BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.3 Kajian Pustaka
2.3.2 Komunikasi Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi dengan kelompoknya. Dalam keluarga yang sesungguhnya, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina, sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam serta saling membutuhkan. Keluarga merupakan kelompok primer paling penting dalam masyarakat, yang terbentuk dari hubungan laki-laki dan perempuan, perhubungan ini yang paling sedikit berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Keluarga dalam bentuk yang murni merupakan kesatuan sosial yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. (dalam Steinberg, L & Silk, J.S.,2002).
Menurut Rae Sedwig (1985) komunikasi keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan kata-kata, sikap tubuh (gesture), intonasi suara, tindakan untuk menciptakan harapan image, ungkapan perasaan serta saling membagi pengertian (dalam Achdiat, 2006). Komunikasi keluarga merupakan komunikasi yang terjadi di dalam sebuah keluarga primer di mana pada umumnya komunikasi keluarga bersifat lebih dinamis dan tidak kaku karena di lakukan sejak sangat dini, bahkan sebelum seorang manusia mengenal kata-kata. Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga. Tanpa komunikasi, sepilah kehidupan keluarga dari kegiatan berbicara, berdialog, bertukar pikiran dan sebagainya. Akibatnya kerawanan hubungan antara anggota – anggota keluarga pun sukar untuk dihindari. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan sitri, komunikasi antara ayah, ibu dan anak, komunikasi antara ayah dan anak, komunikasi antara ibu dan anak dan komunikasi antar anak dan anak,
perlu dibangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga. Menurut Devito (2011 : 157) ada empat pola komunikasi keluarga yang umum pada keluarga inti komunikasi keluarga yang terdiri dari pola persamaan (Equality Pattern), pola seimbang-terpisah (Balance Split Patern), pola tak seimbang-terpisah (Unbalance Split Pattern) pola monopoli (Monopoly Pattern).
1. Pola Komunikasi Persamaan (Equality Pattern)
Tiap individu berbagi hak yang sama dalam kesempatan berkomunikasi.
Peran tiap orang dijalankan secara merata. Komunikasi berjalan dengan jujur, terbuka, langsung, dan bebas dari pembagian kekuasaan. Semua orang memiliki hak yang sama dalam proses pengambilan keputusan.
Keluarga mendapatkan kepuasan tertinggi bila ada kesetaraan.
2. Pola Komunikasi Seimbang Terpisah (Balance Split Pattern)
Kesetaraan hubungan tetap terjaga, namun dalam pola ini tiap orang memiliki daerah kekuasaan yang berbeda dari yang lainnya. Tiap orang dilihat sebagai ahli dalam bidang yang berbeda. Sebagai contoh, dalam keluarga normal atau tradisional, suami dipercaya dalam urusan bisnis atau politik. Istri dipercaya untuk urusan perawatan anak dan memasak. Namun pembagian peran berdasarkan jenis kelamin ini masih bersifat fleksibel.
Konflik yang terjadi dalam keluarga tidak dipandang sebagai ancaman karena tiap individu memiliki area masing-masing dan keahlian sendiri-sendiri.
3. Pola Komunikasi Tak Seimbang Terpisah (Unbalanced Split Pattern) Satu orang mendominasi, satu orang dianggap sebagai ahli lebih dari yang lainnya. Satu orang inilah yang memegang kontrol, seseorang ini biasanya memiliki kecerdasan intelektual lebih tinggi, lebih bijaksana, atau berpenghasilan lebih tinggi. Anggota keluarga yang lain berkompensasi dengan cara tunduk pada seseorang tersebut, membiarkan orang yang mendominasi itu untuk memenangkan argumen dan pengambilan keputusan sendiri.
4. Pola Komunikasi Monopoli (Monopoly Pattern)
Satu orang dipandang sebagai pemegang kekuasaan. Satu orang ini lebih bersifat memberi perintah dari pada berkomunikasi. la memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan sehingga jarang atau tidak pernah bertanya atau meminta pendapat dari orang lain. Pemegang kuasa memerintahkan kepada yang lain apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Anggota keluarga yang lainnya meminta izin, meminta pendapat, dan membuat keputusan berdasarkan keputusan dari orang tersebut.
Pembedaan pola komunikasi ini menggambarkan pembagian peran dan kedudukan masing-masing individu dalam sebuah keluarga. Pola komunikasi keluarga turut berperan dalam penerimaan pesan dan umpan balik yang terjadi antar anggota keluarga. Sebagai contoh dalam pola komunikasi monopoli, hanya satu orang yang berhak mengambil keputusan dalam keluarga. Hal ini menyebabkan anggota keluarga yang lain tidak berhak menyuarakan pendapat atau turut berperan dalam pengambilan keputusan, yang mengakibatkan komunikasi keluarga cenderung menjadi komunikasi satu arah saja. Demikian
juga dalam penanaman dan pengembangan nilai-nilai yang ditanamkan oleh pemegang kekuasaan mutlak diikuti oleh anggota keluarga yang lainnya karena komunikasi yang berlangsung hanya bersifat instruksi atau suruhan.
Keluarga sangat besar peranannya dalam mengajarkan, membimbing, menentukan perilaku, dan membentuk cara pandang anak terhadap nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Keluarga layaknya memberikan penanaman nilai-nilai yang dibutuhkan anak melalui suatu pola komunikasi yang sesuai sehingga komunikasi berjalan dengan baik, tercipta hubungan yang harmonis, serta pesan dan nilai-nilai yang ingin disampaikan dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik. Berdasarkan kasusistik perilaku orang tua dan anak yang sering muncul dalam keluarga, maka pola komunikasi yang sering terjadi dalam keluarga adalah berkisar di seputar model Stimulus – Respons (S-R), model interaksional, hubungan antar peran, model ABX (Syaiful Bahri, 2004).
a. Model stimulus – respons
Pola komunikasi yang biasanya terjadi dalam keluarga adalah model stimulus – respons ( S-R ). Pola ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses
“aksi – reaksi” yang sangat sederhana. Pola S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan –tulisan) isyarat-isyarat nonversal, gambar-gambar dantindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu. Oleh karena itu, proses ini dianggap sebagai pertukaran atau pemindahan informasi atau gagasan, proses ini bersifat timbal balik dan mempunyai banyak efek.
b. Model Interaksional
Model Interaksional ini berlawanan dengan model S-R. Sementara model S-R mengasumsikan manusia adalah pasif, model interaksional menganggap manusia jauh lebih aktif. Komunikasi di sini digambarkan sebagai pembentukan makna yaitu penafsiran atas pesan atau perilaku orang lain oleh para peserta komunikasi. Berapa konsep penting yang digunakan adalah diri sendiri, diri orang lain, simbol, makna, penafsiran, dan tindakan.
c. Hubungan antar peran
Komunikasi dalam keluarga dapat pula dipengaruhi oleh pola hubungan antar peran hal ini, disebabkan masing-masing peran yang ada dalam keluarga dilaksanakan melalui komunikasi.
d. Model ABX
Pola komunikasi lainnya yang juga sering terjadi dalam komunikasi antara anggota keluarga adalah model ABX yang dikemukakan oleh Newcomb dari perspektif psikologi-sosial. Newcomb menggambarkan bahwa seseorang (A) menyampaikan informasi kepada seseorang lainnya (B) mengenai sesuatu (X).
yaitu (1) orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap terhadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dari atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif), (2) orientasi A terhadap B dalam pengertian yang sama.
1. Aneka Komunikasi dalam Keluarga
Menurut Syaiful (2004) ada empat jenis komunikasi dalam keluarga yaitu:
a. Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah suatu kegiatan komunikasi antara individu atau kelompok yang mempergunakan bahasa sebagai alat perhubungan efektif tidaknya suatu kegiatan komunikasi bergantung dari ketepatan kata-kata
atau kalimat dalam mengungkapkan sesuatu. Kegiatan komunikasi verbal menempati frekuensi terbanyak dalam keluarga setiap hari orang tua selalu ingin berbincang-bincang kepada anaknya., canda dan tawa menyertai dialog antara orang tua dan anak.
b. Komunikasi non verbal
Komunikasi yang berlangsung dalam keluarga tidak hanya dalam bentuk verbal, tetapi juga dalam bentuk nonverbal. Walaupun begitu, komunikasi nonverbal suatu ketika bisa berfungsi sebagai penguat komunikasi verbal.
Fungsi komunikasi verbal sangat terasa jika, komunikasi yang dilakukan secara verbal tidak mampu mengungkapkan sesuatu secara jelas.
c. Komunikasi Individual
Komunikasi individual atau komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang sering terjadi dalam keluarga. Komunikasi yang terjadi berlangsung dalam sebuah interaksi antarpribadi, antara suami dan istri, antara ayah dan anak, antara ibu dan anak, antar anak dan anak.
d. Komunikasi kelompok
Hubungan akrab antara orang tua dan anak sangat penting untuk dibina dalam keluarga keakraban hubungan itu dapat dilihat dari frekuensi pertemuan antara orang tua dan anak dalam suatu waktu dan kesempatan. Sudah waktunya orang tua meluangkan waktu dan kesempatan untukduduk bersama dengan anak-anak, berbicara, berdialog dalam suasana santai.
2. Tahap – Tahap Perkembangan Komunikasi Keluarga
Menurut Syaiful Bahri (2004) ada tiga tahapan dalam perkembangan komunikasi keluarga yaitu
a. Keluarga dengan anak – anak prasekolah
Pada tahap ini dari lahir hingga usia 6 tahun, anak – anak ada pada tahun puncak untuk mempelajari bahasa. Kemampuan berbahasa terutama diperoleh dari keluarga khususnya dari interaksi anatara anak dan pengasuh utama, ibunya. Anak – anak memulai kemampuan berbahasa dengan menggunakan kata – kata tunggal. Anatara usia 18 – 24 bulan, ungkapan – ungkapan dua kata muncul. Menjelangn usia 3 tahun anak- anak menguasai kira – kira seribu kata, dan mulai usia 4-5 tahun mereka memperoleh kira-kira 50 kata setiap bulan.
b. Keluarga dengan anak – anak usia sekolah
Anak – anak semakin mengalami kebebasan sejalan dengan pertambahan usia. Mereka memperoleh pengaruh tidak hanya lewat komunikasi keluarga yang masih merupakan kekuatan dominan, tapi juga lewat komunikasi dengan pihak – pihak di luar keluarga. Dua dimensi komunikasi orang tua-anak menjadi penting ; penerimaan – penolakan dan kontrol otonomi.
c. Keluarga dengan anak – anak remaja
Tahap ini cenderung ditandai dengan bertambahnya konflik sehubungan dengan bertambahya kebebasan anak – anak. Masalah – masalah otonomi dan kontrol menjadi sangat tajam pada tahun –tahun ini. Anak – anak remaja mulai mengalihkan komunikasi dari komunikasi keluarga kepada
komunikasi dengan teman- teman sebaya . Karena perubahan – perubahan fisiologis dan psikologis yang dialami remaja, topik –topik tertentu menjadi perhatian mereka. Pendeknya, usia remaja merupakan tantangan terbesar bagi komunikasi keluarga. Bila orang tua dan anak dapat mengatasi badai, komunikasi selanjutnya akan lebih lancar. Selanjutnya dapat disimpulkan dengan pertambahan usia, hubungan kita dengan saudara- saudara kandung tetap penting. Misalnya, penelitian di Universitas Purdue menunjukkan bahwa wanita yang mempunyai hubungan akrab dengan seorang saudara perempuannya mengalami kurang depresi dalam kehidupan lanjutnya. Klagsbrun melaporkan, berdasarkan survey, bahwa wanita lebih cenderung merasa akrab dengan saudara- saudara perempuannya dibandingkan dengan pria terhadap saudara-sudara prianya dan bahwa saudara-saudara kandung lebih cenderung akrab sebagai orang – orang dewasa bila perbedaan usia mereka tidak lebih dari lima tahun antara yang satu dengan lainnya.
3. Pendidikan Karakter
Pesatnya perubahan zaman dewasa ini yang sangat berpengaruh terhadap anak usia dini dalam berfikir, bersikap dan berperilaku, khususnya terhadap mereka yang masih dalam tahap perkembangan dalam transisi yang mencari identitas diri. Berdasarkan bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012), Karakter memiliki arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
2) Karakter juga bisa bermakna "huruf". Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang
mengarahkan tindakan seorang individu. Sedangkan menurut Kamus Psikologi (Gulo, 2000) karakter dapat dilihat dari sudut pandang etika atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berhubungan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Menurut Lickona (2012), Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai setiap upaya harus dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui makna yang tepat, dapat dinyatakan disini definisi pendidikan karakter disampaikan oleh Thomas Lickona. Sedangkan menurut Kertajaya (2010) Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu objek atau individu.
Karakteristik yang asli dan berakar pada kepribadian atau individu benda, serta
“mesin” yang mendorong bagaimana bertindak, berperilaku, katakanlah, dan menanggapi sesuatu. Sementara menurut Suyanto (2009) karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang merupakan ciri khas dari masing-masing individu untuk hidup dan bekerja sama, baik di dalam keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Karakter merupakan suatu wadah dari berbagai psikologis yang membimbing anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan beragam lingkungan yang dihadapi. Karakter menjadi ”pemandu” untuk melakukan sesuatu yang baik dan benar atau sebaliknya. Karakter inilah juga menjadi penentu apakah anak mampu atau tidak menyesuaikan diri dengan heterogentitas kondisi yang dihadapi. Namun karakter bukanlah suatu keadaan yang akan terjadi begitu saja pada anak ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan karakter mulai dari keluarga,lingkungan hingga ke pendidikan karakter. Kata “Pendidikan”
dalam segi bahsa Yunani dikenal dengan nama paedagogos yang berarti penuntun
anak. Dalam bahasa Romawi dikenal dengan educare artinya membawa keluar.
Bahasa Belanda menyebut istilah pendidikan dengan opvoden yang berarti membesarkan atau mendewasakan. Dalam bahasa inggris di sebut dengan istilah educate/education yang dikenal dengan istilah to give and intellectual training yang artingan menanamkan moral dan melatih intelektual. Sedangkan karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.
Megawangi (2003), Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Sedangkan menurut Gaffar (2005), pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dalam definisi tersebut terdapat tiga ide pikiran penting yaitu :
1. Proses transformasi nilai-nilai.
2. Ditumbuh kembangkan dalam kepribadian.
3. Menjadi satu dalam pikiran.
Dalam pandangan Koesoema (2007:202-217) ada lima unsur yang perlu dipertimbangkan dalam pendidikan karakter, yaitu :
a. Mengajarkan b. Keteladanan
c. Menentukan prioritas d. Praktis prioritas e. Refleksi
Proses ini sementara sifatnya hingga manusia muda itu cukup terrbentuk untuk berdiri dan berjalan sendiri. Kemudian untuk menggunakan karakter solid itu, manusia muda harus menggunakan budinya yang disadarkan dan diisi dengan nilai-nilai. Nilai-nilai ini tidak hanya diungkapkan dengan abstrak, tetapi dibutuhkan latihan yang praktis dan sistematis serta cukup lama. Perilaku anak merupakan akumulasi dari berbagai pembentukan aspek diri. Jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, perkembangan tentu saja karakter yang terbentuk bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, namun merupakan hasil dari proses perjalanan hidup anak yang terbentuk dari kematangan biologis maupun perkembangan psikologis. Kematangan mengacu pada perubahan-perubahan yang terjadi secara alamiah dan spontan, sementara itu perubahan yang terkait perkeembangan psikologis terkait dengan pengalaman belajar yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana proses pendidikan dan pengassuhan yang didapatkan anak, sehingga membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi dirinya. Menurut Annis Matta, (2002:
67-70), menyebutkan beberapa kaidah atau strategi dalam pembentukkan karakter seorang muslim, yaitu sebagai berikut :
1. Kaidah kebertahapan
Proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap. Seorang anak dalam hal ini tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai yang diinginkan secara tiba-tiba dan instan, namun ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan sabar dan tidak terburu-buru. Adapun orientasi dari kegiatan ini adalah terlatak pada proses. Bukan pada hasil, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga hasilnya nanti akan paten.
2. Kaidah kesinambungan
Perlu ada latihan yang dilakukan secara terus menerus. Seberapapun kecil porsi latihan, yang penting latihan itu berkesinambungan. Sebab proses yang berkesinambungan inilah nantinya akan membentuk rasa dan warna berpikir seseorang.
3. Kaidah motivasi instrinsik
Karakter anak terbentuk secara kuat dan sempurna jika didorong oleh keinginan sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain. Jadi proses merasakan sendiri dan melakukan sendiri adalah penting.
Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa mencoba sesuatu akan berbeda hasilnya antara yang dilakukan sendiri dengan yang hanya dilihat atau diperdengarkan saja. Oleh karena itu pendidikan harus menanamkan motivasi yang kuat dan lurus serta melibatkan aksi fisik yang kuat, ini karena kedudukan seorang guru adalah unuk beribadah sebagai rasa sukur kita telah ada di dunia.
Dan anak sebaiknya diperkenalkan pada prinsip-prinsip Islam, Seorang ibu juga harus menjadi model yang baik dan utama pada anak, karena keteladanan merupakan suatu pondasi dan pintu pertama.
Jika ingin mencetak anak yang lurus, maka kita harus menghindarkan diri dari tingkah laku buruk. Peran ibu disini sangat penting karena ibu merupakan pendidik yang pertama dan utama, disamping itu ibu harus memberi contoh dan perilaku baik agar anak dapat meniru kebaikan dari ibunya (Hasan, 2004 : 68).
Setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk berkarakter sesuai dengan fitrah penciptaan manusia saat dilahirkan, akan tetapi dalam kehidupan kemudian memerlukan proses panjang pembentukan karakter melalui pengasuhan dan pendidikan sejak anak usia dini.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 1 ayat 14 yang menyatakan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun. Pendidikan anak usia dini menurut para ahli:
a. John Locke (1632-1704)
John locke terkenal dengan teori “Tabula Rasa”. Teori ini berpendapat bahwa anak lahir dalam keadaan seperti kertas putih sehingga lingkunganlah yang berpengaruh terhadap pembentukan dirinya. Lingkunganlah yang mengisi kertas kosong tersebut yang dinamakan pengalaman. Pengalaman-pengalaman anak akana berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.
b. Jean Jacques Rousseau (1712-1778) adalah salah satu filsuf yang mendasari teori maturisional yang beranggapan bahwa yang berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah berasal dari anak sendiri atau berkembang secara
alami. Pendidikan harus membiarkan anak tumbuh tanpa intervensi dengan cara tidak membandingkan anak antara satu dengan yang lainnya.Dalam pemikirannya Rousseau beranggapan bahwa anak lahir dalam keadaan baik, lingkunganlah yang membuat anak menjadi jahat.
c. Friedrich Froebel (1782-1852) Sejak lahir dan menjalani masa kanak-kanak, seseorang harus menjalani hidup sesuai perkembangannya. Secara kodrati, seorang anak membawa sifat baik, sifat buruk anak muncul karena pendidikan yang salah. Froebel juga mengajurkan agar indera anak dilatih dengan pengamatan, eksplorasi atau peragaan terhadap makhluk hidup, melalui hal tersebut anak akan belajar, berpikir kemudian melakukan atau yang biasa disebut learning by doing. Tahun 1831 Froebel mendirikan Kindergarten. Konsep kindergarten Froebel sanagt terkenal dan menjadi rujukan diberbagai Negara, bahkan di Indonesia konsep Froebel terkenal pada masa sebelum kemerdekaan.
d. Maria Montessori (1870-1952) adalah seorang dokter bidang penyakit anak yang meyakini bahwa pendidikan dimulai sejak lahir. Bayi yang masih kecil perlu dikenalkan dengan orang-orang dan suara-suara, diajak bermain dan bercakap-cakap agar anak-anak dapat berkembang menjadi anak yang normal dan bahagia.
Dasar pendidikan Montessori yaitu penghargaan terhadap anak, absorbent mind (pemikiran yang cepat menyerap), sensitive periods (masa peka), penataan lingkungan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak, pendidikan diri sendiri (pedosentris), masa peka, dan kebebasan”.
1. Ki Hadjar Dewantara (1922) merupakan tokoh pendidikan Indonesia, dan karaena kegigihannya ia dinobatkan sebagai bapak pendidikan Indonesia.
Dewantara mendirikan Taman Indria untuk anak usia dini. Pandangan Dewantara tentang pendidikan adalah ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani (dalam Ekacahaya M, 2014 : http://ekacahyamaulidiyah.blogspot.co.id/2014/02/anak-usia-dini_6.html, di akses pada 18 januari 2017 pukul 13.45).
Gambar 2.3.2
Nilai-nilai Karakter berlandaskan budaya bangsa
Sumber : Pusat Kurikulum Balitbang Kemenendiknas Tahun 2013
Undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14).
Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.
1. Anak bersifat unik.
2. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
3. Anak bersifat aktif dan enerjik.
4. Anak itu egosentris.
5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
6. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
7. Anak umumnya kaya dengan fantasi.
8. Anak masih mudah frustrasi.
9. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
11. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.
12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.
Pendidikan karakter sebagai usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik perlu ditanamkan terus sebagai sifat kebaikan anak sejak kecil. Ketentuan umum Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional poin 2
menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Selain itu dalam Bab II Pasal 3 disebutkan pula bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Selain itu dalam Bab II Pasal 3 disebutkan pula bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan