemburuan sosial, dan tidak semua orang bisa bekerjasama dengan kita secara baik. Ada saja tipikal orang yang selalu melihat sebelah mata, dan selalu ada yang namanya sifat kecemburuan sosial, dari rekan yang baru di Bintal misalnya saya selalu mengajak kepada rekan-rekan yang baru “ayo ini yang baru kita belajar, memang seharusnya waktunya belajar karena masih pada muda jangan

melihat bapak ini bapak itu, sebab bapak ini atau itu sebentar lagi pensiun dll” karena

saya yang paling lama disini terkadang saya harus jadi penengah. Kadang juga kita yang lama harus mengalah. Yang namanya watak dan sifat memang beda-beda.

7. Media apa yang digunakan dalam menyampaikan informasi? Sarana untuk menyampaikan kritik?

Untuk media paling lebih dominan kita memakai kop surat aja, atau di umumkan dalam apelan, atau menggunan HT misalnya akan ada kegiatan langsung di umumkan. Untuk penyampain saran dan kritik tidak ada media khusus, langsung disampaikan saja.

8. Apakah ada rasa sungkan ketika bawahan ingin menyampaikan pesan kepada atasan? Jika ada lalu apa yang dilakukan untuk menghilangkan rasa sungkan tersebut?

Sekarang begini rasa sungkan itu tergantung dari kitanya, kadang atasan yang terbuka. Malahan waktu kita sedang apel bapak makin selalu bilang dan memberikan arahan jika ada hal yang tidak sesuai bawahan oleh menyampaikan langsung ke atasan sepahit apapun silahkan disampaikan, sebab beliau bilang itu semua demi kenyamanan kita juga. 9. Bagaimana iklim organisasi di bintal?

“dibintal itu suasananya cukup kekeluargaan seperti instansi pada umumnya, karena kekeluargaan itu adalah kekuatan bagaimana sebuah organisasi bisa bertahan dan lain sebagainya, jadi istilahnya kita memberikan contoh dari diri dan lingkungan kita dulu sebelum kita memberikan kepada warga Lanud Atang Sendjaja”

10.Faktor apa saja yang menjadi penghambat dan pendukung dalam baik dalam kegiatan berkomunikasi atau dalam pelaksanaan kegiatan bintal?

“kalau hambatannya pasti ada saja ya mas, mau di dalam bintal atau diluar bintal. Kalau didalam umpamanya, ada permasalahan teknis pada alat komunikasi kita, ada kerjaan numpuk ada yang nikah, cerai, dan rujuk. Acara keagamaan yang terjadi hampir bersamaan dll. Sementara orang yang ditugasin tidak ada atau mungkin sedang ada kerjaan diluar yang belum selesai, solusinya kita lapor atasan klo memang bisa di pending ya di pending nanti biar atasan yang selesaikan yang penting laporan dulu supaya tidak ada trouble.”

“Kalau di luar bintal misalnya pada waktu malam hari atau hari libur ada warga TNI AU Lanud Atang Sendjaja yang meninggal pasti anggota Bintal harus siap siaga menyiapkan semua untuk ngurusi jenazahnya dari mandiin sampai di makamin . Tentunya kita juga ikut berduka pastinya. tetapi hambatan itu hanya sekilas saja dan tidak berarti karena kami sudah biasa menghadapi situasi mendadak seperti itu.”

Foto bersama Ka. Bintal Letkol Sus Makhin. S.Ag, M.Sc Solat Dhuha dan sceramah agama Bintal di masjid AjnihatulWathoni Lanud Atang Sendjaja Bogor

Dokumen terkait